Itinerary

Sejarah Pitarah di Lembah Napu Taman Nasional Lore Lindu

Kata orang tua di Jawa, “Anak kecil aja mangan brutu, nanti getune tibo mburi” (anak kecil jangan makan brutu atau pantat ayam, nanti penyesalan ada di belakang). Entah kenapa kata-kata itu yang teringat saat saya melewatkan dua situs batu besar (megalitikum) yang terdapat di Lembah Napu, Taman Nasional Lore Lindu. Jika dilihat saat ini memang tidak ada yang istimewa dari situs tersebut. Tetapi jika ditelisik lebih jauh ke masa lalu maka akan terasa betapa berharganya peninggalan manusia zaman dahulu.

Indonesia dianugerahi lanskap yang luar biasa. Namun tidak banyak yang mengira bahwa ada masa ketika Sumatera, Kalimantan, dan Jawa masih bergabung menjadi satu daratan. Begitu pula dengan Papua dan Australia—juga satu daratan. Sementara itu Sulawesi kokoh berdiri menjadi pulau tersendiri. Kira-kira begitu para ahli geologi menceritakan bentuk muka bumi Indonesia pada masa lalu.

Lain lagi cerita dari para arkeolog yang meneliti asal muasal manusia, khususnya soal siapa nenek moyang orang Indonesia. Teori Out of Africa menceritakan bahwa pada 100 ribu tahun yang silam ada migrasi manusia dari Afrika menuju seluruh penjuru dunia. Dari bukti fosil yang ditemukan di beberapa tempat di Indonesia, manusia sampai di nusantara sekitar 39.000-40.000 tahun yang lalu. Sebelum manusia (Homo sapiens) datang di nusantara, sudah ada yang datang terlebih dahulu yakni Manusia Purba (Homo erectus) yang kini sudah tinggal fosil saja.

Lembah Napu yang serupa mangkuk raksasa/Dhave Dhanang

Menurut catatan sejarah, ada tiga periode kedatangan manusia ke nusantara. Periode pertama adalah kedatangan ras melanesia, kedua adalah kedatangan austronesia lewat Malaya, dan yang ketiga adalah tibanya austronesia lewat Taiwan. Yang menarik, perjalanan migrasi manusia dari Taiwan menuju Filipina, lalu masuk Sulawesi, berpencar ke Kalimantan, Jawa, dan Indonesia Timur ini dikenal sebagai teori Out of Taiwan.

Berbicara tentang Sulawesi, pulau ini adalah pulau pertama di nusantara yang disinggahi para pitarah [nenek moyang] yang berjalan dari Taiwan, menyebrang ke Filipina, sebelum berjalan ke Sulawesi. Di Sulawesi banyak ditemukan bukti-bukti sejarah kehidupan masa lalu, dan yang terkenal adalah di Goa Leang-Leang di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Bukti prasejarah inilah yang menguatkan dugaan asal-usul nenek moyang manusia nusantara.

Sideperti Pulau Paskah di selatan Samudara Pasifik yang memiliki peninggalan megalitik berusia sekitar 600 tahun yang termasyhur sampai ke penjuru dunia, Indonesia juga memiliki situs-situs megalitikum yang hingga saat ini masih mudah di temukan. Di NTT masih banyak dijumpai kubur batu berukuran raksasa. Sementara itu, di Sulawesi terdapat patung-patung berukuran besar yang mirip moai Pulau Paskah.

Lembah Napu

Peninggalan Zaman Megalitikum di Lembah Napu/Dhave Dhanang

Selain lembah-lembah lain di Pulau Sulawesi, Khususnya di Sulawesi Tengah dan Selatan, Lembah Napu di Taman Nasional Lore Lindu, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, juga punya situs megalitikum. Lembah Napu serupa mangkuk ukuran raksasa di ketinggian di atas 1.000 mdpl. Di sini ditemukan beberapa situs megalitukum berupa patung-patung menyerupai manusia. Ukuran patung di sini masih berkisar 1-1,5 meter, sedangkan di Lembah Bada ada yang berukuran hingga 4 meter. Konon, menurut ahli sejarah batu-batu ini dibuat pada 3.000-4.000 SM. Menurut Kompas.com, berdasarkan “…data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sulawesi Tengah saat ini terdapat 432 objek situs megalit di Sulawesi Tengah. Tersebar di Lore Utara dan Lore Selatan, Poso sebanyak 404 situs dan di Kecamatan Kulawi, Kabupaten Donggala sebanyak 27 situs.”

Tidak terbayangkan pada 3.000-4.000 SM sudah ada peradaban di Sulawesi—berdasarkan bukti-bukti megalitikum. Nusantara memiliki sejarah yang panjang dan tidak kalah dengan sejarah dunia, namun sayang belum tergali sepenuhnya. Situs-situs megalitik yang berjumlah lebih dari seribu menjadi saksi bisu perjalanan panjang nenek moyang dari negeri antah berantah menuju seluruh pelosok nusantara. Suatu saat Indonesia akan berkata pada dunia: kami punya rekaman sejarah perjalanan panjang umat manusia!


Artikel ini ditulis oleh Dhave Dhanang dan sebelumnya dipublikasikan di sini.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Dhave

I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!
Related posts
#dirumahajaItinerary

Sahabat Perjalananmu X TelusuRI: Tips Bikin Bujet Traveling ala Dayu Hatmanti

#dirumahajaItinerary

Sahabat Perjalananmu X TelusuRI: Ngobrolin Fotografi Perjalanan bareng Ingga Suwandana

#dirumahajaItinerary

Tuliskan Perjalananmu, Mumpung Lagi di Rumah Aja

#dirumahajaItinerary

Bincang-bincang Dampak COVID-19 pada Industri Pariwisata bareng Womentourism.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *