Travelog

Menyeberang ke Pulau Merah

Banyuwangi terkenal dengan keindahan pantainya, di kota ini terdapat lebih dari 20 pantai. Salah satunya yang banyak dikunjungi wisatawan yaitu Pantai Pulau Merah, terkenal oleh kalangan wisatawan karena memiliki Pulau Merah. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi memperkenalkannya ke dunia internasional sebagai Merah Island Beach. Dulunya bernama Pantai Ringinpitu karena banyak pohon beringin di sekitar pantai, kemudian lebih dikenal dengan sebutan Pantai Pulau Merah.

Pantai Pulau Merah terletak di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran. 80 kilometer dari pusat Kota Banyuwangi. Baik dari Kota Banyuwangi maupun Jember, dari arah Jajag hingga perempatan lampu merah Jajag—yang ditandai dengan patung macan putih di tengahnya—setelahnya akan menjumpai banyak penunjuk arah menuju Pantai Pulau Merah. Diskominfo Banyuwangi, Dishub Banyuwangi, dan Disbudpar Banyuwangi menyediakan angkutan wisata gratis untuk pejalan yang tidak menggunakan kendaraan pribadi. Program ini diadakan beberapa kali setiap bulannya.

Deretan penginapan berupa homestay dan vila yang tak dapat dihitung dengan sepuluh jari tangan saya, berjajar di sekitar lokasi, 300 meter sebelum loket yakni mulai masuk Jalan Pantai Pulau Merah. Petugas menyambut kami di loket, di situ tertera harga tiket masuk Rp10.000 per orang, parkir kendaraan bermotor roda empat Rp5.000 dan Rp2.000 untuk kendaraan roda dua.

Geopark Nasional

Pulau Merah merupakan tiang batu (sea stack) yang terdapat sekitar 200 meter dari pinggir pantai berpasir putih. Dinamakan merah karena berasal dari batuan berwarna merah dari mineral yang mengandung besi. Batuan beku jenis diorit atau granodiorit yang disingkapkan Pulau Merah, mengalami alterasi (perubahan), dan terkekarkan dengan kuat karena diterobos berkali-kali oleh magma di bawah gunung api purba yang masih aktif 8-4 juta tahun yang lalu. Pada 3,2 juta tahun yang lalu aktivitas vulkanisme telah terhenti hingga sekarang.

Pada 2018, Komite Geopark Nasional menetapkan Situs Geologi Pulau Merah sebagai Taman Bumi atau Geological Park (Geopark Nasional) yang menjadilaboratorium geologi dunia.

Gapura Pulau Merah
Gapura Pulau Merah/Malikha Emayushita

Dari tempat parkir tampak gapura bertuliskan “Pantai Pulau Merah”, pulau seakan terbingkai dalam gapura. Untuk memotret, atau sekedar swafoto, saya harus antre dengan dua ibu berusia lebih dari setengah abad yang asyik dengan gawai masing-masing, mereka berulang kali mengambil potret diri karena merasa kurang puas dengan hasil foto yang sudah diambil. Saya akui,  pergi ke sini saat akhir pekan bukan pilihan yang tepat. Jumlah pengunjung lebih banyak dari hari-hari biasa.

Biota Laut pada Hamparan Koral

Pantai Pulau Merah memiliki hamparan pasir putih sepanjang 3 kilometer. Terkenal dengan ombaknya hingga setinggi 5 meter. Selain bermain dengan deburan ombak, pengunjung juga bisa menyeberang ke Pulau Merah, sebuah pulau dengan bukit kecil berwarna hijau setinggi sekitar 200 meter. Sore hari jika ombak tenang dan air laut surut hingga sebatas mata kaki, kita bisa menyeberang, menyusuri karang menuju pulau yang pasirnya berwarna kemerahan.

Jika dihubungkan, Pulau Merah merupakan fosil dari Gunung Ijen. Bongkah batu yang banyak mengandung besi menimbulkan pecahan koral, sehingga banyak hewan invertebrata menempati zona tersebut, seperti kima (Tridacnidae), tiram (Ostreidae), bintang rapuh (Frittle Star), teripang (Holothuroidea), cacing laut (Polychaeta), dan bulu babi (Echinoidea).

Sore itu ketika kami melintasi koral, air laut terlihat jernih, sehingga biota laut terlihat jelas. Saat itu yang kami jumpai pada hamparan koral hanya cacing laut, bintang rapuh, dan bulu babi. Saat tiba di pulau, saya memandang air beriak. Berkeliling menggunakan perahu nelayan.

Terdapat Pura Segara Tawang Alun dan Langgar Jogo Segoro

Di Kawasan Pantai Pulau Merah terdapat Pura Tawang Alun, pura ini berdiri tahun 1980, untuk mengenang Prabu Tawang Alun. Biasanya, pemeluk agama Hindu yang melaksanakan upacara Mekiyis di sini. Pura ini juga dikenal melalui upacara Melasti yang diadakan setiap menjelang Hari Raya Nyepi.

Kawasan yang dikelola oleh Perum Perhutani Unit II Jawa Timur, Kesatuan Pemangkuan Hutan Banyuwangi Selatan ini dilengkapi musala bernama Langgar Jogo Segoro, yang terletak di tepian pantai sebelah selatan, disediakan untuk umat muslim menunaikan salat . Langgar dalam bahasa Jawa yang artinya musala atau surau. Sehingga bagi para wisatawan muslim yang berkunjung ke Pantai Pulau Merah seharian tentunya merasa nyaman, karena keberadaan musala.

Bangunan tersebut dibangun pada 2 Februari 2020, digagas oleh Tanggung Ahmad Fauzy, yang dikenal dengan Abah Tanggung. Bila sebelumnya berbentuk kecil, lalu pada 16 Maret 2021 ada pembangunan lanjutan. Kayu-kayu sebitan atau kayu sisa tebangan, dan juga bebatuan pantai tampak menghias gapura musala.

Berkali-kali datang ke Pantai Pulau Merah, saya tak pernah bosan. Justru tiap kali ke sana ada saja hal baru yang menarik. Karena menikmati pantai ini tak hanya cukup dengan satu aktivitas saja dan menelusuri satu bagian saja.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Suka sekali membaca, menulis, dan bepergian menjelajahi tempat baru, serta berkenalan dengan budayanya termasuk kuliner. Lalu membagikan cerita di akun Instagram @maliheh_muchith

Suka sekali membaca, menulis, dan bepergian menjelajahi tempat baru, serta berkenalan dengan budayanya termasuk kuliner. Lalu membagikan cerita di akun Instagram @maliheh_muchith
    Artikel Terkait
    Travelog

    Sepenggal Kisah dari Lawatan ke Pendiri Salib Putih Salatiga

    Travelog

    Tak Sengaja Menemukan Tugu Helm Kopral Syarif

    NusantarasaTravelog

    Sarapan dengan Semangkuk Lontong Kari Kebon Karet

    Perjalanan LestariTravelog

    Mengepul Sampah di Longos Bersama Nomad Plastic

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Kami “Melarikan Diri” ke Pantai Remen