Travelog

Minggir ke Omah Minggir

Sebagai seseorang yang tinggal di pusat kota, kadangkala perlu sejenak menepi untuk mencari udara yang lebih luas. Terlebih setahun ini, kita dipaksa untuk sebanyak mungkin berada di rumah dan berkutat di dalam dinding-dinding yang dingin. Keluar hanya untuk mencari makan. Benar-benar dibuat bak tikus, seperti tahun Tikus Logam yang baru saja lewat.

Satu hari menjelang pergantian tahun dalam perhitungan kalendar Cina, saya dan seorang teman, Bulan, melakukan perjalanan 20 kilometer meninggalkan pusat Kota Yogyakarta. Cukup jauh jika dilihat dari parameter jauh-dekatnya Yogyakarta. 45 menit perjalanan tercatat pada Google Maps.

Kami akan mengunjungi sebuah warung kopi yang terletak di daerah Minggir, kecamatan paling barat Sleman sebelum melintasi Sungai Progo. Tampak langit berwarna kelabu. Sedikit khawatir akan turun hujan. Maklum, menjelang Imlek. Musim pun belum berganti dan masih di penghujan.

Dari pusat Yogyakarta, kami melaju dengan sepeda motor menuju arah Godean. 15 kilometer dari titik keberangkatan, kami sampai di Perempatan Moyudan lalu berbelok arah ke utara, menuju Minggir.

Jajaran ruko di sepanjang Jalan Godean berganti dengan hamparan hijau sawah dengan Bukit Menoreh sebagai batasnya. Matahari yang semula malu-malu, kini keluar menampakkan diri. Awan yang semula semu kelabu, diterbangkan oleh angin yang berembus lebih kencang dari sebelumnya, menyisakan biru lazuardi pada langit.

Pada sisi timur, Saluran Van der Wijck mengalir sejajar dengan jalan raya dari utara ke selatan, dari Sungai Progo sebagai hulu menuju hilir di Sedayu. Bok Renteng, begitu kanal itu biasa disebut, dibangun oleh Pemerintah Hindia-Belanda sebagai saluran irigasi untuk perkebunan tebu pada masa Sri Sultan HB VIII.

Lepas lima kilometer dari perempatan yang lalu, kami berbelok ke arah barat memasuki gapura Dusun Ngaranan. Tak jauh dari gapura, kami akhirnya tiba di tujuan; Omah Minggir.

Omah Minggir Jogja
Pintu masuk Omah Minggir/Perempuan Banyu

Pilihan yang tepat, pikir saya ketika memasuki pagar bambu Omah Minggir. Tampak bangunan rumah beratap limasan dengan dinding batu bata merah beserta jendela-jendela krepyak lawasan. Rumah kampung tanpa banyak polesan akhir. Ia apa adanya. Berbagai macam tumbuhan menghijaukan pekarangan. Beberapa di antaranya, merambat pada dinding rumah. Berada di posisi hook, Omah Minggir mendapatkan pemandangan yang lebih luas dari lainnya.

“Monggo, Mbak,” sapa ramah seorang bapak penjaga Omah Minggir.

Lepas bercakap sebentar dengan bapak yang menyambut, saya dan Bulan memasuki area utama yang berada di tengah. Sebuah bangunan joglo berukuran 10 kali 10 meter persegi dengan lantai tegel. Beberapa set meja dan kursi yang juga lawasan, memenuhi rumah joglo. Sepertinya rumah ini dirancang untuk menciptakan nuansa tua. Meski tua, rumah ini tidak renta. 

Di sisi utara, pintu gebyok tanpa ukiran berdiri sebagai pintu masuk menuju area penginapan. Oiya, selain sebagai warung kopi dan makanan, Omah Minggir juga memiliki homestay. Suara gemericik air dari kolam ikan menyambut kedatangan kami menapakkan kaki di rumah joglo.

Seorang bapak lain keluar dari dapur, juga menyambut, mempersilakan kami untuk berkeliling Omah Minggir.

“Di atas juga bisa,” sapanya ramah.

Omah Minggir Jogja
Lantai dua Omah MInggir/Perempuan Banyu

Maka, kami pun bergerak menuju lantai dua Omah Minggir melalui tangga kayu lawas di samping dapur. Menuju sebuah ruangan berdinding gebyok dan kayu-kayu lain yang tak kalah tua disangga oleh kejujuran kolom dan balok beton tanpa polesan. Di sudut, perabot lawasan mempercantik ruangan. Di sisi lain ruangan, satu rak berisi buku dan majalah sepertinya sengaja diletakkan agar tamu berkunjung terasa betah untuk membaca buku membuang waktu. Dan kursi-kursi sedan itu, berjajar menghadap jendela dengan pemandangan hamparan sawah. Amboi!

Lepas berkeliling, kami kembali menuju rumah joglo. Memilih duduk di set meja dan kursi tengah yang menghadap satu pintu gebyok di sisi selatan. Kolam ikan yang berada di sisi barat menyambung menuju sisi selatan rumah joglo, dirancang seperti sebuah sungai yang berisi ikan-ikan cethul kecil-kecil.

Saya jadi teringat masa kecil yang kerap mencari ikan cethul di Sungai Code. Biasanya, ikan hasil tangkapan itu akan digoreng kering oleh simbah saya. Rasanya gurih, nikmat sekali menjadi lauk nasi yang baru saja tanak.

Sayang, menu ikan cethul atau badar atau awan dikenal sebagai wader ini sedang tidak tersedia. Ikan belum bisa dipanen karena masih kecil-kecil. Alhasil, kami memesan iwak kali yang dimasak presto, lengkap dengan lalapan dan sambal mentah. Bulan memesan mendoan dan cocktail sebagai menu sampingan, sementara saya memesan singkong goreng dan kopi panas yang diseduh dengan vietnam drip.

Warung sepi. Hanya ada empat tamu termasuk saya dan Bulan. Beberapa waktu kemudian, datang dua orang lain. Suasana hening, tanpa ada deru bising.

Di dalam rumah joglo, duduk menghadap pintu gebyok dan kolam ikan, seperti sedang berada di beranda rumah kakek-nenek di desa. Semilir angin yang masuk tanpa sungkan membuat segala indra terasa rileks. Menu yang disediakan pun merupakan masakan rumahan dengan olahan iwak kali menjadi andalan.

Tak ada batas antara tuan rumah dan tamu, beserta lingkungan sekitar. Sesekali juga saya menganggukkan kepada warga yang kebetulan lewat dan memandang ke arah kami, atau menyahut sapaan anak-anak kecil yang baru saja bermain di sungai. Saya dan Bulan bercakap sederhana seperti bersenda gurau di beranda rumah. Barangkali memang itu yang ingin disuguhkan oleh si pemilik, agar para tamu merasa seperti berada di rumah sendiri, atau seperti berlibur ke rumah kakek-nenek di desa.

Sepertinya hidup di lingkungan pedesaan, rumah kampung dengan bentangan alam yang lebih luas dari lainnya adalah impian manusia kota seperti saya. Suara gemericik air, kecipak bebek-bebek di sawah, senyum ramah manusia lain adalah obat dari hingar bingarnya suara kota.

Tak terasa sudah menjelang sore. Saya dan Bulan harus beranjak meninggalkan Omah Minggir untuk kembali pulang. Saya sendiri sebenarnya masih ingin berlama-lama, memesan lagi segelas kopi untuk menghabiskan sore, tapi sepertinya kesempatan itu sedang tidak berpihak, mungkin lain kali saya harus kembali.

Bagi saya, minggir kali ini cukup menyenangkan. Tempat yang tenang dengan makanan yang sederhana berhasil menghangatkan syaraf-syaraf yang kusut dan dingin oleh dinding-dinding tembok rumah.

Mengalir sampai jauh. Terbang hingga menghilang.

Perempuan Banyu

Mengalir sampai jauh. Terbang hingga menghilang.
Artikel Terkait
NusantarasaTravelog

Kisah Kopi Hitam di Warung Tadasih

Travelog

Monumen Kresek dan Kisahnya

Travelog

Anjing-anjing yang Memandu Kami di Gua Maria Bukit Kanada

Travelog

Menengok Gugusan Karang di Pantai Watu Leter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *