EVENTS

“Kemarahan” Elegan Orkes Silampukau dari Stambul Arkipelagia Vol. 3

“Proyek ini memosisikan diri sebagai kelanjutan ikhtiar panjang para musisi dan sastrawan yang terus-menerus mencari bahasa paling artikulatif untuk merekam penderitaan dari masa ke masa.”

Kalimat ini bisa kalian temukan di zine Stambul Arkipelagia Vol. 3, tepatnya di bagian paling akhir. Sebuah artist statement yang dituliskan oleh Kharis Junadharu, salah satu personel Orkes Silampukau.

Minggu (30/9) siang menjelang sore, di Pasar Kalisat, Jember, teman-teman Sudut Kalisat dan beberapa pendengar setia Orkes Silampukau sudah duduk dengan baik di bangku-bangku depan kios buku Ruli. Siang itu, kami menunggu pra-rilis Stambul Arkipelagia Vol. 3 yang akan didendangkan dari dua sound stereo di tengah-tengah Pasar Kalisat.

Suasana saat sesi dengar di depan kios buku Ruli, Kalisat (Wildan Ariyanto)
Suasana saat sesi dengar di depan kios buku Ruli, Kalisat/Wildan Ariyanto

Di Antara Kios Tua dan Alunan Orkes Silampukau 

Kios buku Ruli berada di area pasar lama Kalisat, tepatnya di sisi barat. Sembari menunggu agenda sesi dengar dimulai, saya memperhatikan pasar lama yang menyisakan beberapa pedagang yang setia berdagang bahkan selepas azan Zuhur berkumandang. Kios-kios sederhana berdiri berjejer dengan atap dan dinding yang menjadi pembatas satu kios dengan kios lainnya. Beberapa bagian pasar bahkan tampak masih ditopang oleh kayu. Terpal dan beberapa banner digelar tepat di atas kepala di jalanan pasar lama, ia digunakan sebagai penghalau panas bagi pembeli dan pedagang pasar.

Pasar memang sudah tidak seramai dulu. Beberapa pedagang masih memilih bertahan hingga siang, barangkali berharap ada lebih banyak rezeki yang dibawa pulang. Ada pedagang baju, kopiah, dan berbagai bahan sandang yang masih setia menunggu pelanggan. Di bagian lain, beberapa pedagang ayam potong dan toko pracangan juga masih duduk menunggu pembeli.

Di tengah pasar yang menjual kebutuhan dasar masyarakat Kalisat, kios buku Ruli hadir bak anomali. Ia tidak menjual kebutuhan sandang, pangan, atau papan. Yang ditawarkan dan hendak diperdagangkan adalah buku. 

Suasana pasar siang itu tidak ramai, barangkali karena hari sudah siang. Hanya ada aktivitas kecil yang terus berjalan di antara kios-kios tua itu. Orang datang, pedagang menunggu, sesama pedagang saling berbincang, dan ada kami yang duduk di depan kios buku Ruli sembari menunggu musik diputar.

Pukul satu lewat, agenda sesi dengar pun dibuka. Tidak banyak pembuka yang bisa diberikan. Sebab, baik saya maupun teman-teman yang hadir siang itu sudah sangat menantikan rilisan terbaru Orkes Silampukau.

Setelah sedikit pembukaan, kami duduk dengan memegang zine yang dibagikan teman-teman Sudut Kalisat sebelum agenda dimulai. Zine itu berisi selayang pandang, lirik lagu dari album Stambul Arkipelagia Vol. 3, dan artist statement sebagai penutup.

Lagu pertama, “Subuh Ini”, pun didendangkan. Sebuah permulaan yang cukup intens dan membuat bulu kuduk merinding. Beberapa dari kami bersitatap, seperti ingin saling memvalidasi betapa gaulnya alunan musik Orkes Silampukau yang sedang diputar siang itu.

Petikan gitar, cello, dan seluruh instrumen musik menjadi satu kesatuan yang ciamik. Seorang kawan berceletuk, bukan hal yang mudah memainkan musik demikian. Bisa jadi pula, untuk bisa mencapai level serupa dengan yang diracik Orkes Silampukau, ia perlu belajar di tempat les musik terkemuka yang tentu saja memerlukan biaya cukup mahal.

Beberapa penonton tampak saling berbincang sembari mendengarkan musik Orkes Silampukau (Wildan Ariyanto)
Beberapa penonton tampak saling berbincang sembari mendengarkan musik Orkes Silampukau/Wildan Ariyanto

Sambutlah Musik Stambul!

Ada sepuluh lagu yang kami dengarkan siang itu. Sembari duduk dengan manis, kedua tangan memegangi zine dan mata fokus pada lirik-lirik yang tertulis di dalamnya. Siang itu kami bersepakat, lirik-lirik Silampukau di album Stambul Arkipelagia Vol. 3 diramu dengan apik dan cerdas.

Meski begitu, beberapa dari kami juga mengaku sedikit kesusahan memahami beberapa kata yang tidak cukup familiar. Misalnya lirik yang tertuang dalam lagu “Ad Nauseam”, dengan istilah yang barangkali tidak begitu akrab bagi sebagian besar kami.

Selepas seluruh lagu dimainkan, kami bertepuk tangan terpukau. Mata berbinar dapat dijumpai sejauh mata memandang. Setelahnya, kami pun berbincang, saling membagikan kesan yang diterima selama mendengarkan Stambul Arkipelagia Vol. 3.

Kesannya begitu beragam. Bahkan Om Bambang, salah satu teman yang turut dalam sesi dengar, menjelaskan bahwa ia tidak pernah kecewa dengan lagu-lagu dari Silampukau.

Selepas berbincang dan saling memberikan kesan, agenda siang itu pun ditutup. Beberapa dari kami justru masih memilih duduk dan berbincang. Persoalan lirik dan melodi musik yang begitu ciamik membuat beberapa dari kami tidak henti-hentinya memperbincangkannya.

Saat itu, saya pun bertanya-tanya, mengapa Silampukau memilih kata-kata yang tidak cukup familiar bagi sebagian orang?

Tampak Om Bambang turut memperhatikan zine Stambul Arkipelagia Vol. 3 (kiri) dan foto bersama di depan kios buku Ruli selepas agenda sesi dengar/Wildan Ariyanto

Kemarahan yang Indah nan Getir 

Rasa penasaran itu pun terjawab dengan mudah ketika saya membaca artist statement yang sudah tertuang dalam zine. Dalam penjelasannya, kita akan mengetahui bagaimana Silampukau tengah membongkar realitas dan mencari ekspresi yang akurat. Setidaknya dari tulisan itulah saya mengetahui bahwa Silampukau memang menyalahgunakan licentia poetica secara agak kelewatan.

Perbincangan kami kemudian mengalir pada album band lain yang juga dirilis pada tahun ini. Kami memperhatikan bahwa kemarahan yang sama turut disuarakan dalam rilisan album band-band lain. Namun, kemarahan itu hadir dengan bentuk yang berbeda di tangan Silampukau.

Jika boleh membandingkan dengan band lain, kemarahan yang disuarakan hadir melalui kalimat-kalimat yang terus terang, sederhana, dan mudah dipahami oleh banyak pendengar. Hal ini yang barangkali menarik dari Silampukau. Kemarahan yang mereka sampaikan seolah menjadi metafora. Kami diajak untuk merasakan kegelisahan dan penderitaan yang sama, tetapi di satu sisi masih diberikan ruang untuk merasakan keindahan yang lain.

Kami tidak langsung diberikan perasaan marah. Bersama melodi yang diciptakan, kami diajak marah dan menari cha-cha. Atau kemarahan yang dibungkus dalam melodi musik yang begitu menakutkan. Teman-teman saya sangat menyarankan untuk merasakan dan mendengarkan bagian “Pandemonium Ekosida”, lalu rasakan kengerian yang dibangun dari sana.

Barangkali memang ada pula perasaan seolah kami sedang berjelajah ke era kolonial. Ditambah lagi, posisi kami yang tengah duduk di pasar lama Kalisat membuat suasana siang itu terasa seperti sedang melancong ke masa 90-an.

Ketika mendengarkan bagian “Waltz Pendek Untukmu”, tepat pada bagian melodi yang tidak begitu intens, seorang bapak penjual asongan melaju pelan melewati kios buku Ruli. Ketokan kayu yang menandakan Kupang itu tengah lewat terdengar bersahut-sahutan dengan musik yang sedang kami dengarkan. Seperti kebetulan, bunyi itu justru terasa seperti menambah melodi, seolah menjadi bagian dari satu kesatuan lagu Silampukau.

Seorang kawan berkelakar, barangkali ada juga pedagang kupang pada era kolonial. Kami pun tertawa dibuatnya.

Namun, dari mendengarkan album Stambul Arkipelagia Vol. 3 dan sekaligus membaca zinenya, kami jadi sedikit memahami pesan yang dituliskan dalam zine. Penderitaan yang dibicarakan di dalam album ini terasa seperti penderitaan yang tak berkesudahan. Ia terus ada, berulang, dan datang lagi, ad nauseam.

Ada banyak hal yang sebenarnya bisa ditelusuri dari rilisan terbaru Orkes Silampukau. Tentang pilihan kata, musik stambul, suasana baru, juga bagaimana penderitaan dari masa ke masa direkam melalui musik.

Tapi bagi penulis sendiri, rilisan ini memberikan wahana baru dalam mengekspresikan kemarahan. Kemarahan yang tersampaikan dengan indah nan getir.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Titania Elsa Eka Hikmatullah

Elsa, tertarik pada jurnalisme dan tulis-menulis. Sembari menyelesaikan tugas akhir sebagai mahasiswa kesehatan masyarakat, Elsa banyak berkegiatan sebagai anggota kolektif dan penulis amatir yang meneliti sebisanya.

Titania Elsa Eka Hikmatullah

Elsa, tertarik pada jurnalisme dan tulis-menulis. Sembari menyelesaikan tugas akhir sebagai mahasiswa kesehatan masyarakat, Elsa banyak berkegiatan sebagai anggota kolektif dan penulis amatir yang meneliti sebisanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Majelis Al-Lobyu dan Jalan Lain Menyanyikan Puisi