Interval

Dari Mana Moto “Jangan Tinggalkan Sesuatu kecuali Jejak” Berasal?

Suka naik gunung? Kalau iya, kamu pasti familar sama moto “Jangan ambil sesuatu kecuali gambar, jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak, jangan bunuh sesuatu kecuali waktu.”

Moto pencinta alam itu seperti cermin yang di depannya para penggiat alam-bebas bisa berkaca, atau semacam maksim yang memberikan panduan bagi para pencinta alam tentang bagaimana seharusnya berinteraksi dengan “tempat bermainnya.”

Terus menerus tiga klausa itu diulang dan direproduksi dari generasi ke generasi. Karena proses transfer pengetahuannya cenderung cuma berlangsung secara lisan, nggak banyak yang tahu dari mana sebenarnya maksim itu berasal.

Jadi, dari mana sih asalnya?

Banyak yang berpendapat bahwa moto pencinta alam itu dikutip dari tulisan atau ucapan para naturalis pentolan Sierra Club seperti Ansel Adams atau John Muir. Namun belum ada yang bisa membuktikan dengan memperlihatkan kutipan yang relevan.

chief seattle

Foto Chief Seattle diambil tahun 1864 via en.wikipedia.org

Kemungkinan berasal dari pidato Chief Seattle pada pertengahan abad ke-19

Faktanya, moto itu adalah terjemahan bebas dari moto yang dipakai kelompok National Speleological Society (1941) dan Baltimore Grotto (1952). Keduanya adalah organisasi penelusuran gua dari Amerika Serikat.

Bunyi moto itu dalam bahasa Inggris adalah “Take Nothing but Pictures, Leave Nothing but Footprints, Kill Nothing but Time.”

Seiring berjalannya waktu, prinsip-prinsip dalam moto itu kemudian nggak cuma diadopsi oleh para penelusur gua saja. Penggiat aktivitas lain seperti pendakian gunung, panjat tebing, arus deras, dll. kemudian juga menjadikan maksim itu sebagai landasan etis.

Menariknya, diduga inspirasi dari moto pencinta alam itu berasal dari masa yang lebih tua lagi, yakni pertengahan abad ke-19. Sumbernya adalah sebuah pidato yang disampaikan oleh Chief Seattle, tetua Indian dari suku Duwamish, tanggal 11 Maret 1854.

(Akurasi naskah pidato sang tetua Indian itu sebenarnya masih jadi bahan perdebatan. Soalnya, isinya telah mengalami beberapa kali penerjemahan dari satu bahasa ke bahasa lain, dari bahasa Lushotseed ke Chinook baru kemudian ke bahasa Inggris.)

Dalam pidato itu, konon Chief Seattle berkata begini: “Take only memories… leave only footprints.” Kenangan saja yang dibawa, jejak langkah saja yang ditinggalkan. Itulah kemudian yang berevolusi menjadi “Take Nothing but Pictures, Leave Nothing but Footprints, Kill Nothing but Time.”


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

TelusuRI

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Related posts
Interval

Amsterdam: Dari Ingatan dan Kayuhan

Interval

De-eksotisasi Perjalanan

Interval

Pariwisata Inklusif versus Eksklusif, Menang Siapa?

Interval

Pariwisata yang Berlebihan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *