Travelog

Ikut Patroli “Ranger” Taman Nasional Karimunjawa (2)

Sembari mengikuti patroli penertiban bangunan dalam kawasan yang tidak berizin sekaligus tidak sesuai dengan zonasi Taman Nasional Karimunjawa (TNKj), saya berbincang dengan seorang ranger Balai Taman Nasional Karimunjawa (BTNKj) tentang program konservasi penyu. Kebetulan, setelah patroli selesai nanti, saya dan kawan-kawan akan diajak mampir ke lokasi Penetasan Semi Alami (PSA) telur penyu.

Program konservasi penyu di BTNKj sudah ada sejak tahun 2003. Sebelum itu, karena masyarakat Karimunjawa banyak yang belum tahu bahwa hewan penjelajah itu masuk dalam kategori dilindungi, masih banyak warga (termasuk nelayan) yang menangkap penyu dan memakan daging serta telurnya. Ada pula warga yang menjual suvenir dari karapas penyu.

Sebagai langkah awal, BTNKj mengadakan pendekatan kepada warga yang diduga pengambil telur, pembunuh penyu, dan penjual suvenir karapas. Kepada mereka kemudian diberikan penyuluhan dan edukasi tentang pentingnya menjaga kelestarian satwa dilindungi.

telur penyu pulau tengah karimunjawa
Para petugas dan warga setempat berkumpul di sekitar sarang telur penyu di Pulau Tengah/Deta Widyananda

Dalam mengaplikasikan metode PSA, BTNKj bekerja sama dengan masyarakat dan nelayan. Telur-telur penyu yang ditemukan oleh masyarakat umum dan nelayan akan dilaporkan kepada petugas BTNKj untuk dievakuasi secara baik dan benar dari sarang alaminya, lalu ditetaskan di PSA.

Sebagai bonus, pihak TNKj berhasil memperoleh data lokasi pendaratan penyu dan jenis-jenis penyu yang ada di sekitar Kepulauan Karimunjawa. Ternyata ada tiga jenis penyu di perairan Karimunjawa, yakni penyu hijau, penyu sisik, dan penyu lekang. Menariknya, sekitar 90% penyu di Karimunjawa adalah penyu sisik.

Kata Mas Kuswadi, pengendali ekosistem hutan di BTNKj yang juga Koordinator Program Pelestarian Konservasi BTNKj, menurut data tahun 2003-2016, rata-rata ada 50-60 sarang telur penyu yang ditemukan. Mengingat ada 27 pulau di Karimunjawa dan tidak mudah untuk patroli mengelilingi kawasan seluas itu, pihak TNKj bekerja sama dengan kelompok nelayan untuk menemukan lokasi sarang.

Menggali sarang dan memindahkan telur ke PSA/Deta Widyananda

Pada umumnya, penyu yang bertelur akan meninggalkan jejak. Jejak inilah yang menjadi petunjuk bagi nelayan untuk menemukan sarang. Nelayan biasanya mencari keberadaan sarang dengan metode cucuk, yakni menusuk-nusuk [pasir] dengan sebilah kayu untuk mencari posisi telur penyu berada. Jika menemukan telur, nelayan bisa segera melapor kepada petugas BTNKj.

“Habis ini kita akan ke Pulau Tengah, ya. Ada masyarakat yang menemukan telur penyu di sana,” kata Pak Sutris, Kepala SPTN Wilayah II Karimunjawa, dengan bersemangat.

Menjemput telur-telur penyu di Pulau Tengah

Matahari di atas ubun-ubun ketika Elang Laut 2 melaju mengantarkan kami ke Pulau Tengah untuk menjemput telur-telur penyu yang ditemukan nelayan. Saya deg-degan. Ini kali pertama saya berjumpa dengan telur penyu.

Sampai di Pulau Tengah, kami tak langsung ke sarang telur penyu. Pak Warman (seorang anggota Brimob) dan beberapa orang lain yang sudah menanti di Pulau Tengah menyambut kedatangan kami di dermaga. Mereka lalu mengajak kami berkeliling melihat-lihat kolam ikan barakuda.

Seorang petugas memperagakan cara yang benar untuk memegang telur/Deta Widyananda

Di salah satu sudut kolam, Pak Iwan, memakani ikan. Pakan yang dilemparnya ludes seketika begitu mencapai permukaan air. Saya hitung-hitung, setiap kali dilempar, pakan itu ludes dilahap dalam waktu yang tak sampai sepuluh detik.

Usai memberi makan barakuda, kami bertemu dengan Pak Sutrisno, penjaga Pulau Tengah yang menemukan sarang telur penyu. Ceritanya, saat keliling pulau, Pak Sutrisno melihat jejak kaki penyu. Ia pun melacaknya. Setelah menemukan sarang itu, ia melaporkannya kepada pihak taman nasional.

Oleh Pak Sutrisno, kami diantar ke lokasi sarang telur penyu.

Sebatang kayu kecil yang menancap di pasir menjadi tanda keberadaan sarang telur penyu. Sekilas sarang itu tak ada bedanya dari hamparan pasir di pantai pada umumunya—setidaknya menurut mata awam saya.

telur penyu
Sekitar 60-70 hari setelah dipindahkan ke medium PSA, telur-telur ini akan menetas/Deta Widyananda

Mas Kuswadi memberi pengarahan, termasuk beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memindahkan telur penyu ke dalam medium PSA. Lalu, evakuasi dimulai. Sarang telur penyu pun mulai digali dengan tangan. Beberapa genggam pasir di sekitar sarang dimasukkan ke dalam ember bekas cat dengan lubang-lubang kecil di kelilingnya. Ember berisi pasir itulah yang akan menjadi medium PSA untuk telur-telur tukik.

Perlahan, telur-telur penyu mulai kelihatan. Warnanya putih susu, ukurannya tidak sebesar telur ayam. Kata Mas Kuswadi, itu adalah telur penyu sisik. Ukuran telur penyu sisik lebih kecil ketimbang telur penyu hijau. Diameternya hanya sekitar 2,5-3 cm saja.

Satu per satu telur dipindahkan dengan sangat hati-hati. Posisinya harus sama dengan saat di sarang alami.

Sambil dipindahkan, telur dihitung jumlahnya—berapa yang rusak, berapa yang dipindahkan, dan berapa yang ditemukan. Tak lupa, Mas Kuswadi mencatat lokasi sarang dan nama penemunya.

Saya diperbolehkan ikut memindahkan telur-telur penyu. Berdebar-debar rasanya. Berhati-hati, saya ikuti instruksi para ranger. Total, ada dua ember berisi 142 butir telur yang berhasil dievakuasi. Sayangnya, tiga butir di antaranya rusak. Setelah semuanya—kecuali yang rusak—dipindahkan ke dalam ember, telur-telur itu ditutup dengan pasir dari sekitar sarang.

Demi menghindari panas matahari langsung, deburan air laut, atau hujan, kedua ember berisi telur penyu itu beri penutup. Selama di kapal, ember-ember itu ditaruh pada posisi stabil untuk mengurangi guncangan.

Mas Kuswadi mengisi medium PSA dengan pasir di sekitar sarang/Deta Widyananda

Biasanya, telur penyu yang sudah dievakuasi akan dibawa ke PSA dan ditanam di bak penetasan. Tapi, berhubung PSA masih dalam tahap pengembangan, telur-telur penyu dalam ember itu akan menghuni kantor Resort II BTNKj. Untuk mengontrol, suhu, kelembaban, dan cuaca harian akan rutin dicatat.

Lalu, selang 60-70 hari kemudian, telur-telur itu akan menetas dan tukik-tukik mungil pun keluar. Perjuangan tukik untuk keluar ternyata lumayan lama, perlu 1-2 hari bagi telur-telur itu untuk menetas sempurna. Setelah keluar dari pasir, sebagian dari tukik akan ditampung dalam bak penetasan untuk dihitung kembali jumlahnya. (Mereka bisa tahan tidak makan selama 10-12 hari.) Namun, sebagian lagi langsung dilepaskan ke laut.

“Memang lebih baik tukik-tukik yang sudah menetas ini langsung dilepaskan ke laut,” jelas Mas Kuswadi.

Para ranger menyebut proses pelepasan itu sebagai “pelepasliaran.” Ternyata, pelepasliaran tidak bisa dilakukan dengan sembarangan. Ada beberapa hal yang mesti diperhatikan, seperti lokasi (yang harus bebas dari sampah) dan waktu (pagi antara jam 5-8 atau sore setelah jam 5).

Saat pelepasliaran, tukik mungil dipegang dengan hati-hati, diangkat pelan-pelan, lalu diarahkan ke darat agar ia bisa “mengkalibrasi” insting mencari laut. Secara alami, tukik akan berputar-putar mencari jalan ke habitat aslinya.

Mesin kapal sudah dihidupkan. Kami berpamitan dengan Pak Warman, Pak Sutrisno, dan Pulau Tengah. Lalu Elang Laut 2 pun mulai membelah gelombang untuk mengantarkan kami pulang ke Dermaga Karimunjawa.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Avatar

Suka gendong ransel, suka motret, kadang nulis.
Related posts
Travelog

Bermain dan Belajar bersama "Art For Children" di TBY

Travelog

Menelusuri Jejak Sejarah Masa Lalu Kota Lama-Pecinan Semarang*

Pilihan EditorTravelog

Mengulang Waktu di Timur: Pala, Muara, dan Kejora (3)

Pilihan EditorTravelog

Memagari Ombak: Cerita Selancar Sumba

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *