Travelog

Senja dan Harapan Baru Diujung Pantai Nunhila

Menginjak usia 20 tahun dan masih berstatus sebagai mahasiswa semester 6, membuat saya sedikit demi sedikit mulai serius memikirkan masa depan. Menyadari masa yang saya lalui saat ini bukan lagi bermain, melompat dan berlari sembari tertawa riang bersama teman. Tidak lagi.

Pikiran menjadi kalut tak karuan, banyak hal dipikirkan. Seakan-akan tiap unsur 5W+1H lengkap dipertanyakan. Tak jarang, saya memilih mengasingkan diri dari orang-orang. Berdiam di dalam kamar, merenungi, dan merancang strategi seperti apa saya nanti.

Ketika sedang merebahkan diri diatas kasur empuk, dengan wangi sprei yang baru saja dicuci oleh ibu, tiba-tiba suara telepon masuk berdering. Seorang teman menghubungi. Kami berbincang sekitar 5 menit, kemudian dia mengajak saya keluar untuk sekadar menikmati senja bersama hangat sinarnya itu. “Waktu yang pas bagi pikiran yang kalut” gumam saya. 

Tak butuh waktu lama, motor saya sudah melaju menuju tempat yang disepakati, Pantai Nunhila. Pantai yang terletak di Kecamatan Alak, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Sekitar 15 menit perjalanan, saya pun sampai pukul 16.25 WITA. Saya memarkirkan motor dan langsung menghampiri teman yang sudah duduk dengan balutan hoodie ungu nya.

Kami duduk diatas tanggul pembatas antara jalan dan pantai dengan tinggi sekitar 1 meter. Tenang, jarak tanggul dengan pantai kurang lebih 5 meter. Di hadapan kami terbentang pantai yang luas, dengan aktivitas nelayan dikejauhan sana. Beberapa perahu nelayan ada yang lalu-lalang di depan kami. “Ingin suatu saat saya menaiki perahu tersebut, berkelana, mencari tujuan hidup saya,” seru saya kepada teman di samping. Dia tidak menanggapinya, mungkin karena sedang fokus memperhatikan laju perahu itu.

Suasana sore itu cukup ramai, selain karena pantai ini terletak tepat di samping jalan raya, cukup banyak pengunjung yang juga hadir menikmati senja bersama keluarga atau sekadar melepas lelah selepas pulang kantor. Ada beberapa anak muda yang nongkrong dan bersenda gurau. Melihat mereka tertawa, saya seperti menyerap energi positif dari mereka.

Suasana Pengunjung dan PKL di Sekitaran Tanggul/Resti Seli

Pantai Nunhila memang sudah disiapkan pemerintah setempat sebagai salah satu tempat wisata dengan suguhan sunset terbaiknya. Itulah mengapa, pantai ini sangat terkenal di Kota Kupang. Selain suguhan sunset yang begitu indah, tak lengkap rasanya apabila tidak ditemani jajanan kaki lima. Minuman hangat, jagung bakar, dan yang paling terkenal adalah Salome khas Kota Kupang, jajanan bulat dan kenyal (bukan cilok) berisi daging disajikan dengan kuah ditambah sambal, kecap, dan saos. Walaupun banyak PKL, jangan diragukan kebersihan pantai ini. Tetap bersih.

Kembali pada senja, saya adalah orang yang tidak terlalu suka memperhatikan senja sebelumnya. Yang sekadar lewat, dan tahu itu senja. Tanpa observasi dan perhatian lebih padanya (senja). Namun, setelah melihat senja milik Pantai Nunhila ini, rasanya menenangkan. Hangat sinarnya yang perlahan mulai sirna dan hembusan angin pantai yang terasa, seakan membuat saya hanyut dalam suasana sore itu. Langit yang cerah menambah kesempurnaan senja. Beruntung sekali, sore itu langit tidak mendung (apalagi hujan) sehingga semakin lengkap suasana tenang itu. Langit tentram diterpa warna api matahari yang sedikit lagi terbenam. Terlihat begitu bersahaja dan agung diatas.

Senja di Pantai Nunhila/Resti Seli

Tak ingin melupakan momen, saya mengambil handphone dan memotret beberapa gambar (termasuk gambar saya). Saya tersenyum lebar di depan kamera.

Saya sedikit menyesal mengapa keindahan dan ketenangan seperti ini baru saya ketahui padahal, sudah sering saya melewati jalur ini. Kemana saya selama ini? Mungkin karena saya terlalu sibuk mengkhawatirkan usia 20 dan masa depan, sehingga saya lupa ada keindahan seperti ini yang bisa saya dapatkan untuk menenangkan pikiran ketimbang mengasingkan diri di dalam kamar. Mungkin salah satu alasan Tuhan menciptakan senja adalah sebagai pelipur lara, sepi, dan keputusasaan, yang tidak bisa kita cari di dalam ‘kamar’. Keluar dan temukan ketenangannya, kemudian harapan baru akan menyusul.

Untuk pertama kalinya bersama hiruk-pikuk pikiran, saya menghantar sang mentari kembali pada peraduannya di ujung sana.  

Tanggul yang kami duduki semakin ramai, tanggul pembatas antara jalan dan pantai, seperti senja yang menjadi pembatas antara siang dan malam. Mungkin agar kita tidak mudah jatuh, terperangkap dalam kekecewaan. 

Indah bukan main menurut saya. Layaknya senja, walau hanya sebentar, dia selalu hadir bersama keindahan yang diukirnya. Pertanda akan ada hari esok yang jauh lebih baik. Saya seperti mendapat semangat dan motivasi baru untuk menjalani hidup, menempuh perkuliahan dan meramu masa depan saya.

Waktu menunjukkan pukul 18.30 WITA, senja sudah tidak nampak lagi, hanya tersisa gelap yang terlihat. Memang, ada cahaya dari remangnya lampu jalan dan dari lampu kendaraan yang lewat. Tetapi, cahaya-cahaya rancangan ‘tangan manusia’ itu, tidak sebanding indahnya dengan karya sang semesta. Senja, langit, dan Pantai Nunhila.

Resti Seli adalah seorang perempuan muda yang sedang suka-sukanya menulis, fotografi, olahraga, dan travelling.

Resti Seli adalah seorang perempuan muda yang sedang suka-sukanya menulis, fotografi, olahraga, dan travelling.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Perjalanan ke Gunung Butak

    Travelog

    Sebuah Petualangan di Bukit Gading

    Travelog

    Sepenggal Kisah di Balik Pembangunan Sirkuit Mandalika

    Travelog

    Singgah ke Masjid Tiban

    2 Comments

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *