Interval

Lokalitas Jawa dalam Parade Hantu Siang Bolong

Jurnalisme sastrawi adalah adalah gaya jurnalisme yang berkembang yang memadukan teknik jurnalistik dan sastra untuk menuliskan berita yang mendalam. Teknik ini digemari para penulis cerita perjalanan sebagai cara penyampaian yang paling tepat dan mendalam, juga dirasa sebagai gaya yang cocok untuk cerita fakta-narasi. 

Salah satu buku yang menurut TelusuRI layak untuk dikoleksi adalah Parade Hantu Siang Bolong, sebuah buku yang ditulis oleh Titah Asmaning Winedar atau yang lebih kenal dengan Titah AW, merupakan kumpulan reportase jurnalistik yang menyoal mitos dan lokalitas. Lokalitas yang terjadi di sekitar kita jarang dibahas oleh media-media besar, pasalnya berita-berita lokal kurang mendapat porsi yang sepadan, kalaupun ditampilkan alih-alih seperti sebuah berita, hanya sekedar ulasan yang tidak memadai untuk sekedar dibaca. 

Buku ini adalah oase di tengah keringnya buku-buku sejenis. Titah menghadirkan cerita-cerita lokal, yang seringkali luput dari perhatian kita. Cerita-cerita seperti ini sering saya dapati ketika menjelajah internet, di blog-blog yang tidak dikenal, daripada di media-media terkenal di Indonesia. Dan sekarang cerita-cerita ini terhimpun dalam bukunya Titah.

Parade Hantu Siang Bolong
Parade Hantu Siang Bolong/M. Irsyad Saputra

Total ada 16 kisah yang dimasukkan untuk menjadi sebuah buku ini. Tulisan-tulisan yang ada sebenarnya sudah pernah diterbitkan oleh salah satu media online, namun di buku ini merupakan sebuah versi uncut yang agak sedikit berbeda dengan yang pernah terbit di internet.

Salah satu kisah di buku ini adalah penceritaan tentang lelaku dari penghayat kepercayaan dalam Bagaimana Mereka Memakamkan Bapak yang Penghayat. Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, pembaca dibawa menyelami isi cerita dari sudut pandang narasumber yang mempunyai bapak yang menganut aliran kepercayaan. Kisah ini masih menghadirkan perspektif baru mengenai cara pandang seorang anak terhadap kepercayaan orang tuanya yang berbeda.

Kisah lainnya tentang konferensi SETI (Search for Extraterrestrial Intelligence) yang rutin diadakan semenjak 2016. Konferensi ini mengundang seluruh penggemar luar angkasa dari ilmuwan, peneliti, praktisi, dan seniman. Ternyata walaupun berbeda latar belakang, bisa duduk sama rata ketika berada di forum dan saling memaparkan pendapat masing-masing.  Titah menceritakan, orang awam yang datang ke forum ini harus tanpa penghakiman apapun, karena pendapat yang diutarakan mungkin berbeda dengan yang selama ini dipelajari.

Salah satu manfaat lain dari mitos adalah menjaga suatu tempat dari upaya perubahan, seperti dalam kisah Mengunjungi Kampung Pitu Desa yang Hanya Bisa Dihuni Tujuh Keluarga di Puncak Langeran. Diceritakan bahwa tidak semua orang ‘kuat’ untuk tinggal kampung Pitu yang merupakan hadiah sultan atas jasa Eyang Iyo Kromo yang sudah menjaga pusaka keraton yaitu Pohon Kinah Gadung Wulung. Mitos tersebut berhasil menjaga kawasan kampung tetap asri dan sedikit, tetapi di sisi lain, anak-anak muda tergoda untuk pindah ke kota, memulai kehidupan baru.

Parade Hantu Siang Bolong
Parade Hantu Siang Bolong/M. Irsyad Saputra

Tak jarang dalam kisahnya, sering didapati kritik sosial semisal pada Sekolah Pagesangan Ajak Anak Gali Budaya Tani Subsisten di Lahan Gersang Gunung Kidul yang menceritakan kegelisahan seorang Diah Widuretno tentang sekolah masa kini yang berelasi dengan uang namun minim kemanusiaan. Sistem ini, menurutnya membentuk persepsi orang sejahtera artinya kota, hingga akhirnya banyak yang meninggalkan desa.

Titah memaparkan cerita secara lugas, tidak hanya menghimpun dari sudut pandang penulis saja, tetapi juga pelaku, yang menimbulkan banyak sudut pandang untuk para pembaca. Sayangnya, isu yang diangkat hanya berkisar di sekitaran Provinsi Yogyakarta, yang kemungkinan besar karena paling mudah dicapai oleh Titah. Lokalitas apapun, adalah gerbang untuk melihat bagaimana kondisi sosial yang terjadi pada masyarakat sekitar, sehingga untuk menyelami bagaimana kehidupan masyarakat di sana dibutuhkan pendekatan yang bersifat ‘lokal’.

Melalui pendekatan ‘lokal’ inilah ketika menggali cerita, Titah diterima bukan lagi sebagai wartawan, melainkan bagian dari cerita itu sendiri. Andaikata Titah nanti menulis tentang lokalitas di daerah lainnya, saya yakin tulisannya tetap akan mampu berimbang dalam mencari sudut pandang.

Buku ini berhasil menjawab keraguan akan berita lokal yang sering dipinggirkan, tertutupi oleh isu-isu yang dirasa lebih penting. Nyatanya, dalam kehidupan yang sederhana pun ada pembelajaran yang hebat. Membuat pembaca lebih dekat kembali dengan lokalitas yang ada di sekitarnya.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.
Artikel Terkait
Interval

Titin Riyadiningsih: Memajukan Wisata dari Desa

IntervalPilihan Editor

Cerita dari Bantaran Kali, “Sebuah Tempat Terbaik di Dunia”

Interval

Menghidupkan Kembali Kota Lama Semarang

IntervalPerjalanan Lestari

Laut Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Worth reading...
Menyusuri Sulawesi lewat Buku “Cerita yang Datang dari Pulau Berkaki Empat”