Travelog

Menonton Tradisi Pasola di Kodi, Sumba Barat Daya

Sumba, punya banyak hal untuk saya ceritakan. Selain mempunyai alam yang elok, Sumba menyimpan beragam kebudayaan yang tersimpan di desa-desa adat yang masih mempertahankan tradisi dan warisan para leluhur. Februari lalu, saya berkunjung ke Sumba untuk melakukan penelitian tugas akhir kuliah. Saya tinggal di rumah seorang kenalan yang juga turut membantu dalam penelitian. Lokasi rumahnya di Desa Ate Dalo, Kecamatan Kodi.

Di desa ini terdapat kampung adat yang berdasar tradisi lisan masyarakat Kodi merupakan kampung pertama di Kodi. Namanya adalah Kampung Bukubani. Di sini, terdapat puluhan rumah adat dengan tanah luas di tengahnya. Biasnya, masyarakat menggunakannya untuk melaksanakan ritual. 

Di Kodi, masyarakat tampak belum begitu terjamah oleh modernitas. Semua hal masih tampak tradisional, terlihat dari rumah-rumah adat yang masih berdiri kokoh hingga tradisi dan agama lokal—marapu, yang masih lestari.

Sumba sendiri terkenal dengan kebudayaan megalitikum yang masih lestari sampai sekarang. Di sekeliling kampung, rumah adat, dan di halaman tengah terdapat susunan bebatuan alam yang merupakan makam. Masyarakat setempat menyebutnya kubur batu. Beberapa di antaranya tampak tua. Ternyata, makam tersebut merupakan makam dari leluhur pertama orang Kodi.

Pasola Sumba
Warga menonton pasola di Lamboya, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur via TEMPO/Seto Wardhana

Ini adalah pengalaman pertama saya tinggal bersama masyarakat Kodi dan melihat secara langsung beragam tradisi serta kebudayaan mereka. Nah, salah satu pengalaman yang cukup berkesan untuk saya yakni saat mengikuti perayaan nyale dan ritual pasola. Dua tradisi dan budaya ini Perayaan nyale dan ritual pasola adalah tradisi tahunan yang juga banyak menarik minat wisatawan. Keduanya, dilakukan oleh masyarakat Kampung Bukubani sebagai ungkapan syukur atas panen.

Perayaan nyale merupakan momentum saat orang-orang akan pergi ke pantai untuk menangkap nyale atau cacing laut. Nyale dipandang sebagai simbol berkat dan kesuburan. Pasola sendiri, merupakan sebuah permainan adat  yang menggunakan lembing kayu yang digunakan untuk menjatuhkan lawan dari kuda yang ditunggangi. Mirip seperti “peperangan” berkuda antara dua kubu. Konon ritual ini memang merupakan sarana untuk latihan perang karena pada waktu itu perang suku cukup sering terjadi. Tombak asli digunakan pada waktu itu sebelum akhirnya dilarang oleh kolonial Belanda dan menggantinya dengan lembing kayu. Pasola tahun ini diadakan pada tanggal 25 Februari.

Perayaan nyale dan ritual pasola di Kodi dimulai sejak pagi hari. Sebelum fajar orang-orang berbondong-bondong ke Pantai Bukubani untuk menangkap nyale. Melalui nyale rato (tetua adat dan pemimpin religius Marapu) dapat melihat dan memprediksi hasil panen yang akan didapat. Jika nyale cukup berisi dan banyak akan ada berkat yang melimpah dari panen. Sebaliknya jika nyale kurus dan sedikit akan menjadi pertanda buruk seperti kemarau panjang dan musim lapar. Nyale yang telah ditangkap kemudian akan dibawa pulang untuk dimasak dan setelah ritual pasola akan dimakan bersama para kerabat.

Pasola Sumba
Pengendara kuda melempar lembing dalam permainan tradisional suku Sumba “Pasola”, di Kecamatan Kodi, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT) via TEMPO/Seto Wardhana

Pasola adalah saat dimana orang-orang keturunan Kodi akan pulang di manapun mereka berada. Entah di perantauan sedang menempuh pendidikan atau bekerja orang Kodi akan menyempatkan waktu pulang, bertemu dengan sanak saudara dan merayakan sekaligus melaksanakan pasola. Jadi pasola memang merupakan momen yang dinantikan. Saya merasa momen ini seperti tradisi mudik setiap kali lebaran.

Saat hari pelaksanaan ritual pasola, rumah-rumah di Kampung Bukubani dipenuhi oleh kerabat dan tamu baik dari kenalan ataupun wisatawan. Orang Kodi akan senang hati mengajak dan menerima tamu. Saat saya bertamu ke salah satu rumah di Kampung Bukubani, saya dijamu dengan sirih pinang dan kopi. 

Sirih pinang sendiri merupakan jamuan utama bagi orang Kodi ketika bertamu. Ketika pasola, sirih pinang juga akan ditaruh di beberapa kubur batu sebagai jamuan kepada para leluhur. Saat bertamu di Kodi, seseorang akan dianggap tidak sopan dan tidak akan mendapat berkah kalau tidak memakan sirih pinang. 

Rasa sirih pinang ini terbilang cukup memabukkan dan membuat pusing bagi saya dan mungkin orang yang tidak biasa memakannya. Maka kalau memang tidak kuat untuk memakannya sebaiknya kita meminta izin kepada tuan rumah untuk tidak memakannya.

Pagi menjelang siang sudah terdapat banyak sekali kuda di halaman Kampung Bukubani. Penunggang kudanya ada yang lelaki dewasa, remaja, bahkan anak-anak. Mereka menggunakan pakaian adat berupa sarung atau kain. Warnanya ada yang merah, orange, kuning hijau. Kemudian beberapa menggunakan semacam mahkota yang terbuat dari kain dan kulit kayu. 

Kuda-kuda dihiasi dengan potongan-potongan kain dan lonceng yang diikat di leher atau di kaki. Saat mengendarai kuda, orang Kodi menggunakan cara tradisional, tidak menggunakan pelana. Saat pasola akan dimulai dan para penunggang bersiap menuju lapangan pasola, para rato terlebih dahulu menyanyikan syair adat untuk mengundang leluhur dan meminta berkat selama jalannya pasola

Orang-orang yang berada di Kampung Bukubani berbondong-bondong pergi ke lapangan untuk menyaksikan pertempuran pasola. Di lapangan pasola sudah dipadati oleh banyak penonton. Jumlahnya ratusan lebih. Terlihat di pinggir-pinggir lapangan ada tenda-tenda kecil yang terbuat dari bambu dan terpal sebagai tempat untuk berjualan makanan dan minuman. Tribun kecil  juga sudah sesak oleh para penonton yang berdesak-desakan. Di tengah teriknya matahari orang berdesak-desakan ingin berada di paling depan untuk bisa jelas menyaksikan pasola, mereka sampai rela memanjat pohon, pagar dan berdiri di atas mobil serta kubur batu untuk mendapatkan pemandangan yang jelas.

Pasola Sumba
Pengendara kuda melempar lembing dalam permainan tradisional suku Sumba “Pasola”, di Kecamatan Kodi, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT) via TEMPO/Seto Wardhana

Pasola dibuka oleh Rato Nale, para peserta masih belum melakukan aksinya yang gagah. Mereka seakan melakukan pemanasan terlebih dahulu dengan mengitari lapangan sambil sesekali melempar lembing. Kedua kubu akan bergantian melempar lembing. Ada yang membawa satu bahkan ada yang lebih. Seiringan dengan para penunggang kuda yang melempar lembing, penonton mulai ikut memanaskan acara dengan berteriak dan bersorak. Tak kalah seru para penunggang juga bersorak layaknya orang Indian di film barat. Melalui gestur dan sorakan itu penunggang menantang lawan supaya terpancing. Semakin lama para peserta mulai menyerang lawan secara bergantian dengan cepat. Sesekali kedua kubu beristirahat dan menurunkan tempo lalu menaikannya lagi. Ketika ada yang berhasil menjatuhkan lawan, penonton akan semakin bersemangat bersorak dan berteriak. Matahari semakin panas tapi antusiasme penonton tak kalah juga. 

Ketika ritual pasola, cedera atau pertumpahan darah tidak bisa dihindari. Masyarakat Kodi percaya percikan darah selama pasola mendatangkan kesuburan. Ketika matahari semakin terik terlihat kuda sudah mulai kelelahan dan mulai sulit dikendalikan. Pengendara yang jatuh bisa saja terinjak-injak oleh kuda. Cedera seperti patah tulang, cedera leher, kebutaan sering terjadi. 

Saya sendiri menyaksikan ada penunggang kuda yang melempar lembing dan mengenai mata lawannya. Lukanya tampak cukup parah. Katanya kematian pun bisa saja terjadi, tetapi jarang. Kalaupun ada, konon itu karena penunggang kuda sering melakukan perbuatan yang dilarang adat.

Pasola berlangsung sekitar 3–4 jam. Siang sekitar jam setengah satu acara pasola ditutup oleh Rato Nale. Hal yang unik, orang-orang yang terluka selama pasola tidak dibawa ke rumah sakit tetapi akan diobati secara tradisional oleh Rato. Dipercaya luka-luka tersebut bisa langsung sembuh selama 2–3 hari saja.

Setelah pasola, saya mampir ke Kampung Bukubani dan ikut makan bersama di sana. Tuan rumah membakar ayam yang ternyata itu juga dipersembahkan kepada leluhur. Harum ayam bakar dan nyale keluar dari dapur yang ada di tengah rumah. 

Di beberapa rumah sekitar juga terlihat kepulan asap yang keluar. Ada juga yang memotong babi untuk dibakar dan dimakan bersama. Seperti biasa sebelum dijamu dengan makan sirih pinang serta kopi adalah hidangan utama. Kemudian saya bersama tamu-tamu yang lain dijamu dengan ketupat-ketupat serta ayam dan nyale.Perayaan nyale dan pasola merupakan perekat relasi persaudaraan masyarakat Sumba, wisatawan, dan semua yang terlibat. Ketika selesai bertamu mereka akan sangat akrab mengingatkan kita “Jangan lupa datang lagi tahun depan semoga berkat dari Kodi sampai juga ke rumahmu.”


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Mahasiswa Antropologi Universitas Brawijaya Malang, gemar traveling, dan tertarik dengan tradisi atau kebudayaan.

Mahasiswa Antropologi Universitas Brawijaya Malang, gemar traveling, dan tertarik dengan tradisi atau kebudayaan.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Kembali ke Fatubraun

    Pilihan EditorTravelog

    Singgah di Rumah Tenun Kampung Sabu

    Perjalanan LestariTravelog

    Berkebun Karang bersama Nuansa Pulau

    Travelog

    Yogyakarta: dari Tebing Breksi, hingga Malioboro

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Mengulang Waktu di Timur: Sumba (2)