Interval

Menghidupkan Kembali Kota Lama Semarang

Meskipun tidak separah 10 tahun yang lalu, setidaknya banjir masih menghantui di sekitar kawasan Kota Lama Semarang. Kawasan Kota Lama Semarang memang terkenal sebagai tujuan untuk menghabiskan waktu, baik oleh masyarakat Kota Semarang ataupun masyarakat dari luar daerah. Salah satu yang banyak menarik minat dari wisata kota tua adalah bangunan-bangunan masa kolonial yang masih kokoh berdiri.

Meskipun tampak masih kokoh, sebenarnya ada banyak gedung-gedung yang memprihatinkan karena kondisinya yang sudah semakin lapuk di berbagai bagian. Dari sekian banyak masyarakat Semarang yang cinta akan tinggalan kuno, salah satu yang tergerak hatinya  untuk menyelamatkan aset sejarah Kota Semarang adalah Jenny Kalalo, pewaris Toko Oen legendaris dan juga penggagas Festival Kota Lama Semarang. Di tangan dinginnya, Kota Lama Semarang yang dulu sempat terbengkalai menjadi wajah pariwisata Kota Semarang.

Menolak Kematian Kota Lama

Sebagai lulusan arsitektur di salah satu universitas di Belanda, ada rasa keprihatinan yang mendalam kepada Kota Lama Semarang. Bagian kota ini seringkali mengalami banjir rob dan penampilannya tak ubah kota hantu. Masalah serius lainnya adalah, karena kepemilikan individu, banyak yang merubah fungsi gedung menjadi gudang yang menyebabkan aktivitas bongkar muat yang tidak aman untuk sebuah bangunan tua. Belum lagi, karena kumuh dan gelap, banyak kegiatan premanisme dan aktivitas kriminal lainnya di sekitaran Kota Lama, membuat banyak orang menghindari kawasan ini.

“Pada 2007-2008, saya berkenalan dengan seorang arsitek dan juga arkeolog yang mengajak saya ke Kota Lama, melihat bangunan tua yang ada di sana,” papar Jenny. Perhatian Jenny akan Kota Lama membuatnya menemui beberapa arsitek di Belanda dan mulai berdiskusi untuk memulai langkah menyelamatkan aset cagar budaya. Mereka sepakat bahwa masalah Kota Lama bukan saja sebuah masalah renovasi bangunan tua, lebih dari itu ada nilai sejarah dan budaya yang tinggi pada kawasan tersebut. 

Dari sana, Jenny menerima banyak masukkan bagaimana seharusnya bangunan cagar budaya diperlakukan. “Pada waktu itu (2012), mereka berucap kalau dalam waktu 10 hingga 15 tahun tidak ditangani apa-apa, akan rata dengan tanah satu per satu karena udah kelihatan kehancurannya ya, jadi tinggal nunggu waktu.”

“Tapi itu yang membuat saya agak panik dan lari ke sini lari ke sana untuk sebisa mungkin jangan sampai, dan ternyata ada banyak support.”

Atas nama komitmen dan dedikasi pada bangunan bersejarah, lahirlah Oen Semarang Foundation (OSF), sebuah yayasan yang didirikan oleh Jenny yang berkomitmen pada pelestarian dan revitalisasi Kawasan Kota Lama. Perbaikan gedung-gedung tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, hal ini coba ditawarkan OSF pada investor-investor untuk dapat membangun sekaligus melestarikan gedung-gedung di sini. Pada awalnya yang direnovasi adalah Gedung Koperasi Batik Indonesia yang ditutupi oleh semak belukar. Akhirnya, dengan biaya sendiri, gedung ini dipulihkan seperti sedia kala.

Gedung GKBI yang direnovasi oleh Bu Jenny (Oud en Nieuw)
Gedung GKBI yang direnovasi oleh Bu Jenny/Oud en Nieuw

“GKBI ini adalah salah satu gedung saat di awal itu pada 2012 masuk sorotan, kalau gedung ini didiamkan akan rusak total. Kita langsung mencari owner-nya dan berhasil. Kita minta untuk renovasi tapi mereka tidak bersedia karena dananya terlalu besar, jadi saya dikasih mandat untuk menyewakan dan merenovasi. Tapi ternyata, tidak semudah itu ya. Akhirnya di 2019, saya ambil keputusan untuk merenovasi sendiri sama teman saya,” cerita Jenny. Sekarang GKBI dimanfaatkan sebagai cabang baru dari Toko Oen dengan nama Oud en Nieuw yang berfokus pada menjajakan es krim, roti, dan kue.

Dalam merenovasi GKBI, Jenny sebisa mungkin berpegang teguh pada bentuk aslinya tetapi  beberapa bagian, semisal bagian lantai terpaksa harus dinaikkan agar terhindar dari banjir. Untuk bagian tembok, beberapa diantaranya terlihat bekas renovasi oleh pemilik gedung sebelumnya, yakni bekas semen-semen dibongkar lagi oleh Jenny untuk dikembalikan pada keasliannya. Beberapa bagian yang ditutup juga sudah dibuka kembali seperti tangga. Dengan dana terbatas, perbaikan ini memakan waktu hingga setahun dan terus berlanjut secara bergiliran.

Jenny juga aktif dalam membantu pemilik gedung-gedung tua untuk mengelola sekaligus mendampingi sampai akhirnya para pemilik bisa mengelola sendiri. “Jadi kalau sudah benar, saya sudah tidak ikut campur lagi,” jelasnya. Pengelolaan gedung-gedung tua memang perlu pendampingan secara menyeluruh untuk menghindari perubahan yang signifikan terkait orisinalitas sebuah gedung bersejarah. 

Bagaimana dengan peran pemerintah kota dalam upaya pelestarian Kawasan Kota Lama?

Meskipun belum bisa berbuat banyak terhadap bangunan yang dimiliki perseorangan, pemerintah telah berbenah dengan memperbaiki infrastruktur yang ada di Kota Lama Semarang. Penanganan banjir juga menjadi perhatian dengan membersihkan saluran air dan kali di sekitar, supaya tidak mengganggu aktivitas pengunjung. 

Festival Kota Lama, Festival Jiwa Semarang

Salah satu agenda paling terkenal dari OSF adalah Festival Kota Lama. Festival ini rutin terselenggara setiap tahunnya dan menjadi salah satu festival tradisional yang paling dinanti masyarakat Semarang. Berdasarkan laman resminya, Festival Kota Lama berfokus pada pengembangan lingkungan Kota Lama Semarang yang juga merangkul berbagai ahli dan investor untuk sama-sama menjaga aset sejarah Kota Lama Semarang. Tema yang diusung oleh festival ini setiap tahun selalu berbeda, tetapi tetap dalam koridor kekunoan dan tagline yang sama dengan Toko Oen, Kuno Kini Nanti.

Selama hampir 10 tahun berjalan, dinamika yang dibangun oleh acara ini cukup bagus untuk memperlihatkan warisan Kota Semarang pada khalayak muda, bahwa dengan warisan yang sudah ada Semarang dapat bangkit, baik secara kebudayaan ataupun ekonomi. Kesadaran untuk menjaga tinggalan sejarah pun semakin

 “Perjuangan selama 12 tahun, tidak sia-sia lah.”

Setelah semua pihak sadar akan pentingnya kesejarahan kota, Kawasan Kota Lama Semarang sudah tampak berbeda dibandingkan 10 tahun yang lalu. Sekarang semuanya berebut untuk mengunjungi area tersebut, berfoto atau sekedar menghabiskan hari di salah satu sudut kota lama. Kawasan tersebut kembali diusulkan menjadi warisan dunia UNESCO, setelah sebelumnya sempat masuk daftar tentatif pada 2014.

“Kalau nggak ada passion, udah berhenti di tengah jalan lah,” tambahnya.

Pengunjung yang semakin banyak dari tahun ke tahun, membuat festival ini banyak melakukan inovasi, salah satunya adalah menghadirkan penjual makanan legendaris dari daerah lainnya untuk ikut tampil dalam perayaan. Selain itu festival ini juga dimeriahkan dengan parade busana, pertunjukkan musik, pameran lukisan dan kerajinan, dan banyak lagi. Kini, saban tahunnya, festival ini masuk ke dalam daftar festival wajib dikunjungi dalam pagelaran festival nasional.

Jenny berharap di masa mendatang, festival ini akan banyak melahirkan pemuda-pemudi yang melanjutkan perjuangannya melestarikan tinggalan masa lalu. Apa yang dilakukannya hari ini semoga memberi bekas pada anak-anak muda untuk menyukai apa-apa yang telah diwariskan para pendahulu dan terus menghidupkannya hingga ke masa depan.

Toko Oen, Penyambung Lidah Masa Lalu

Sesuai namanya, cabang baru dari Toko Oen pun tidak meninggalkan kesan klasik (kredit_Oud en Nieuw)
Sesuai namanya, cabang baru dari Toko Oen pun tidak meninggalkan kesan klasik/Oud en Nieuw

Siapa yang tidak kenal Toko Oen? Toko kue legendaris yang sudah berdiri semenjak 1922 pada mulanya berada di Yogyakarta, didirikan oleh pasangan Liem Gien Nio (Oma Oen) dan Oen Tjoen Hok (Opa Oen). Toko ini menjadi terkenal di kalangan masyarakat karena menyajikan panganan Belanda, Indonesia, dan juga Cina, dan juga es krim yang pada masa itu merupakan suatu makanan mewah. Lambat laun bisnis ini terus berkembang, hingga mengharuskan Opa Oen untuk melakukan ekspansi bisnis dengan membuka cabang di tempat-tempat lainnya seperti Semarang, Malang, Jakarta, bahkan hingga ke Belanda.

Sampai sekarang, bisnis keluarga ini tetap hidup, dengan satu toko yang di Semarang yang bertahan dimakan zaman. Apa resepnya untuk bertahan melewati berbagai rintangan dan juga zaman yang terus berubah?

Salah satu resepnya, menurut Jenny adalah pemakaian bahan bahan yang segar dan kesesuaian dengan resep asli agar tidak mengubah cita rasa. “Tidak ada tambahan bahan kimia ya,” jelasnya. Menurut Jenny, toko-toko roti sekarang banyak menggunakan bahan tambahan seperti pengembang, pewarna, dan pengawet, hal tersebut sangat dihindari oleh Toko Oen karena alih-alih mempercepat pembuatan, justru rasa asli yang dijaga oleh resep akan hilang. 

Untuk memastikan semua bahan berkualitas terbaik, Toko Oen tidak hanya mempunyai satu supplier untuk memasok bahan baku, tetapi ada beberapa yang nantinya akan dibandingkan untuk mendapatkan bahan terbaik. Apalagi soal pembuatan es krim, selain masih memakai resep asli Italia, prosesnya juga tergolong lambat untuk es krim jaman sekarang yang menggunakan mesin-mesin modern. Mesin yang digunakan merupakan mesin es krim yang sudah berusia 80 tahun, buatan Carpigiani yang menguasai 35% pangsa pasar mesin es krim. Konon, hanya ada dua toko es krim lainnya yang masih menggunakan teknik kuno dalam pembuatan es krim selain Toko Oen, yakni Ragusa di Jakarta dan Zangrandi di Surabaya.

Dengan mesin tua, partikel es krim yang dihasilkan lebih besar karena putaran mesin yang lambat. Alhasil, kelezatan susu dan telur lebih terasa pada lidah. Untuk menciptakan rasa yang beragam, Toko Oen juga menggunakan bahan-bahan asli seperti cokelat untuk rasa cokelat, buah untuk rasa buah, kopi untuk rasa kopi.

“Selain untuk lebih menarik, (bahan tambahan) kan untuk nekan harga juga. Es krim sekarang separuh bahan bisa menjadi penuh, kalau punya saya separuh bahan jadinya separuh juga,” jelasnya.

Dengan kelezatan dan keotentikan, Toko Oen tidak perlu beriklan besar-besaran untuk mempromosikan bahwa mereka adalah salah satu toko bersejarah yang menjual makanan lezat. Cukup promosi dari mulut ke mulut yang membuat Toko Oen tidak kalah pamor dibandingkan pesaing-pesaing barunya. Nilai-nilai yang dianut oleh Jenny dan ia berhasil terapkan pada bisnisnya tidak sekedar untuk menjadi berbeda dengan yang lain, ada nilai bijak lain yang lebih dalam dibanding hanya menjadi seorang pelestari bangunan tua yakni baktinya pada leluhur yang takkan pernah usai.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.
Artikel Terkait
Interval

Titin Riyadiningsih: Memajukan Wisata dari Desa

IntervalPilihan Editor

Cerita dari Bantaran Kali, “Sebuah Tempat Terbaik di Dunia”

IntervalPerjalanan Lestari

Laut Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Interval

Arkeologi dalam Perspektif Ali Akbar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Worth reading...
Menyusuri Lawang Sewu di ‘Kota Atlas’