Itinerary

Kampung Matoa: Upaya Warga Dukuh Karangduwet, Boyolali

Akhir-akhir ini kesadaran akan pembangunan desa semakin marak dilakukan. Baik masyarakat maupun pemerintah bersinergi dalam mengoptimalisasi potensi desa. Semakin banyak masyarakat desa yang berjibaku mengembangkan sumber daya di lingkungan sekitar untuk memajukan daerahnya. Terlebih semenjak pemerintah memberi dana desa sebagai pembiayaan insentif untuk memfasilitasi kebutuhan desa yang juga memiliki dampak menjamurnya kegiatan memaksimalkan potensi hingga “mempercantik” desa.

Sejalan dengan hal itu pula yang kini tengah dilakukan oleh masyarakat Dukuh Karangduwet, RT 13, RW 03, Desa Bendan, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali. Masyarakat Dukuh Karangduwet melihat bahwa Desa Bendan yang memiliki luas wilayah 0,93 km2 begitu potensial akan kekayaan yang dimilikinya. Salah satu potensi tersebut tak lain adalah banyaknya pohon matoa yang tumbuh di Desa Bendan, utamanya di Dukuh Karangduwet. 

Pohon Matoa di salah satu rumah/Rosla Tinika S

Kondisi ini mengingat di Desa Bendan sangat mudah untuk menemui tanaman yang asli berasal dari Papua tersebut. Bahkan setiap halaman rumah masyarakat di Dukuh Karangduwet terhiaskan dengan pohon bernama latin Pometia pinnata. Tak ayal ini membuatnya disebut sebagai Kampung Matoa.

Lebih-lebih lagi terletak di dekat wisata ziarah Pengging, tepatnya sebelah barat  kompleks pemakaman Yosodipuro dan Masjid Agung Cipto Mulyo membuat letak Kampung Matoa begitu strategis. Walhasil wisatawan yang hendak berkunjung tidak perlu kesulitan untuk mencarinya.

Kala memasuki wilayah Dukuh Karangduwet yang ditandai oleh gapura bertuliskan Kampung Matoa, pengunjung akan disambut dengan jajaran pohon matoa. Sedang, saat tengah berada di dalam kampung, pengunjung akan merasakan begitu teduh dengan kanopi alami dari dedaunan pohon matoa yang begitu rindang. Saking rimbunnya patera tersebut hampir sulit ditembus sinar matahari. Apalagi ditambah dengan jalanan yang tidak begitu lebar membuat terasa ayem di bawah lebatnya pohon matoa.

Awal mula Kampung Matoa

Dahulu di Dukuh Karangduwet ini hanya ada satu orang yang menanam pohon matoa. Beliau adalah Mbah Cipto yang memulai bercocok tanam pohon matoa di halaman rumahnya. Mulanya Mbah Cipto menanam bibit pohon matoa yang beliau dapatkan dari Kecamatan Sawit, sebuah kecamatan yang berbatasan langsung di sebelah selatan Kecamatan Banyudono. Mbah Cipto kemudian menanam dan merawat bibit tersebut hingga tumbuh besar. Namun anehnya, setelah bertahun-tahun pohon matoa itu berkembang dan semakin tumbuh besar, pohon tersebut tidak segera berbuah.

Mbah Cipto pun merasa jengah lantaran menunggu pohon yang sudah lama ia tanam sejak kecil tidak kunjung dapat dipanen. Karenanya, beliau berniat untuk menebang pohon tersebut. Akan tetapi, saat hendak menebanginya ternyata pohon tersebut telah berbunga dan mulai menunjukkan perkembangannya, buah kecil-kecil mulai tampak. Lantas Mbah Cipto mengurungkan niat untuk menebang pohon matoa yang menjadi cikal bakal terbentuknya Kampung Matoa tersebut.

Setelah dipanen buah matoa milik Mbah Cipto turut dicicipi oleh tetangga kanan kirinya. Saat dirasakan ternyata buahnya manis, dagingnya pun tebal dengan kulit yang kemerahan. Selepas itu banyak masyarakat yang ingin menanamnya dengan cara mencangkok dan ikut menanam di pekarangan sehingga setiap masyarakat memiliki minimalnya satu pohon matoa.

Dukuh yang terdiri lebih dari 30 kepala keluarga itu akhirnya banyak ditumbuhi pohon matoa. Sementara, nama Kampung Matoa hadir secara spontanitas tanpa penelitian ilmiah maupun mencari wangsit. Dukuh Karangduwet lekat dengan julukan Kampung Matoa berawal dari salah seorang masyarakat yang mantu di tahun 2018. Di mana temanten pria berasal dari Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten. Keluarga temanten pria mengatakan kampung dari manten putri adalah Kampung Matoa. Sedangkan, keluarga temanten putri menyebut besannya berasal dari dari Kota Pasir, Kecamatan Wedi (wedi dalam bahasa Jawa berarti pasir). Guyonan ini tersimpan di benak masyarakat Dukuh Karangduwet kemudian masyarakat rembugan dan sepakat jika dukuhnya diberi julukan Kampung Matoa. Kemudian nama tersebut  dituliskan pada spanduk yang dipasang di atas gapura pintu masuk Karangduwet.

Berjalan di Kampung Matoa/Rosla Tinika S

Kepala Desa Bendan, Mas Teguh Rahayu, mengatakan bahwa satu pohon matoa bisa menghasilkan satu kuintal setiap musim, di mana setiap tahunnya bisa tiga sampai empat kali musim panen. Baginya, ini masih menjadi daya tarik wisatawan lokal, karena rasa matoa khas dari Dukuh Karangduwet yang tumbuh di dekat sumber mata air, Umbul Guyangan berbeda dari daerah lain. 

Buahnya tebal dan manis seperti rasa durian dengan kulitnya tipis samar-samar. Melihat potensi ini beliau juga berharap di waktu mendatang pohon matoa dapat semakin berkembang luas di wilayah yang dipimpinnya. Kedepannya tidak hanya sebatas sebagai Kampung Matoa melainkan menjadi Desa Matoa. Hal ini dikarenakan masih banyaknya masyarakat di luar Dukuh Karangduwet yang menanam pohon matoa. Ditambah harga jualannya yang terbilang tinggi yakni sekitar Rp40.000,00 s/d. Rp60.000,00 untuk satu kilogramnya. 

Pengunjung dapat datang ke Kampung Matoa langsung saat musim panen tiba. Bahkan di sini, pembeli juga bisa memetik buah matoa yang telah matang langsung dari pohonnya. Pohon yang umumnya berbunga pada bulan Juli hingga Oktober ini dapat dinikmati buahnya setelah 3 bulan bunganya berkembang menjadi buah yang matang sempurna. Sehingga waktu yang tepat untuk berkunjung ke Kampung Matoa adalah sepanjang bulan Oktober sampai Desember.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Sekarang aku tengah menjalani studi di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Teman-teman bisa mengunjungi akun instagramku @roslats_ untuk sekadar ngobrol atau berbincang-bincang mengenai berbagai hal.

Sekarang aku tengah menjalani studi di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Teman-teman bisa mengunjungi akun instagramku @roslats_ untuk sekadar ngobrol atau berbincang-bincang mengenai berbagai hal.
    Artikel Terkait
    ItineraryNusantarasa

    Berburu Kuliner Bersejarah Khas Salatiga (1)

    ItineraryNusantarasaPilihan Editor

    Nasi Jangkrik, Kuliner Warisan Sunan Kudus

    ItineraryPerjalanan Lestari

    Ngeteh Sore di Artani, Toko Curah Ramah Lingkungan Pertama di Makassar

    Itinerary

    Gunung Bantur dalam Bingkai Kintamani

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Sejenak Kembali ke Pangkuan Tanah Asal di Kawasan Toba