Travelog

Mendaki Gunung Ungaran dari Jalur Perantunan

Sudah setahun ini dunia tersibukkan oleh pandemi COVID-19, nggak berasa ya. Di Indonesia sendiri, beberapa waktu lalu, rem darurat kembali ditarik, segala macam aktivitas yang berpotensi membuat kerumunan dibatasi. Seiring dengan itu, kita juga perlahan mulai beradaptasi dengan segala bentuk protokol kesehatan yang ada. Termasuk pada sektor pariwisata yang belakangan ini mulai bangkit perlahan, mulai membuka diri untuk wisatawan, tentunya dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Pendakian Gunung Ungaran kembali dibuka. Namun, tentu saja dengan menerapkan protokol kesehatan. Di basecamp pendakian Gunung Ungaran, Perantunan, para pendaki wajib menyerahkan surat kesehatan sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan izin pendakian. Selain itu, jam operasional basecamp ini diperpendek, jumlah pendaki dibatasi, dan dilakukan pembatasan kapasitas tenda. Tak apa, toh tujuannya untuk keselamatan bersama.

pendakian gunung ungaran perantunan
Area Camp Ground Basecamp Perantunan/Alifan Ryan Faisal

Mendaki Gunung Ungaran dari Perantunan

Jalur pendakian melalui Perantunan ini tergolong baru. Mulai dibuka pada September 2019 lalu dan terjeda oleh pandemi di tahun 2020, membuat jalur Perantunan tergolong sepi pengunjung.

Di awal tahun ini, Gunung Ungaran melalui jalur Perantunan menjadi gunung pertama yang aku daki bersama 2 temanku, Dani dan Arijal. Rencana ini bermula ketika Sabtu pagiku disapa oleh Gunung Ungaran dari samping rumah. Seketika itu aku mengajak mereka untuk tektok dari Perantunan. Tanpa basa basi, mereka mengiyakan ajakanku untuk berangkat dini hari nanti.

Singkat cerita, kami berangkat hari minggu pukul 03.00 WIB. Sebelum sampai di basecamp, kami menyempatkan untuk sarapan bubur koyor langganan di perempatan pasar Bandungan. Setelah mengisi perut, kami langsung menuju basecamp untuk registrasi. Cukup dengan membayar Rp15 ribu per orang, dan Rp4 ribu untuk parkir per motornya. Tempat parkir terlihat sepi, mungkin orang – orang sekitar sini masih betah untuk tidak bepergian, terlebih mendaki Gunung Ungaran dari jalur Perantunan ini. 

Waktu menunjukkan pukul 04.39 WIB. Perjalanan pun kami mulai setelah menunaikan sholat subuh di mushola kecil yang terletak sebelum gerbang pendakian. Kami berjalan santai meskipun masing-masing dari kami hanya membawa tas daypack. Toh untuk apa terburu buru, justru tidak ada yang dinikmati ketika semua hal dilakukan dengan ketergesa – gesaan.

Di sepanjang perjalanan tidak ada satupun pendaki yang kami temui hingga Pos 4. Hanya dua orang warga yang terlihat membawa senapan angin. Sepertinya mereka adalah warga lokal yang sering memburu di area Gunung Ungaran.

Di Pos 4, kami akhirnya bertemu oleh rombongan pendaki dari Purwodadi. Kami saling menyapa dan memberikan semangat. “Dari mana Mas?” Tanya Arijal kepada salah satu leader mereka. “Purwodadi, kalau Mas dari mana?” Tanya dia balik. “Dekat sini aja Mas, Karangjati. Ini rombongan berapa orang Mas? Banyak sekali kayaknya.” Tanya Dani ganti. “18 orang ini Mas, hehehe.” Jawab dia lagi. “Yaudah kami duluan ya Mas, mari.” Kataku sembari memposisikan daypack supaya lebih nyaman dikenakan. “Iya mas, mari, nanti ketemu di atas Mas.” Sahut mereka bersamaan.

Perjalanan pun kami lanjutkan menuju Puncak Bondolan.

Menuju Puncak Bondolan dan Puncak Botak

Perlahan mentari mulai menampakkan rautnya. Sedangkan kami  masih berada di tengah hutan dengan vegetasi yang rapat. Mungkin 15 – 20 menit lagi sampai di Puncak Bondolan pikirku. Kami memang tidak mengejar sunrise ataupun puncak. Sampai di sabana pun sudah cukup bagi kami, yang terpenting bisa pulang sampai rumah dengan selamat.

Kami memang sudah beberapa kali menapaki puncak Gunung Ungaran, namun melalui jalur lain. Toh rumah kami dekat, jadi masih bisa sering kesini kalau ada waktu luang, gunungnya nggak akan pindah kemana-mana.

Di sepanjang perjalanan, kami sangat menikmati trek yang dilewati. Sungguh Jalur ini cukup membuat kami takjub. Dengan jarak tempuh yang lebih singkat, vegetasi yang masih cukup rapat, hingga sabananya yang membuat siapapun ingin berlama lama di sana. Kami sangat bersyukur tidak ada hujan yang menghampiri kami kala itu.

Setelah melewati 2 punggungan sabana, sampailah kami di Puncak Bondolan atau sering disebut dengan Sunrise Camp. Disana terdapat sekitar 10 tenda yang berdiri. Ini adalah tempat favorit mendirikan tenda sebelum summit saat dini hari. Sayangnya, suasana ramai sekali kala itu. Ada beberapa rombongan yang memainkan gitar, ada pula yang memutar musik melalui music box. Tak ada ketenangan yang kutemukan.

Untuk itu, kami melanjutkan perjalanan ke atas lagi. Entah akan sampai di mana, kami tidak menargetkan. Memang hanya butuh waktu sekitar 38 menit untuk sampai di Puncak Botak (2050 mdpl), namun kalau kondisinya ramai juga ya sama saja.

Di tengah perjalanan antara Puncak Bondolan dan Puncak Botak, kami menemukan tempat yang cukup untuk memasang flysheet dan menggelar matras. Berada di tepi jalur yang agak lebar, disebelah batu besar, disitulah kami beristirahat. Kala itu pukul 06.43 WIB, artinya waktu tempuh dari basecamp hingga tempat dimana kami beristirahat ini sekitar 2 jam perjalanan. 

Tak menunggu lama, kami pun mengeluarkan alat masak setelah flysheet dan matras terpasang. Sesi masak memasak ini kami jadikan waktu untuk quality time. Banyak obrolan yang kami perbincangkan saat itu. Entah gibahin orang hingga candaan yang frontal ada dalam lingkaran pagi itu.

Selesai dengan cemilan, obrolan, dan makanan, kami menyempatkan diri untuk menikmati suasana di sekitar tempat berteduh. Meskipun sesekali berkabut, namun ada beberapa momen yang memperlihatkan bersihnya langit pagi itu. Indah sekali saat sesekali awan turun, menggulung seperti ombak di laut lepas. Terlihat sangat jelas lanskap Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing, hingga Lawu.

“Menjemput temu, di ujung penantian. Ketika aku dan kamu, di dataran tinggi Ungaran. Jumpa pertama, membungkam semua kata. Seolah dibisukan oleh pertemuan. Hingga aksara yang telah terangkai mendadak berhenti terkagum perangai. Dan jika sebenar – benarnya tualang telah usai, maka rumah lah yang menjadi tempat kembali. Namun, rerimba semesta masih kuat tuk mendekap, menenenggelamkan dan memerangkap apa apa yang ada di dalamnya. Kau yang baru saja mulai langkah tuk menggapai arah, sedang aku harus menuju rumah, tak hanya singgah.” Kala itu aku duduk di atas bebatuan, dan sebuah tulisan singkat selesai ku tulis di catatan ponselku.

Waktu menunjukkan pukul 09.00 WIB, dan kami kembali ke dalam naungan flysheet. Rencananya kami akan memejamkan mata sejenak sebelum turun menuju basecamp. Satu jam ternyata tidak terasa, saatnya kami memasukkan kembali barang dan perlengkapan ke dalam tas. Setidaknya badan sudah kembali fit lagi untuk melakukan perjalanan pulang.

Turun kembali ke Basecamp Perantunan

Tepat pukul 10.24 WIB, kami pun berdoa sebelum berjalan kembali. Suasana perjalanan masih sepi. Ternyata, pandemi ini bisa dilihat sisi baiknya juga ya, pikirku. Alam memperbaiki diri, dan kami bisa menikmati perjalanan dengan tenang, tak terlalu ramai, tak ada suara gaduh. Mungkin peraturan yang cukup ribet untuk sebagian orang ini secara nggak langsung menyaring siapa saja yang benar-benar ingin mendaki. Karena menurutku, mendaki gunung itu pada dasarnya adalah perjalanan spiritual. Dan gunung akan kehilangan esensinya ketika di jalur pendakian padat merayap.

Perjalanan pulang pun terasa sangat menyenangkan. Kami ditemani awan yang menggulung-gulung dengan indah, vegetasi yang lebat, hingga perkebunan warga yang tidak bisa kami lihat ketika perjalanan naik dini hari tadi.

Tak terasa, satu jam perjalanan sudah kami tempuh. Pukul 11.36 WIB kami sampai di Basecamp Perantunan. Kami menyempatkan untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah. Mungkin suatu saat nanti akan aku ulangi lagi perjalan seperti ini, tak terencana namun terlaksana. 

Pekerja lepas bidang pariwisata, pemilik usaha kedai kopi, pendiri sebuah komunitas bernama "Kopi Peduli." Tinggal di Kabupaten Semarang.

Alifan Ryan Faisal

Pekerja lepas bidang pariwisata, pemilik usaha kedai kopi, pendiri sebuah komunitas bernama "Kopi Peduli." Tinggal di Kabupaten Semarang.
Artikel Terkait
NusantarasaTravelog

Kisah Kopi Hitam di Warung Tadasih

Travelog

Monumen Kresek dan Kisahnya

Travelog

Anjing-anjing yang Memandu Kami di Gua Maria Bukit Kanada

Travelog

Menengok Gugusan Karang di Pantai Watu Leter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *