Itinerary

Tanpa Disadari, Perjalanan Memberikan Saya 7 Hal Ini

Barangkali kamu pernah mengalami hal yang sama dengan saya; saat jalan-jalan, kadang ada masanya saya memikirkan apa yang saya dapat dari perjalanan. Waktu habis, dompet menipis, sementara badan capek dan semakin jauh dari rumah.

Sekali-sekali ada juga yang bertanya: “Nggak dicariin sama keluarga, Mbak?” Kalau sudah ada yang bertanya begitu, semakin dalamlah perenungan saya. Terus, apa saja, sih, manfaat yang saya peroleh dari perjalanan?

1. Menambah ilmu dan wawasan

berlari

Menelusuri pegunungan via pexels.com/Nina Uhlíková

Berjalan dari satu tempat ke tempat lain tak ubahnya seperti petualangan menyusuri labirin-labirin perpustakaan penuh buku. Bedanya, buku yang saya baca saat melakukan perjalanan bukanlah kertas yang dijilid, melainkan manusia dan kehidupannya. Buku saya tidak bisa dibalik-balik—nanti marah.

Maka melakukan perjalanan membuat wawasan saya bertambah, sebab saya mendapat banyak ilmu baru yang tak diajarkan di bangku sekolah. Perjalanan ibarat gabungan semua jurusan di universitas, sekaligus praktikum.

2. Mengajarkan untuk menjadi pribadi yang tangguh

melakukan perjalanan

Memandang cakrawala kota via pexels.com/Picjumbo

Jangan dikira jalan-jalan itu enak terus. Ada masanya kamu mesti berjubel-jubel dalam angkutan desa, tidur di dek kapal yang sedang diombang-ambingkan gelombang, atau menumpang menginap di stasiun atau terminal. Melakukan perjalanan berarti menempuh segala cobaan.

Jadi, kalau menjalani derita perjalanan saja saya sanggup, tak ada alasan bagi saya untuk tidak siap mengarungi kehidupan yang warna-warni.

3. Jadi punya banyak cerita

melakukan perjalanan

Bersama-sama dengan kawan via pexels.com/Helena Lopes

Inilah anehnya: justru derita-derita yang saya alami di jalan itulah yang akhirnya jadi cerita manis. Bayangkan kalau kamu sudah lama menekuni hobi bertualang atau melakukan perjalanan, pasti kamu punya banyak sekali hal yang bisa diceritakan. Kamu takkan pernah mengalami “dead air” saat berbincang dengan lawan bicara.

Cerita-cerita itu pun kemudian bisa saya tuliskan. Jadi, kalau di masa depan saya ingin kembali mengenang perjalanan-perjalanan lama, saya tinggal buka arsip catatan perjalanan itu. Apalagi sekarang kamu bisa mengunggahnya ke mana-mana.

4. Belajar untuk menjadi manusia yang mandiri

melakukan perjalanan

Safari via pexels.com/Rawpixel

Kadang saya bepergian dengan teman-teman. Tapi tak jarang juga saya melakukan perjalanan sendirian. Kalau sudah begitu, kemandirian saya sebagai manusia menjadi sangat diuji.

Pergi sendirian menuntut saya untuk bisa mengambil keputusan dan menanggung semua risikonya. Tapi, di lain sisi, saya juga belajar untuk menjadi lebih cermat dan memperhatikan setiap langkah yang saya ambil.

5. Menjadi pribadi yang lebih terbuka

melakukan perjalanan

Menyaksikan matahari dari padang rumput via pexels.com/Victor Freitas

Secara tak disadari, melakukan perjalanan juga jadi semacam terapi bagi saya untuk menjadi manusia yang lebih berani, terbuka, namun menghargai orang lain. Pada akhirnya, tiga hal itu pula yang biasanya membantu saya melewati masa-masa sulit di perjalanan.

Gara-gara keberanian, keterbukaan, dan respek terhadap orang lain, saya jadi merasakan bagaimana tinggal bersama warga atau menumpang moda-moda transportasi tak biasa. Akhirnya, karakter-karakter itu juga keluar ketika saya berada di kota sendiri.

6. Dapat “crash course” tentang dinamika kehidupan dan bagaimana menikmatinya

melakukan perjalanan

Di tebing pinggir laut via pexels.com/Rawpixel

Bepergian dari satu tempat ke tempat lain, dari satu budaya ke budaya lain, memberi wawasan baru pada saya tentang kehidupan dan dinamikanya. Bertemu banyak orang dari berbagai latar belakang juga membuat saya menjadi pribadi yang lebih bersyukur.

Tapi, crash course tentang dinamikan kehidupan ini hanya akan bisa kamu dapatkan kalau kamu melihat sekitar. Kalau hanya sibuk dengan dirimu sendiri—dan followers-mu di media sosial—kamu takkan punya waktu untuk merenungkan apa yang kamu lihat.

7. Mengajarkan untuk menghargai alam

berjemur di pantai

Pasir putih, laut biru via pexels.com/Riccardo Bressciani

Jalan-jalan membuat saya sadar bahwa kita—umat manusia—tinggal di satu rumah yang sama, yakni Bumi. Jadi, mau tak mau kita harus belajar untuk menghargai alam, rumah kita sendiri.

Tak terasa, saya mulai cermat menggunakan listrik dan air. Selain itu, karena menyadari bahwa membuang sampah di Bumi sama saja seperti membuang sampah di beranda sendiri, saya jadi berkomitmen untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Jadi, jangan ragu-ragu melakukan perjalanan!


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Ika Soewadji

Seorang gadis biasa, pecinta photography, pecinta buku sejarah & kebudayaan, pecinta gunung, pecinta keindahan alam indonesia dan tak akan pernah lelah untuk menjelajahinya...:)
Related posts
#dirumahajaItinerary

Sahabat Perjalananmu X TelusuRI: Tips Bikin Bujet Traveling ala Dayu Hatmanti

#dirumahajaItinerary

Sahabat Perjalananmu X TelusuRI: Ngobrolin Fotografi Perjalanan bareng Ingga Suwandana

#dirumahajaItinerary

Tuliskan Perjalananmu, Mumpung Lagi di Rumah Aja

#dirumahajaItinerary

Bincang-bincang Dampak COVID-19 pada Industri Pariwisata bareng Womentourism.id

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *