EVENTS

Catatan dari Palu dan Sigi

Ingatan tentang peristiwa gempa bumi dan tsunami yang melanda Sulawesi Tengah pada 2018 menyeruak di benak, begitu pesawat yang tim TelusuRI tumpangi mendarat di Bandara Mutiara SIS Al-Jufri, Senin pagi (28/9/2026). Tepat delapan tahun lalu, gempa dengan magnitudo 7,4 mengguncang keras daratan Pasigala (Palu, Sigi, dan Donggala). Penyebab gempa adalah pergerakan Sesar Palu-Koro, salah satu patahan paling aktif di Indonesia. 

Gempa mematikan setelah Gempa Yogyakarta 2006 dan Gempa Lombok 2018 itu memicu tsunami setinggi 5–7 meter dan pencairan tanah (likuefaksi) besar-besaran, khususnya Kelurahan Petobo dan Perumnas Balaroa di Kota Palu. Likuefaksi menyebabkan kenaikan dan penurunan muka tanah di kedua kawasan yang terletak di tengah-tengah Sesar Palu-Koro tersebut. Ratusan rumah dan lahan masyarakat amblas beberapa meter, tertimbun lumpur hitam yang bergerak naik.

Sewindu kemudian, meski trauma masih menghantui, kehidupan masih harus terus berjalan. Sembari berangsur memulihkan diri, kesadaran akan pentingnya adaptasi, mitigasi, dan resiliensi bencana menyelimuti benak warga Pasigala dan sekitarnya. Tak terkecuali kesadaran akan pengetahuan-pengetahuan lokal di masyarakat adat maupun komunitas tradisional, yang bertahun-tahun lamanya telah menerapkan laku hidup dengan merespons lingkungan dan gelagat alam di sekitarnya.

Pelajaran besar tentang gempa, likuefaksi, dan proses pemulihan setelahnya melatarbelakangi program BICARA Sulawesi Tengah yang diikuti pada 29-30 September 2026. TelusuRI, yang diwakili Rifqy Faiza Rahman dan Deta Widyananda (videografer dan ekspeditor Arah Singgah), mendapat undangan untuk mengisi salah satu sesi dan mengikuti kunjungan lapangan. Kegiatan ini terselenggara atas kolaborasi Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) dan Comms Lab ini bertema “Membaca Sigi: Pengelolaan Sumber Daya, Pengetahuan, Ekonomi, dan Resiliensi”.

Meskipun sepintas hanya menyebut Sigi, sejatinya tidak menghilangkan konteks daerah lain yang bergeliat di atas sesar-sesar aktif seperti Palu-Koro, Sausu, dan Palolo. Selain sebagai ruang pembelajaran, BICARA Sulawesi Tengah juga diharapkan memperkuat peran akademisi, jurnalis, kreator konten, komunitas, dan masyarakat sipil dalam membangun narasi publik terkait praktik ekonomi restoratif dan keterkaitan antara perubahan iklim, air, energi, dan pangan. Narasi ini kemudian diterjemahkan menjadi informasi, cerita, dan ragam bentuk amplifikasi narasi yang mendorong juga terjadinya adaptasi dan resiliensi bencana.

Yusuf Priambodo (memegang mikrofon), Fiorentina Refani, dan Neni Muhidin memaparkan hasil diseminasi riset lapangan di seminar publik BICARA Sulawesi Tengah
Yusuf Priambodo (memegang mikrofon), Fiorentina Refani, dan Neni Muhidin memaparkan hasil diseminasi riset lapangan di seminar publik BICARA Sulawesi Tengah

Titik temu perspektif pembangunan berbasis ekonomi restoratif

Dua sesi seminar publik berlangsung pada hari Selasa (29/9/2026) di Aula Fakultas Kehutanan Universitas Tadulako, Kota Palu. Di tengah keterbatasan waktu, proses dialektika tetap terjalin menarik saat merespons perspektif riset, kebijakan, praktik lapangan, tantangan pembangunan, dan perubahan iklim dalam pengembangan ekonomi restoratif, khususnya Kabupaten Sigi.

Sesi pertama menghadirkan tiga narasumber, yaitu Fiorentina Refani (Director of Socio-Bioeconomy CELIOS), Yusuf Priambodo (penulis Reset Indonesia dan ekspeditor Indonesia Baru), dan Neni Muhidin (penulis, periset, dan pendiri kolektif literasi Nemu Buku). Ketiganya berbagi pandangan dan temuan kritis yang berbasis pada riset, khususnya di wilayah Sulawesi.

Memanfaatkan kesempatan pertama, Yusuf menunjukkan sejumlah dokumentasi perjalanan Ekspedisi Indonesia Baru ke sejumlah daerah di Indonesia. Utamanya menguak dampak negatif dari industri ekstraktif, terutama perkebunan sawit dan nikel. Sejumlah lokasi, seperti Raja Ampat, Halmahera, hingga Morowali di Sulawesi Tengah ia sebut memiliki persoalan serius tentang dampak lingkungan yang merugikan dan meminggirkan masyarakat lokal. Mereka mengalami krisis air, menghadapi pencemaran arsenik, dan kehilangan ruang hidup yang sudah diwariskan secara turun-temurun. Untuk itulah paradigma ekonomi restoratif berbasis keragaman hayati, bioteknologi, pangan lokal, dan kearifan adat menjadi sangat penting.

Kemudian Fio memaparkan hasil riset terbaru CELIOS tentang kondisi ekonomi Pulau Sulawesi, khususnya Sulawesi Tengah. Namun, meskipun provinsi ini mencatat pertumbuhan ekonom tertinggi ketiga nasional (8,32% di kuartal pertama 2026), struktur ekonomi penopangnya justru mengalami kontradiksi. Sektor pertanian kalah laju ketimbang sektor ekstraktif, khususnya pertambangan atau pengolahan nikel. CELIOS bahkan memberi skor 4,5 dari 5 untuk mengindikasikan betapa masifnya kerusakan lingkungan yang ditimbulkan.

Sebagai penutup, Neni Muhidin membeberkan hasil penelitian toponimi “Membaca Lanskap melalui Nama, Ingatan, dan Pengetahuan Masyarakat” yang ia lakukan bersama timnya di Pasigala, Sulawesi Tengah. Penelitian toponimi tersebut mengungkap berbagai kategori penamaan berdasarkan sejarah manusia, kebiasaan, bentang alam, atau riwayat bencana, seperti akronim, alonim, antroponim, endonim, eksonim, oronim, dan odonim. Pengetahuan lokal tentang bencana pun tersimpan secara implisit dalam toponimi. Salah satu yang menjadi contoh terbaik adalah Desa Toro, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi. Desa yang bersinggungan dengan Taman Nasional Lore Lindu ini masih melestarikan pengetahuan lokal melalui ritus-ritus tradisional dan lumbung pangan komunal (gampiri). 

Nedya (kanan) dan Afit Lamakarate membuktikan bahwa pemerintah daerah dan kolektif orang muda bisa bersinergi membangun daerahnya
Nedya (kanan) dan Afit Lamakarate membuktikan bahwa pemerintah daerah dan kolektif orang muda bisa bersinergi membangun daerahnya

Terlepas dari perbedaan metode, para narasumber sesungguhnya menyuarakan hal yang sama, bahwa pasti akan selalu ada pilihan hidup yang lebih baik untuk mengurangi ketergantungan pada ekstraktivisme. Selalu ada jalan yang lebih bersahabat dengan alam dan tidak mewariskan kerusakan kepada anak cucu.

Fio dan CELIOS telah merumuskan sembilan sektor model ekonomi restoratif, di antaranya pertanian, kehutanan, perikanan, industri rumah tangga, dan pariwisata berkelanjutan. Yusuf memberikan gambaran harapan konsep ekowisata berkelanjutan untuk melindungi hijaunya tutupan hutan dan keanekaragaman hayati di dalamnya, serta identitas masyarakat adat dan kebudayaannya. Terakhir, Neni juga mengingatkan pentingnya melestarikan pengetahuan lokal sebagai modal resiliensi bencana, terutama berdasarkan pada falsafah toponimi yang berbeda-beda di setiap tempat.

Pada sesi kedua seminar, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Sigi, Afit Lamakarate dan Ketua Gampiri Interaksi Lestari, Nedya Sinintha Maulaning, membagikan pengalaman kerja kolaboratif dalam penerapan ekonomi restoratif di Kabupaten Sigi. Gempa dan tsunami 2018 memberikan kesadaran bersama bahwa untuk bangkit dan bertumbuh tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Peran pemerintah, kolektif orang muda seperti Gampiri Interaksi Lestari sebagai inkubator bisnis masyarakat lokal, dan sejumlah pemangku kepentingan lainnya kemudian melahirkan Kolaborasi Multi Pihak (KMP) Sigi Hijau. Peraturan daerah tentang visi Sigi Hijau menjadi landasan implementasi pembangunan berkelanjutan berbasis pengetahuan tradisional hingga pertanian dan perkebunan lokal.

Sesi lokakarya singkat tentang pembuatan video pendek berbasis data lapangan
Sesi lokakarya singkat tentang pembuatan video pendek berbasis data lapangan

Mengolah isu, data, dan narasi dengan storytelling

Pada sesi berikutnya dengan tajuk “Storytelling Berbasis Data lewat Video Pendek”, TelusuRI duduk bersama Nur Amri Firmansyah (sineas lokal dan mahasiswa Antropologi Universitas Tadulako). Keduanya memaparkan pendekatan berbeda dalam mengolah isu dan data menjadi narasi video pendek. 

TelusuRI membeber sejumlah tips dari dapur editorial dalam menyampaikan pesan berbasis data dalam video pendek. Sebagai media perjalanan dengan rentang audiens dominan berusia 18–35 tahun, TelusuRI membuat konten dengan spesifikasi visual dan narasi yang menyesuaikan segmentasi penontonnya. 

Sebagai contoh, TelusuRI mempertontonkan beberapa video pendek hasil dari ekspedisi Arah Singgah ke Sumatra hingga Papua. Ekspedisi ini mengangkat kisah-kisah inspiratif dari tingkat tapak yang berkaitan dengan pengembangan ekonomi restoratif berbasis pengetahuan masyarakat adat maupun komunitas tradisional.

Berangkat dari video berdurasi singkat kurang dari lima menit tersebut, TelusuRI memberikan sejumlah penekanan penting dalam proses perjalanan hingga produksi video. Mulai dari pentingnya menemukan sudut pandang cerita yang berbeda dan unik dari tumpukan data yang dikumpulkan, menyederhanakan dan membumikan informasi yang bersifat saintifik, asing, dan kerap sulit dipahami awam, membangun kerangka cerita yang kuat agar menghasilkan narasi berdampak, hingga durasi video yang tepat untuk menjangkau algoritma dan keterikatan pengguna media sosial lewat konten visual.

Adapun Nur Amri memaparkan pentingnya data dan pengalaman lokal sebagai dasar membangun cerita yang autentik. Sebagai mahasiswa antropologi, Nur Amri menggunakan pendekatan etnografi untuk mengumpulkan data-data di lapangan. Ia memberikan alur pembuatan video yang dimulai dari penggalian cerita masyarakat, kemudian menerjemahkannya menjadi narasi visual yang kuat dan bermakna.

Jelvin memperlihatkan pohon kopi di kebun miliknya (kiri) dan tampak depan Gampiri Communal Space

Perjumpaan dengan petani kopi dan Gampiri Interaksi Lestari

Pada hari kedua (30/9/2026), acara bergeser dari ruangan ke lapangan. Dari pagi hingga sore, rombongan berisi LTKL, Comms Lab, para narasumber, dan media melakukan kunjungan ke dua titik: Desa Dombu dan Gampiri Communal Space.

Di Desa Dombu, Kecamatan Marawola Barat, Kabupaten Sigi, yang berjarak sekitar satu jam perjalanan dengan penuh kelokan dan tanjakan tajam dari Kota Palu, rombongan BICARA Sulawesi Tengah mengunjungi Bapak Welim Pela dan istrinya, Jelvin Likunono. Keduanya merupakan petani kopi, kakao, dan komoditas agroforestri yang menjadi mitra binaan Gampiri Interaksi Lestari. Lokasi kebun dan desa ini menempati lereng tebing dengan topografi curam. Kemarau panjang membuat pemandangan tampak kering dan kecokelatan di sepanjang punggungan bukit.

Kebun milik Welim Pela dan Jelvin memiliki luas sekitar tiga hektare dengan kontur berbukit dan kemiringan maksimal 30 derajat hingga puncak bukit. Selain kopi robusta dan arabika serta kakao sebagai komoditas utama, keduanya juga menanam komoditas agroforestri lainnya, yaitu durian, cengkih, dan jeruk. Tujuan metode agroforestri ini tak lain agar petani lokal tidak menggantungkan sumber perekonomian dari satu komoditas semata, tetapi juga tanaman lain agar mencukupi kebutuhan dan target pendapatan dalam satu tahun tanam.

Untuk kemudahan akses pasar, Welim dan sejumlah petani kopi Dombu bermitra dengan Gampiri Interaksi Lestari. Selain manfaat komersial, para petani juga mendapatkan pendampingan dan pemberdayaan dalam meningkatkan kualitas budi daya kopi maupun komoditas agroforestrinya, mulai dari penanaman hingga panen. Praktik budi daya yang baik dan berkelanjutan akan mengerek kualitas hasil panen yang diharapkan pasar. Sehingga, nilai tambah komoditas dan keuntungan ekonomi yang didapatkan juga ikut terdongkrak.

Kunjungan lapangan berakhir di Gampiri Communal Space, yang terletak di perbatasan wilayah Kabupaten Sigi dan Kota Palu. Di sini, para penggawa Gampiri Interaksi Lestari memandu rombongan untuk melihat beberapa tempat yang bisa diakses publik, yaitu ruang kerja, ruang produksi, aula untuk pemutaran film dan lokakarya, ruang pengolahan biji kopi, kakao, dan vanili, hingga ruang sortasi. Bangunan kantor yang arsitekturnya terinspirasi dari gampiri (lumbung komunal khas masyarakat adat Kaili di Sigi) itu sekaligus menjadi jembatan bagi masyarakat adat dan komunitas tradisional di tingkat hulu di Kabupaten Sigi, sehingga produk, pengetahuan, maupun hasil karya mereka menemui para penikmatnya.


Foto-foto oleh Deta Widyananda (TelusuRI)


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

TelusuRI

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Avatar photo

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Masyarakat Lokal dan Pertanyaan-Pertanyaan Besar tentang Kacamata Pembangunan Pariwisata Kita