Travelog

Menengok Akulturasi Islam dan Jawa dalam Masjid Cipto Mulyo Pengging

Masjid Cipto Mulyo, salah satu masjid tertua yang ada di Kabupaten Boyolali, tepatnya di RT 9/RW 02, Dukuh Ireng, Desa Bendan, Kecamatan Banyudono. Masjid yang berada di kawasan wisata ziarah Pengging tersebut merupakan tempat peribadatan umat Muslim yang terbilang istimewa. Hal itu terjadi lantaran yang membangun masjid adalah Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Sri Paduka Paku Buwono X, ia berkuasa pada masa pemerintahan tahun 1893-1939 M.

Pendirian masjid dapat dilihat dari penanggalan yang tertulis jelas pada prasasti kayu dengan aksara Jawa, terletak pada serambi depan yang letaknya tepat di atas tangga masuk. Dari penulisan prasasti tersebut dapat diketahui  bahwa Masjid Cipto Mulyo didirikan pada Selasa Pon 14 Jumadil Akhir 1838 Je berdasarkan penanggalan Jawa atau jika dalam kalender Masehi terhitung pada tahun 1905.

  • Masjid Cipto Mulyo
  • Masjid Cipto Mulyo
  • Masjid Cipto Mulyo

Maka tepat pada tanggal 18 Januari 2022 Masehi yang bertepatan dengan 14 Jumadil Akhir 1955,  Masjid Cipto Mulyo telah memasuki usia ke 117 tahun. Namun, untuk memudahkan para pengunjung masjid, pengurus masjid telah memasang informasi tanggal pendirian Masjid Cipto Mulyo dengan aksara Latin yang diletakkan di tiang penyangga sebelah utara bagian depan masjid yang akan menyambut setiap jamaah yang hendak memasuki area masjid. 

Sejarah Masjid Cipto Mulyo

Dari kabar  yang beredar di telinga masyarakat masjid dibangun hampir bersamaan dengan Sanggrahan Ngeksipurna yang menjadi tempat peristirahatan para priyayi Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Nama pendirinya pun juga lekat pada atap yang berbahan dari kayu yang letaknya sangat strategis dan dapat dilihat dari kejauhan. Nama Paku Buwono X sebagai tetenger Raja Surakarta  yang lahir pada 29 November 1866 diabadikan pada atap bagian timur yang akan sangat tampak dari jalanan sekitar saat kita mengunjunginya.

Bagi sebagian besar masyarakat, terutama masyarakat penganut agama Islam, Masjid Cipto Mulyo bukanlah sekadar tempat sebagai ruang menyembah Sang Khalik. Tempat suci tersebut juga merupakan saksi perjalanan masuknya agama yang menjadi wahyu utama Rasulullah SAW di Karesidenan Surakarta pada tahun 1800-an. Sekaligus sebagai jejak peninggalan dan penyebaran Islam di Kabupaten  Boyolali.

Masjid Cipto Mulyo
Masjid Cipto Mulyo/Rosla Tinika S

Masjid Cipto Mulyo terletak bersebelahan dengan makam pujangga R.Ng. Yosodipuro. Nilai kebhinekaan pun tumbuh dan dilestarikan oleh masyarakat setempat. Hal tersebut tercermin pada setiap tahunnya terdapat tradisi sebaran apem kukus keong emas, yang telah diresmikan menjadi warisan budaya tak benda oleh pemerintah. Upacara untuk menghormati sosok pujangga Jawa tersebut biasa dilakukan di bulan Sapar selepas salat Jumat. Lahan  parkir Masjid Cipto Mulyo menjadi tempat untuk menyebar apem setelah diarak keliling sekitar tempat bersejarah sekitar Pengging. Nilai sosial dapat terlihat dari toleransi masyarakat yang menyatu sebagai pelestari budaya Jawa.

Susuhunan ke sembilan Keraton Surakarta memberikan nama untuk masjid ini. Namanya lekat dengan bahasa Jawa, berbeda dengan masjid yang biasanya berbahasa Arab maupun berbahasa Indonesia. Terdiri dari dua kata yakni Cipto dan Mulyo di mana Cipto berarti cipta dan Mulyo berarti mulia. Sehingga secara harfiah nampak jika dibangunnya Masjid Cipto Mulyo diharapkan dapat menjadi tempat terciptanya kemuliaan, mengingat sebagai masjid tempat para umat manusia bersujud pada Tuhannya. Para jamaah diharapkan dapat hidup mulia dan sejahtera baik secara lahir maupun batin selama hidup di dunia hingga kepulangannya menuju tempat keabadian di akhirat kelak.

Lantaran dibangun oleh raja, masyarakat merasa bahwa masjid tersebut merupakan tempat spesial. Sejak dahulu, bagi masyarakat, sosok raja adalah pemimpin yang menjadi khalifatullah atau wakil Tuhan di dunia. Setiap tingkah laku raja merupakan sabda yang menjadi panutan masyarakatnya. 

Masjid Cipto Mulyo
Area parkir masjid yang kerap digunakan untuk sebaran apem/Rosla Tinika S

Bentuk bangunan masjid yang letaknya di sebelah barat Umbul Sungsang tersebut berbeda dengan desain kebanyakan masjid Jawa kuno pada zaman dahulu maupun masjid yang mendapat pengaruh dari bangsa lain, mengingat Masjid Cipto Mulyo didirikan 40 tahun sebelum Indonesia menyatakan kemerdekaannya.

Dari sinilah terlihat jika bagunan masjid merupakan representasi dari Islam sebagai agama dan kepercayaan yang menjadi sarana menyembah Gusti Pangeran serta Jawa sebagai budaya masyarakat yang mengajarkan tata cara hidup yang baik sebagai sesama makhluk Tuhan. 

Hal tersebut memperlihatkan pengaruh Islam dan Jawa begitu lekat pada setiap sisi masjid. Memberikan pengajaran bagi masyarakat penganut agama Islam agar hidup sebagai umat Muslim yang senantiasa menjunjung ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW tanpa melupakan kesejatian hidup sebagai manusia Jawa yang diciptakan untuk nguri-uri budhaya Jawi. Antara Islam dan Jawa terlihat saling melengkapi dalam hidup masyarakat sehingga dapat mencapai kesempurnaan hidup sebagai manusia yang sejati.

Menyusuri Bangunan Masjid Cipto Mulyo

Selain itu, dari arah kiblat yang menjadi patokan shaf shalat pengunjung dapat melihat hal yang berbeda. Arah kiblat di Masjid Cipto Mulyo mengarah serong ke kiri yang berbeda dari umumnya yang menyerong ke kanan. Patok arah kiblat tersbut telah dipasang oleh Kemenag kantor wilayah Jawa tengah bertahun-tahun silam. Patok tersebut menggambarkan penunjuk kiblat yang dibuat dari kuningan dan tembaga yang terpasang di lantai serambi bagian depan masjid.

Meski Hingga kini telah  mengalami beberapa kali renovasi, namun Masjid Cipto Mulyo tetap memiliki bentuk yang tak jauh berbeda jauh seperti aslinya saat pertama kali dibangun dahulu. 

Masjid Cipto Mulyo
Masyarakat mengunjungi Masjid Cipto Mulyo/Rosla Tinika S

Tiang usuk yang terbuat dari kayu jati konon masih asli bahkan dindingnya pun masih asli. Hanya beberapa sisi saja yang dilapisi batu marmer khas material gunung Merapi. Sampai sekarang konstruksi kayu dan bangunan belum berubah, hanya sebagian kawasan luar masjid yang kini menjadi halaman dan lahan parkir saja mengalami renovasi supaya bisa menampung jamaah yang kerap memakmurkan masjid dengan baik.

Piranti lain yang menjadi pelengkap masjid pun masih asli seperti mulanya termasuk bedug dan kentongan. Bedug besar yang terbuat dari kayu utuh dan kentongan yang tertulis Paku Buwono X menjadi benda yang dapat dilihat dari luar masjid. Letaknya yang berada di bagian luar tersebut lekat dengan fungsinya sebagai sarana penyebarluasan informasi. Namun seiring dengan bertambahnya waktu, bedug dan kentongan sebagai media komunikasi masjid tidak dipergunakan insentif seperti dahulu. Selayaknya masjid lain yang menggunakan pengeras suara, muadzin Masjid Cipto Mulyo mengumandangkan adzan dengan bantuan mik serta loudspeaker agar terjangkau oleh masyarakat. Selain itu, kubah masjid berarah empat mata angin hingga kini pun masih dipertahankan.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Sekarang aku tengah menjalani studi di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Teman-teman bisa mengunjungi akun instagramku @roslats_ untuk sekadar ngobrol atau berbincang-bincang mengenai berbagai hal.

Sekarang aku tengah menjalani studi di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Teman-teman bisa mengunjungi akun instagramku @roslats_ untuk sekadar ngobrol atau berbincang-bincang mengenai berbagai hal.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Yogyakarta: dari Tebing Breksi, hingga Malioboro

    Travelog

    Sepenggal Kisah dari Lawatan ke Pendiri Salib Putih Salatiga

    Travelog

    Tak Sengaja Menemukan Tugu Helm Kopral Syarif

    NusantarasaTravelog

    Sarapan dengan Semangkuk Lontong Kari Kebon Karet

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Maulid Nabi Tahun Ini, Baluwarti Terlihat Sepi dari Ragam Tradisi