Travelog

Misteri Gajah di Leuwigajah

Di sisi selatan Kota Cimahi, terdapat sebuah tempat bernama Leuwigajah. Sebuah pertanyaan lalu muncul. Mungkinkah di masa lampau gajah-gajah liar pernah menghuni kawasan ini?

Pagi hari, mendekati pukul 07.00, seperti biasa, lalu-lintas mulai padat dan tersendat-sendat di sejumlah titik di kawasan Leuwigajah, Kota Cimahi, Jawa Barat. Sebagai salah satu kawasan industri di Cimahi, kemacetan sudah menjadi hal yang lumrah menyergap kawasan ini, terutama pada jam-jam sibuk alias rush hour.

Di sela-sela kendaraan yang berseliweran dengan suara mesinnya yang menderu-deru dan sesekali mengeluarkan jeritan klakson, aku berdiri persis di tepi Jembatan Leuwigajah. Persis di bawah jembatan itu, terbentang Jalan Tol Padalarang Cileunyi (Padaleunyi)—yang semula adalah bentangan sawah subur nan luas.

Dulu sekali, sawah-sawah di sekitar Leuwigajah adalah tempat favorit warga untuk mencari belut (Monopterus albus) dan tutut (Pila ampullacea). Sejak bergantinya sawah di kawasan ini menjadi hamparan jalan tol, lahan warga mencari belut dan tutut pun otomatis menghilang.

  • Leuwigajah
  • Leuwigajah

Kini, di sisi utara Tol Padaleunyi itu telah membentang rel kereta cepat Jakarta–Bandung. Posisi rel itu lebih tinggi dibanding Tol Padaleunyi dan Jembatan Leuwigajah. Tak lama lagi, kereta cepat akan wara-wiri melintasi wilayah itu. Kabarnya, dengan kecepatannya yang mencapai sekitar 300 kilometer per jam, jarak Jakarta–Bandung bakal ditempuh hanya dalam tempo 35–45 menit. Saat nanti kereta cepat melintas, warga Leuwigajah dapat melihatnya dengan jelas dari atas Jembatan Leuwigajah.

Sembari melayangkan pandangan ke rel kereta api cepat—yang masih dalam tahap penyelesaian—aku menggerakkan kakiku beberapa meter ke arah barat, masuk ke Jalan Kerkhof. Dinamai Jalan Kerkhof karena di daerah itu terdapat lahan pekuburan Belanda. Dalam bahasa Belanda, kerkhof berarti makam atau kuburan.

  • Leuwigajah
  • Leuwigajah

Di sisi timur Jalan Kerkhof, aku dapati sebuah patung gajah. Kedua gadingnya berwarna putih. Adapun matanya berwarna merah dengan bola mata putih. Ujung belalai patung gajah itu terlihat telah patah. Entah siapa yang mematahkannya. Patung gajah itu menghadap langsung ke arah Jalan Kerkhof.

Patung gajah tersebut seakan ingin menegaskan bahwa kawasan Leuwigajah adalah habitatnya para gajah. Tapi, betulkah demikian?

Dalam bahasa Sunda, leuwi artinya lubuk. Leuwigajah secara harfiah bermakna lubuk gajah. Salah satu literatur kuna menyebut bahwa dulu semasa VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) berkuasa, Dalem Batulayang, yang tinggal di daerah Kutawaringin, Kabupaten Bandung, sekitar 11 kilometer dari Leuwigajah, ditugaskan membantu pihak VOC ke Palembang, Sumatera Selatan. 

Setelah bertugas beberapa tahun lamanya, Dalem Batulayang pulang kembali ke Kutawaringin. Konon, saat pulang itulah, ia membawa oleh-oleh seekor gajah. Konon pula, gajah itu selalu dimandikan di sebuah lubuk di daerah Cimahi Selatan. Lubuk inilah yang kabarnya kemudian dinamai Leuwigajah, sebuah nama yang sekarang tetap dipertahankan dan menjadi nama resmi salah satu kelurahan di Cimahi Selatan.

Fosil Gajah

Soal keberadaan gajah di sekitar Cimahi tampaknya menarik untuk dikaji lebih jauh. Pasalnya, ada asumsi bahwa dulu gajah pernah jadi hewan liar yang menghuni kawasan tersebut.

Pertengahan tahun 2000, fosil rahang gajah pernah ditemukan di Rancamalang, Margaasih, Kabupaten Bandung, sekitar 6 kilometer dari Leuwigajah. Lantas, pada tahun 2021 lalu, ditemukan pula fosil kaki gajah di kawasan Saguling. Jarak dari Saguling ke Leuwigajah  sekitar 28 kilometer. 

Penemuan kedua fosil gajah itu agaknya menguatkan dugaan bahwa di masa lampau gajah pernah hidup di Pulau Jawa. Literatur bertajuk On the Prehistoric Mammals from the Kampoeng Cave, Central Java yang ditulis Dr. K. W. Dammermann dari Museum Zoologi Buitenzorg, sebagaimana dikutip oleh Nadhim Muqsith Robbani (2021), pernah menjelaskan soal ini.

Dalam karyanya tersebut, Dammermann menyatakan para penulis sejarah Tiongkok kuna menceritakan bahwa raja-raja Jawa menunggangi gajah, dan mengirim utusan ke kaisar Tiongkok dengan membawa hadiah antara lain gading, yang disebut kara dalam bahasa Jawa.

Menurut sejumlah sumber, di masa lampau, Cekungan Bandung—yang mencakup Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, Kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan sebagian wilayah di Kabupaten Sumedang—yang asalnya merupakan sebuah danau purba, diperkirakan bukan hanya menjadi habitat satwa seperti badak maupun harimau, tetapi juga gajah. Hal yang menarik untuk diteliti yaitu apakah hewan-hewan tersebut merupakan endemik (penghuni asli) Cekungan Bandung, atau dari daratan Asia yang bermigasi ke Cekungan Bandung.

Ada dugaan bahwa gajah jawa sesungguhnya masih ada dan kini menjadi penghuni Pulau Kalimantan. Laporan bertajuk Origins of the Elephants Elephas Maximus L of Borneo, yang diterbitkan dalam ”Sarawak Museum Journal”, beberapa waktu lalu, menyebutkan bahwa tidak ada bukti paleontologis mengenai keberadaan gajah dalam jangka panjang di Borneo. Hal ini memperkuat kemungkinan asal-usul hewan besar berbelalai itu sesungguhnya berasal dari Pulau Jawa.

Laporan tersebut, tampak mendukung keyakinan masyarakat lokal yang selama ini percaya bahwa gajah-gajah telah dibawa ke Borneo beberapa abad lalu oleh Sultan Sulu—yang kini menjadi bagian Filipina—dari Jawa, namun kemudian diterlantarkan di hutan Borneo dan akhirnya menjadi penghuni tetap pulau itu.

Seperti kita ketahui, di masa silam, para raja dan bangsawan “lazim” memelihara gajah sebagai hewan peliharaan. Sementara, berbagai literatur menyebut bahwa gajah jawa mulai punah setelah bangsa Eropa memasuki Asia Tenggara.

Kembali lagi ke Leuwigajah, tampaknya menarik pula diteliti lebih lanjut ihwal apakah di masa lampau Leuwigajah adalah memang tempat memandikan gajah peliharaan atau justru sesungguhnya merupakan tempat berkubangnya gajah-gajah liar yang kemungkinan pernah menghuni Pulau Jawa.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Kembali ke Fatubraun

    Pilihan EditorTravelog

    Singgah di Rumah Tenun Kampung Sabu

    Perjalanan LestariTravelog

    Berkebun Karang bersama Nuansa Pulau

    Travelog

    Yogyakarta: dari Tebing Breksi, hingga Malioboro

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Selamat Pagi dari Negeri di Atas Awan To’Tombi Lolai