ItineraryPerjalanan Lestari

Ngeteh Sore di Artani, Toko Curah Ramah Lingkungan Pertama di Makassar

Bau kayu menyeruak begitu saya menggeser pintu kaca transparan dengan tulisan “Buka dari 8 am – 9pm” itu, yakni sebuah pintu yang menghubungkan kedalam ruangan 3×4 meter dengan tiga rak kayu bercat merah kecoklatan yang dipenuhi aneka produk-produk ramah lingkungan, termasuk makanan kering dan biji-bijian yang tertata rapi dan menarik pada rak-rak tersebut. 

Tampilan toko curah artani
Tampilan toko curah Artani/Nawa Jamil

Di hari sabtu, saya dan seorang teman bersepakat untuk menghabiskan siang di Toko Curah Artani yang terletak di Jalan Botolempangan No. 57, Makassar. Tempat ini jauh berbeda dengan lokasi mereka sebelumnya, jauh lebih padat dan kecil dengan tetap mempertahankan kesan baiknya. 

Saya ingat tahun lalu saat berkunjung ke lokasi toko sebelumnya yang luas dengan kesan industrial dan memesan seteko the berwarna merah yang cantik, Artani kini menempati tempat yang tidak begitu luas tetapi semua ruang dimanfaatkan dengan begitu baik dan cantik. 

Pada hari biasa, toko ini buka tepat 08.00 pagi, tetapi berhubung akhir pekan, toko ini baru buka sekitar pukul 13.00. Berbeda dengan lokasi sebelumnya, di sini, Toko Artani berjejeran dengan berbagai usaha-usaha lainnya seperti kafe, barbershop, hingga toko reparasi seluler. Tempatnya rindang, sederhana, dengan perpaduan tembok putih, kerikil abu-abu, kursi-kursi hitam, dan kusen jendela yang dicat kuning. 

Begitu membuka pintu paling depan, anda akan langsung berada di kafe dengan bau kopinya. Hanya sekitar dua langkah tepat di sebelah kanan, sebuah pintu geser akan menghubungkan anda dengan Artani, toko curah ramah lingkungan pertama di Makassar. Sebuah sofa kuning yang tampak nyaman dengan sebuah bantal bermotif bunga matahari diletakkan tepat di bawah jendela kaca mati besar dengan pemandangan langsung ke Jalan Botolempangan, salah satu yang tersibuk di Makassar. 

Sebuah meja bundar dengan empat kursi berada di tengah-tengah. Meja kasir, meja peramu teh dan pesanan minuman lainnya berada di seberang. Toko ini begitu cantik, kecil, dan ramah. Dua pekerja perempuannya menjelaskan dengan baik perihal makanan-makanan kering dan alternatif pengolahannya. Di sini, pengunjung dapat membeli aneka bahan makanan kering, biji-bijian, sabun organik ramah lingkungan, juga alternatif pengganti deterjen seperti biji lerak. 

Rak bahan makanan kering artani
Rak bahan makanan kering Artani/Nawa Jamil

Makanan kering maupun biji-bijian dijual dalam toples kaca besar, lalu diberi label nama dan harga per gramnya. Pengunjung disarankan membeli dengan membawa tempat sendiri dari rumah, atau bisa menggunakan kertas bungkus dan jar kaca dengan biaya tambahan. Beberapa produk yang dijual di sini seperti aneka bumbu dapur, bunga atau daun teh, garnish kering, biji-bijian, buah kering, dan sebagainya. Selain itu, disini juga menjual produk-produk ramah lingkungan seperti pembalut kain, loofah, peralatan makan berbahan kayu, sikat dari sabuk, sikat gigi dari bambu yang mudah terurai, dan berbagai produk lainnya. 

“Bahan makanan kering ini apa diproduksi sendiri, Kak?” Tanyaku kepada Kak Amel, salah satu pekerja di sini. 

“Saat ini beberapa bahan didatangkan dari luar Sulawesi, bekerja sama dengan petani lokal, tetapi ada beberapa produk asli sini, seperti olahan kelor dari Bantaeng itu,” katanya, menunjukkan sebungkus produk UMKM yang berjejer diantara bahan-bahan makanan kering di dalam toples. 

Tempat Ngeteh Paling Rekomendasi di Makassar

Teh senyawa kuning
Teh senyawa kuning/Nawa Jamil

Saya sering melihat teh bunga telang berseliweran di pencarian Instagram. Namun di sini, pengunjung tidak hanya dapat memesan teh berwarna biru yang dapat berubah warna itu, melainkan beragam teh yang menawarkan rasa dan aromanya tersendiri. Siang itu saya memesan senyawa kuning, sebuah teh seduhan dari beberapa rempah, yakni perpaduan antara temulawak, jahe, kunyit, kapulaga, dan jeruk nipis. Teh dengan warna kuning nan cantik ini disajikan pada teko kaca berleher angsa transparan bersama gelas kaca kecil, dua potong jeruk nipis, tatakan dari rotan, madu, dan sebatang sereh segar. 

Kak Regina, kawan yang menemani aktivitas ngeteh sore itu memesan senyawa jingga, teh perpaduan jahe, kayu secang, kapulaga, daun salam, cengkeh, dan jeruk nipis. Keduanya menawarkan aroma uniknya tersendiri. 

Senyawa kuning yang saya pesan sore itu mengingatkan saya akan bau jamu yang sering ibu nikmati sewaktu saya kecil, tetapi lebih ringan. Rasanya pun sama, terutama bau temulawak dan kunyit. Tambahan madu dan air perasan jeruk nipis menjadi perpaduan pas teh yang saya nikmati sore itu. 

Selain aneka teh yang disajikan dalam teko kaca transparan, di sini juga menyediakan menu latte yang inovatif, seperti sejiwa hangat, perpaduan cokelat, jahe, kayu manis, krimer nabati dan gula kelapa organik, serta aneka latte herbal lainnya. Selain minuman, di sini juga menyediakan tiga menu ringan seperti buah potong, kue kering, dan overnight oatmeal. Berhubung Artani yang tidak begitu luas, beberapa pengunjung memesan minuman dan menikmatinya di kafe yang masih satu kompleks dengan Artani, ataupun kursi-kursi yang tertata rapi di bagian luar.  

Talkshow dan Workshop dari Artani

Saya cukup beruntung sore itu sebab saya bertemu dan berbincang banyak dengan Kak Amel, salah satu tim Artani yang berfokus pada bagian acara dan kerja sama. Dari beliau saya baru mengetahui bahwa Artani tidak sekadar toko curah ramah lingkungan, melainkan sebuah medium yang mewadahi beragam aktivitas terkait lingkungan. 

“Untuk saat ini, kegiatan kami terbagi dua, talkshow via daring dan workshop via luring.”

Lebih lanjut, beliau menjelaskan beberapa talkshow dan workshop yang dilakukan Artani bekerja sama dengan berbagai pihak lain di Makassar, seperti workshop merajut bersama tangandia, pembuatan eco enzym bersama Ibu Ros, selaku pegiat bank sampah, maupun obrolan seperti isu pangan bersama Viny Mamonto, seorang ibu rumah tangga dan content creator

“Kita kegiatannya rutin dua kali dalam sebulan untuk workshop maupun talkshow-nya.” 

Kontribusi Toko Zero-Waste terhadap Pengurangan Sampah 

Membeli tanpa plastik/Nawa Jamil

Melansir dari nationalgeographic.id, terdapat 24-34 metrik ton polusi plastik yang masuk ke lingkungan laut setiap tahunnya, sementara diperkirakan pada 2030, jumlahnya akan mengalami peningkatan 53-90 juta ton. Dengan gaya konsumtif tanpa usaha untuk mulai mengurangi ketergantungan akan plastik, perkiraan angka fantastis ini bukan sesuatu yang mustahil. Beberapa orang berkontribusi dengan menyediakan produk pengganti plastik yang mudah terurai, sedotan dari kertas, bahkan gelas kopi yang bisa dimakan. 

Lalu sejauh mana toko curah ramah lingkungan seperti Artani dan toko-toko ramah lingkungan di luar sana berpengaruh terhadap kesadaran mengurangi sampah orang-orang, terutama plastik yang telah berkawan akrab dengan keseharian kita? 

Saya cukup lama nongkrong di Artani sore itu. Dalam satu waktu, satu keluarga terdiri dari bapak, ibu, dan seorang anak lelaki mendatangi toko. Si ibu membeli beberapa keperluan dengan membawa wadahnya sendiri dari rumah. Sang anak di sana, melihat bagaimana ibunya berbelanja.  

Alih-alih menggunakan sikat gigi plastik yang sulit terurai, orang-orang bisa beralih dengan sikat gigi dari bambu. Alih-alih menggunakan spons cuci, orang-orang juga bisa memproduksi busanya dengan loofah, sejenis spons alami dari oyong kering. Atau berhenti membeli air kemasan dan beralih ke botol minuman dari rumah. Atau bisa dengan tidak memakai sedotan plastik sekali pakai, dan membawa tas belanja atau wadah sendiri saat ke pasar atau toko-toko curah seperti Artani. 

Sejauh mana? Saya tidak tahu, tetapi mungkin, mungkin saja, kita berbicara tentang harapan, tekad, dan usaha untuk suatu perubahan yang lebih baik, dimulai dari hal-hal kecil di diri dan rumah sendiri. Mungkin saja dengan kebiasaan belanja tanpa plastik di toko kecil 3×4 meter tersebut akan membawa kebiasaan berbelanja tanpa plastik satu orang yang diterapkan di pasar-pasar sekitar rumahnya, lalu mempengaruhi orang lain disekitarnya.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Menumbuhkan sayur di halaman rumah dan menulis sebagai Nawa Jamil.

Menumbuhkan sayur di halaman rumah dan menulis sebagai Nawa Jamil.
    Artikel Terkait
    Perjalanan LestariTravelog

    Sampah yang Berlabuh

    ItineraryNusantarasa

    Berburu Kuliner Bersejarah Khas Salatiga (1)

    IntervalPerjalanan Lestari

    Laut Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja

    ItineraryNusantarasaPilihan Editor

    Nasi Jangkrik, Kuliner Warisan Sunan Kudus

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Hikayat Rumah Makan Padang