Interval

Menelusuri Sejarah Bogor bersama Bogor Historical Walk

Dari keinginan untuk mengenal kota sendiri lebih dekat, Bogor Historical Walk telah berkembang menjadi sebuah komunitas sejarah kota yang tidak hanya belajar bersama, tapi juga sebagai ajang silaturahmi dan mendekatkan diri satu sama lain dengan kota tercinta.

Kota Bogor, sama seperti kota-kota lainnya di Indonesia; mempunyai kenangan dan juga sejarah bagi setiap insan yang pernah hidup di dalamnya. Kota ini memiliki banyak peninggalan sejarah, baik dari masa kerajaan kuno seperti Prasasti Batu Tulis atau peninggalan masa kolonial seperti Kebun Raya Bogor, Istana Bogor, Gereja Zebaoth, ataupun Gedung Balai Kota Bogor. Namun, kerap kali tinggalan sejarah tersebut banyak yang luput dari perhatian masyarakat sekitarnya; entah karena terlalu sibuk dengan urusan masing-masing atau karena memang kurang peduli akan sejarah kota. Untuk itulah, Bogor Historical Walk hadir merangkul segenap masyarakat Kota Bogor untuk lebih mengenal kota tempat tinggalnya.

TelusuRI berkesempatan mewawancarai Ramadhian Fadillah—salah satu pengurus Bogor Historical Walk—yang merintis dan memprakarsai jalan-jalan sejarah di Kota Bogor bersama teman-temannya. Bang Ian—sapaan akrabnya—yang juga seorang jurnalis ini mempunyai tekad bahwa orang Bogor harus mengenal Bogor itu sendiri.

Apa latar belakang pendirian Bogor Historical Walk?

Bogor Historical Walk sebenarnya dulu kegiatan iseng-iseng sambil ngasuh anak keliling Kota Bogor, ke tempat-tempat sejarah. Lama-lama, beberapa teman ikut kemudian teman ngajak temannya lagi dan lagi, dan kemudian mereka usul, “Kang, kok nggak dibuka untuk umum saja karena kan kegiatannya menyenangkan?”

Akhirnya dibuka untuk umum tanggal 19 November 2019. Karena kami seringkali kolaborasi dengan komunitas, pas pertama kali jalan ‘tuh sudah banyak yang ikut dan terus berkembang. Pas pandemi, terpaksa kita stop semua kegiatannya. Hampir dua tahun lebih tidak ada acara dan kegiatan baru mulai lagi pada Januari 2022. Eh, nggak lama kemudian ada Omicorn. Setelah lebaran baru mulai intens lagi dan bisa mulai berkolaborasi lagi dengan berbagai komunitas.

Kehidupan orang-orang sekarang serba cepat, kami justru mengajak mereka cooling down gitu lalu kita sama-sama jalan mengenali kota kita. Banyak orang kerja di Jadetabek, pagi-pagi sudah berangkat kerja, terus pulang malam, dan Sabtu–Minggu nggak tahu harus ngapain. Dengan kondisi seperti itu, sulit akan ada rasa memiliki untuk kota sendiri. Kami membangun awareness akan kecintaan pada suatu kota [Bogor]. Selain mengenalkan sejarah dan budaya, kita juga mengenalkan bahwa Bogor itu kota multikultural, yang sejak zaman dulu sudah banyak suku dan kepercayaan. Pengurus BHW sekitar 5-7 orang. Setiap kegiatan, kita buka untuk umum, dan siapapun yang sudah pernah ikut tur udah jadi keluarga besar Bogor Historical Walk.

Bagaimana kesan tur pertama saat dibuka untuk umum?

Responnya bagus dan menarik. “Bikin lagi dong yang lain,” itulah yang membuat kami semangat.

Tapi, karena baru pertama jalan pasti banyak kurangnya lah. BHW itu konsepnya selalu dekat, BHW itu ibarat anak kampung sini terus kayak ngajak temen kita main ke kampung kita. Terus ada masukkan dari teman-teman juga yang membuat BHW semakin berkembang, semisal pakai speaker ketika ngomong. 

Para peserta kebanyakan berasal dari mana dan usia berapa, serta apa yang mereka inginkan ketika mengikuti tur?

Rentang umur dari bayi sampai umur 81 tahun. Ada macam-macam motivasi mereka buat ikut tur ini, tapi saya tuh senang mereka tuh ingin mengenal kota. Ada juga yang karena iseng ikut teman terus akhirnya kecanduan.

Ada juga yang senang foto, ada juga yang ingin sekedar menambah ilmu, ada yang senang walking tour. Tapi yang dari saya simpulkan adalah ingin belajar sejarah dan ingin mengenal kotanya lebih baik lagi.

  • Dokumentasi perjalanan
  • vihara dhanagun
  • kebun raya bogor

Adakah peserta yang memiliki keunikan tersendiri? Misalnya, ternyata ada peserta BHW yang seorang ahli sejarah, atau punya koneksi dengan tempat yang dituju.

Sering. Misalnya kita cerita soal ini, tiba-tiba ada yang nambahin, ternyata dia adalah dosen. Kami senang bisa saling berbagi. Kami juga sering kalau ingin masuk ke bangunan-bangunan bersejarah, ternyata ada anggota BHW yang bekerja di situ sehingga mempermudah kita untuk izin masuk ke dalam gedung.

Yang menarik lagi, kita ada anggota yang punya rumah zaman kolonial gitu. Ia memperbolehkan kami masuk ke dalam rumahnya. Kalau ada warga senior yang ikut tur, itu pasti kami suruh buat cerita-cerita tentang Bogor tempo dulu. Cerita-cerita itu akhirnya yang memperkaya cerita kami. —dalam menjelaskan suatu tempat—jadi kami menyampaikan beberapa versi cerita dari suatu tempat.

Apa yang menjadi dasar pengambilan tema pada suatu tur? Apakah tur juga menyesuaikan minat yang sedang populer?

Saat ini BHW punya sembilan rute. Biasanya kita bikin polling di Instagram, biasanya kita pilih tiga teratas dari situ [polling]. Ada juga rute-rute yang tidak bisa kita buka tiap bulan karena izinnya susah karena kami tidak ingin hanya di luar pagar saja.

Alhamdulillah, orang-orang juga open karena kami bersurat dan berusaha tertib. Ada banyak pertimbangan sih.

Dalam penyampaian materi dari tempat-tempat yang dikunjungi, apakah setelah tur ada pembahasan lebih lanjut melalui media lainnya?

Nggak. Jadi, pada 2019 itu kita punya grup WA setiap habis kegiatan, jadi banyak yang nggak terawat. Kita komunikasi via DM saja jadinya.

Dari postingan instagram, sepertinya BHW seringkali mengadakan kerja sama menggelar kunjungan dengan berbagai komunitas, apa yang ingin dicapai oleh BHW dengan terjalinnya kerja sama antar komunitas?

Setiap komunitas itu menarik! Semisal dengan TelusuRI waktu itu: 10.000 steps for corals. TelusuRI ingin menciptakan perjalanan berkelanjutan yang nggak cuma datang dan pergi. Jadi, kami melihat komunitas itu sesuatu yang menarik Ada juga sama Bogor Runner, jadi kami nunggu para pelari di titik-titik yang bersejarah terus kami cerita, tapi kami nggak ikut lari, takut pingsan soalnya. Haha.

Kami berkolaborasi dengan setiap komunitas yang pertama, biar saling kenal. Yang kedua  banyak yang bisa dikerjasamakan. Semisal ada bencana, kita bisa galang bantuan dengan komunitas. Kami bisa belajar dengan komunitas tersebut, belajar manajemennya, belajar gerakannya, bisa menghadirkan ide-ide menarik yang secara tidak sengaja.

Saya percaya, kekuatan suatu kota itu terletak di komunitas. Makin solid komunitasnya, akan makin hidup kotanya.

Adakah hal-hal yang menjadi goals BHW, namun belum tercapai hingga saat ini? Apa saja kendala untuk mewujudkannya?

Bikin buku tentang sejarah Bogor. Itu salah satu keinginan kita yang belum tercapai. Mudah-mudahan tahun depan bisa tercapai. Kami berjejaring dengan komunitas literasi yang di Bandung, mereka tuh aktif menerbitkan buku tentang sejarah Bandung, budaya Bandung. Jadi ditulis independen, diterbitkan independen, dan dipasarkan juga sama mereka. Mereka menggelar diskusi kayak di warung kopi, dan cara pemasarannya seperti itu. Benar-benar gerakan yang dari bawah dan indie gitu.

Bagaimana kondisi pelestarian situs sejarah di Bogor secara umum dan apa harapan BHW kedepannya terhadap kelestarian bangunan bersejarah di Bogor? 

Alhamdulillah, cagar budaya dan bangunan-bangunan tua masih lumayan terjaga, dan kami bersyukur. Mudah-mudahan kedepannya semakin baik lagi. Katanya kawasan Empang mau ditata, dan alhamdulillah sudah ada perhatian dari pemerintah. Bogor ‘kan kota bersejarah dan bangunan bersejarahnya masih banyak, baik yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya ataupun belum. Harapan kami, semoga makin banyak bangunan bersejarah itu yang dilestarikan. Ada kawasan yang sudah ditata semisal di Surya Kencana, tapi banyak bau pesing di sana. Sayang kalau sudah ditata, tapi masyarakatnya belum sadar.

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Jalan-jalan ke Curug Cipamingkis, Bogor