TRAVELOG

Mengapa Manusia Berebut Validasi di Puncak Gunung?

Baku hantam antarpendaki yang berebut antrean foto di puncak Gunung Lawu, 26 April 2026 lalu rasanya cukup memprihatinkan. Peristiwa itu terasa seperti gejala dari sesuatu yang lebih besar, yakni perubahan cara manusia memandang perjalanan, termasuk pendakian gunung itu sendiri.

Gunung yang dulu lekat dengan sunyi, perjalanan personal, dan ruang kontemplasi, pelan-pelan bergerak menjadi panggung pembentukan citra diri. Kamera hadir hampir di setiap langkah, media sosial seperti ikut mendaki bersama kita. Sebuah perjalanan terasa kurang lengkap tanpa dokumentasi, sementara momen mencapai puncak sering kali menjadi semacam isyarat bahwa seseorang telah sampai dan terasa perlu dibagikan.

Perubahan itu terasa semakin ironis ketika pada 8 Mei 2026, terjadi tragedi di Gunung Dukono, Halmahera, Maluku Utara, yang merenggut nyawa sejumlah pendaki yang berada di kawasan erupsi. Setiap tragedi tentu hadir melalui rangkaian sebab yang kompleks. Peristiwa itu mengingatkan bahwa di balik keseruan perjalanan, gunung tetap menyimpan batas yang tidak selalu tunduk pada keinginan manusia. Dari sana muncul pertanyaan yang lebih besar: ke arah mana manusia modern memaknai perjalanan? Sebagai pengalaman batin, atau simbol pencapaian yang ingin diperlihatkan?

Jejak setelah Perjalanan

Sebuah perjalanan pada mulanya adalah pengalaman: sesuatu yang terjadi dan dijalani secara langsung dengan langkah kaki yang perlahan, udara dingin di pagi hari, percakapan singkat dengan pendaki di pos pendakian, atau rasa lega ketika akhirnya mencapai puncak. Setelah waktu berlalu, pengalaman itu tinggal sebagai kenangan. Bedanya, kenangan tidak pernah hadir sepenuhnya utuh. Ia sering kali samar, menyisakan potongan-potongan kecil, bahkan berubah mengikuti cara seseorang mengingatnya.

Perubahan ini ikut berkaitan dengan cara manusia modern merekam pengalaman. Dulu, banyak hal cukup tinggal di kepala sebagai kenangan yang rapuh dan bergerak seiring waktu. Hari ini, pengalaman semakin sering dipindahkan ke perangkat digital. Foto dan video perlahan mengambil peran sebagai jejak visual bahwa suatu momen pernah terjadi, seolah perjalanan terasa lebih nyata ketika memiliki bukti untuk dilihat kembali atau dibagikan.

Filsuf Prancis Henri Bergson dalam Matter and Memory (1896) melihat kenangan sebagai sesuatu yang hidup, bukan arsip yang diam. Apa yang tersimpan di kepala tidak hadir sebagai salinan utuh masa lalu, melainkan terus hidup bersama emosi, suasana batin, dan cara seseorang memaknai kembali pengalaman tersebut. Karena itu, kenangan selalu bersifat lentur: ada yang memudar, ada yang terasa semakin dekat, dan ada pula yang memperoleh makna berbeda setelah waktu berjalan.

Mungkin justru karena kenangan manusia mudah berubah, kamera terasa semakin penting. Foto menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki ingatan: kepastian visual bahwa sebuah momen pernah terjadi. Ada rasa aman ketika perjalanan bisa disimpan dan diputar ulang kembali. Pada saat yang sama, hubungan manusia dengan pengalaman ikut bergeser sedikit demi sedikit. Kehadiran di dalam momen menjadi terbagi; satu bagian menikmati apa yang sedang terjadi, bagian lain diam-diam mulai membayangkan bagaimana pengalaman itu akan terlihat ketika tampil di media sosial.

Pandangan serupa pernah dikritik Susan Sontag dalam On Photography (1977). Menurut Sontag, manusia modern semakin cenderung “mengoleksi dunia” melalui gambar. Pengalaman tidak lagi dijalani secara utuh, tetapi diubah menjadi objek visual yang dapat dimiliki dan dipamerkan. Dalam konteks media sosial hari ini, kritik tersebut terasa semakin relevan. Banyak perjalanan tidak lagi diarahkan untuk mengalami sesuatu, tetapi untuk menghasilkan bukti visual bahwa seseorang pernah berada di sana.

Tentu, dokumentasi bukan sesuatu yang keliru. Foto acap membantu manusia menyimpan jejak perjalanan dan membagikan keindahan yang pernah ditemui. Dalam banyak hal, kamera juga memungkinkan kenangan tetap bertahan lebih lama. Persoalannya mulai muncul ketika pengalaman perlahan terasa kurang cukup tanpa kebutuhan untuk menunjukkannya kepada orang lain.

Pemandangan dari puncak Gunung Gede dan tampak hutan lebat Gunung Pangrango di kejauhan. Beberapa hal paling membekas dari pendakian justru hadir ketika seseorang berhenti berjalan dan hanya memandang sekelilingnya (Rizky Triputra)
Pemandangan dari puncak Gunung Gede dan tampak hutan lebat Gunung Pangrango di kejauhan. Beberapa hal paling membekas dari pendakian justru hadir ketika seseorang berhenti berjalan dan hanya memandang sekelilingnya/Rizky Triputra

Yang Dicari di Ketinggian

Di dunia pendakian, gejala itu sebenarnya sudah lama dikritik. Reinhold Messner, pendaki legendaris dan manusia pertama yang menaklukkan 14 gunung di atas 8.000 meter tanpa bantuan oksigen tambahan, berulang kali mengkritik komersialisasi pendakian. Dalam autobiografinya The Crystal Horizon (1989), Messner menulis, pendakian perlahan berubah dari pencarian personal menjadi konsumsi wisata dan simbol pencapaian sosial.

Puluhan tahun setelah kritik itu ditulis, suasana di banyak gunung terasa semakin berbeda. Sebagian orang mendaki bukan lagi untuk mencari kesunyian, melainkan untuk memastikan dirinya terlihat sedang menjalani kehidupan yang dianggap bernilai. 

Cara memaknai perjalanan semacam itu terasa berbeda dengan tradisi para pendaki generasi terdahulu. Bagi para pendaki generasi lama, gunung justru dihormati karena kesunyiannya. Pengalaman mendaki dipahami sebagai sesuatu yang tidak pernah benar-benar hadir dua kali dengan cara yang sama. Jalur boleh tetap, puncak mungkin masih serupa, tetapi cuaca, rasa takut, otot yang lelah, hingga suasana batin seseorang selalu bergerak.

Itulah sebabnya gunung yang sama sering terasa berbeda setiap kali dikenang kembali. Barangkali dari pemahaman semacam itulah dokumentasi visual pada banyak ekspedisi klasik hadir secara terbatas. Beberapa perjalanan monumental dalam sejarah Himalaya bahkan hanya meninggalkan sedikit foto dan lebih sering diwariskan melalui tulisan, percakapan, serta refleksi, alih-alih semata gambar atau hasil potret.

Jalur pendakian menuju Pasar Dieng, Gunung Lawu. Ada bagian dari perjalanan yang hanya bisa dirasakan, tidak selalu ditangkap kamera/Rizky Triputra
Jalur pendakian menuju Pasar Dieng, Gunung Lawu. Ada bagian dari perjalanan yang hanya bisa dirasakan, tidak selalu ditangkap kamera/Rizky Triputra

Tak Selalu Tertangkap Kamera

Kebutuhan untuk mendokumentasikan pengalaman sering kali membuat manusia lupa bahwa tidak semua hal dapat diterjemahkan melalui gambar. Kamera memang mampu menangkap pemandangan, wajah, atau suasana, tetapi tidak pernah benar-benar bisa merekam rasa lelah pada lutut ketika menghadapi tanjakan demi tanjakan di jalur, udara dingin yang menusuk menjelang pagi, atau perasaan lembut yang menenangkan ketika melihat hamparan sabana dari ketinggian. Ada bagian dari pengalaman manusia yang selalu lolos dari dokumentasi.

Mungkin karena itu banyak perjalanan paling membekas justru tersimpan dalam bentuk yang sederhana dan personal. Bukan pada foto terbaik, melainkan detail-detail kecil yang sering tidak dianggap penting: suara flysheet dan outer tenda diterpa desir angin malam, aroma kopi hangat di camp area pendakian, atau obrolan singkat dengan pendaki lain yang bahkan namanya sudah tidak kita ingat lagi. Semua itu hidup lebih lama di dalam ingatan dibanding unggahan media sosial yang perlahan tenggelam oleh konten baru.

Yang perlahan hilang dari banyak perjalanan modern mungkin adalah kemampuan untuk mengalami sesuatu tanpa dorongan untuk segera membagikannya. Tidak semua momen membutuhkan audiens dan komentar. Ada pengalaman yang justru terasa utuh ketika dibiarkan lewat tanpa kamera, tanpa unggahan, dan tanpa kebutuhan untuk membuktikan apa pun kepada orang lain.


Referensi:

Augustino, R. (2026, 27 April). “Viral Keributan di Puncak Gunung Lawu Akibat Berebut Spot Foto”. Tirto.id, https://www.tempo.co/lingkungan/2-korban-tewas-erupsi-gunung-dukono-dari-singapura-ditemukan-2134917. Diakses pada 12 Mei 2026.
Bergson, H. (1896). Matter and Memory. Paris: Félix Alcan.
Messner, R. (1989). The Crystal Horizon: Everest—The First Solo Ascent. London: Crowood Press.
Nurgianto, B. (2026, 10 Mei). ” 2 Korban Tewas Erupsi Gunung Dukono dari Singapura Ditemukan”. Tempo.co, https://www.tempo.co/lingkungan/2-korban-tewas-erupsi-gunung-dukono-dari-singapura-ditemukan-2134917. Diakses 12 Mei 2026.
Sontag, S. (1977). On Photography. New York: Farrar, Straus and Giroux.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Rizky Triputra

Rizky Triputra sering menulis dari perjalanan dan perjumpaan kecil di jalan. Sesekali mendaki gunung, lebih sering belajar menunggu. Bermukim di Indonesia, tetapi pikirannya kerap tersesat di antara hutan, kopi, dan pertanyaan yang tidak minta segera dijawab.

Rizky Triputra

Rizky Triputra sering menulis dari perjalanan dan perjumpaan kecil di jalan. Sesekali mendaki gunung, lebih sering belajar menunggu. Bermukim di Indonesia, tetapi pikirannya kerap tersesat di antara hutan, kopi, dan pertanyaan yang tidak minta segera dijawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Pendakian ke Gunung Karang dan Seni Menunggu