Travelog

Menyimpang Sesaat ke Lampegan

Jarum jam menunjukkan pukul 09.52 saat aku sampai di bundaran Pasir Hayam, Cianjur. Pagi itu, aku dalam perjalanan dari Bandung menuju Sukabumi. Di Kota Moci itu, aku perlu bertemu seseorang. Jarak dari Pasir Hayam ke Sukabumi sekitar 27,8 kilometer. Jika tidak macet, dengan berkendara, jarak tersebut dapat ditempuh dalam tempo kurang dari satu jam.

Kupikir, kalau langsung melaju ke Sukabumi, aku akan sampai ke sana terlalu dini. Pasalnya, aku bikin janji untuk ketemu dengan seseorang itu sekitar pukul 14-an. Maka, aku memilih untuk tidak langsung capcus ke Sukabumi.

Dari bundaran Pasir Hayam, aku mengambil rute yang mengarah ke Cibeber, Cianjur Selatan. Cuaca cukup cerah. Langit terlihat biru. Jalur Pasir Hayam—Cibeber hari itu relatif lengang.

Bunderan Pasir Hayam
Bunderan Pasir Hayam/Djoko Subinarto

Setelah hampir 10 kilometer melaju, cuaca yang sedikit panas memaksaku akhirnya menepi di sebuah jongko penjual es degan. Sembari ikut beristirahat, aku pesan satu gelas es degan, dengan sirup gula aren. Harga per gelasnya terbilang murah, Rp3.000. Di jalur Cianjur—Sukabumi, satu gelas es degan biasanya dibanderol Rp5000. Bahkan, ada yang membanderol Rp7.000 per gelas.

Kelar menikmati es degan, aku lanjutkan perjalanan. Posisi perjalananku terus mengarah ke selatan. Ke arah Alun-alun Cibeber. Namun, sekitar dua kilometer sebelum Alun-alun Cibeber, aku berhenti.

Kubuka ponsel dan mulai mengakses Google Map. Di seberang dari tempatku berhenti, ada jalan menanjak ke arah barat. Dari Google Map, kuketahui jalan itu menuju ke Lampegan—sebuah stasiun kecil di daerah Campaka, Cianjur. Nah, dari Lampegan, nanti bisa tembus ke Sukabumi via Cireunghas.

Kupikir sebaiknya aku coba rute Lampegan—Sukabumi ini. Sekadar untuk memastikan, aku pun lantas bertanya kepada seorang pria yang kutaksir usianya sekitar 40-an, dan tengah berjaga di persimpangan jalan, membantu mengarahkan dan mengatur kendaraan yang lalu-lalang.

Leres. Engke tiasa ka Lampegan. Ka Gunung Padang oge tiasa,” jelasnya dalam bahasa Sunda (Benar. Ini nanti bisa ke Lampegan. Juga bisa ke Gunung Padang).

Aku ikuti petunjuknya. Kondisi jalan mulus. Namun, tidak terlalu lebar. Maklum, jalan pegunungan. Naik-turun. Semakin jauh, jalanan semakin sepi. Kanan-kiri masih banyak kebun, sawah atau pun semak-semak.

Setelah beberapa tanjakan kulewati. Di pinggir sebuah kebun, aku memilih berhenti. Kali ini aku mengeluarkan minuman kemasan, rasa sari jeruk dari tas punggungku. Kuminum beberapa teguk untuk membasahi tenggorokan. Tak sengaja, aku melihat beberapa buah kweni matang yang tergeletak di atas rumput. Aku celingukan. Tak jauh dari aku berhenti rupanya berdiri sebatang pohon kweni yang tengah berbuah lebat. 

Aku ambil dua buah kweni yang tergeletak di rumput. Aku masukkan ke tas punggung. Namun, beberapa meter setelah aku teruskan perjalananku, aku membatin bahwa aku tak berhak mengambil buah kweni itu.

Aku lalu balik kanan. Kembali menuju pohon kweni. Kuambil dua kweni yang tadi disimpan di tas punggungku. Aku letakkan lagi di atas rumput, seperti semula aku menemukannya. 

Setelah itu, aku meneruskan perjalananku. Beberapa jenak kemudian, sampailah aku di sebuah persimpangan. Ada plang penunjuk jalan. Ke kiri, Gunung Padang dan Lampegan. Ke kanan, Warungkondang, Sukabumi, dan BandungAku ambil kiri. Artinya, menuju Gunung Padang dan Lampegan. Seperti juga jalan yang aku lalui sebelumnya, ini adalah jalan pegunungan. Namun, relatif lebih ramai. Namun, tentu saja dibanding jalan raya utama, jalan ini masih terbilang sepi. Beberapa kali aku berhenti untuk mengecek Google Map cuma memastikan bahwa aku tak salah arah.

Perlintasan KA Lampegan
Perlintasan KA Lampegan/Djoko Subinarto

Dan akhirnya, aku melihat bentangan rel kereta api (KA). Itu adalah rel KA jalur Sukabumi—Cianjur. Tak lama berselang, aku pun sampai di perlintasan KA rel tunggal. Setelah sebuah perlintasan, ada dua pilihan arah. Ke tenggara ke Gunung Padang, ke barat daya ke Stasiun KA Lampegan. Aku lantas menuju arah barat daya. Tak banyak pengguna jalan melintas. Beberapa meter setelah melaju, tibalah aku di depan Stasiun KA Lampegan. 

Ada beberapa sepeda motor terparkir di depan stasiun. Sayup-sayup, aku dengar suara orang tengah berbincang dari dalam stasiun. Aku menduga mereka adalah petugas stasiun yang sedang berdinas siang itu.

Aku bergegas ke arah sisi barat stasiun. Sejurus kemudian, aku melihat bangunan terowongan legendaris Lampegan, yang merupakan salah satu terowongan pertama di Jawa Barat. Di atas terowongan tertera keterangan tahun: 1879-1882.

Beberapa literatur menyebut bahwa Lampegan berasal dari kata laam pegang. Konon, saat terowongan itu dibangun, petugas Belanda yang melakukan inspeksi kerap meneriakkan kalimat “Laam pegang!”  kepada para pekerja. Dalam bahasa Belanda, ‘laam’  berarti lampu.

Terowongan Lampegan dibangun Staatsspoorwegen (SS), perusahaan KA milik pemerintah kolonial Belanda. Pembangunan terowongan ini sebagai bagian dari proyek jalur KA Bogor-Bandung via Sukabumi-Cianjur. Pemerintah kolonial Belanda perlu membangun jalur KA Bogor-Bandung untuk mempercepat pengangkutan hasil bumi ke Batavia sebelum diekspor ke luar negeri via Pelabuhan Tanjung Priok.

Terowongan Lampegan
Terowongan Lampegan/Djoko Subinarto

Selagi aku tengah mengamati terowongan Lampegan, seorang pria, yang merupakan petugas terowongan (terlihat dari baju yang dikenakannya) berjalan menuju arah terowongan. Karena aku mau ke Sukabumi hari itu, aku tanyakan saja kepadanya rute menuju Sukabumi via Cireunghas. 

“Dari sini lurus. Nanti, ada jalan ke atas, sebelah kanan. Ikuti jalan itu. Jalannya sudah bagus. Bisa tembus ke Cireunghas,” katanya, sembari menunjuk arah timur.

Aku ikuti penjelasan petugas terowongan tadi. Aku bergerak ke arah timur. Begitu sampai di jalur jalan yang dimaksud, aku temui seorang penduduk untuk kembali memastikan rute yang harus kulewati.

“Betul, ini bisa ke Cireunghas. Lurus saja dulu. Nanti, habis kebon karet, ada warung bakso, ambil jalan yang menurun, di kanan. Tembusnya nanti bisa ke daerah Cireunghas,” ujar seorang pria bertelanjang dada, yang aku tanyai, persis di depan rumahnya.

Aku memeriksa Google Maps, jarak dari Lampegan ke Cireunghas sekitar 10,3 kilometer. Adapun dari Cireunghas ke Sukabumi berjarak sekitar 13,9 kilometer. Kulirik arloji, waktu menunjukkan pukul 13.10. Kuperkirakan, pukul 14 kurang sedikit aku sudah berada di Sukabumi.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu
!

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Berkebun Karang bersama Nuansa Pulau

    Travelog

    Yogyakarta: dari Tebing Breksi, hingga Malioboro

    Travelog

    Sepenggal Kisah dari Lawatan ke Pendiri Salib Putih Salatiga

    Travelog

    Tak Sengaja Menemukan Tugu Helm Kopral Syarif

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    KA Prameks Solo-Jogja dan Kisah Sebelum Berpisah