Di balik kekayaan hayatinya, sistem pangan Indonesia ternyata masih lekat dengan banyaknya persoalan. Tantangannya kompleks, mulai dari perubahan iklim, degradasi lahan, impor pangan, krisis air, hingga masalah susut pangan (food loss) dan sisa pangan (food waste).
Persoalan pangan tersebut merupakan masalah multidimensi yang membutuhkan kerja sama multipihak. Tak hanya intervensi pemerintah, peran organisasi masyarakat sipil seperti Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL) juga krusial untuk mengawal program dan kebijakan pangan. KSPL merupakan bagian dari Food and Land Use Coalition (FOLU) di tingkat global, yang sejak 2018 aktif di Indonesia bersama 11 mitra utama. Di luar aktivitas riset, audiensi, dan program peningkatan kapasitas sumber daya manusia, Festival Jejak Pangan Lestari merupakan bentuk inisiatif yang progresif untuk memperluas jangkauan kolaborasi dalam mendukung transformasi dan regionalisasi sistem pangan nasional.
Festival Jejak Pangan Lestari 2026, yang diselenggarakan dalam momentum peringatan Hari Pangan Sedunia 16 Oktober, berlangsung di Taman Lapangan Banteng, Jakarta, pada Sabtu (10/10/2026). Kepala Sekretariat KSPL Gina Karina menyatakan, Festival Jejak Pangan Lestari 2026 bukan hanya menjadi ruang temu kolaboratif bagi mitra maupun pemerintah, melainkan juga lebih jauh lagi, yaitu masyarakat.
“Memang kami rencanakan untuk bisa mengajak masyarakat mengenal lebih jauh [tentang] isu sistem pangan di Indonesia. Bukan hanya tentang apa yang kita makan, tapi juga bagaimana produksinya, bagaimana [pangan] itu didistribusikan, cara memperolehnya, kemudian cara menyimpan dan mengolah limbah atau sampah makanan dari yang kita makan,” kata Gina.


Percakapan Lintas Iman dan Diskusi Kritis Program MBG
Berbeda dengan dua penyelenggaraan sebelumnya, Festival Jejak Pangan Lestari 2026 memberi warna baru dengan melibatkan peran keluarga dan keimanan sebagai bagian penting dari festival. Keluarga dan keimanan merupakan pilar utama dalam internalisasi nilai dan transformasi sistem pangan yang sehat, berkelanjutan, beragam, berkeadilan, dan lestari di Indonesia.
Kedua fondasi penting itu dibahas dalam talk show (gelar wicara) bertajuk “Membedah Rancangan Undang-Undang Pangan Menuju Sistem Pangan yang Selaras Iman”. Forum lintas iman ini membahas revisi Rancangan Undang-Undang (RUU) Sistem Pangan yang sedang dibahas di Komisi IV DPR. Targetnya RUU ini disahkan menjadi Undang-Undang pada Desember tahun ini.
Setiap pemuka agama—Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu—serta penghayat kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa memberi perspektif kritis dan konstruktif kepada Ketua Panitia Kerja (Panja) RUU Pangan Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., yang hadir sebagai penanggap. Masing-masing tokoh ingin memastikan prinsip-prinsip lintas iman, dimensi etika, nilai-nilai kearifan lokal, dan prinsip ekologi integral masuk dalam kerangka regulasi RUU yang berisi lebih dari 130 pasal itu—termasuk pasal sistem penyelamatan pangan. Sehingga, UU Pangan yang baru nanti bukan hanya berorientasi pada produktivitas dan swasembada semata.
Sesi dilanjutkan dengan policy talk tentang program Makan Bergizi Gratis (MBG). Bertajuk “Bukan Cuma Bikin Kenyang, Bisakah MBG Memberdayakan Petani, Memulihkan Lingkungan, dan Memenuhi Gizi?”, gelar wicara ini memberikan perspektif kritis terhadap program unggulan pemerintahan Prabowo-Gibran dengan anggaran ratusan triliun rupiah itu.




Sesi temu wicara membahas program Makan Bergizi Gratis (kiri) dan peluncuran platform Pantau MBG
Namun, sebagaimana banyak diberitakan, pelaksanaan di lapangan justru carut-marut. Lebih dari 50.000 kasus keracunan terjadi, mengorbankan kesehatan anak-anak. Poin-poin kritis lainnya mencakup kurangnya transparansi kepemilikan SPPG, ketiadaan undang-undang sebagai dasar hukum (hanya diatur melalui Perpres dan Keppres), dan distribusi SPPG yang masih terkonsentrasi di kota-kota besar, bukan di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) yang memiliki tingkat malnutrisi (stunting) tinggi.
Menanggapi permasalahan di lapangan (terutama kasus keracunan), selain suspensi SPPG, pemerintah juga telah melakukan langkah lanjutan. Tutut Indra Wahyuni, Ahli Madya Analis Kebijakan Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Pangan, menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi dengan kementerian/lembaga dan Badan Gizi Nasional untuk uji coba model prasmanan sebagai alternatif distribusi makanan MBG sebagai langkah perbaikan. Di tahap awal, Kemenko Pangan mendorong perencanaan menu minimal tiga bulan ke depan di tingkat daerah agar kebutuhan bahan baku dapat diprediksi dan UMKM lokal dapat dilibatkan sebagai pemasok.
Mewakili suara masyarakat terutama perempuan, Annette Ellen Mau, Juru Bicara Aliansi Ibu Indonesia, memberi masukan konstruktif agar MBG bisa lebih baik lagi dan manfaatnya nyata dirasakan masyarakat. “Yang pertama, SPPG-nya harus dimiliki negara sehingga tidak berorientasi mencari keuntungan, tata kelolanya harus baik, pemasoknya itu harus melibatkan ekonomi kerakyatan; terutama perempuan dan ibu harus dilibatkan,” ujarnya.
Di sisi lain, Ibnu Budiman, Program Manager Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN), menyoroti belum optimalnya rantai pasok lokal dan masih banyak UMKM mitra SPPG menggunakan bahan baku impor. Ibnu juga menyoroti perlunya penerapan pertanian regeneratif dari sumber lokal untuk pemenuhan kebutuhan SPPG. Sebagai langkah lanjutan, GAIN bersama FOLU Global sedang menyiapkan studi rekomendasi tentang Sustainable and Healthy Food Procurement untuk program MBG, termasuk mengatur mekanisme local sourcing agar petani lokal mendapat manfaat dengan akses langsung ke SPPG.
Untuk membantu mengawal agar program MBG tepat sasaran, diperkenalkan pula platform urun data Pantau MBG melalui situs web dan Instagram. Platform pemantauan publik berbasis data ini mencakup lima aspek: keamanan pangan, kualitas dan pemenuhan gizi, tata kelola dan akuntabilitas, food waste, dan keragaman pangan. Masyarakat sipil bisa melakukan pelaporan jika menemukan pelanggaran maupun hal positif dari operasionalisasi MBG. Hasil laporan akan dikumpulkan dan diolah tim Pantau MBG untuk disampaikan kepada pemerintah dan pemangku kepentingan.


Bedah Buku, Pemutaran Film Dokumenter, dan Pameran
Selain diskusi kebijakan publik, Festival Jejak Pangan Lestari 2026 menghadirkan bedah buku Buah Leluhur dari Pohon Kehidupan: Memanggil Pulang Sukun ke Nusantara karya Ahmad Arif (jurnalis senior KOMPAS) dan pemutaran film dokumenter Menjadi Ayah (Becoming a Father) tentang relasi gender dan pangan di Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur.
Dalam bukunya, Arif mengulas komoditas sukun sebagai tanaman asli Indonesia. Asalnya dari Papua-Maluku lalu menyebar ke seluruh Nusantara hingga Pasifik dan Karibia. Namun, sayangnya kini semakin ditinggalkan masyarakat dan hanya dianggap sebagai makanan pinggiran atau sekadar camilan. Padahal, kesadaran akan keragaman lokal penting untuk mengurangi ketergantungan pada beras dan gandum—hasil proses gastrokolonialisme dan Revolusi Hijau yang bersifat politis.
Untuk menghadapi tantangan diversifikasi pangan lokal, selain perlunya penguatan kebijakan dan kajian akademik, gerakan storytelling berbasis data digital juga tak kalah krusial. Ahmad Arif bersama Said Abdullah (Koordinator Nasional Koalisi Rakyat Untuk Kedaulatan Pangan), Puji Sumedi Hanggarawati (Manajer Program Ekosisitem Pertanian Yayasan KEHATI), Mulia Nurhasan (Food and Nutrition Scientist, Landscape Alliance), dan sejumlah pihak menginisiasi pembentukan platform Nusantara Food Biodiversity. Sebuah pangkalan data tentang sistem pangan lokal di Indonesia, mulai dari sumber autentik, budaya dalam produksi, panen, pengolahan, penyimpanan, hingga sejarah dan ritual pangan dari berbagai penjuru negeri.
Isu yang kurang lebih sama kompleksnya juga coba diangkat melalui film dokumenter Menjadi Ayah (Becoming a Father). Sebagai bagian dari promosi proyek Landscape Alliance, film ini mengangkat keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan pemenuhan gizi keluarga, dengan latar belakang tingginya angka stunting dan wasting (malnutrisi) di wilayah TTS.




Sesi pemutaran dan diskusi film dokumenter Menjadi Ayah (kiri) serta tampilan sampul depan buku Makan Apa Hari Ini?
Menurut sutradara film tersebut, Mulia Nurhasan—yang juga Food and Nutrition Scientist di Landscape Alliance—ide awal pembuatan film berasal dari wawancara dengan Jusuf Amnifu, Ketua Persatuan Ahli Gizi (Persagi) TTS sekaligus pegawai dinas kesehatan setempat. Jusuf menyatakan, akar masalah malnutrisi di TTS adalah kurangnya perhatian suami terhadap istri dan keluarga karena kuatnya budaya patriarki. Berangkat dari permasalahan ini, Jusuf bersama dinas kesehatan dan Persagi menggagas “Gerakan Ayah Sebagai Konselor (GASELOR) Pangan dan Gizi”.
Mulia kemudian menemui Seprianus Yohanis Adonis, pendeta dari Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) dan Ketua Majelis Klasis Amanuban Tengah Utara di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Seprianus merupakan pendeta sekaligus fasilitator Sekolah Perempuan di TTS, yang kemudian dalam kampanye GASELOR menjadi agen perubahan untuk menormalisasikan peran aktif ayah di rumah. Utamanya menyiapkan makanan serta memperhatikan kesehatan gizi anak dan istri di rumah.
Sebagai penutup sesi, komunitas Buibu Baca Buku bersama KSPL memperkenalkan buku Makan Apa Hari Ini. Menurut keterangan Meita Ariyanti, Partnership and Community Buibu Baca Buku (BBB), ide buku Makan Apa Hari Ini berangkat dari upaya komunitas dalam memberdayakan perempuan melalui literasi dan kemampuan berpikir kritis. Sejak 2023, BBB memiliki program Literasi Iklim untuk Ibu agar para ibu terlibat dan relevan dengan isu lingkungan. Sebab, dampak perubahan iklim seperti gagal panen dan kenaikan harga pangan paling pertama dirasakan oleh ibu-ibu.
Buku Makan Apa Hari Ini ditulis oleh Noor H. Dee dengan Syafa sebagai ilustrator. Isi buku berupa comic strip untuk memberikan informasi kepada orang tua dan anak tentang pentingnya makan sehat dan aktivitas yang bisa dilakukan bersama keluarga. Sebagai salah satu alat utama dalam program Literasi Iklim untuk Ibu, BBB berharap para ibu dapat menyampaikan perspektif mereka hingga mendorong perubahan sistemik.
Di luar diskusi kebijakan publik, bedah buku, dan pemutaran film, rangkaian pameran dan aktivasi menarik lainnya ikut memeriahkan Festival Jejak Pangan Lestari 2026. Terdapat sejumlah booth mitra dan jejaring KSPL dengan ragam kegiatan, yakni Garda Pangan, Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN), Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD), Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Landscape Alliance, Parongpong RAW Lab, WRI Indonesia, Yayasan Humanis, Yayasan KEHATI, Sendalu Permaculture, dan Rumah Edukasi Pilah Sampah.
Selain itu juga terdapat tenant Jajanan Sehat dari Bumi Indonesia serta stan icip-icip kuliner tradisional Nusantara dari lima daerah: keukarah atau kue sarang burung (Aceh), clorot (Purworejo), kue amparan tatak khas Banjar (Kalimantan Selatan), kue panada ikan cakalang (Manado), dan buah matoa (Papua).


Masa Depan Kedaulatan Pangan di Tangan Semua Orang
Pada akhirnya, tidak ada satu pihak pun yang akan mampu menyelesaikan persoalan sistem pangan sendirian. Setiap pihak, baik itu pemerintah, sektor swasta, organisasi masyarakat sipil, komunitas, akademisi, dan media, memiliki kontribusinya masing-masing.
Direktur Pangan dan Pertanian Kementerian PPN/Bappenas, Jarot Indarto, menekankan bahwa transformasi sistem pangan telah ditetapkan sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional, yang diarahkan menuju pendekatan ekoregion sistem pangan berbasis potensi dan kearifan lokal. Ini sejalan dengan amanat UU Nomor 59 Tahun 2024 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2025–2045.
“Kami memandang bahwa transformasi sistem pangan ini harus ditempatkan sebagai upaya yang lintas sektor, lintas bidang, dan juga lintas pelaku. Karena aspek-aspeknya tidak hanya terkait dengan pangan, namun juga terkait dengan gizi, perubahan iklim, sumber daya manusia yang unggul, dan lain sebagainya, termasuk keragaman hayati,” jelasnya.
Festival ini bukanlah akhir perjalanan, melainkan momentum untuk tetap optimis menatap masa depan kedaulatan pangan: pola makan sehat berbasis pangan lokal, produksi pangan berkelanjutan yang rendah emisi dan inklusif bagi petani maupun nelayan kecil, serta berkurangnya masalah susut dan sisa pangan.
Gina menaruh harapan besar agar pengalaman, ilmu, maupun jaringan yang diperoleh selama festival tidak hanya dapat dibawa pulang. Lebih dari itu, menjadi percakapan serta praktik-praktik baru di rumah dan komunitas masing-masing.
“Membangun sistem pangan yang lestari membutuhkan keterlibatan banyak pihak dan proses yang panjang. Karena itu, penting untuk terus membangun kolaborasi dan membuat isu pangan menjadi sesuatu yang dekat, relevan, dan menyenangkan untuk dibicarakan dan dilakukan bersama,” pungkas Gina.
Foto-foto oleh Mardhatillah Ramadhan dan Muhammad Nurul Huda (Rombak Media)
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.


