Travelog

Melinting Tembakau Temanggung di Linthing Thoenk

Sudah bulan April namun hujan dan gerimis masih setia turun di wilayah Temanggung. Untung saya memakai parka. Jadi, saat dibonceng Roiz naik Vespa yang laju dari Ngadirejo ke Parakan, Temanggung, saya tidak kedinginan.

Di Parakan, kami meluncur di jalanan yang dipagari bangunan-bangunan tua, lalu melipir ke sebuah gang sempit yang hanya cukup untuk dua sepeda motor atau sebuah mobil kecil. Selama beberapa saat suara khas knalpot Vespa membahana dipantulkan ke sana kemari oleh pagar rumah dan tembok, sampai akhirnya kendaraan roda dua itu berhenti di depan sebuah rumah.

linthing thoenk
“Toko” tembakau lembutan dan cengkeh Linthing Thoenk/Fuji Adriza

Rumah itu tanpa pekarangan. Hanya pagar besi yang memisahkannya dari jalanan gang. Dindingnya yang dilapisi ratusan ubin persegi panjang berwarna merah bata dan lantai berandanya yang bertegel terang membuat rumah itu tampak klasik.

Tapi, yang paling mencolok adalah pintunya yang kuning terang. Di samping pintu kayu itu ada sebuah spanduk berlatar hitam. Saya perlu mengernyit untuk membaca tulisan dalam lingkaran putih itu: “Linthing Thoenk.” Di bawah “Linthing Thoenk” ada dua baris tulisan warna merah, “Tembakau Lembutan” dan “Cengkeh.”

Roiz mengetuk pintu kuning itu. Selang sebentar terdengar suara gagang pintu sedang ditekan, kemudian pintu itu membuka. Kami disambut seorang pria gondrong berusia sekitar 30-an akhir atau awal 40-an, lalu dipersilakan memasuki ruang tamu.

linthing thoenk
Repro lukisan Affandi di rumah Pak Thoenk/Fuji Adriza

Ruang tamu yang memanjang itu senada dengan eksterior bangunan, sama-sama klasik. Ada dua set meja-kursi tamu dari kayu dan anyaman rotan yang mengingatkan saya pada mebel lawas di rumah nenek. Kami duduk di set meja-kursi tamu kayu berkapur hitam dan penuh ukiran. Sambil menunggu empunya Linthing Thoenk—yang membuka pintu tadi ternyata bukan sang pemilik—saya mengedarkan pandangan mengelilingi ruangan nyeni itu.

Coba dulu, beli kemudian

Dinding tepat di depan saya adalah tempat bagi selusin lebih pigura bergambar keris, lengkap dengan keterangannya. Menoleh ke kiri saya mendapati sebingkai repro lukisan Affandi. Di sudut sana, di belakang meja kayu kokoh penuh ukiran, menjulang dua bilah tombak kayu berwarna cokelat tua. Di pojok yang berseberangan dengan tombak-tombak itu ada satu unik speaker Polytron yang kala itu sedang diam-diam saja.

Saat saya sedang asyik menikmati suasana, Pak Thoenk muncul dari ruang tengah. Wajahnya ceria. Rambutnya dipotong pendek mengikuti bentuk kepala. Susah untuk menebak usianya, barangkali sekitar 40-an akhir atau 50-an awal.

linthing thoenk
Kaleng rokok yang ditempeli logo Linthing Thoenk/Fuji Adriza

Ia menyalami kami berdua, lalu mengobrol dengan Roiz. Kawan saya itu memang sudah dari beberapa tahun lalu kenal Pak Thoenk. Ceritanya, waktu itu ia kehabisan cengkeh untuk dilinting dengan tembakau. Seseorang merekomendasikan Linthing Thoenk ke Roiz. Ternyata, saat ke sana, ia mendapati bahwa, selain cengkeh, Pak Thoenk juga menjual tembakau lembutan. Sejak itu, setiap kali kangen tembakau lembutan, Roiz menghampiri ruang tamu Pak Thoenk ini.

Transaksi di Linthing Thoenk agak berbeda dari yang biasanya terjadi di toko-toko tembakau lembutan kebanyakan. Sebelum membeli, pelanggan dipersilakan mencoba tester yang disediakan di meja.

Malam itu ada delapan kotak kecil di nampan. Isinya varian-varian tembakau Temanggung, dari yang termurah (Canggal, Rp20.000/ons) sampai yang termahal (Jambu, Rp50.000/ons). Sebagai campuran tembakau, Pak Thoenk turut menyediakan sekotak cengkeh hasil rajangannya sendiri. Saat mengintip kotak cengkeh itu, saya lihat ada beberapa butir biji salak yang sengaja ditaruh di sana untuk membuat aroma cengkeh tidak terlalu nyegak.

linthing thoenk
“Tester” delapan varian tembakau Temanggung/Fuji Adriza

Saya buka kotak-kotak plastik kecil itu satu per satu dan saya hirup aromanya. Sebentar saja aroma khas tembakau Temanggung melayang-layang di indra penciuman saya. Untuk menikmatinya, tentu saja saya harus mengambil selembar garet (papir), menjumput tembakau dan cengkeh—melinting.

Hadir sejak 2002

Saat saya sedang asyik melinting, Pak Thoenk bergerak ke arah speaker. Sebentar kemudian nada-nada blues dari gitar Gugun membahana memenuhi ruangan.

“Ini tembakau dari dari kebun bapak semua?” saya bertanya. “Bukan,” jawabnya sambil tersenyum. Tembakau-tembakau lembutan yang ia jual berasal dari petani di penjuru Temanggung. Semuanya adalah tembakau tegal yang ditanam di lahan kering. Ia tidak menjual tembakau sawah yang lebih basah.

Pak Thoenk adalah pelopor. Ia membuka Linthing Thoenk tahun 2002 saat melinting masih praktik yang hanya lazim dilakukan oleh para petani tembakau, jauh sebelum toko-toko tembakau lembutan menjamur di Temanggung sekitar tahun 2017. Pengalaman bekerja di gudang tembakau membuat Pak Thoenk lihai mengkurasi tembakau-tembakau enak.

Melinting tembakau Temanggung/Fuji Adriza

Sekali waktu Roiz pernah mencoba tembakau meteor di Linthing Thoenk. “Enak,” ujar Roiz. Tembakau itu didapat Pak Thoenk dari sebidang tanah di Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu, Temanggung yang dekat dengan lokasi jatuhnya meteorit tahun 2001.

Sayang sekali kali ini tak ada tembakau meteor. Gantinya, saya melinting Kramat, Limbangan, Canggal, dan Jambu. Setelah mencoba beberapa jenis tembakau, saya jadi bingung mau membeli yang mana. Semuanya sama-sama enak.

“Jangan tertipu sama harga,” Pak Thoenk terkekeh melihat kebingungan di muka saya. “Yang murah bukan berarti nggak enak, yang mahal nggak mesti enak.”

Akhirnya saya memilih tembakau Limbangan yang tidak terlalu nyegak. Pak Thoenk lalu beranjak ke dalam untuk membungkus tembakau lembutan yang kami pesan. Sejurus kemudian ia kembali membawa dua bungkus tembakau kemasan 1 ons yang dikemas dalam plastik transparan yang ujungnya sudah di-press plus dua bungkus cengkeh.

Karena sudah jam sepuluh, tak lama setelah tembakau pesanan kami dibungkuskan kami pulang. Bagi Parakan, kecamatan kecil di Kabupaten Temanggung, larut memang lebih cepat datang.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Avatar

Pembaca realisme magis dan catatan perjalanan.
Related posts
Travelog

Mencari Kesegaran di Taman Sidhandang

Travelog

Perjumpaan Pertama dengan Ranu Kumbolo

Travelog

Perjalanan Menuju Baduy Dalam

Travelog

Mencari Udara Segar di Gunung Penanggungan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *