Travelog

Susah Sinyal, Terbayar oleh Momen di Pantai Wedi Awu

“Biasa aja,” pikir saya saat melihat pasir pantai berwarna hitam dengan ombak yang cukup besar. Waktu membandingkan pantai ini dengan pantai-pantai yang lainnya. Sebagai seorang Thallasophile alias pecinta lautan, mengunjungi banyak pantai sudah menjadi kewajiban tersendiri bagi saya. Sehingga saya sudah hafal betul kriteria pantai cantik itu seperti apa. Namun ini murni penilaian subjektif saya sendiri.

Pantai ini adalah Pantai Wedi Awu yang terletak di Desa Purwodadi, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang. Berada di sebuah kecamatan yang hampir berbatasan dengan Kabupaten Lumajang. Pantai Wedi Awu tergolong pantai yang masih sepi pengunjung. Apabila menengok pantai di daerah Malang Selatan yang lain, pengunjung selalu dikenakan tarif. Saat itu, akhir tahun 2018, di Pantai Wedi Awu belum diberlakukan biaya tiket masuk. Bisa dibayangkan sehening apa pantai ini?

Sebagai pantai yang bukan merupakan salah satu destinasi favorit wisata. Jangan harap untuk menemui perjalanan yang mudah. Jalanan berkelok nan berbatu dengan tepian dikelilingi jurang sudah menjadi pemandangan lumrah apabila ingin berkunjung ke Pantai Wedi Awu. Jadi, pastikan bahwa pengendara motor maupun mobil merupakan orang yang berpengalaman menghadapi curamnya jalan. Meskipun jauh dari kata ‘wah’ dan fasilitas mewah. Pantai ini sangat cocok bagi Anda yang ingin sekali mencari ketenangan pikiran.

Suasana Asri Pantai Wedi Awu

Muara Sungai di Pantai Wedi Awu/Melynda Dwi Puspita

Walaupun tidak ada pasir putih seperti sebuah pantai yang memiliki pengunjung membludak. Saya merasa tidak rugi sama sekali bisa berkunjung ke Pantai Wedi Awu. Karena bagi saya, keindahan sebuah pantai tidak hanya terletak pada putihnya pasir atau jernihnya air laut. Namun suasana sepi dan pemandangan rimbunnya pepohonan bisa menjadi penyembuh kekecewaan.

Diberikan kesempatan untuk menginap di salah satu rumah penduduk kawasan pesisir Wedi Awu adalah sebuah pengalaman tidak terlupakan. Sebagai kawasan pantai yang dikelilingi tebing-tebing, kesusahan menemukan sinyal merupakan pil pahit yang harus kami rasakan. Saat itu, saya dan dua orang teman sedang melaksanakan program pengabdian sehingga mengharuskan untuk tinggal selama tiga hari dua malam. Bahkan rasanya saya sangat jarang pegang HP karena sudah tidak ada gunanya lagi. Hanya saat itu saja, saya merasa bahwa baterai smartphone begitu awet hingga sedikit menghilangkan dampak kecanduan gadget. Channel TV pun hanya ada satu yang tersambung. Mau tidak mau kami harus mencari hiburan lain. Yang tidak lain dan tidak bukan dari keindahan alam.

Di setiap pagi hari, kami selalu menyempatkan diri untuk merasakan semilir angin pantai. Yang hanya berjarak kurang lebih lima puluh meter dari rumah tempat kami singgah. Tidak lupa kami membawa jajanan dan mie instan untuk menghilangkan rasa dingin yang melanda. Kami juga meminjam gitar berwarna biru yang satu senarnya sudah putus. Saat matahari hampir selesai bertugas dan kembali ke peraduannya, kami juga tetap mengunjungi pantai ini. Suasana senja benar-benar membuat kami sejenak melupakan beban mengerjakan skripsi. 

Pantai Wedi Awu/Melynda Dwi Puspita

Saya duduk di atas pasir hanya beralaskan sandal gunung lima puluh ribuan. Sambil berusaha mengingat kembali kunci gitar dan bernyanyi bersama teman-teman serta dua anak warga sekitar. Kami menyanyikan beberapa lagu mulai dari band lokal seperti Peterpan hingga Kelas Barat, yaitu Shania Twain. Walaupun nada suara gitar melenceng kemana-mana. Tidak menyurutkan semangat kami untuk tetap menikmati keindahan ciptaan Tuhan. Serta merasa menjadi manusia paling bahagia di dunia.

Selain itu, kami juga mengamati perahu-perahu nelayan yang berangkat maupun pulang melaut. Melihat kebersamaan para nelayan yang saling bahu-membahu mengangkat beban berat perahu. Membuat kami begitu enggan untuk segera meninggalkan Pantai Wedi Awu. Beberapa hari di pantai, tetap begitu lengang. Sepertinya hanya kami yang bukan warga lokal. Kami merasa memiliki pantai pribadi dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan.

Pantai Wedi Awu jadi Pusat Surfing di Malang

Peselancar cilik/Melynda Dwi Puspita

Sebagai sebuah pantai yang memiliki karakteristik berupa ombak cukup besar, menjadikan Pantai Wedi Awu sebagai salah satu lokasi para peselancar untuk melatih diri. Tidak mengherankan apabila kami melihat pemandangan berupa surfer cilik yang begitu gagah dan berani. Mereka seakan menantang kuatnya hantaman ombak untuk mencari kepuasan diri.

Saya juga sempat berkenalan dengan salah satu peselancar anak-anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Saya melontarkan pertanyaan konyol kepada anak itu, “nggak takut kena ombak?” Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya seakan meyakini bahwa ombak telah menjadi bagian dari dirinya.

Saya tidak melewatkan kesempatan untuk meminjam papan selancar hanya untuk mengambil foto. Kalau disuruh mencoba belajar berselancar, jelas saya tidak mau. Lah wong saya berenang saja belum fasih. Bisa-bisa hanya papan selancarnya yang kembali ke bibir pantai.

Walau mungkin Pantai Wedi Awu tidak masuk standar kawasan wisata pantai yang indah. Namun dengan segala kenangan yang saya peroleh disini. Telah mematahkan persepsi saya tentang definisi pantai cantik dan menarik.

Melynda Dwi Puspita adalah sebutir pasir pantai asal Probolinggo, Jawa Timur.

Melynda Dwi Puspita adalah sebutir pasir pantai asal Probolinggo, Jawa Timur.
Artikel Terkait
Travelog

Menyusuri Titik Nol Kota Banjarmasin

Travelog

Pantai Pulodoro, Sebuah Kesunyian

Travelog

Mencoba Berjalan di Jembatan Gantung Terpanjang se-Asia Tenggara

Travelog

Perjalanan Menyusuri Pulau Rote

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *