Selain alam, Temanggung juga menyimpan peninggalan masa lalu yang luput dari perhatian. Salah satunya adalah Candi Pringapus di Kecamatan Ngadirejo.
Saya berkunjung ke sana pada bulan Januari lalu, di hari yang tak begitu cerah. Sepanjang perjalanan dari Parakan, hati saya terus berdebar. Kejutan apa yang akan saya temui di sana?


Kisah Raibnya Candi Induk di Pringapus
Candi Pringapus tampak mungil, tetapi kaya akan ornamen. Saya sempat bertanya-tanya, apakah hanya ada satu candi di sini?
Sebenarnya, tidak semua kompleks percandian memiliki bangunan pendamping. Namun, saat itu saya membayangkan setidaknya ada dua bangunan di sini, yakni candi induk dan candi perwara.
Melihat juru pelihara sedang bertugas di dalam candi, saya segera menghampirinya. Setelah mengisi buku tamu dan memperkenalkan diri, saya mulai bertanya tentang bangunan yang sejak tadi membuat penasaran.
“Ini candi perwara loh, Mas. Candi induknya udah hilang.” Saya sedikit terkejut. Sejauh ini, saya mengira bangunan yang berdiri di hadapan saya adalah candi induk, karena ukurannya cukup besar.
“Di dalamnya itu ada arca Nandi mas, biasanya kalau candi induk di dalamnya, ya, lingga-yoni,” sambungnya.
Namun, jika bangunan yang tersisa hanyalah candi perwara, di mana candi induknya?


“Candi induknya sampai sekarang belum ketemu, Mas. Katanya sih karena letusan Sindoro di masa lalu,” jelasnya, seolah memahami pertanyaan yang belum sempat saya ajukan.
Pandangan saya kemudian beralih ke tumpukan batu yang mengelilingi Candi Pringapus. “Kalau tumpukan reruntuhan ini apa, Pak?”
“Batuan milik Candi Perot, Mas. Dulu letaknya dekat sini, tetapi sudah runtuh. Reruntuhannya kemudian dikumpulkan jadi satu di sini.”
Penjelasan itu membuat saya teringat pada catatan restorasi Candi Pringapus pada 1929. Kala itu, reruntuhan yang terkumpul di sekitar candi sempat diduga sebagai bagian dari candi induk yang hilang. Namun, penelitian selanjutnya mengidentifikasi sebagian besar batuan tersebut sebagai bagian dari struktur lain yang diduga merupakan Candi Perot. Meski begitu, beberapa fragmen tetap diidentifikasi sebagai bagian dari Pringapus.1
“Kalau Mas mau, bisa ke arah barat. Itu lokasi lama Candi Perot. Di sana masih ada arca Nandi dan kolam kuno,” jelasnya.
Saya mengikuti arah yang ditunjuknya. Dari tempat kami berdiri, terlihat sebuah pohon besar menaungi kolam di bawahnya.
Kami lalu berkeliling candi di Pringapus. Melihat setiap detailnya. “Atapnya hilang, Mas. Sebetulnya ada reruntuhannya, tapi enggak cukup buat dibangun ulang. Enggak memenuhi kriteria,” jelasnya. Saya memang sedari awal merasa aneh. Candi ini seakan terpenggal di atas.
Di salah satu sisi candi, perhatian saya tertuju pada sebuah arca yang kondisinya sudah sangat aus. Bagian tubuhnya pun tidak lagi utuh. Berwarna putih, arca itu tergeletak di antara reruntuhan lainnya. Saya bertanya ke juru pelihara candi perihal arca ini. Apakah Agastya? karena perutnya buncit.
Juru pelihara menggelengkan kepala. “Belum tahu, Mas. Karena arcanya udah aus banget, tho. Di bagian perut ini malah kelihatan seperti bekas belalai. Saya kok malah ngira ini Ganesha, ya,” tuturnya, sembari menunjukkan bagian perut arca. Memang terlihat seperti ada bekas pahatan belalai gajah yang sudah hilang. “Tapi kalau Ganesha, posisinya kok berdiri? Karena biasanya Ganesha itu duduk. Walau enggak semua begitu, sih,” sambungnya.
Saya mencoba memperhatikan bentuknya sekali lagi. Namun, dengan kondisi arca yang sudah begitu aus, saya tidak punya cukup petunjuk untuk memastikan identitasnya. Dugaan tentang Agastya maupun Ganesha akhirnya tetap menjadi pertanyaan.


Segera setelah itu, datang pengunjung lain. Adalah seorang bapak dan dua anaknya. Mereka lalu disambut oleh juru pelihara candi dari tempat kami berada. Tak lama bapak itu menghampiri kami, mengajak berdiskusi tentang candi.
“Candi ini kok menurut saya unik, ya, Mas. Desain dan reliefnya itu kayak berbeda dari candi yang di daerah Magelang, juga di daerah Dieng,” ujarnya bersemangat menunjukkan relief-relief yang ia maksud. “Saya kok malah mengira ini candi berasal dari pertengahan antara dua zaman itu, ya,” sambungnya.
Namun, berdasarkan penelitiannya, candi ini diperkirakan dari abad ke-8 hingga 9 Masehi. Juga, dibandingkan persamaannya dengan Candi Badut dan Kalasan.2 Hal ini berarti candi ini juga sezaman dengan rata-rata candi di Magelang
“Temanggung itu sebenarnya kaya, Mas. Alam, komoditas, sampai situs purbakala seperti ini ada semua. Masnya tahu Liyangan? Itu salah satu bukti bahwa dulu pernah ada permukiman kuno yang terstruktur,” ujarnya.
Saya baru teringat bahwa tak jauh dari sana terdapat Situs Liyangan, sebuah situs yang juga menyimpan jejak permukiman masa lalu. Tanpa disadari, percakapan kami telah menambahkan satu tujuan baru saya dalam perjalanan hari itu.
“Tapi, peninggalan terbesar dari leluhur Temanggung bukan semacam itu. Melainkan pertanian,” lanjutnya.
Ucapan itu mengingatkan saya pada pemandangan sepanjang perjalanan. Ladang-ladang terbentang mengikuti kontur perbukitan, dengan aneka tanaman yang tumbuh di antaranya.
Setelah cukup lama berbincang, saya pun berpamitan ke bapak itu dan juru pelihara. Hendak melanjutkan ke Candi Perot dan satu destinasi tambahan, yaitu Situs Liyangan.




Candi Perot (kiri) dan arca Nandi Candi Perot di tahun 1890/KITLV
Kolam Berpenghuni di Candi Perot
Lokasi bekas Candi Perot berada sangat dekat dengan Candi Pringapus. Hanya sekitar 200 meter ke arah barat.
Kolam besar yang dimaksud berada di elevasi yang lebih rendah dari jalan. Sehingga, saya harus menuruni anak tangga setelah memarkirkan motor. Menurut juru pelihara Candi Pringapus, kolam ini diduga juga sudah ada sejak lama. Mungkin bagian dari kompleks Candi Perot-Pringapus.
Yang saya temui di sini hanyalah pohon besar yang menaungi kolam, serta dua buah artefak yang menarik perhatian saya. Mereka berada di pinggir timur kolam.
Saya kemudian mencoba mendekati artefak tersebut. Yang pertama adalah sebuah arca Nandi. Mungkin ini yang dimaksud juru pelihara tadi.
Saya kemudian teringat pada laporan arkeologi tahun 1903 yang menggambarkan Candi Perot sebagai bangunan berbentuk bujur sangkar, dengan tonjolan dangkal pada sisi-sisinya. Bagian-bagian tersebut menjadi tempat arca dewa, termasuk Guru, Durga, dan Ganesha. 3Saya menduga istilah Guru yang disebut dalam laporan itu mungkin merujuk pada Agastya, tetapi ini masih perlu dipastikan melalui sumber yang lebih spesifik.
Foto lama dari masa kolonial memperlihatkan sebuah pohon besar tumbuh di atas bangunan Candi Perot. Pemandangan itu membuat saya bertanya-tanya, apakah kondisi lingkungan turut memengaruhi keruntuhannya? Namun, foto tersebut saja belum cukup untuk memastikan penyebabnya..
Arca Nandi yang saya hampiri cukup besar ukurannya. Ia ditempatkan menghadap kolam. Alasnya disemen pada susunan paving block pinggiran kolam. Mungkin dimaksudkan agar tidak mudah tergeser. Bentuknya mirip dengan arca Nandi di Pringapus tadi.
Saya jadi kepikiran. Jika Candi Perot dalam laporan arkeologi Belanda tadi menyebutkan adanya arca-arca dewa, maka apakah arca Nandi ini milik candi perwara yang malah sudah raib runtuh terlebih dahulu?
Saya belum menemukan jawaban atas pertanyaan itu. Untuk sementara, arca tersebut tetap menjadi salah satu kepingan yang belum berhasil saya tempatkan dalam gambaran besar kompleks percandian ini.


Di samping arca Nandi, terdapat benda batu lain dengan cekungan di bagian tengahnya. Bentuknya mengingatkan saya pada lumpang batu, meski saya tidak yakin apakah benda itu memang berfungsi demikian, atau justru merupakan umpak maupun artefak dengan fungsi lain. Seperti Nandi di sebelahnya, benda ini juga telah dipasang pada semen di tepi kolam.
Ketika saya sedang asyik mengamati arca Nandi itu, sekelompok anak datang membawa alat pancing. Kami sempat berbincang, lalu seorang di antaranya bercerita, “Katanya, kolam ini juga ada yang ‘jaga’, loh, Mas!”
Menurut cerita mereka, kolam itu masih dimanfaatkan warga untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga dipercaya memiliki sisi sakral. Saya tidak mengetahui sejauh mana kepercayaan tersebut hidup di kalangan warga. Namun, cerita itu menambah satu lapisan lain pada tempat yang sejak tadi saya amati dari sisi arkeologis.
Setelah berbincang sejenak, mereka pamit untuk melanjutkan aktivitas memancing mereka. Saya yang sudah puas pun segera beranjak untuk menuju Liyangan.
Saya meninggalkan kolam itu dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Catatan lama memberi sedikit gambaran tentang bangunan yang dahulu berdiri di sini, sementara batu-batu yang tersisa hanya menyisakan petunjuk yang belum sepenuhnya bisa saya pahami.
Ke mana perginya bagian-bagian candi yang telah hilang? Apakah kolam di bawah pohon besar itu memang sudah ada sejak masa percandian dahulu? Saya belum menemukan jawabannya. Namun, justru pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat penelusuran hari itu terasa belum benar-benar selesai.
- Oudheidkundig verslag … Geraadpleegd op Delpher op 10-10-2026, https://resolver.kb.nl/resolve?urn=MMKITLV3:002515001:00001 ↩︎
- Sedyawati, Edi, Hanani Santiko, Hasan Djafar, Ratnaesih Maulana, Wiwin Djuita Sudjana Ramelan, and Chaidir Ashari. Candi Indonesia. Seri Jawa. Vol. 1. Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan, 2015. https://www.catatannusantara.com/pustaka/jdtmsfhwdgyf4mt-eef58-lp7s3-7wpb5-zky5r-2w9jx-caslt-m2lfn. ↩︎
- Rapporten van de Commissie in Nederlandsch-Indië voor Oudheidkundig Onderzoek op Java en Madoera … Geraadpleegd op Delpher op 10-10-2026, https://resolver.kb.nl/resolve?urn=MMKB14:001589001:00001 ↩︎
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Warga Solo coret yang sedang belajar Hubungan Internasional di Solo. Menaruh perhatian pada konservasi alam dan arkeologi. Suka baca Doraemon.

