Itinerary

Melawat ke Candi Kidal, Melihat Garuda dan Naga

Sejarah adalah kisah yang menarik untuk ditelisik. Sisa-sisa masa lalu tertulis atau terukir sebagai simbol-simbol. Alam membimbing intuisi manusia menciptakan kisah dan figur filosofis yang kini membatu, menanti seseorang yang tak dikenalnya menggali makna-makna luhur di dalamnya, menyingkap ajaran moral di baliknya.

Minggu pagi itu jalanan Kota Malang cukup lengang. Entah karena hawa dingin di luar atau orang-orang hanya sedang malas keluar. Motor kami melaju kencang ke arah timur, melibas jalanan Kota Malang yang basah usai hujan semalam.

Saat kami memasuki Kecamatan Tumpang, hawa makin sejuk. Kami tak begitu heran karena dua gunung agung, Bromo dan Semeru mengapitnya. Namun, tujuan kami bukanlah kedua gunung tersebut, melainkan sebuah candi yang terletak di pelosok desa, yaitu Candi Kidal.

Matahari belum begitu naik, jalan masih sepi, hanya rombongan pesepeda yang berlalu-lalang. Tak sulit menemukan Candi Kidal. Letaknya di pinggir jalan dengan penunjuk arah yang cukup jelas. Saat kami tiba di sana pagi itu, pagar depannya masih terkunci, beruntung sekali pintu kecil di sampingnya terbuka. 

Kami melangkah memasuki halaman candi. Di depan kami, Candi Kidal tegak menjulang, hamparan rumput yang masih basah oleh embun mengelilinginya.

Candi Kidal
Penampakan Candi Kidal dari dekat/Asief Abdi

Bagaimanapun, bangunan ini pernah menjadi tempat sangat penting pada masanya. Saya menyentuh kepala naga yang menjaga pintu candi, merasakan tekstur batunya yang purba. Teman saya yang tengah berkuliah di jurusan antropologi, terpukau melihat kala—relief wajah raksasa menakutkan, penjaga pintu candi dari roh-roh jahat—yang menyeringai di hadapannya. Barangkali, yang dilihatnya pagi itu tidak pernah ia baca di buku kuliahnya. Diiringi kicau burung yang bersahutan, kami terdiam sejenak memperhatikan bangunan suci ini, mengagumi setiap detail sudutnya.

Beberapa saat kemudian, Bu Siti Romlah—juru pelihara candi menghampiri kami. Seraya menyapu halaman rumput, perempuan bersahaja itu menyapa kami yang khusyuk memperhatikan relief. Walhasil, saya pun meminta Bu Siti untuk menyuguhi kami kisah seputar candi. Setelah menyerahkan sapu lidi yang sejak tadi dipegangnya kepada seorang anak, ia berjalan mendekati candi dan menceritakan kisah Garudeya yang terpatri di panel-panel relief bangunan suci ini. Ia pun mulai bercerita. “Semuanya bermula dari Samudramantana, pengadukan lautan oleh para dewa,” tuturnya membuka cerita.

Kisah Garudeya, Permusuhan Abadi Garuda dan Naga

Dikisahkan, dahulu kala hiduplah dua orang perempuan yang diperistri seorang laki-laki, Rsi Kasyapa. Seorang bernama Kadru, dan seorang lagi bernama Winata. Keduanya tidak kunjung memiliki keturunan, hingga suatu saat mereka mendapatkan telur dari seorang dewa. Sesuai pesan sang dewata, kedua perempuan itu merawat telur-telur  itu dengan sungguh-sungguh, hingga tiba waktunya bagi telur-telur itu menetas. Telur-telur milik Kadru menetaskan para ular, sedangkan satu telur milik Winata menetaskan manusia setengah burung. Para ular tidak lain adalah Naga—dalam bahasa Sansekerta naga berarti ular—dan manusia setengah burung adalah Garuda.

Kisah bermula ketika Kadru dan Winata bertaruh saat para dewa sedang mengaduk lautan untuk menemukan tirta amerta, air keabadian. Dari dalam lautan, keluarlah berbagai benda dan makhluk, salah satunya adalah kuda Ucchaishravas. “Ayo tebak, apa warna ekor kuda Ucchaishravas?” kata Kadru. “Putih,” Winata menjawab. Mereka bertaruh, yang menang akan memperbudak yang kalah. Maka keluarlah hewan yang menjadi kunci kisah selanjutnya itu.

Ternyata, warna ekor sang kuda adalah putih. Winata benar. Namun, dengan liciknya, Kadru menyuruh ular-ular anaknya untuk menyemburkan bisanya ke arah kuda itu. Ekor kuda yang semula putih itu berubah menjadi hitam. Terkecoh dengan kecurangan Kadru, Winata pun kalah. Dari sinilah perbudakan Kadru terhadap madunya, Winata, dimulai.

Siang dan malam Winata dan Garuda harus mengurus para ular lantaran kalah taruhan. Jengah menjadi budak Kadru, Garuda akhirnya mengambil langkah. “Dengan apa aku harus menebus kebebasan kami?” tanya Garuda. Mereka menjawab, ”Bawakan kami tirta amerta dan kalian akan bebas.”

Tirta amerta adalah air kehidupan, menjadikan siapa saja yang meminumnya mendapat keabadian, seperti dewata. Demi membebaskan ibunya, Garuda harus merebut air suci itu dari para dewa. Mau tidak mau, Garuda pun harus terbang ke kahyangan, dan itu artinya ia harus berhadapan dengan para dewata.

  • Kepala naga
  • garudeya

Dengan gagah berani, Garuda datang ke kahyangan, nekat melawan Indra demi mendapatkan air kehidupan. Dalam versi lain, dikisahkan pula Wisnu membantunya dengan syarat sang burung mau menjadi kendaraan (vahana) sang dewa. Singkat cerita, Garuda berhasil mendapatkan tirta amerta dari para dewa. Girang bukan kepalang, dalam sebuah bokor (kamandalu), air itu dibawanya kepada para Naga untuk ditukar dengan kebebasan ibunya.

Garuda mendatangi saudara-saudara tirinya, memberikan apa yang mereka minta. Namun, Garuda dengan cerdik mengikatkan ilalang di kamandalu. Begitulah ular-ular itu berebut menjilati bokor berisi air ajaib itu. Tajamnya ilalang membuat lidah mereka terbelah. Konon, sejak saat itu lidah ular bercabang dua. Begitulah akhirnya Garuda membebaskan ibunya, Winata, dari perbudakan.

Sambil menuturkan kisah yang dikutip dari Adiparwa, salah satu episode dalam Mahabarata itu, sang juru pelihara membawa kami keliling candi, sebab kisah tersebut terangkum dalam tiga panel relief di badan candi. Kami bertiga mengitari candi dengan cara prasawya, atau mengirikan candi, memutarinya berlawanan dengan arah jarum jam, layaknya jamaah haji mengelilingi Ka’bah. Konon, karena reliefnya dibaca dari arah kiri, maka candi ini diberi nama Kidal. Namun, barangkali penamaannya hanya mengikuti nama desanya, Rejokidal. 

Panel relief pertama berukirkan Garuda dengan tiga Naga di atas kepalanya, menyiratkan perbudakan Naga terhadap Garuda. Panel relief kedua—menurut saya yang paling bagus—menunjukkan Garuda membawa bokor berisi tirta amerta. Di panel ketiga, Garuda menjunjung sang ibunda, Winata, usai bebas dari perbudakan. 

Fase-fase dalam kisah Garudeya tersebut sangat cocok dengan perjuangan bangsa Indonesia melawan kaum penjajah, begitu mulia, filosofis, dan sarat patriotisme, sehingga mengilhami para perancang lambang negara Indonesia pada masa awal kemerdekaan.

Garuda sebagai Simbol 

Pembebasan ibu Garuda dari perbudakan adalah metafora kemerdekaan Indonesia, lepasnya ibu pertiwi (berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu  prithvi, yang berarti ‘bumi’) dari cengkeraman kolonialisme Eropa. Konon, perancang simbol nasional pernah melawat ke tempat ini untuk mencari inspirasi. Meskipun demikian, nyatanya garuda tak selalu identik dengan kemerdekaan pascapenjajahan. Thailand yang tak pernah dijajah nyatanya juga menggunakan garuda sebagai lambang negara. Garuda adalah simbol keagungan.

Rancangan awal garuda sebagai simbol negara tidak seperti yang biasa kita lihat kini, yang terpampang di depan kelas atau di kantor pemerintahan. Garuda versi Sultan Hamid II sangat bernuansa Hindu, antropomorfisme, dengan lengan memegang perisai di dadanya. Lambang tersebut kemudian mengalami perubahan hingga jadilah garuda yang sepenuhnya zoomorfis, berjambul mirip elang jawa.

Dalam mitologi Hindu, Garuda memang digambarkan separuh manusia, separuh burung. Tubuhnya emas, wajahnya putih, paruhnya elang, dan sayapnya berwarna merah. Bahkan saat terbang, makhluk ini bisa menghalangi matahari, menutupi bumi dengan bentangan sayapnya. Penggambaran Garuda yang demikian adiluhung membuatnya mendapatkan beberapa julukan antara lain Khagesvara—raja burung, Suparna—yang memiliki bulu indah, Suvarnakaya—yang bertubuh emas, dan Nagantaka—pemakan ular.  

Permusuhan abadi antara Garuda dan Naga dapat dimaknai sebagai simbolisasi dua unsur yang berlawanan. Garuda merupakan simbol dunia atas, kelahiran, sedangkan Naga merepresentasikan dunia bawah, kematian. Akan tetapi, tampaknya tidak sesederhana itu. Pertempuran keduanya bukan sekadar kebaikan melawan kejahatan. Meskipun Naga adalah musuh Garuda dan menjadi tokoh antagonis dalam kisah ini, Naga nyatanya disembah juga oleh beberapa komunitas. Naga diyakini merupakan leluhur orang-orang Kamboja dan pelindung sang Buddha. Di India Selatan, Naga juga disembah sebagai simbol kesuburan. Para perempuan memohon padanya untuk diberi keturunan.

Namun, nyatanya tak hanya Garuda yang bergulat dengan Naga atau ular. Bendera Meksiko juga menampilkan elang yang memangsa ular. Kita perlu ingat bahwa secara alami elang adalah musuh ular. Bahkan beberapa jenis elang secara spesifik menjadikan ular sebagai makanan sekaligus namanya, seperti elang–ular bido dan elang–ular jari pendek. Penulis kisah Garudeya pastinya tahu soal itu, atau boleh jadi pernah melihatnya secara langsung. Alam memberinya ilham untuk diramu menjadi sebuah kisah epik nan filosofis yang maknanya abadi, menyebar dari satu tempat ke tempat lain, dari India, Kamboja, Thailand, hingga Tibet.

Garudeya sebagai Media Ruwat

Layaknya Kidung Sudamala, kisah Garudeya juga diinterpretasikan bernuansa ruwat, pembebasan dari kutukan. Dalam versi berbeda, dikisahkan Winata tidak sabar menunggu telur miliknya pecah. Ia pun memecah telur itu secara paksa sehingga lahirlah Aruna, kakak Garuda. Karena lahir sebelum waktunya, Aruna tidak sempurna. Sang anak marah sebab sang ibu membuatnya lahir prematur. Aruna pun mengutuk ibunya menjadi budak Kadru. 

Menurut Pararaton, Candi Kidal adalah pendarmaan raja kedua Tumapel (Singasari) yaitu Anusapati yang wafat pada tahun 1248 (1170 Saka). Ada yang berpendapat bahwa kisah Garudeya dipahatkan di candi ini guna meruwat, menyucikan  jiwa sang raja dari dosa karena telah membunuh Ken Arok, ayah tirinya. Pendapat lain mengatakan bahwa kisah Garudeya ditatahkan sebagai penghormatan untuk Anusapati yang telah membebaskan sang ibu, Ken Dedes, dari Ken Arok. Perlu diingat kembali bahwa Ken Arok merebut Ken Dedes dari suaminya, Tunggul Ametung. Anusapati yang saat itu berada di dalam rahim sang ibu, seolah ingat ketika ayahnya dibunuh Ken Arok menggunakan keris Mpu Gandring.

Kami duduk di halaman candi. Saya terdiam mengamati sisa kebudayaan masa lampau dengan segala pesan luhur di dalamnya, yakni perjuangan, kebebasan, dan bakti kepada bunda.  Langit mulai mendung, sepertinya akan segera turun hujan. Tak sadar, teman saya sudah berada di sudut halaman, berpamitan dengan sang juru pelihara, berterima kasih kepadanya untuk semua cerita hari ini.

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Rujukan:
Cartwright, Mark. 2015.Garuda.worldhistory.org
Cbsjatim. 2022. Garudeya.cagarbudayajatim.net
Putri, Risa Herdahita. 2019. Garuda Sebelum Jadi Lambang Negara. Historia.id
Raditya, Iswara N. 2021. Sejarah Hidup Ken Dedes: Ratu Kerajaan Singasari Istri Ken Arok. Tirto.id
Sedyawati,  Edi, dkk. 2013. Candi Indonesia Seri Jawa. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Asief Abdi belajar biologi di Universitas Negeri Malang. Aktivitasnya mengamati hewan dan tumbuhan sejak kuliah masih berlanjut hingga saat ini. Belakang juga tertarik mengunjungi situs-situs bersejarah. Kini, ia tinggal dan bergiat sebagai pengajar di Pamekasan.

Asief Abdi belajar biologi di Universitas Negeri Malang. Aktivitasnya mengamati hewan dan tumbuhan sejak kuliah masih berlanjut hingga saat ini. Belakang juga tertarik mengunjungi situs-situs bersejarah. Kini, ia tinggal dan bergiat sebagai pengajar di Pamekasan.
    Artikel Terkait
    Itinerary

    Sepenggal Cerita dari Kerkhof Wonosari, Klaten

    Desa WisataItinerary

    Geliat Ekowisata Desa Santuun

    ItineraryNusantarasa

    Gudeg Yu Yah, Kuliner Malam Favorit Mahasiswa Jogja

    ItineraryNusantarasa

    Mencicipi Sega Pager, Menu Sarapan Khas Godong

    1 Comment

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Worth reading...
    Menguak Beragam Versi Sejarah Keraton Ratu Boko