Semasa CoronaTravelog

Menuju Nusa Tenggara Timur Semasa Corona (1)

Selain belum cukup lama, perjalanan (baca: drama) ini pun belum selesai semua dan detail saya ceritakan ke kawan atau orang terdekat, baik secara lisan maupun dalam bentuk tulisan.

Jadi, ceritanya, bulan Juni 2021 kemarin, saya diajak pergi berkunjung oleh kawan ke Nusa Tenggara Timur (NTT). Kami ke sana sebagai relawan, dalam rangka penyaluran bantuan recovery (pemulihan) pascabencana badai siklon tropis Seroja yang melanda NTT pada April 2021 lalu.

Saya dan kawan sudah merencanakan beberapa agenda di NTT, mulai hari pertama hingga hari terakhir di sana. Kami berencana empat hari di sana, di tiga kabupaten/kota yaitu ke Kota Kupang, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), dan ke Kabupaten Malaka. Tentu, saya senang bukan alang kepalang. Karena perjalanan ke NTT merupakan perjalanan pertama saya; saya belum pernah menginjakkan kaki dan mengenal daerah dan orang-orang di sana.

Saya hanya punya pengalaman bertemu atau lebih tepatnya memandangi orang Kupang yang merantau, yang bekerja di pabrik-pabrik di tempat kelahiran saya di Kabupaten Bogor. Mereka, tidak banyak, mengontrak tempat tinggal di desa saya, yang dekat dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki menuju pabrik. Mereka, orang-orang Kupang, berangkat ke pabrik pagi dan pulang sore hari. Dan saya beserta kawan-kawan masa kecil hampir saban sore—saat bermain bola di tanah lapang merah belakang pabrik—melihat mereka sepulang bekerja, dengan wajah yang lelah dan berkeringat. Dan postur tubuh mereka, saya lihat memang tinggi-tinggi dan besar. Kami—atau mungkin cuma saya—kerapkali takut memandangnya.

Itu pengalaman masa kecil saya saat berjumpa dengan orang-orang dari Kupang. Kira-kira, saya masih duduk di bangku kelas 5 SD.

Intinya, waktu hendak melakukan perjalanan ke NTT, saya sangat bersemangat. Terlebih, tempat singgah utama kami berada di Kota Kupang. Ya, saya ingin mengenal daerah dan orang-orang di sana, meskipun barang sejenak.

Sebuah “drama” perjalanan terjadi di Bandar Udara Halim Perdanakusuma. Sebelumnya, perlu saya sampaikan bahwa tiket penerbangan kami dimulai dari Bandara Halim Perdanakusuma, transit di Bandara Juanda Surabaya, lalu dari Surabaya lanjut terbang menuju Kupang, tepatnya ke Bandara El Tari.

“Drama” terjadi pada pagi hari, tanggal 15 Juni. Saya dan kawan tiba di Bandara Halim Perdanakusuma sekitar pukul 04.00 WIB, lalu antre panjang di satu-satunya jalur yang ada untuk validasi surat hasil tes GeNose yang menyatakan bahwa kami sehat dan tidak terpapar COVID-19. Ya, ini perjalanan pertama kami di masa pandemi.

Tiba di depan petugas, surat hasil tes GeNose kami ternyata ditolak. Tidak diterima. Alasannya, surat yang kami bawa, bukan dikeluarkan oleh Layanan GeNose di Bandara Halim Perdanakusuma. Jadi, intinya, kalau tes GeNose mesti di Halim. Itu peraturan dari Angkasa Pura II, kata petugasnya. Dan layanan GeNose di Halim mulai buka jam 6 pagi. Sementara penerbangan kami ke bandara transit di Surabaya, itu pukul 05.15 WIB. ‘Kan lucu.

Waktu makin mepet, kami panik. Dari Halim kami balik ke kantor di Jakarta Pusat untuk mengambil surat keterangan hasil tes Antigen sore hari sebelum keberangkatan. Kami minta ke sopir taksi buat ngebut dan nantinya mencoba balik lagi ke Halim untuk mengejar pesawat. Tidak bisa. Tiba di kantor, waktunya terlalu mepet. Pak sopir juga tidak berani ngebut, “Karena kendaraan pagi kencang-kencang, gerimis, jalanan licin, khawatir kecelakaan,” kata sopir.

Akhirnya kami membeli tiket baru dari Soekarno-Hatta tujuan Bandara Juanda Surabaya untuk mengejar pesawat dari Surabaya ke Kupang, jam 10 kurang. Tentu, tiket Halim-Juanda hangus sudah. Seperti telah saya sampaikan di muka bahwa agenda kami ke NTT adalah untuk menyalurkan bantuan secara langsung dari para donatur kepada para warga terdampak bencana badai Seroja. Jadi, kami harusnya menghemat biaya operasional. Namun, apa mau dikata jika kejadiannya demikian. Kejadian yang sungguh tidak terduga menyebalkannya.

Singkat cerita, kami tiba di Soekarno-Hatta dengan mantap membawa dua surat keterangan hasil tes Antigen dan GeNose yang ditolak di Halim. Di depan petugas di Soekarno-Hatta, aku coba menyerahkan surat keterangan hasil tes GeNose dulu. Dan, surat tersebut diterima. Surat Antigen masih dalam amplop. Kami pun berjalan masuk, sambil misuh.

Halim dan Soekarno-Hatta sama-sama dikelola oleh Angkasa Pura II, tapi kok peraturannya bisa beda? Sungguh, “drama” pagi hari yang menyebalkan.

Mendengarkan cerita warga Mualaf yang selama 40 tahun tidak memiliki tempat ibadah berjamaah
Mendengarkan cerita warga Mualaf yang selama 40 tahun tidak memiliki tempat ibadah berjamaah/Wahyu Noerhadi

Akan tetapi, “drama” itu tampaknya terbayar lunas ketika saya dan kawan tiba di Bandara El Tari, ketika saya menginjakkan kaki di Pulau Timor. Juga ketika melakukan perjalanan dan berjumpa dengan orang-orang di sana, di Kupang, di Kabupaten TTS dan di Kabupaten Malaka.

Masyarakaat Desa Oebelo, TTS, menyambut kedatangan kami dengan tradisi adat natoni, mereka mengalungkan syal tenun khas NTT dan penuturan bahasa Dawan, bahasa suku Atoni; mendengarkan kisah mereka sebagai warga mualaf sejak 1981 sampai sekarang (selama 40 tahun) belum memiliki tempat ibadah bersama, dan masjid terdekat pun jaraknya 11 km yang berada di lain desa dan lain kecamatan. Kemudian, melihat keelokan Pantai Kolbano—di tengah perjalanan dari TTS menuju Malaka—yang jernih airnya biru sejati dengan keajaiban hamparan kerikil (bukan pasir); juga saat di Malaka, mendengarkan langsung aksi heroik warga menyelamatkan diri sekaligus mengevakuasi korban banjir bandang.

Satu lagi. Kisah Bu Ona Baso, seorang Ibu Rumah Tangga di Kota Kupang yang suaminya selama 2 bulan tidak bisa pergi melaut dan mencari ikan karena kapalnya yang hancur diporakporandakan badai Seroja. “Ya, dua bulan tidak melaut saya punya suami. Sekarang sudah ke laut lagi, dan alhamdulillah ini dapat rezeki (bantuan), karena kadang kalau di laut tidak sama sekali. Terima kasih atas bantuannya,” tutur Ona, saat kami berjumpa dan menyalurkan bantuan kebutuhan pokok kepada warga di Kupang, yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Wahyu Noerhadi, peranakan Sunda-Jawa, yang kini semi-menetap di Ibu Kota. Di tengah kesibukan bekerja sebagai buruh media, suka menulis cerita dan main atau nonton bola.

Wahyu Noerhadi, peranakan Sunda-Jawa, yang kini semi-menetap di Ibu Kota. Di tengah kesibukan bekerja sebagai buruh media, suka menulis cerita dan main atau nonton bola.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Bersumpah Berhenti Merokok di Bibir Jonggring Saloko

    Travelog

    Liburan Indie di Kakek Bodo Campground, Pasuruan

    Travelog

    Purun yang Menjadi Nyawa Kampung Purun

    Semasa CoronaTravelog

    Bersepeda Pagi Menuju Stadion Manahan Surakarta

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Worth reading...
    Melihat Lebih Dekat Rupa Perjalanan dari Kupang ke Rote Kala Pandemi