TRAVELOG

Mengungkap Eksistensi Pesanggrahan Kalitan, Karya Sunan Pakubuwana VIII di Surakarta

Dalam perjalanan kali ini, saya mencoba melacak jejak pesanggrahan peninggalan Raja Keraton Kasunanan Surakarta, yakni Sunan Pakubuwana VIII di Kampung Kalitan, Kecamatan Penumping, Kota Surakarta. Kondisi pesanggrahan tersebut relatif utuh, tidak seperti pesanggrahan keraton kasunanan lain di Kabupaten Boyolali.

Pesanggrahan tersebut bernama Pesanggrahan Kalitan. Kini masyarakat Surakarta menyebutnya Ndalem Kalitan. Kediaman bergaya arsitektur Jawa dengan pendopo sebagai simbol prestisius keluarga, masih tampak utuh meski seakan tampak dikosongkan tanpa penghuni. Namun, faktanya pesanggrahan tersebut masih aktif sebagai kediaman. 

Perubahan nama dan alih kepemilikan Pesanggrahan Kalitan terjadi setelah Sunan Pakubuwana VIII wafat. Puncaknya, pada era kepemimpinan Sunan Pakubuwana X, ia mengalihkan kepemilikan pesanggrahan menjadi kediaman salah satu putrinya dan mengganti nama menjadi Ndalem Kalitan.

Tampak pendopo depan Pesanggrahan Kalitan atau Ndalem Kalitan (Ibnu Rustamadji)
Tampak pendopo depan Pesanggrahan Kalitan atau Ndalem Kalitan/Ibnu Rustamadji

Masa Lalu Kampung Lawas Kalitan

Meski dekat dengan Kampung Laweyan, tidak ditemukan pabrik batik atau kediaman saudagar batik di Penumping dan Kalitan. Jalan Slamet Riyadi menjadi jalan pemisah antara Penumping sisi utara (Kalitan) dan selatan (Laweyan).

Menurut Heri Priyatmoko, wilayah Penumping sejak abad XVIII sudah menjadi kawasan pemukiman elite priyari bumiputra dari Keraton Kasunanan maupun Pura Mangkunegaran. Ia menambahkan, sepanjang Jalan Slamet Riyadi awalnya penuh kediaman elite, berbeda gaya mengikuti permintaan pemiliknya. 

Dua nama elite Eropa di Penumping yang eksis hingga abad XX adalah Kapitan Tionghoa Surakarta, yakni Kwik Djin Gwan dan istri dari Johannes Agustinus Dezentje, Dorothea Boode. Heri menambahkan, Penumping semakin gemilang sejak kereta trem melintas di jantung kota. 

Kampung Kalitan merupakan wilayah Penumping sisi utara. Eksistensi Kampung Kalitan tidak dapat dilepaskan dari keberadaan Ndalem Kalitan. Kala itu, lazim penamaan wilayah atau kampung di Kota Surakarta didasarkan pada landmark setempat sebagai bentuk penghormatan dan menjadi ciri khas.

Kampung Kalitan kini layaknya kampung di sekitarnya. Rumah-rumah modern dan masyarakat pendatang menjadi bagian yang tidak terpisahkan, sehingga kini tidak banyak jejak kekunoannya yang tersisa. Eksistensi Ndalem Kalitan patut diapresiasi di tengah gempuran perkembangan Kota Surakarta yang cukup masif sampai saat ini.

Gerbang masuk Pesanggrahan Kalitan di antara kawasan permukiman/Ibnu Rustamadji
Gerbang masuk Pesanggrahan Kalitan di antara kawasan permukiman/Ibnu Rustamadji

Jejak Sunan Pakubuwana VIII di Ndalem Kalitan

Merujuk catatan fisik bupati Demak kala itu, Raden Mas Arya Purwolelana, dalam perjalanannya ke Kota Surakarta tahun 1830, diketahui Ndalem Kalitan sudah eksis sejak tahun 1820 sebagai kediaman retret Sri Susuhunan (Sunan) Pakubuwana VIII. Letak kediaman ini berada di luar lingkungan keraton dan lebih dekat dengan Pura Mangkunegaran.

Menurut catatan perjalanan Raden Mas Arya Purwolelana Candranegara bertajuk Negeri Surakarta, dalam perjalanan ketiganya tahun 1830 dari Demak menuju Surakarta, Ndalem Kalitan awalnya merupakan Pesanggrahan Kalitan atau Buitenverblijf Kalitan sebagai peninggalan Sunan Pakubuwana VIII. 

Catatan itu juga menyebut bahwa Pesanggrahan Kalitan selayaknya keraton kecil bergaya Jawa dan Eropa. Sebagai kediaman singgah sementara raja, tentu fungsinya hanya diperuntukkan bagi Sunan Pakubuwana VIII, keluarga dan tamu kenegaraan dari Eropa dan elite bumiputra untuk urusan kenegaraan atau anjangsana. 

“Botên têbih saking pos ing Kartasura, kula ningali griya agêng payonipun sirap pagêr banon,  wêngkonipun jêmbar sarta sae pangrimatipun. Kula ningali dalem agéng ing pinggir margi agêng, ing ngriku kathah rêcanipun sami katata bêbanjaran, kula pitakèn malih, ing ngriku punika pagenan punapa, wangsulanipun kang kula pitakèni, punika pasanggrahanipun suwargi Sampeyan Dalêm Ingkang Sinuhun Kangjêng Susuhunan Pakubuwana kaping 8, nama Kalitan.

Yasanipun nalika taksih dèrèng jumênêng nata, dhatêng kula ing ngriku, kula lajêng anêningali ing pagenan punika,sawingkingipun pagenan rêca wau, wontên pasanggrahan agêng pagêr banon, payonipun sirap, baturipun inggil saking siti, saking inggilipun kantos kados dalem lotèng, kaprabotan cara Walandi pêpak sadaya sarta sae-sae, pasanggrahan wau pagenaning wontên ing satêngahipun patamanan, inggih punika pagenanipun cangkrama Sampeyan Dalêm Ingkang Sinuhun Kangjêng Susuhunan.”

Pagelaran sebagai ruang penghubung antara pendopo (sisi kanan) dan ndalem ageng (sisi kiri). Tampak pilar atau soko guru penyangga atap (Ibnu Rustamadji)
Pagelaran sebagai ruang penghubung antara pendopo (sisi kanan) dan ndalem ageng (sisi kiri). Tampak pilar atau soko guru penyangga atap/Ibnu Rustamadji

Catatan tersebut semakin memperjelas fakta bentuk fisik Ndalem Kalitan kala itu. Bangunan ini memiliki konstruksi besar, berpagar tembok, beratap sirap, dilengkapi taman untuk bercengkerama bagi keluarga sunan, serta berhias jejeran arca dengan pernak-pernik interior bergaya Belanda (Eropa). 

Arya Purwolelana juga mencatat rute perjalanan Sunan Pakubuwana VIII tahun 1837. Saat itu Sunan Pakubuwana VIII hendak anjangsana menuju Prambanan dan Yogyakarta, dengan rute keberangkatan dari keraton kasunanan, lalu naik kereta kencana ke Pesanggrahan Kalitan dan Stasiun Purwosari. Dari Stasiun Purwosari, Sunan Pakubuwana VIII melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta dengan kereta api.

Ada satu fakta lain yang terungkap. Arya Purwolelana juga menuliskan nama warga Belanda lain yang tinggal di Kampung Kalitan, yakni F. Roorda van Eysinga, pensiunan pengawas perkebunan Gemampir, Kabupaten Klaten. Ia merupakan putra dari Frederick van Eysinga, insinyur teknik di dinas kereta api di Vorstenlanden—sebutan wilayah Surakarta saat itu.  

Tidak dijelaskan lebih detail soal perusahaan yang mempekerjakan Frederick van Eysinga, apakah antara (S.S) Staatspoorweg, (N.I.S) Nederlands Indische Spooweg Maatschappij atau (SoTM) Solosche Tramweg Maatschappij. Faktanya, ia bekerja di bawah pengawasan keraton kasunanan dan Pura Mangkunegaran untuk membangun jalur kereta api di sepanjang wilayah Surakarta-Yogyakarta.

Seni ukir kerobongan (Ibnu Rustamadji)
Seni ukir kerobongan/Ibnu Rustamadji

Setelah Sunan Pakubuwana VIII wafat, Pesanggrahan Kalitan tetap eksis sebagai kediaman retret keluarga raja penerusnya, hingga awal yoso atau kepemimpinan Sunan Pakubuwana X jumeneng atau menjabat sebagai raja. Tahun 1874 diketahui sebagai babak akhir eksistensi Pesanggrahan Kalitan. 

Pewaris takhta, Sunan Pakubuwana X, mewariskan pesanggrahan tersebut sebagai kediaman sang putri sulung: Ratu Alit. Semenjak itu juga, Pesanggrahan Kalitan berubah nama menjadi Ndalem Kalitan. Sebagai kediaman keluarga raja, hanya Ndalem Kalitan yang berada jauh dari kampung lawas Baluwarti yang notabene kompleks kediaman para putra pangeran. Dugaan kami, kediaman tersebut diperuntukan bagi putri sulung raja yang tidak dapat meneruskan takhta raja sesuai adat keraton sehingga berlokasi lebih jauh daripada kediaman putra pangeran. Jika menantu raja memiliki jabatan di keraton, putri dan menantu tersebut dapat menempati salah satu kediaman putra pangeran. Penamaan kediaman disesuaikan siapa yang menempati. 

Tahun 1960, Ndalem Kalitan dibeli oleh Kanjeng Pangeran Harya (KPH) Prawironegoro, saudara dari KPH Soemoharyomo. Setelah itu, ditempati secara turun-temurun oleh keluarga keduanya, hingga akhirnya ditempati Siti Hartinah atau Tien Soeharto dan sang suami, Presiden ke-2 RI, Soeharto. Keluarga KPH Prawironegoro diketahui adalah priyayi Pura Mangkunegaran. Tak ayal, mereka dapat menempati pesanggrahan sebagai ndalem pribadi.

Potret Tien Soeharto beserta Presiden ke-2 RI Soeharto di ruang tamu pesanggrahan (Ibnu Rustamadji)
Potret Tien Soeharto beserta Presiden ke-2 RI Soeharto di ruang tamu pesanggrahan/Ibnu Rustamadji

Sepenggal Latar Belakang Siti Hartinah

Merujuk informasi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati (KGPAA) Mangkunegara XI atau biasa dipanggil Gusti Bhre, diketahui jika Tien Soeharto memiliki nama lengkap Bendara Raden Ayu (BRay) Siti Hartinah. Ia merupakan salah satu putri dari KPH Soemoharyomo dan Kanjeng Raden Ayu Hatmanti Hatmohoedojo. 

Kedua orang tua Tien Soeharto diketahui berasal dari keluarga Pura Mangkunegaran. KPH Soemoharyomo merupakan putra dari Raden Mas Ngabehi (RM.Ng.) Harjakusumo yang notabene putra dari KPH Suryodiningrat. Sedangkan KR.Ay Hatmanti Hatmohoedojo merupakan putri dari Raden Mas (RM) Hatmohoedojo yang notabene putra dari Bendara Raden Mas Aryo (B.R.M.Ar.) Soerjohoedojo.

Setelah resmi menjadi kediaman keluarga KPH Soemoharyomo dan KR.Ay Hatmanto Hatmohoedojo, Pesanggrahan Kalitan tidak lagi menjadi milik Keraton Kasunanan dan berubah menjadi Ndalem Kalitan. Meski begitu, mereka tetap mempertahankan keutuhan dan tradisi, yakni ndalem ageng sebagai kediaman induk dan hanya sepuluh orang yang berhak untuk menempati. 

Pendopo diperuntukan bagi tamu kenegaraan dengan hiasan kuncungan di bagian depan dengan taman luas mengelilingi. Ibarat keraton kecil di tengah hutan. Kini Pesanggrahan Kalitan masih tetap eksis bernama Ndalem Kalitan sebagai kediaman retret keluarga Tien Soeharto. Kampungnya bernama Kampung Kalitan, begitu masyarakat setempat menyebutnya. 


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Ibnu Rustamaji

Biasa dipanggil Benu. Asli anak gunung Merapi Merbabu. Sering nulis, lebih banyak jalan-jalannya. Mungkin pengin lebih tahu? Silakan kontak di Instagram saya @benu_fossil.

Ibnu Rustamadji

Biasa dipanggil Benu. Asli anak gunung Merapi Merbabu. Sering nulis, lebih banyak jalan-jalannya. Mungkin pengin lebih tahu? Silakan kontak di Instagram saya @benu_fossil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Menyigi Taman Air Peninggalan Keraton Kasunanan Surakarta di Boyolali