Travelog

Menghabiskan Waktu Petang di Pantai Mertasari

Sama sekali tidak ada rencana kala itu untuk pergi ke pantai. Ajakan ibu akhirnya meluluhkan hati saya untuk ikut bertandang ke tepi laut, tepatnya Pantai Mertasari.  Saya berangkat dengan menaiki mobil bersama 4 orang anggota keluarga lainnya dari arah Denpasar, tepatnya dari daerah Panjer.

Kira-kira, sekitar 15 menit kami menghabiskan waktu di perjalanan menuju pantai yang berlokasi di kawasan Sanur itu. Suasana lalu lintas kala itu sangat bersahabat. Tidak ada kemacetan berarti yang kami jumpai. 

Pukul 4 sore, kami pun tiba di sana. Sebelum memarkir mobil, kami bertemu beberapa orang berpakaian pecalang (polisi adat bali) yang berjaga di pinggir jalan dekat pantai. Mereka memberikan karcis masuk kepada saya setelah saya memberikan satu lembar uang lima ribu rupiah.

Saat mobil sudah berhenti melaju dan berada di parkiran, segera saya meraih tas berisi minuman dan bergegas membuka pintu. Baru saja menurunkan sebelah kaki, sudah saya rasakan angin pantai yang menyapa dan menyambut kedatangan saya.

Memang itu bukan kali pertama saya berkunjung ke sana, tapi rasanya selalu antusias untuk melihat hamparan pasir putih di pantai ini.

Tumpukan kano dan pelampung yang disewakan
Tumpukan kano dan pelampung yang disewakan/Komang Trisnadewi

Dari parkiran kami langsung mencari jalan yang sudah disediakan untuk pejalan kaki. Sekitar 5 menit kami berjalan ke arah utara menyusuri  jalan yang terkadang dilalui juga oleh pengendara sepeda dan sepeda motor.

Di sebelah kanan, dari kejauhan sudah terlihat pantai yang dipenuhi orang-orang dengan melakukan aktivitasnya masing-masing. Ada yang sedang menjajakan dagangannya, ada yang sedang bermain air, ada yang sedang berendam, ada yang sedang berenang, ada yang sedang duduk sambil menikmati pemandangan dan udara pantai, dan ada juga yang bermain kano.

Di satu bagian, saya melihat tumpukan pelampung dan kano yang siap untuk disewakan bagi mereka yang  ingin mencobanya. Warna yang disediakan untuk ban pelampung pun berwarna warni, menarik perhatian.

Dari kejauhan, pengunjung yang saya lihat pun beragam, mulai dari bayi, anak-anak, remaja bahkan dewasa. Tidak hanya warga lokal saja yang memenuhi pantai saat itu, tapi saya juga melihat beberapa turis yang ikut berbaur di sana.

Di sebelah kiri, pandangan saya dimanjakan oleh bangunan pendukung pariwisata mulai dari hotel, restoran dan café yang menyajikan santapan yang tentunya menggugah selera saya mulai dari kuliner lokal dan mancanegara seperti tipat cantok, rujak, pizza, spaghetti, dll. Sesekali langkah saya terhenti untuk sekedar mencari tahu nama tempat dan makanan yang disajikan. 

Langkah kaki kami akhirya berbelok ke kanan menuju laut yang dikelilingi pasir. Segera kami mencari tempat strategis, tempat yang tentunya berjarak dengan pengunjung lain agar lebih leluasa untuk meletakkan barang-barang bawaan.

Setelah menentukan posisi yang tepat, segera saya membuka alas kaki, menggesernya ke sebelah kanan dan langsung duduk sambil memeluk lutut. Tak lupa saya memainkan pasir dengan jari-jari kaki lalu sesekali menyembunyikannya ke dalam pasir. Ah, sungguh menyenangkan. Angin pantai memang agak kencang jadi saya akali dengan dengan memakai topi agar kepala tidak pusing. Cuaca saat itu berawan, syahdu.

Menghaturkan Canang Sebelum Melukat
Menghaturkan Canang Sebelum Melukat/Komang Trisnadewi

Saat itu tujuan awal kami ke pantai adalah untuk melukat atau membersihkan diri. Umat Hindu di Bali biasanya melukat pada hari Purnama, Tilem.  atau Kajeng Kliwon dan banyak yang melakukannya di pantai.  Nah kebetulan saat itu bertepatan dengan hari Kajeng Kliwon, jadi tidak hanya kami saja yang datang untuk melukat, tapi ada beberapa orang lain yang saya lihat memakai kamen (kain bawahan pakaian adat Bali) sambill membawa canang untuk dihaturkan terlebih dahulu sebelum membersihkan diri dengan air pantai seperti yang kami lakukan. 

Kebetulan saat itu saya sedang kedatangan tamu bulanan jadi tidak ikut masuk merasakan segarnya air pantai. Saya hanya duduk sambil melepaskan pandangan ke hamparan pasir putih dan birunya laut. Sama sekali tidak membosankan. Rasanya sangat bahagia melihat orang-orang tertawa lepas, berteriak-teriak sambil bermain air dengan puasnya. Terkadang mereka saling memercikkan air satu dengan yang lainnya, berkejar-kejaran dan ada beberapa yang hanya sekedar duduk di atas pasir sambil memainkannya dan membentuknya menjadi gunung, istana atau imajinasi lainnya. 

Saat sedang asyik menikmati sekeliling, tiba-tiba  pandangan saya teralihkan oleh seorang lelaki paruh baya yang sedang melintas sambil menyunggi kotak berisi makanan dengan ditutupi plastik. Ia seorang penjual lumpia. Lumpia adalah makanan khas yang dapat dijumpai di daerah pantai. Sangat identik dengan pantai dan menurut saya sangat cocok disantap sambil menghabiskan petang di pantai. Segera saya memanggilnya, “Lumpia!” Dengan sigap penjual tersebut menolehkan kepala dan membalikkan tubuhnya sambil tersenyum. Senyum bahagia menyambut pelanggan.

Lumpia di Pantai Merta Sari
Lumpia di Pantai Merta Sari/Komang Trisnadewi

Saat menurunkan dagangan yang disunggi dan membuka tutup plastiknya, saya dapati beberapa jenis gorengan. Gorengan yang dijual tidak hanya lumpia, ada juga tempe, tahu, dan ote-ote. Saya membeli satu porsi dengan isian yang dicampur. Gorengan tersebut dipotong-potong kecil dan selanjutnya disiram dengan saus kacang kental dan ditaburi irisan cabe hijau yang menambah cita rasa lumpia menjadi agak pedas.

Cukup dengan uang lima ribu rupiah, saya sudah bisa mencicipi makanan yang katanya adalah jajanan tradisional perpaduan Tionghoa-Jawa. Beberapa penjual lumpia memang terlihat lalu lalang di pantai dan sesekali juga terlihat penjual minuman, namun jumlahnya tidak banyak. Saya langsung menikmati santapan lezat itu dengan menggunakan alas plastik makanan yang dibentuk kerucut dan lidi sebagai sendoknya sembari menunggu anggota keluarga lainnya yang sedang berendam.  

Langit dan Air Pantai Merta Sari
Langit dan Air Pantai Merta Sari/Komang Trisnadewi

Setelah puas berendam dan menikmati lumpia, kami pun bergegas meninggalkan pantai. Sebelumnya keluarga saya sudah mengganti pakaian di tempat yang telah disediakan Terdapat bangunan khusus untuk berganti pakaian dan mandi yang berada di deretan restoran dan café di bagian barat. Di sepanjang perjalanan menuju tempat parkir, pandangan saya tak henti-hentinya melirik ke arah pantai hingga beberapa kali saya tersandung.

Langit biru berawan, laut biru tenang dan hamparan pasir putih sangat menggoda saya. Pemandangan pantai itu seakan-akan memanggil saya untuk kembali duduk di sana. “Iya, saya akan datang lagi,” bisik saya dalam hati.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Berusaha mengabadikan ide dan kenangan dalam bentuk rangkaian kata

Berusaha mengabadikan ide dan kenangan dalam bentuk rangkaian kata
    Artikel Terkait
    Travelog

    Harapan di Tanah Perantauan

    Travelog

    Perjalanan ke Gunung Butak

    Travelog

    Sebuah Petualangan di Bukit Gading

    Travelog

    Sepenggal Kisah di Balik Pembangunan Sirkuit Mandalika

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Worth reading...
    Geliat Wisata Gili Ketapang, Ada Masyarakat Merana