Travelog

Mengenang Sekolah “Favorit”*

SMA X adalah sekolah keempat saya selama menuntut ilmu di bangku SMA. Sekolah ini hanya memiliki tiga ruangan: pertama buat kantor, kedua untuk kelas 3, dan satunya lagi untuk kelas 2 dan 1. Berhubung tidak ada murid kelas 1, ruangan itu hanya digunakan kelas 2.

Bagi orang-orang di kampung, SMA X adalah sekolah terakhir untuk anak-anak nakal. Seandainya tidak selesai juga sekolah di sana, jalan satu-satunya adalah sekolah di SLB (Sekolah Luar Biasa).

Jumlah muridnya tidak terlalu banyak, hanya 46 orang satu sekolah: 29 orang kelas 3, 17 orang kelas 2, 0 murid kelas 1. Masuk sekolah pukul sembilan sementara pulangnya bebas semau kita. 

SMA X adalah sekolah paling asyik bagi saya. Sekolah yang istimewa, karena butuh jalan panjang kenakalan untuk bisa sekolah di sini. Sebenarnya ini sekolah yang sangat sulit dimasuki, karena perlu keluar dari tiga sekolah dulu untuk bisa bersekolah di SMA X.

Saat lulus SMP saya diterima di SMA negeri yang merupakan sekolah favorit di kota kami. Tidak butuh waktu lama, lapau (warung) mengalihkan perhatian saya dari ruang kelas; main domino sepanjang hari, pinjam motor senior hingga sore, sampai mulai belajar mengisap ganja.

Belum genap caturwulan pertama, ama (ibu) sudah dipanggil sekolah. Setelah itu beliau akrab dengan panggilan dari sekolah. Akhirnya saya putuskan berhenti sekolah sebelum caturwulan dua selesai. Enam bulan berikutnya saya habiskan dengan main domino dan mabuk-mabukan. Saya selingi dengan ikut les bahasa Inggris dua kali saja.

Bertahun-tahun lalu, sebelum dunia lebih beradab seperti sekarang ini, kampung saya adalah pusat judi amatiran. Apa saja bisa diperjudikan hingga game pacu kuda di PlayStation (PS). Kami, sampah-sampah masyarakat, berkumpul dalam kegembiraan tiada henti, seolah-olah surga mendahului kiamat datangnya.

Tahun ajaran berikutnya saya masuk SMKN. Sekolah itu berjarak kira-kira 200 meter dari warung orang tua saya. Ama berharap dengan bersekolah di sana saya lebih mudah diawasi.

Dua bulan pertama saya rutin belajar, mungkin karena banyak bidadari manis di kelas. Dan untuk PR saya tidak perlu khawatir, sebab sudah ada murid lain yang saya minta mengerjakan.

Tetapi masa menjanjikan itu tidak berlangsung lama. Bulan ketiga, saya kembali pada hari-hari normal sebelumnya. Siang hari di rental PS dan malam hari diisi dengan mabuk-mabukan.

Saat menerima rapor semester pertama, saya menduduki peringkat terakhir di kelas. Semester berikutnya saya tidak pernah lagi masuk sekolah.

Tahun berikutnya saya coba lagi mendaftar di sekolah swasta. Saya meminta langsung kelas 3. Tetapi akhirnya saya hanya bisa “dinaikkan” ke kelas 2 walaupun tidak pernah selesai kelas 1.

Saya mulai hidup layaknya remaja normal. Bertemu lagi saya dengan sahabat lama, jarang bolos, hingga jatuh cinta dan ditolak teman perempuan. Bahkan saya sempat ikut marching band. Tetapi itu hanya berlangsung empat bulan.

Tiba-tiba kepala sekolah mempertanyakan lagi rapor kelas 1 saya yang tidak lengkap. Dia meminta saya kembali ke kelas 1 dengan iming-iming kesempatan PMDK ke universitas negeri saat kelas 3 nanti.

Ilustrasi lorong sekolah via pexels.com/Pixabay

Saya berpikir, teman-teman angkatan saya sudah kelas 3, masa saya harus balik ke kelas 1? Akhirnya lantang saya katakan pada kepala sekolah, “Tiga tahun sekolah itu biasa, empat tahun itu nakal, dan lima tahun itu bodoh.”

Saya dikeluarkan dari SMA itu.

Setelah beberapa bulan menganggur atas ide sendiri, saya mendaftar di SMA X. Permintaan untuk naik kelas 3 segera disanggupi dengan tambahan biaya membuat rapor kelas 1 dan 2. Begitulah jalan panjang saya sampai di SMA “favorit” ini.

Biasanya sebelum masuk kelas kami berkumpul di warung pinggir sawah belakang sekolah. Kami menyebut ritual tiap pagi itu dengan istilah SPI (Selamat Pagi Indonesia), yaitu menghisap ganja bersama.

Setelah itu baru pindah ke warung depan sekolah untuk bermain batu domino. Di kampung, warung-warung di luar sekolah selalu menyediakan batu domino.

Ada atau tidak ada guru kami tetap tidak masuk kelas, kecuali ketika kepala sekolah menjemput ke warung. Kadang kami belajar sembari minum kopi di kelas.

Hal-hal seperti ini yang saya senangi di sekolah X; kami belajar sambil bermain. Padahal semuanya kosong. Hanya kesenangan yang kami dapatkan.

Teman-teman bermacam hobinya, mulai dari motor, band, judi domino dan koa, hingga berburu babi. Karena tidak punya hobi, saya ikuti semua kegemaran mereka itu.

Menjelang UAN, kepala sekolah mewanti-wanti: kalau sampai kami tidak lulus, maka sekolah favorit ini akan ditutup.

Kunci jawaban tergantung pada satu-satunya siswa pintar di sekolah kami. Setelah intimidasi tidak perlu, dia mau berbagi jawaban dengan cara memberi kertas jawaban di WC.

Akhirnya, dari 29 murid SMA X tercinta, cuma dua orang yang tidak lulus. Keduanya duduk berdekatan. Setelah ditelusuri, ternyata mereka salah mengisi contekan. Jawaban yang kami terima, nomor 10 dikosongkan sehingga harus dilewati. Sementara mereka tetap mengisi nomor 10 itu sehingga ke bawahnya salah semua.

Kami akan selalu dikenang sebagai alumni terbaik yang telah menyelamatkan sekolah.

Saat sekolah lain jadi belenggu, SMA X membebaskan kami. Tapi hidup ternyata tidak semudah itu.

Matahari mulai tampak dari celah pepohonan di belakang polres kota kecil ini. Menikmati sunrise menjadi salah satu hal yang paling saya sukai di balik jeruji ini. Sementara, teman-teman satu sel saya masih asyik dengan mimpi mereka, entah mimpi bagus atau jelek. Di sudut ruangan, Bang Teki masih duduk melamun. Sudah semalaman dia belum memejamkan matanya, memikirkan anak gadisnya yang sudah beranjak remaja dan satu lagi yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Sel adalah ruangan penyesalan perbuatan yang telah mengantar kami hidup di balik jeruji, di mana tubuh kami berada di dalamnya namun otak kami sibuk berasumsi bagaimana keadaan orang-orang yang kami sayangi di luar sana.

Hanya butuh beberapa hari bagi saya untuk merenung menerima keadaan ini. Bahkan untuk mendiami sel kami harus membayar kepada polisi yang berjaga. Kami dijadikan sapi perah mereka. Jatah makan dua kali sehari porsinya hanya untuk anak kecil. Perut kami dipaksa lapar agar mereka leluasa mengeruk keuntungan dari kami. Sudah jatuh terus perut kami dihantam pakai palu.


*) Nama penulis dan tokoh-tokoh dalam cerita disamarkan demi melindungi privasi penulis terkait statusnya.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Andy Dufresne

“Kurangnya kebebasan bergerak tidak membatasi kebebasan berpikir.”—Slavoj Žižek
Related posts
Travelog

Berbekal Kamera SLR Analog, Menelusuri Jateng-Jatim

Travelog

Pelajaran dari Baduy

Travelog

Kasih Ama Sepanjang Jalan*

Travelog

Idul Fitri, Pram, Rindu, dsb.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *