Travelog

Menelusuri Jejak Petirtaan Desa Cangkringan Boyolali (3)

Dua buah patung duduk bersila di pojok bangunan tua. Wujud patung tersebut bertubuh mirip manusia, sementara wajah, tangan, dan, kakinya seperti kera. Telinga, mata, dan kepalanya bulat.

Kedua kakinya duduk bersila. Bagian kakinya sama-sama patah. Patung di sebelah kanan duduk membelakangi yang lain. Tangannya terangkat ke langit; yang satu menggenggam, satunya lagi menengadah. Ekspresinya seperti sedang berdoa menghadap Sang Pencipta. Saya menyangka, keduanya adalah perwujudan patung manusia setengah kera.

Sontak saya bertanya kepada kawan saya, “Iki opo iki (Ini apa ini)?”

Ardha menjawab, “Ora ngerti, aku malah lagi ngerti (Tidak tahu, saya malah baru tahu),” sahutnya. Jawaban Akbar pun serupa, “Ra reti (tidak tahu).”

Patung manusia setengah kera itu tidak berada di tempat biasa. Saya menemukan patung tersebut dalam bangunan tanpa atap, tepatnya di jalan setapak masuk ke Sendang Sinogo. Bangunannya tampak tua, sampai diselimuti oleh lumut di sekujur dinding batanya.

Menelusuri Jejak Petirtaan Desa Cangkringan Boyolali (3)
Sepasang patung manusia setengah kera/Aldino Jalu Seto

Misteri Patung-patung dan Kesan Wingit Sendang Sinogo

Berhadapan dengan patung manusia setengah kera tersebut, terdapat sebuah bangunan mirip rumah berwarna putih. Pintunya tertutup. Menyatu dengan tembok bangunan tua yang penuh lumut. 

Di sekelilingnya berjajar pohon-pohon tinggi. Setiap batang pohon dibalut kain putih. Entah untuk apa kain tersebut. Daunnya lebat menutupi cahaya yang masuk. Hawa dingin menambah kuat pandangan saya untuk melabeli tempat ini mistis. 

Tak lupa untuk menambah kesan mistis, terdapat kemenyan kering yang sepertinya sudah lama terpasang di sana. Kemenyan tersebut berada persis di depan pintu masuk, ditempatkan di atas sebongkah batu berwarna cokelat agak keputihan. Dugaan saya, saking seringnya diberi kemenyan, batu itu memiliki bercak putih-putih.

Secara kebetulan, tak jauh dari tempat kami berdiri ada dua pria yang sedang memperbaiki pipa paralon. Saya mengira mereka adalah warga lokal. Tanpa pikir panjang, demi mengetahui identitas kedua patung tadi, saya berinisiatif mendekat. Perkiraan saya benar, rumah bapak-bapak itu tak jauh dari tempat saya menemukan sepasang patung manusia setengah kera. 

Saya melontarkan pertanyaan serupa seperti pada Ardha dan Akbar. “Wonten ndalem bangunan niku enten patung nopo, Pak (Di dalam bangunan itu ada patung apa, Pak)?”

Ternyata jawaban keduanya setali tiga uang. Kedua bapak bapak tersebut pun menjawab sama, “Mboten ngertos, Mas (Tidak tahu, Mas),” ujarnya.

Sayang saya masih belum menemukan identitas dari patung-patung tersebut. Akan tetapi, saya mendapatkan informasi mengenai asal usul tempat yang saya kunjungi ini. Bapak-bapak itu secara sukarela bercerita mengenai sejarah Sendang Sinogo.

Menurut mereka, dalam bahasa Indonesia, nogo berarti naga. “Ceritane ndhisik sendang niki ditunggu kalih nogo, Mas. Mangkane jenenge dadi Sendang Sinogo (Ceritanya dulu sendang ini dijaga oleh naga, Mas. Makanya namanya jadi Sendang Sinogo),” jelas seorang di antaranya.

Tak heran. Selain patung manusia setengah kera, terdapat beberapa monumen naga di sekitar sendang. Sampai sekarang, cerita mengenai mitos naga di sendang masih dijaga oleh masyarakat sekitar. Mitos tersebut jadi cerita turun-temurun. Cerita si bapak menambah kuat label yang saya lekatkan pada tempat ini.

Bagaimana tidak, akses masuk menuju sendang saja melewati kuburan Desa Cangkringan wilayah utara. Walaupun masih ada jalan lain, seperti gang sempit sebelah timur sendang atau lewat area persawahan, akses via kuburan relatif lebih mudah diakses. 

Kesan angker sepertinya tidak dihiraukan oleh pengunjung Sendang Sinogo. Menurut bapak yang saya temui, kebanyakan pengunjung malah datang pada malam hari. Rupanya malah kesan wingit ini yang dicari-cari. Biasanya pengunjung melakukan ritual atau doa-doa untuk membantu agar rezeki mereka dilancarkan. 

Masih menurut bapak-bapak tadi, ritual doa yang dilakukan pengunjung dilakukan di tempat yang memang dikhususkan untuk ritual. Seperangkat dupa, kemenyan, payung jenazah, serta bangunan joglo semipermanen, menjadi perantara antara dunia manusia dan dunia roh.

Kebanyakan pengunjung memanggil juru kunci terlebih dahulu ketika ingin melakukan ritual. Biasanya malam Jumat adalah waktu yang pas untuk ritual. Alasannya Jumat dianggap sebagai hari yang disucikan. Setelah melakukan ritual, pengunjung biasanya melakukan aktivitas kungkum sebagai bagian dari tirakat.

Bapak tadi melanjutkan, tempat ini—Sendang Sinogo dan sekitarnya—dirawat oleh seorang juru kunci yang tinggal di desa bernama Ngendo. Ia lupa namanya, tetapi sejauh obrolannya dengan sang juru kunci, perawatan Sendang Sinogo menjadi seperti ini adalah bagian dari nguri-uri (melestarikan) budaya Jawa yang sudah mulai ditinggalkan. 

Tak lama obrolan pun berakhir. Kami dipersilakan lanjut melihat-lihat Sendang Sinogo. 

Manfaat Besar yang Masih Terasa

Bangunan sendang merupakan satu kesatuan. Tak jauh berbeda dengan sendang pada umumnya, Sendang Sinogo terbagi menjadi dua tempat berdasarkan jenis kelamin, yaitu putra dan putri. 

Sendang yang sudah ada sejak 1959 itu mempunyai keunikannya sendiri. Bagian sendang putra dan putri masih dalam satu bangunan yang sama. Hanya dipisahkan oleh sebuah tembok. Tembok pemisah tersebut tidak terlalu tinggi, hanya sekitar dua meter dari permukaan air.

Secara keseluruhan, bentuk bangunannya lonjong memanjang. Ada dua pintu masuk di masing-masing ruang. terdapat pula sesajen yang berisi kemenyan yang sudah kering, gelas kosong (mungkin bekas kopi), dan juga rokok batangan. 

Seperti yang terlihat, bangunan sendang ini terbuat dari batu alam yang disatukan menggunakan semen. Batu tersebut ditumpuk membentuk bangun ruang memanjang, kemudian diberikan sekat pembatas antara putra dan putri di tengah. 

Menelusuri Jejak Petirtaan Desa Cangkringan Boyolali (3)
Sekat tembok yang memisahkan sendang putra dan putri/Aldino Jalu Seto

Melihat atap dari Sendang Sinogo, saya bisa menyimpulkan bangunan ini baru direnovasi. Alasan kesimpulan saya, atapnya terbuat dari baja ringan sebagai penopang dan seng sebagai penutupnya.

Penutup atau atap tersebut adalah inovasi baru untuk menjaga keasrian sendang. Soalnya, kebanyakan sendang lain menggunakan atap alami seperti dahan pohon untuk melindungi sendang agar tidak terpapar langsung dari panas matahari. Inovasi atap ini dapat menyelamatkan sendang dari kematian, sebab atap mampu mencegah limbah organik, seperti daun yang bisa menyumbat mata air alami di dalam sendang.

Masih sama dengan sendang lain, mata air alami itu berasal dari air tanah yang tertampung karena siklus hujan. Debit air di sekitar Sendang Sinogo dapat dibilang cukup besar. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh pepohonan sekitar yang masih cukup asri, sehingga akarnya dapat menyimpan tangkapan air di dalam tanah. 

Selain sebagai tempat ritual, mata air di Sendang Sinogo juga digunakan warga untuk beternak ikan. Si bapak yang saya temui di sendang adalah salah satu yang memanfaatkannya. Ia beternak berbagai jenis ikan di sebelah sendang, di antaranya koi.

Mungkin masih sangat banyak yang bisa dimanfaatkan dari Sendang Sinogo. Terlepas dari kepercayaan atau misteri apa pun, sampai sekarang kegunaan mata airnya menjadi berkah tersendiri bagi warga sekitar.

(Bersambung)


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Aldino Jalu Seto adalah bolang (bocah petualang) yang tinggal di kota Boyolali. Ia suka bermain sepak bola. Sekarang ia sedang tidak sibuk, silakan kontak dia di Instagram @aldhinojaluseto untuk berbagi kesibukan.

Aldino Jalu Seto adalah bolang (bocah petualang) yang tinggal di kota Boyolali. Ia suka bermain sepak bola. Sekarang ia sedang tidak sibuk, silakan kontak dia di Instagram @aldhinojaluseto untuk berbagi kesibukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Menelusuri Jejak Petirtaan Desa Cangkringan Boyolali (1)