Travelog

Kayutangan Heritage Ramai (Lagi)

Kawasan Koridor Kayutangan Heritage kembali ramai setelah sebelumnya dilakukan perbaikan dan pembenahan. Memasang lampu-lampu yang sekilas tampak mirip dengan kawasan Malioboro di Koridor Kayutangan diharapkan dapat membuat kawasan ini “lebih hidup”. Pemerintah setempat juga kembali menggagas Kayutangan Heritage sebagai pusat keramaian dengan menambahkan kursi-kursi dan banyak ornamen lain.

Ide tersebut ternyata berhasil. Sejak awal terpasangnya lampu-lampu tersebut, Koridor Kayutangan Heritage semakin ramai—menjadi jujukan anak muda hingga orang tua untuk nongkrong maupun sekadar berjalan-jalan santai. Keramaian ini selaras dengan pembukaan kafe-kafe bernuansa heritage tepat di sisi samping koridor. 

Meskipun pada akhirnya timbul persoalan baru seperti tidak adanya lahan parkir khusus bagi pengunjung Koridor Kayutangan, Pemerintah Kota Malang tetap kukuh dengan ambisinya untuk meramaikan Kayutangan Heritage dengan beragam acara hiburan yang dapat dinikmati secara gratis oleh masyarakat.

Salah satunya, pada Sabtu (26/11/2022) lalu, sebuah keramaian kembali terjadi di sini. Jauh hari sebelumnya, saya telah mendapatkan informasi bahwa akan ada acara besar di kawasan tersebut, yakni Malang Creativa Festival yang diselenggarakan oleh Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang.

Malang Creativa Festival membawa gagasan sebagai wadah untuk menampung kreativitas warga Kota Malang untuk dapat dimanfaatkan sebagai sarana kebangkitan ekonomi masyarakat. Oleh sebab itu, ada sekitar 50 stan yang diisi oleh beragam hal seperti kuliner, kerajinan tangan, produk-produk UMKM, dan lainnya.

Ketika saya berkunjung ke acara tersebut, memang benar bahwa banyak stan yang menunjukkan kekhasan dan kreativitas masyarakat Kota Malang, akan tetapi saya merasa stan dari hotel-hotel di sekitar Malang mendominasi. Sedangkan warga sekitar Kayutangan sendiri, hanya ambil andil pada sebagian kecil stan ada.

Stan-stan dari hotel tersebut saling “berlomba” menunjukkan kuliner unggulan masing-masing. Bahkan, mereka menawarkannya dengan harga yang jauh lebih murah ketimbang membelinya langsung di hotel terkait.

Meskipun acara Malang Creativa Festival dibuka gratis untuk umum, namun berbagai jenis kuliner hingga produk oleh-oleh diperjualbelikan di sini. Jelas saja, karena tujuan dari kegiatan ini memang untuk memajukan ekonomi “masyarakat”.

malang creativa
Keramaian di acara saat pagi hari/Lutfia Indah Mardhiyatin

Stan-stan miliki warga Kayutangan menarik perhatian saya. Mereka seakan membawa pernak-pernik dari kampung yang untuk dipamerkan. Alhasil, nuansanya cukup berbeda dengan stan lain. Lebih klasik, tempo dulu. Tak hanya dekorasi saja yang menarik, warga juga menjajakan produk olahan seperti kue khas Kayutangan. Dan yang paling menarik, mereka juga menghadirkan soto batok yang sesuai namanya disajikan menggunakan batok kelapa.

Selain hotel dan warga Kayutangan, kampung sebelah juga ikut unjuk gigi. Salah satunya, Kampung Keramik Dinoyo yang sesuai namanya, membawa kerajinan-kerajinan dari keramik. Saya sangat senang dengan warna-warna yang mereka gunakan dalam pembuatan keramik, tampak lembut namun menyegarkan mata. Menurut saya, hal ini menjadikan kerajinan keramik ini jauh dari kesan “tua” dan tentu saja sangat cocok untuk pajangan, membuat ruang-ruang menjadi lebih estetik. 

Para pengrajin keramik di kampung tersebut juga mencetuskan sebuah ide baru yakni membuat topeng Malang-an dari bahan keramik. Kita bisa mencoba membuatnya, ada meja putarnya. Namun sayang, tak bisa dipakai karena saat saya datang, tidak ada listrik yang terhubung ke sini.

Salah satu stan, menarik perhatian saya. Di stan tersebut memamerkan produk-produk garapan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), salah satunya yakni topeng malangan. Ketika saya mampir untuk sekedar melihat-lihat, beberapa ABK tengah sibuk mewarnai topeng-topeng yang akan mereka pajang dan diperjual-belikan nantinya. Rupanya, produk-produk tersebut sudah memiliki satu ruangan khusus di dalam Gedung DPRD Kota Malang untuk dipasarkan.

Di Malang Creativa Festival, ada gelaran musik jalanan yang biasa diselenggarakan di Koridor Kayutangan. Sebuah panggung besar pun tak ketinggalan. Selama acara berlangsung, panggung tersebut tak pernah berhenti menampilkan band-band dan hiburan lainnya, kecuali ketika hujan.

Namun siapa sangka, salah satu tujuan pemerintah daerah setempat untuk menjadikan pusat keramaian di Kawasan Kayutangan Heritage rupanya tidak sepenuhnya berjalan lancar. Ramainya kawasan koridor tidak memberikan banyak pengaruh bagi kunjungan masyarakat ke dalam Kampung Kayutangan Heritage. Ketika saya mengunjungi stan milik warga Kampung Kayutangan Heritage, saya tidak sengaja bertemu dengan Bu Mila, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Kayutangan Heritage. 

  • kayutangan heritage
  • Kampung Kayutangan Heritage
  • Karya teman-teman ABK
  • Kerajinan keramik

Bu Mila bercerita bahwa meskipun berkali-kali Pemerintah Kota Malang menggagas acara serupa di Kawasan Koridor Kayutangan, tidak akan membuat kampung tersebut sebanding keramaiannya dengan koridor. Menurutnya persoalan tersebut diakibatkan perbedaan segmen yang ada, seperti pengunjung yang datang ke Kampung Kayutangan merupakan mereka yang benar-benar ingin berkunjung menikmati nuansa heritage perkampungan. Sedangkan mereka yang datang ke kawasan koridor, tentu saja untuk mencari hiburan, memanfaatkan kursi-kursi yang ada untuk jagongan, juga pergi ke kafe-kafe untuk nongkrong.

Kendati demikian, hal tersebut tak langsung membuat para warga merasa ciut. Ramainya Koridor Kayutangan membuat mereka lebih memutar otak untuk memajukan wisata di perkampungan tersebut. Bu Mila juga berharap ketika terdapat acara di Koridor Kayutangan lagi, ia menginginkan pemerintah juga mengikutsertakan kawasan perkampungan sehingga kegiatan tidak hanya terpusat di kawasan koridor semata.

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Lutfia Indah, perempuan yang sedang senang.

Lutfia Indah, perempuan yang sedang senang.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Ke Perkebunan Teh Tegalega untuk Sekadar Menikmati Sunyi

    Travelog

    Cerita dari Atas KM Dobonsolo

    Travelog

    Menjajal Joging ‘Track’ Baru Lapang Merdeka

    Travelog

    Ambon Jawa dan Rumah Hobbit di Tengah Pulau

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Worth reading...
    Mencicipi Es Krim Toko Oen Malang