Itinerary

Hik yang Selalu Menjadi Penyaji Hidangan Istimewa Kami

Hik merupakan penyebutan pada warung sederhana yang dikenal oleh masyarakat sekitar Solo. Begitu sederhana, hanya menggunakan gerobak sebagai tempat menyajikannya hidangan, tempat makan para pengunjung, sekaligus sebagai tempat bakul meramu wedang.

Meskipun terdapat berbagai guyonan yang mengatakan kalau istilah hik ini adalah kependekan dari Hidangan Istimewa Keluarga, Hidangan Istimewa Kampung, hingga Hidangan Istimewa Klaten, istilah hik sebenarnya bukan akronim dari beberapa kata. Walau dalam sejarah sang maestro campursari, Didi Kempot pernah menciptakan tembang yang berjudul “HIK” dengan menyematkan lirik “HIK…, H. I. K. Hidangan Istimewa Klaten”, namun bukan berarti dari sinilah asal mula penamaan HIK. 

  • HIK SOLO
  • HIK SOLO

Meski begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa sejarah adanya hik memang tidak jauh-jauh dari Klaten, kabupaten yang dulunya masuk di wilayah Karesidenan Surakarta dan berbatasan langsung dengan DIY. Konon cikal bakal penamaan hik bermula dari Mbah Pairo, seorang warga Klaten yang membuka angkringan sambil memikulnya dan berteriak “hiiik iyeeek” di sekitar Jogja. Oleh karena teriakan Mbah Pairo tersebut,  muncullah nama hik di kalangan masyarakat yang kini masih digunakan oleh warga Surakarta.

Hik menjadi hidangan yang selalu mendapat ruang lebih bagi masyarakat Solo Raya karena menjadi tempat yang pas untuk semua kalangan. Mau dari yang muda sampai yang tua, mereka menjadikan hik sebagai tempat nongkrong yang nggak kalah asik dengan kedai kopi. Kalangan pelajar dan mahasiswa juga menghabiskan waktu luang untuk sekedar ngobrol soal kehidupan masa muda yang penuh lika-liku atau luka karena cinta, maupun diskusi ala akademisi demi kemajuan negara dan bangsa di masa depan di sini.

HIK SOLO
Aneka gorengan di hik/Rosla Tinika S

Berbekal uang 10 ribu saja, kita bisa memanjakan diri dengan nasi kucing dan lauk pauk beserta wedangan favorit di warung hik. Ya gimana, wong sebungkus nasi kucing hanya seharga Rp2.000–Rp3.000, es teh Rp2.000–Rp3.000 (ada juga yang masih Rp1.000/Rp1.500), dan gorengan seperti bakwan, mendoan, tempe gembus, tahu  paling banter Rp2.000 sudah dapat 3 biji (sebelum harga minyak goreng naik, sebelumnya hanya dijual Rp500). Lalu gorengan yang lebih high class seperti sosis atau tahu bakso harganya hanya Rp1.500–Rp2.000. Sangat cocok bagi manusia-manusia, khususnya mahasiswa yang perlu manajemen keuangan dengan baik agar tidak harus puasa siang malam di akhir bulan.

Pengunjung hik berasal dari berbagai kalangan dan usia, dengan latar belakang yang berbeda tersebut, mereka membaur satu sama lain—antara pembeli dan penjual maupun antar pembeli sehingga acap kali beragam wawasan baru hadir di tengah-tengah santap bersama. Ya, di sini pengunjung saling bertegur sapa meski mereka tak saling kenal, tidak seperti ketika kita makan di restoran.

Antara Hik, Angkringan, dan Wedangan 

Belakangan ini, ada sebagian masyarakat yang menyebut hik sebagai angkringan dan wedangan. Penyebutan ini banyak hadir dari luar Solo Raya karena sekilas, hik tampak tak jauh beda dengan angkringan maupun wedangan.

Orang menyebut angkringan karena penjualnya menggunakan angkring sebagai lapak. Begitu pula dengan wedangan. Menu wedang atau minumannya lah yang menjadi highlight bagi para pengunjung.

Meski terlihat sama, hik dan angkringan sejatinya memiliki perbedaan meski tidak terlihat mencolok. Hal ini karena zaman yang semakin berkembang membuat selera dan budaya masyarakat Jogja–Solo saling membaur. 

Sega kucing alias nasi kucing merupakan makanan wajib yang dijajakan baik di hik maupun angkringan. Belum bisa disebut hik maupun angkringan kalau tidak menyediakan nasi kucing sebagai sajian utamanya. Tetapi perlu diketahui, kalau nasi kucing yang dijual di hik dan angkringan punya perbedaan pada lauk pendamping. Lauk nasi kucing di angkringan umumnya terdiri dari sambal teri, sedangkan bandeng dengan sambal tomat menjadi lauk utama nasi kucing yang dijual di hik.

Akan tetapi, karena hik dan angkringan pada zaman sekarang bertebaran di mana-mana dengan pemilik yang berbeda-beda pula, hal ini menjadi berpengaruh terhadap sajian menu yang hadir. Bisa saja, kita menemukan nasi dengan sambal teri di penjual hik, atau sebaliknya. Meski begitu, masyarakat Solo tetap menyebut nasi dengan lauk bandeng dan sambal tomat sebagai nasi kucing.

HIK SOLO
Nongkrong sore di hik Pasar Rakyat Sraten, Sukoharjo/Rosla Tinika S

Selain itu, jika melihat jam operasionalnya juga kita akan menemukan perbedaan. Saat berkeliling di wilayah bekas kekuasaan Mataram, khususnya Solo atau Jogja, kita akan menemukan bahwa warung hik buka dari sore hingga malam. Padahal, hik pada umumnya justru banyak yang—meskipun waktu favorit masyarakat berkunjung ke hik adalah menjelang malam hari.

Lain lagi jika bertandang ke Solo Raya. Warung-warung hik sudah buka sedari pagi. Bahkan di tengah kota, ada hik yang buka selama 24 jam. Namun, jam operasional tersebut bukan pakem resmi, jadi kalau ada angkringan atau hik yang buka hanya saat pagi atau malam saja, ya kembali lagi tergantung dengan penjualnya. Wong mereka mau libur sehari saja juga nggak apa.

Selain itu, sundukan alias lauk sate-satean di hik jauh lebih bervariasi. Ada telur puyuh, usus, ati ayam, keong, bahkan manisan kolang-kaling, dan sebagainya. Antara hik dan angkringan, punya bumbu khas masing-masing untuk lauk jenis ini. Kalau di Solo, sate usus hanya berbumbu pedas, sedangkan di Jogja berasa pedas manis. Namun sekali lagi, hal ini bukan menjadi pakem. Kembali lagi referensi siapa pemilik hik dan angkringan tersebut.

Perbedaan lain, juga nampak pada menu wedang. Di Solo, hik menyajikan teh racikan sendiri. Membuat rasa dan aroma teh menjadi khas. Ada yang rasanya sepat, warna pekat, punya aroma harum, hingga teh dengan rasa pahit yang kuat. Sementara itu, angkringan di Jogja menyajikan kopi jos lengkap dengan arang panas yang dimasukkan ke dalam gelasnya. Kalau kamu pesan kopi jos di hik, pastinya belum tentu kopi jos arang tersaji karena masyarakat Solo tidak familiar dengan sajian satu ini.

Jadi, kamu lebih sering makan di hik atau angkringan?


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Sekarang aku tengah menjalani studi di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Teman-teman bisa mengunjungi akun instagramku @roslats_ untuk sekadar ngobrol atau berbincang-bincang mengenai berbagai hal.

Sekarang aku tengah menjalani studi di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Teman-teman bisa mengunjungi akun instagramku @roslats_ untuk sekadar ngobrol atau berbincang-bincang mengenai berbagai hal.
    Artikel Terkait
    ItineraryPerjalanan Lestari

    Q&A: Extinction Rebellion Indonesia tentang Ancaman Krisis Iklim

    ItineraryNusantarasa

    Menyantap Tiram Bakar Khas Barru

    Itinerary

    Masjid Menara Kudus, Kemegahan Arsitektur Kuno Warisan Sunan Kudus

    Itinerary

    Museum Layang-Layang Indonesia: Merawat Keelokan Budaya dengan Permainan

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Berburu Kuliner Bersejarah Khas Salatiga (2)