TRAVELOG

Krisis Air Bersih di balik Geliat Wisata Gili Meno

Rabu (20/5/2026), Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Nusa Tenggara Barat (NTB) mengajak saya mengikuti aksi demo persoalan krisis air bersih di Gili Meno, Kabupaten Lombok Utara. Saya pergi bersama kawan yang juga akan mengikuti aksi.

Kami berangkat dari Mataram mengendarai sepeda motor. Untuk menuju Gili Meno, kami harus ke Pelabuhan Bangsal, Kecamatan Pemenang terlebih dahulu, yang berjarak sekitar 30 kilometer atau 50 menit perjalanan. Ketika hampir mendekati tujuan, saya meminta kawan saya untuk menghubungi kapten fast boat yang akan membawa kami ke Gili Meno dari Pelabuhan Bangsal.

Sekita pukul 14.30 WITA, kami sampai di Pelabuhan Bangsal. Sebelum menuju dermaga, kami memarkir motor di tempat penitipan dengan biaya parkir Rp10.000. Sembari menunggu kapal yang menjemput, kami keliling pelabuhan yang menjadi pintu masuk tiga gili “Tramena”: Trawangan, Meno, dan Air.

Deretan boat berbagai jenis dan ukuran berjejer rapi menghiasi garis pantai di Pelabuhan Bangsal. Wisatawan mancanegara tampak mendominasi pelabuhan. Mereka membawa koper hingga memikul ransel besar (carrier), baik yang turun maupun akan naik fast boat

Sekitar 10 menit kemudian, kapten boat menghubungi kami. Langit berawan saat kami berangkat menuju Gili Meno. Menurut info BMKG, ada potensi banjir rob dan gelombang tinggi di perairan Lombok hari itu.

Fast boat kami melesat kencang membelah ganasnya ombak yang terlihat sejajar dengan tinggi kapal. Sesekali kapal ini terasa melompat membuat jantung berdegup kencang. Saya beberapa kali mengucapkan istigfar karena gelombang tinggi seakan terlihat menelan fast boat yang kami tumpangi. Sang kapten yang melihat kekhawatiran saya berusaha menenangkan kami. Katanya, penyeberangan ini masih tergolong aman.

Laut berombak mengguncangkan kapal-kapal wisata di dermaga Pelabuhan Bangsal (Idham Khalid)
Laut berombak mengguncangkan kapal-kapal wisata di dermaga Pelabuhan Bangsal/Idham Khalid

Ironi di balik Pesona Wisata GIli Meno

Sekitar 15 menit penyeberangan, akhirnya kami sampai di dermaga Gili Meno. Ombak masih terasa kencang menggoyangkan kapal saat kami turun dari dermaga. Plang “Welcome to Gili Meno” dengan pasir putih yang lembut dan gradasi warna pantai hijau membiru menyambut langkah kami. Pulau seluas 150 hektare itu dihuni 267 kepala keluarga (KK) atau sekitar 1.000 jiwa. 

Berbeda dengan Gili Trawangan yang populer sebagai pusat keramaian dan tempat pesta, Gili Meno justru menawarkan ketenangan. Pulau ini terkenal sebagai tempat berbulan madu. Satu hal yang sama dengan Gili Trawangan adalah Gili Meno juga bebas polusi. Alat transportasi yang disediakan hanya berupa sepeda kayuh, sepeda listrik, dan cidomo (kereta kuda).

Ikon patung bawah laut berbentuk cincin karya Jason deCaires Taylor jadi daya tarik lainnya, yang juga merupakan lokasi snorkeling favorit. Terumbu karang di perairan Gili Meno masih sangat terjaga, pun penyu hijau yang masih tampak mudah terlihat. Namun, meski memiliki potensi alam yang luar biasa, masyarakat Gili Meno saat ini tengah mengalami krisis air bersih yang sudah berlangsung tiga tahun lamanya.

Penampakan ruang tunggu dermaga Gili Meno (Idham Khalid)
Penampakan ruang tunggu dermaga Gili Meno/Idham Khalid

Sore menjelang malam kami menuju tempat penginapan di sebuah bungalo warga. Di sepanjang jalan saya melihat wadah air berukuran besar, seperti tandon hingga galon-galon, berjejer di depan rumah warga. Setibanya di penginapan, saya melihat warga tengah mempersiapkan peraga aksi untuk besok paginya, Kamis (2/5/2026). Mereka berencana menggelar aksi di tengah laut sebagai bentuk protes terhadap krisis air bersih yang sudah berlangsung lama di tempat itu.

Karena perjalanan cukup jauh dan melelahkan, saya memilih beristirahat dan mandi terlebih dahulu di kamar penginapan. Saat hendak membasahi tubuh dari atas kepala hingga kaki, saya merasakan air yang sudah terasa asin. 

Setelah drama air asin di kamar mandi, sekitar pukul 21.00 WITA saya pergi ke rumah Masrun, Kepala Dusun Gili Meno. Lokasinya tidak jauh dari penginapan.

Sambil menyeruput kopi dengan hidangan camilan ikan laut, saya menyela obrolannya dengan Ketua Walhi NTB, Amri Nuryadin dan memperkenalkan diri. 

Di bawah bulan sabit, di halaman rumah, di tengah kesibukan aktivitas persiapan aksi untuk esok pagi, Masrun menuturkan bahwa masyarakatnya telah kesulitan memenuhi kebutuhan dasar air bersih sehari-hari. Penyebabnya, operasional perusahaan penyedia air bersih di wilayah itu dicabut oleh pemerintah.

“Masyarakat kami sudah tiga tahun krisis air bersih. Kami terpaksa membeli air secara pribadi untuk kebutuhan masak dan mandi,” ujar Masrun.

Pria dua anak ini mengaku harus mengeluarkan biaya hingga 3 juta rupiah per bulan untuk membeli air kemasan hingga air isi ulang. Selain membeli air bersih, ia juga mengandalkan air hujan yang ditampungnya di ujung atap rumah.

Dari kiri, searah jarum jam: Seorang nenek tengah mencuci baju menggunakan air asin di tengah kelangkaan air bersih. Sejumlah galon air kemasan dan tandon yang digunakan warga untuk menampung air bersih. Tampak ember yang digunakan warga untuk menampung air hujan/Idham Khalid

“Lihat ini di sekeliling kami, galon, terus ember di ujung-ujung atap rumah ini untuk menampung air hujan,” ungkap Masrun sambil menunjukkan wadah penampung air di rumahnya.

Masrun mengaku, memang ada bantuan air bersih dari pemerintah daerah yang  dipasok dari Pulau Lombok. Namun, bantuan tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh warga yang berjumlah lebih dari 1.000 jiwa.

“Ada bantuan dropping air bersih dua kali seminggu dengan jumlah sekitar 50 kubik, tapi itu tidak cukup untuk 260 KK,” katanya.

Menurutnya, sangatlah ironi jika tempat wisata kelas dunia—dan menjadi salah satu penyumbang pendapatan asli daerah (PAD) untuk Kabupaten Lombok Utara—tidak memiliki air bersih. “Jangan hanya wilayah kami dimanfaatkan untuk sumber PAD, tapi ketika kami gak ada air bersih, krisis kayak gini, pemerintah hilang,” kata Masrun.

Keluhan serupa datang dari pelaku usaha wisata di Gili Meno. Mahrip, pemilik penginapan setempat, menilai krisis air bersih telah berdampak langsung terhadap sektor pariwisata dan keberlangsungan usaha warga. 

“Kalau kondisi seperti ini terus berlangsung, usaha kami bisa gulung tikar. Untuk bayar air bersih saja sekarang sampai 4 juta rupiah per bulan,” ungkapnya.

Pukul 01.00 WITA, Masrun meminta izin beristirahat terlebih dahulu karena besok pagi harus menjadi koordinator aksi ratusan warganya. Saya pun kembali ke penginapan untuk beristirahat. Di kamar, saya mempersiapkan kamera untuk mendokumentasikan aktivitas warga yang akan melakukan aksi di tengah laut. 

  • Aksi warga di tengah laut (Idham Khalid)
  • Warga menggelar aksi di depan dermaga Gili Meno (Idham Khalid)

Aksi Warga Gili Meno

Pagi buta, kicauan burung membangunkan kami. Suasana terasa sangat tenang, jauh dibandingkan dengan Gili Trawangan yang biasa dibangunkan dengan suara jedag-jedug musik.

Kamis (21/5/2026) sekitar pukul 09.00,WITA, warga sudah berkumpul di dermaga. Mereka akan melakukan aksi di tengah laut sebagai bentuk protes terhadap krisis air bersih di Gili Meno. Saya mengikuti perjalanan mereka menggunakan boat.

Setidaknya ada 16 boat konvoi mengelilingi Gili Meno, menyuarakan protes krisis air bersih. Sesekali wisatawan tampak merekam aksi warga itu. Tepat di titik snorkeling, warga membentangkan spanduk sepanjang sekitar 100 meter bertuliskan: “Kami Butuh Air Bersih Melalui Pipa Bawah Laut atau Tidak Sama Sekali”. Pesan spanduk itu sebagai bentuk desakan kepada pemerintah agar segera menghadirkan solusi permanen penyediaan air bersih.

Selain membentangkan spanduk raksasa sepanjang 100 meter di tengah laut, warga juga melakukan orasi protes di atas atap boat. Orasi itu berisikan pesan kepada publik dan pemerintah, bahwa Gili Meno tengah krisis air bersih berkepanjangan. Warga mendesak pemerintah segera merealisasikan pembangunan jaringan pipa air bawah laut dari Pulau Lombok, seperti yang telah diterapkan di Gili Air. Desakan ini juga disuarakan melalui petisi pada kain putih, yang ditandatangani warga bersama sejumlah wisatawan.

Sekitar pukul 11.00, aksi pun berakhir. Kami kembali ke penginapan dengan melewati danau air asin yang berada di gili mungil itu. Siapa sangka, di balik daya tarik wisata di darat dan laut, pulau ini menyimpan masalah genting bertahun-tahun.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Idham Khalid

Tinggal di Lombok. Menyukai isu sosial budaya, lingkungan dan pariwisata.

Idham Khalid

Tinggal di Lombok. Menyukai isu sosial budaya, lingkungan dan pariwisata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Tradisi Mengantar Jemaah Haji di Lombok