Pilihan EditorTravelog

Kasih Ama Sepanjang Jalan*

Hanya ama yang paling mengerti saya.

Selama perantauan saya di ibu kota, ama paling sering menghubungi. Dan saya selalu cerita tentang hal-hal yang saya alami, dari bekerja di katering milik adik bapak, sopir travel, membawa angkot, sopir truk, hingga membuat heboh keluarga besar di kampung tatkala saya bekerja selama enam bulan di salah satu gereja kawasan Karet.

Begitu juga selama saya di perjalanan. Komunikasi melalui seluler sering kami lakukan. Ketika saya keliling pulau-pulau Raja Ampat selama lebih kurang dua minggu dan tidak mendapat sinyal, ama marah-marah karena tidak bisa menghubungi saya.

Ama adalah orang pertama yang mendukung perjalanan hitchhiking saya. Setiap tahun saya selalu menceritakan tentang mimpi saya untuk melakukan perjalanan mengenal Indonesia. Ketika mudik dengan sepeda motor tahun 2010, saya sempat berucap, “Sekarang adalah langkah pertama perjalanan jauh. Suatu hari semoga saya bisa melakukan perjalanan keliling Indonesia.”

Ketika mengawali perjalanan dengan “mengangkat-jempol,” saya pulang kampung untuk meminta izin dan restu kepada ama. Saya sangat bersyukur mendapat dukungan penuh dari beliau. Ketika itu saya dibilang orang gila oleh orang kampung, karena berangkat hanya dengan uang seadanya. Ama sering mendengar ocehan-ocehan tentang saya di kampung, tetapi dia tidak pernah melenturkan semangat saya.

Bagi teman-teman pejalan di Merauke, saya adalah pejalan “anak mama.” Akan tetapi saya tidak peduli dengan anggapan tersebut, karena mumpung masih hidup. Penyesalan datang nanti ketika kita sudah kehilangan.

Ama adalah orang pertama yang kepadanya akan saya ceritakan kisah-kisah selama di perjalanan, tentang kehidupan sosial, budaya, hingga mengenalkan beliau kepada keluarga-keluarga angkat saya di perjalanan melalui telepon seluler. Bahkan sampai sekarang ama masih berkomunikasi dengan beberapa orangtua angkat saya, menjalin persaudaraan.

Pernah satu kali ketika kami berkomunikasi ama bercerita bahwa ternyata keliling-masuk-keluar kampung memang mengasyikkan. Bisa melihat pemandangan-pemandangan yang indah dan tentu saja mendapat teman-teman baru.

Saya pun penasaran dengan cerita ama tersebut, karena setahu saya kegiatan ama hanya berdagang kecil-kecilan di lapau keluarga kami. Setelah saya tanya tentang aktivitas ama sekarang, saya terkejut kemudian tertawa mendengar penuturan ama yang ternyata beralih profesi. Sekarang profesi ama adalah PNS alias pakang non-stop atau makelar tanah.

Ketika teman-teman dari luar daerah berkunjung ke kampung dan saya tidak ada, ama yang akan menyambut mereka. Bagi ama para pejalan adalah anaknya juga, sama seperti saya. Dia juga merasakan bagaimana saya sering dibantu orang-orang selama di perjalanan, karena ama tahu berapa isi kantong saya.

Pernah satu waktu ada kunjungan salah seorang prajurit TNI ke rumah. Kami berkenalan ketika saya melakukan perjalanan ke kampung paling ujung timur Indonesia di Papua sana. Dia menceritakan kepada ama bagaimana kala itu saya dicurigai sebagai mata-mata OPM. Saya berusaha untuk memberi kode kepada prajurit tersebut untuk tidak menceritakan persoalan keamanan kepada ama, akan tetapi dia masih terus bercerita.

Setelah kejadian tersebut, saya membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk meyakinkan ama agar merestui perjalanan saya lagi. Bagi saya izin dari ama adalah yang paling penting di dalam perjalanan, karena saya yakin tentang “doa ibu sepanjang jalan.”

Setelah satu tahun mengelilingi Papua, ama meminta saya untuk pulang kampung. Akan tetapi saya malas untuk pulang karena ada beberapa daerah lagi di Papua yang ingin saya datangi.

“Pulanglah, Nak,” ucap ama dari balik telepon seluler.

Kemudian saya bercerita kepada kakak angkat saya tentang ama yang meminta saya pulang. Dengan santai, kakak angkat saya berbicara, “Pulanglah. Mana tahu ini adalah pesan terakhir.”

Ucapannya membuat saya langsung tertunduk lemas dan keesokan harinya saya mulai berangkat meninggalkan tanah Papua menuju kampung halaman, kembali “mengangkat-jempol.” Waktu yang saya tempuh untuk sampai kampung lebih kurang tiga minggu.

Banyak orang yang bertanya, selama di perjalanan saya memakai jimat apa? Kepada orang-orang tersebut saya hanya menjawab, “Hati-hati di jalan, jaga kesehatan, jangan lupa salat, dan ama yang selalu mendoakan di rumah.”

Doa. Itulah mantra mustajab yang sering saya dengar setiap akhir pembicaraan saya dengan ama lewat telepon seluler. Dengan mantra tersebut saya yakin bisa ke mana saja di muka bumi ini.


Bau jeruji besi sangat saya benci ketika pertama masuk sel tahanan polres kota kecil ini. Hari berganti minggu lalu berganti bulan. Berdiri dan memegangi jeruji besi menjadi kebiasaan sembari merenung—saya mulai menyukai baunya. Merenung dan membuka kotak Pandora kenangan membuat saya merasa sangat berdosa; wajah itu selalu muncul di benak mengisi hari.

Ama!


*) Nama penulis disamarkan demi melindungi privasi terkait statusnya.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

“Kurangnya kebebasan bergerak tidak membatasi kebebasan berpikir.”—Slavoj Žižek

Andy Dufresne

“Kurangnya kebebasan bergerak tidak membatasi kebebasan berpikir.”—Slavoj Žižek
Related posts
Travelog

Sisi Utara Pulau Seribu Pura

Travelog

Mencuri Waktu ke Kawah Kelimutu

Travelog

Jalan-jalan ke Dieng

Travelog

Ziarah Sejarah ke Pulau Kelor, Cipir, dan Onrust

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *