Travelog

Kopi, Pejalan, dan Lembayung Bali

Sore itu, 14 Juli 2019, aktivitas pekerjaan tentang kopi telah kami rampungkan sebelum petang. Lalu menujulah kami mencari ketenangan dalam balutan senja. Karena Pantai Kuta yang menjadi tujuan semula ternyata ramai sekali, kami pun beralih ke Pantai Berawa. Jaraknya tak terlalu jauh dari Kuta dan suasananya pun lebih enak karena tidak terlalu ramai.

Garis pantai dengan pasir putih bersih beradu dengan ombak yang berarak, memantulkan cahaya keemasan dari matahari yang kian terbenam. Sungguh perkawinan yang indah.

Dan aku pun beranjak ketika senja tergantikan oleh petang, bersama temanku, Rosyid, dan rekan kerja kami, Bu Metha. Bu Metha adalah seorang pengusaha asli Indonesia dan bisnis kopi adalah salah satu yang ia kerjakan. Selain melancong sampai ke berbagai negara, ia juga hobi menyelam hingga punya lisensi dive master. Kunjunganku bersama Rosyid ini adalah undangan darinya guna mengirimkan sampel kopi. Segala akomodasi dan pengeluaran pun ditanggung oleh dirinya.

Lalu kami pun menuju Jalan Dewi Sri untuk mencari santapan malam. Pilihan kami waktu itu adalah soto Medan. Seusai makan kami kembali ke penginapan di Jalan Nakula, Casa Dasa Legian Hotel namanya. Kami harus segera istirahat karena besok ada janji untuk mengirimkan kopi ke kafe daerah Ubud. Ini adalah hari ketujuh kami di Bali. Setelah beberapa hari kami mengitari Bali dan hanya berkutat dengan kopi, tiga hari ke depan akan kami sempatkan jalan-jalan.

Pagi itu, kami mengemas semua barang dan sekalian check-out. Bu Metha mengajak kami sarapan di 9 Angels. Resto itu terletak di Jalan Suweta no. 5, Ubud. Mengusung tema klasik, resto itu tampak sederhana. Lukisan dan kerajinan antik terpampang di tiap sudutnya. Resto prasmanan itu cocok untuk para vegan. Namun, meski kami bukan vegan, makanan 9 Angels tetap bisa kami nikmati. 

Selain tempat dan menunya, yang menjadi daya tarik 9 Angels adalah “kewajiban” pascamakan di sana. Pada umumnya, selesai makan kita hanya perlu membayar sesuai harga yang tertera, namun di resto itu ada hal lain yang perlu dilakukan. Kita diharuskan mencuci piring dan gelas sendiri. Setelah itu, kita membayar seikhlasnya dengan memasukkan uang ke kotak bertuliskan “Leave the money in the box. If you really love our food you can pay more. Thank you.” Mungkin ini mengajarkan pengunjung untuk menghargai sendiri apa yang telah disajikan oleh awak resto.

Kahiyang Coffee di Jalan Kajeng, Ubud/Alifan Ryan Faisal

Selesai sarapan, kami langsung meluncur ke Kahiyang Coffee milik Pak Iwan di Jalan Kajeng, Ubud, guna memberikan sampel kopi. Kami hanya mampir sebentar di sana dan bertemu dengan perempuan dari Filipina yang menginap di kafe itu lewat aplikasi Couchsurfing. Tak lama, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Kintamani, tepatnya ke Kintamani Coffee-Eco Bike Coffee. Di sana kami mencicipi beberapa kopi dan menikmatinya sembari melihat Gunung- dan Danau Batur. Cukup lama kami mengobrol dengan pengelolanya yang ternyata sahabat Bu Metha.

Tak terasa sudah pukul 14.00. Mulanya kami hendak bergegas pulang. Namun Danau Batur ternyata menarik perhatian kami. Segeralah kami menuju ke sana untuk melihatnya lebih dekat. Kami juga mampir ke sebuah tempat penuh tumpukan batu hitam di lereng Gunung Batur. Konon itu adalah produk lava letusan Gunung Batur.

Kintamani Coffee-Eco Bike Coffee/Alifan Ryan Faisal

Rampung dengan Danau Batur dan lava hitam, kami ke Sanur untuk mencari penginapan di dekat dermaga, karena paginya kami ingin menjelajah Nusa Penida. Namun, sebelum ke penginapan, Bu Metha mengajak kami untuk bertemu sahabatnya di salah satu resto di Serangan. Resto Bu Rini namanya. Sesampai di sana ternyata sahabat Bu Metha belum tiba. Lalu Bu Metha bergegas memesankan beberapa makanan untuk kami dan sahabatnya. Sesaat setelah makanan datang, sahabat Bu Metha pun menyapa kami. Namanya Steven dan Christine, sepasang suami-istri WNA yang punya bisnis di Indonesia, salah satunya sebuah kafe di Labuan Bajo. Sembari makan mereka mengobrol asyik tentang bisnis, perjalanan, dll. Aku dan Rosyid asyik dengan makanan di hadapan kami.

Sudah setengah jam sebelum jam sembilan ketika makan malam kami usai. Lalu kami berpisah dengan mereka. Aku dan Rosyid menginap di Hotel Pulasari, sementara Bu Metha ikut kedua sahabatnya itu 


Pagi itu pukul 06.00 kami bangun dan memasak sarapan di hotel. Kami berangkat ke dermaga pukul 07.30. Di sana sudah menunggu Bu Metha dan sahabat-sahabatnya saat kuliah di Bandung dulu. Rencananya kami akan ke Nusa Penida berenam. 

Setengah jam kemudian kami mulai membelah laut dengan perahu cepat menuju Nusa Penida. Setiba di sana, sudah menunggu seorang pemandu yang kami panggil Bli Rudi. Dia yang akan mengantar kami ke beberapa tempat di Nusa Penida bagian barat. Tujuan pertama adalah Pantai Crystal bay. Cukup lama kami bermain air di sana sebelum geser untuk makan siang ke RM BTM.

Seusai makan siang, perjalanan kami lanjutkan. Di tengah perjalanan kami dikagetkan suara keras dari belakang mobil. Ternyata ada sepasang wisman yang jatuh dari motor, terpeleset di pasir saat melewati jalanan turun dan menikung. 

“Maaf, Bu. Kita tolongin sebentar, ya, Bu,” kata Bli Rudi. 

“Iya, Pak. Bapak bawa P3K, ‘kan?” tanya Bu Metha. 

“Bawa, kok, Bu,” jawab Bli Rudi.

Terlihat banyak luka di tangan dan kaki mereka. Motor mereka pun rusak bagian depan dan samping kanan akibat terpelanting dan mengenai sebuah pohon. Setelah selesai diobati Bli Rudi, kedua wisman itu dicarikan tumpangan menuju puskesmas. Motor yang rusak itu dibawakan oleh teman mereka yang menyusul.

Setengah jam setelah kejadian itu, kami pun tiba di Angel’s Billabong dan Pantai Pasih Uug (Broken Beach). Kami cukup berjalan kaki mengitari kedua tempat yang berdekatan itu. Sambil berfoto di titik-titik andalan di sana, sesekali kami mengobrol dan melempar candaan.

Pantai Kelingking/Alifan Ryan Faisal

Dari sana, kami ke Pantai Kelingking. Hanya perlu waktu dua puluh menit untuk ke sana. Karena Pantai Kelingking adalah tujuan terakhir hari itu, dan karena mesti melewati tangga terjal untuk ke pantai, kami menghabiskan waktu cukup lama di sana. Keelokan atraksi wisata yang mendunia itu memang tak terbantahkan. Dari kacamata drone pun tempat itu tampak indah, apalagi saat cuaca cerah. Rasanya ingin lebih lama di Pantai Kelingking. Namun, karena sudah pukul 16.30, kami terpaksa berkemas dan beranjak ke Pelabuhan Nusa Penida.

Pukul 17.30 kami sudah kembali ke perahu cepat. Ketika nakhoda mulai menjalankan perahu, matahari tanggal dari dinding langit. Namun mega merah masih bertahta. Lembayungnya bersolek cantik ketika melambaikan selamat tinggal pada kami di Dermaga Sanur.


Sebelum kembali ke penginapan, kami mampir ke Warung Mak Beng di dekat dermaga. Tempatnya tak terlalu luas, tapi warung makan itu sudah melegenda. Ada menu makanan paketan yang berisi nasi, ikan goreng, sambal, sop kepala ikan, dan es teh. Untuk santapan selengkap itu, harganya pas menurutku.

Setelah mengisi perut, aku dan Rosyid balik ke penginapan, sementara Bu Metha kembali ke rumah sahabatnya yang tak jauh dari situ.

Sudah pukul 20.00, tapi rasanya sia-sia saja jika kami hanya di penginapan. Kami pun pergi ke daerah Renon. Di sana ada sebuah tempat bernama Pondok Pejalan, tempat singgah atau menginap gratis bagi para pejalan. Pemiliknya adalah sahabatku, Bli Indra.

Setiba di depan gerbang, aku menelepon Bli Indra agar gerbang dibukakan. Selangkah masuk, kami disambut gonggongan anjing. Suara gonggongan itu berasal dari anjing-anjing yang diselamatkan dari jalanan. Kebanyakan dari mereka ditelantarkan oleh pemiliknya, entah karena sakit atau hal lainnya.

“Woy, Bang. Gimana kabar?” sapa Bli Indra sambil mengulurkan tangan. 

“Baik, Bli. Oiya, kenalin ini temenku. Rosyid namanya,” sahutku. 

Kemudian kami masuk ke rumah. Ternyata di dalam ada Bang Rahmat. Ia asli Jakarta namun sering ke Bali untuk urusan bisnis. Kami pun mengobrol banyak di sana, saling bertukar cerita, dan melakukan panggilan video ke beberapa sahabat kami di Medan dan Semarang. Reuni virtual, ceritanya. Waktu itu ada beberapa orang yang menginap di Pondok Pejalan, di antaranya adalah Bang Dani dari Bengkulu dan seorang perempuan dari Korea yang entah siapa namanya. Banyak pengalaman berharga yang kudapat dari perjalanan kali ini melalui pertemuan dengan orang-orang hebat.

Malam semakin larut, suasana kian hangat. Namun asa ‘tuk singgah lebih lama terpatahkan oleh realitas yang menanti esok hari, seakan-akan waktu menghakimiku dan menyadarkanku dari mimpi indah yang benar-benar sedang terjadi itu. Dengan berat hati kami pun pamit pulang ke hotel untuk mempersiapkan esok hari. 

Kami tiba di hotel pukul 01.30. Setelah barang terkemas dengan rapi dalam ransel, segera kami beristirahat. Rencananya kami pulang ke Semarang pukul 13.00. Tapi kami akan minum kopi dulu bersama Bli Indra dan Bang Rahmat. Mereka menawarkan diri untuk mengantarkan kami ke Terminal Ubung. Kami sengaja pulang lewat jalur darat karena aku rindu menghabiskan waktu empat belas jam dalam KA Sritanjung. Lagipula, waktu kami masih panjang sebelum kembali direnggut kesibukan.

Pekerja lepas bidang pariwisata, pemilik usaha kedai kopi, pendiri sebuah komunitas bernama "Kopi Peduli." Tinggal di Kabupaten Semarang.

Alifan Ryan Faisal

Pekerja lepas bidang pariwisata, pemilik usaha kedai kopi, pendiri sebuah komunitas bernama "Kopi Peduli." Tinggal di Kabupaten Semarang.
Artikel Terkait
Travelog

Kemping di Bukit Mare-mare

Travelog

Wingko Babat, Rumah Singgah, dan Kenangan-kenangan Lain di Lombok

Travelog

Keramaian yang Sama Akan Datang Lagi ke Lapang Merdeka

Travelog

Mengulang Waktu di Timur: Sumba (2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *