IntervalPerjalanan Lestari

Laut Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Laut adalah sumber kehidupan. Bukan cuma untuk saat ini, tetapi juga untuk masa yang akan datang. Laut bukan hanya menyediakan bahan pangan bagi kita, tetapi juga lapangan kerja. Sejauh ini, laut memberikan pendapatan bagi hampir tiga miliar orang, yang sebagian besar tinggal di negara-negara berkembang.

Seorang nelayan melintas di depan perahu
Seorang nelayan melintas di depan perahu di Rancabuaya/Djoko Subinarto

Berdasarkan taksiran Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembagunan (OECD), di tahun 2030 mendatang, banyak industri berbasis kelautan yang berpotensi mengungguli pertumbuhan ekonomi global secara keseluruhan, baik dari segi nilai tambah maupun lapangan kerja. OECD menyebut dalam rentang antara tahun 2010 dan 2030, berdasarkan skenario “business as usual”, ekonomi kelautan dapat berkontribusi lebih dari dua kali lipat terhadap nilai tambah ekonomi global, mencapai lebih dari tiga triliun dollar AS 

Di tahun 2030, aktivitas ekonomi kelautan diperkirakan akan menyediakan sekitar 40 juta pekerjaan purna waktu, terutama di bidang-bisang seperti energi angin lepas pantai, budidaya laut, pengolahan ikan, industri pelabuhan, dan juga pariwisata.

Sebagai sebuah negara kepulauan terbesar di dunia, yang memiliki 17.504 pulau dengan panjang garis pantai sekitar 108.000 kilometer dan luas laut mencapai 6,4 juta kilometer persegi, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan sektor ekonomi kelautannya. Dengan luas perairan yang kita miliki, kita mempunyai sumber daya laut yang sangat kaya yang bisa menjadi modal andalan dan signifikan bagi pembangunan ekonomi bangsa dan negara ini di masa depan. 

Laut, Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Polisi air sedang patroli
Polisi air sedang patroli/Djoko Subinarto

Dewasa ini, 70 persen penduduk negara kita tinggal di wilayah pesisir dan bergantung pada laut untuk pendapatan dan nutrisi pangannya. Sektor perikanan kita diperkirakan memperkerjakan sekitar tujuh juta orang untuk saat ini. Laporan World Bank menyebut sumber daya laut Indonesia bernilai lebih dari 256 miliar dolar AS per tahun. 

Namun sayangnya, kondisi kesehatan laut kita terus memburuk. Sekarang ini kita menghadapi apa yang disebut oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), António Guterres, sebagai darurat laut.

Fakta memang menunjukkan laut kita sedang tidak baik-baik saja. Emisi karbon antropogenik yang terus meningkat dari waktu ke waktu telah menyebabkan temperatur laut lebih panas sehingga meningkatkan pengasaman. Ini menyebabkan penurunan pH (satuan yang digunakan untuk mengukur keasaman atau kebasaan) air laut. Pada tahun 1870, pH rata-rata air laut adalah 8,2. Dewasa ini, tingkat pH air laut rata-rata 8,1 dan pada tahun 2100 mendatang, tingkat pH air laut diprediksi akan semakin menurun menjadi 7,7.

Penurunan 0,1 saja dalam tingkat pH air laut akan membuat banyak makhluk laut berhenti bereproduksi sehingga akhirnya punah. Moluska, seperti kerang, misalnya, sangat sensitif terhadap penurunan pH. Namun, spesies lain ternyata ikut pula terkena dampaknya. Contohnya, pengasaman air laut memiliki efek merugikan pada plankton, organisme laut kecil yang merupakan sumber makanan penting bagi banyak ikan dan mamalia.

Wisatawan lokal naik kapal motor di Palabuhanratu
Wisatawan lokal naik kapal motor di Palabuhan Ratu/Djoko Subinarto

Di saat yang sama, kondisi laut kita semakin diperburuk oleh timbunan sampah dan limbah. Laut telah menjadi tong sampah raksasa. Beraneka ragam sampah serta limbah dari daratan berakhir di lautan. Itu belum ditambah sampah dan limbah buangan dari kapal-kapal yang wara-wiri di lautan, seperti kapal-kapal kargo dan kapal-kapal pesiar. Sebagian besar sampah, terutama sampah plastik, terurai atau terpecah menjadi potongan-potongan kecil yang disebut mikroplastik dan menyebar ke berbagai penjuru dan dasar lautan.

Diperkirakan delapan juta ton sampah plastik mengotori lautan setiap tahun. Jika jumlah tersebut tidak berkurang, maka pada tahun 2025 mendatang akan ada sekurangnya satu ton sampah plastik untuk setiap tiga ton ikan, dan pada tahun 2050, jumlah sampah plastik justru akan melampaui jumlah ikan yang ada di lautan. Dengan kata lain, lautan akan lebih banyak dipenuhi sampah plastik daripada ikan. Kabar lebih tidak sedapnya yaitu saat ini Indonesia merupakan penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia. 

Banyaknya sampah plastik yang masuk ke perairan setiap tahun membuat ancaman tersendiri bagi sumber daya laut Indonesia. Padahal, sebagai sebuah negara maritim, Indonesia sangat berkepentingan untuk menjaga kesehatan lautnya demi mewujudkan pembangunan dan pengembangan ekonomi kelautan yang berkelanjutan, yang menopang masa depan negeri ini. Pertanyaannya kemudian adalah: apa yang sebaiknya kita lakukan?

Tentu saja, penggunaan plastik, terutama plastik sekali pakai, perlu diupayakan agar dikurangi. Oleh sebab itu, mengupayakan menghindari penggunaan barang-barang plastik sekali pakai menjadi hal penting. Sebagai pelancong atau wisatawan, misalnya, usahakan selalu membawa kantong yang dapat dipakai berkali-kali untuk menggantikan kantong plastik sekali pakai ketika kita berwisata.

Warga mencari kerang di Pantai Rancabuaya
Warga mencari kerang di Pantai Rancabuaya/Djoko Subinarto

Di samping itu, saat harus membeli sesuatu, upayakan pula untuk menghindari produk-produk yang menggunakan kemasan plastik. Di saat yang sama, upayakan untuk membeli barang-barang yang menggunakan  bahan daur ulang.

Para pelaku industri wisata sudah seyoganya secara aktif mengambil langkah-langkah konkret untuk turut menanggulangi masalah sampah plastik ini. Contohnya, mereka dapat memberlakukan aturan yang tidak memperkenankan wisatawan membawa plastik sekali pakai. Kebijakan lain, misalnya, menyediakan air mineral cuma-cuma di tempat wisata yang mereka kelola sehingga wisatawan tak perlu membawa air kemasan.

Sektor hotel dan restoran yang notabene menjadi bagian erat industri pariwisata dapat pula turut aktif berperan. Misalnya saja dengan menyediakan sajian makanan/hidangan dengan kemasan-kemasan yang lebih ramah lingkungan, seperti menggunakan daun pisang, daun jati, daun hanjuang, dan sejenisnya.

Laut yang sehat kita butuhkan guna menjamin masa depan kehidupan kita dan juga kehidupan generasi-generasi penerus kita selanjutnya. Mau ikut menjaganya?


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.
    Artikel Terkait
    Perjalanan LestariTravelog

    Sampah yang Berlabuh

    Interval

    Titin Riyadiningsih: Memajukan Wisata dari Desa

    IntervalPilihan Editor

    Cerita dari Bantaran Kali, “Sebuah Tempat Terbaik di Dunia”

    Interval

    Menghidupkan Kembali Kota Lama Semarang

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Menyeberang ke Pulau Merah