“Di sekitar sini mi kapa dulu empangnya bapak-ku,” ucap Hukmawati dalam bahasa Indonesia dialek Makassar menunjuk ke arah timur di bentangan empang yang terhampar di depan matanya sore itu.
Sebuah sore yang hangat ketika ia turut ikut bersama sejumlah ponakannya yang beranjak dewasa. Ia tidak sedang memandu wisata sejarah di sebuah kampung yang dulu, jauh di dalam ingatannya, hanyalah sebuah lokasi yang tidak memiliki akses jalan seperti sekarang. Lamperangan saat itu, di dekade 1970-an awal hanya dikenali sebagai lokasi persawahan, yang kemudian secara perlahan di dekade 1990-an awal, sebagian petak sawah disulap menjadi tambak karena tingginya harga ikan bandeng dan udang saat itu.
Sejumlah keponakannya itu tidak melewati masa kecilnya di kampung, mereka lahir di Kota Makassar. Pulang ke kampung hanya sesekali ketika ada hajatan keluarga atau momen lebaran saban tahun. Ketika mereka sibuk merekam momen di ponsel, Hukmawati justru tersedot ke romansa waktu yang jauh ke belakang. Ia mengingat pergulatan bapaknya menempuh perjalanan kaki pulang pergi mencari ikan di tambak.
“Ikan di empang dulu itu tidak seperti sekarang, bukan ikan bandeng atau udang. Ikan yang ada itu bale jabire, oseng, sama salo’—Red. Bugis: bale (ikan), jabire (mujair), oseng (betok), salo’ (gabus),” ucapnya.
“Ikan-ikan itu berkembang biak sendiri,” lanjutnya.
Melimpahnya ikan air tawar saat itu menunjukkan, ekosistem tempatan belum banyak tersentuh dengan teknologi perikanan, yang kemudian menjadi pedoman para petambak membudidayakan ikan bandeng dan udang bernilai ekonomi tinggi. Kehadiran jenis ikan yang tidak masuk dalam komoditas ekspor akan disingkirkan dengan pestisida. Itulah mengapa para pengelola tambak di kemudian hari membiarkan saja orang memancing ikan mujair, betok, atau gabus di empangnya.
Pada akhirnya, empang milik bapak Hukmawati harus dijual karena kebutuhan ekonomi. Selain itu, bapaknya tidak bisa memodali tambaknya dengan jenis ikan berkomoditas ekspor. Jika ditilik, petak empang itu sesungguhnya hanyalah perikanan skala kecil keluarga untuk menjamin ketersediaan lauk.


Bedak Pariwisata yang Memoles Lamperangan
Secara geografis, Kampung Lamperangan berada di wilayah Desa Kabba, Minasatene, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Hingga memasuki dekade 2000-an awal, Lamperangan belum bisa diakses dengan kendaraan. Warga yang tinggal di sana mesti meniti pematang empang dan sawah untuk sampai di rumahnya masing yang saling berjauhan.
Pembangunan akses jalan perlahan mulai dicanangkan ketika Undang-Undang Desa Nomor 6 Tahun 2014 mulai terbit dan menjadi acuan baru dalam pembangunan desa. Utamanya terkait proses pemilihan kepala desa yang dikembalikan ke warga. Gelontoran dana desa di awal-awal implementasi regulasi ini menjadi fondasi bagi pemerintah desa melakukan pemerataan pembangunan fisik, terutama akses jalan. Hal ini pula yang menyentuh Kampung Lamperangan sebagai permulaan.
Ringkasnya, di tahun 2016 Kementerian Pariwisata mencanangkan program Gerakan Sadar Wisata yang segera menjadi percobaan template pembangunan spot wisata di seluruh wilayah Indonesia. Penguatan di level atas terus terbangun yang patoknya bisa dilihat di tahun 2021, ketika Kementerian Pariwisata malih nama menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dengan salah satu programnya, yakni Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI).
Penguatan turunan regulasi semakin masif di tahun-tahun setelahnya yang melibatkan lintas sektor, tidak hanya di level kementerian, tetapi juga di level terbawah seperti pemerintah desa. Dalam skema inilah Lamperangan dibangun sebagai spot wisata di Desa Kabba. Puncaknya di tahun 2024, dalam daftar panjang ADWI, Wisata Lamperangan masuk ke daftar 300 besar.
Melalui media sosial, Kampung Lamperangan segera dikenal luas di lingkungan sekitar yang mendorong orang-orang datang untuk mengabadikan kehadiran mereka melalui foto. Lanskap alam seperti hamparan empang dan sawah berlatar julangan karst menjadi ciri khas yang coba dibangun.


Pemerintah desa secara bertahap membangun fasilitas pendukung seperti jembatan bambu sebagai ruang menikmati panorama alam lebih dekat. Berdasarkan nomenklatur Desa Kabba, jembatan bambu sepanjang 80 meter itu dinamai Pembangunan Jalan Tematik (Komitmen Inovasi Desa) yang dibangun pada 2019 dengan biaya sebesar Rp45.649.600. Di laman Jejaring Desa Wisata (jadesta.kemenpar.go.id) bahkan disebutkan, fasilitas penunjang seperti ketersediaan homestay hingga moda transportasi darat tradisional seperti bendi telah disediakan.
Jika sudah demikian, maka yang ditunggu sisa memanen kedatangan pengunjung yang diharapkan dapat menunjang Pendapatan Asli Desa (PAD) desa. Tentu seperti itulah misinya yang juga menjadi misi desa-desa lain yang memoles sudut lanskap geografisnya menjadi spot wisata.
Saya yang berasal dari desa ini ini belakang hari terkesima, benarkah Kampung Lamperangan yang dulu hanya dijadikan joke kultural untuk menandai keterbelakangan, telah melompat jauh dan dijadikan pionir agar orang-orang datang ke Desa Kabba?
Setelah Lamperangan menjadi ruang wisata, saya berkunjung beberapa kali dan kerap mengajak teman dari luar Pangkep datang. Di tahun 2021 ketika Pandemi Covid-19 masih menjadi momok, Dahri Dahlan, seorang teman dari Mamuju, Sulawesi Barat yang tetap datang menjalani residensi di program Makassar Biennale saat itu, menunjukkan ketakjubannya melihat lanskap karst.
Di salah satu bagian bentangan karst itu terdapat gua prasejarah yang menyimpan artefak lukisan cadas: Leang Ulu Tedong. Sayang, saat itu Dahri tak bisa berkunjung. Barulah di program residensi yang sama di tahun 2023, akhirnya teman lain, Gandhi Eka dari Bandung, Jawa Barat berkesempatan melihat langsung lukisan cadas di Leang Ulu Tedong.
Kedatangan dua teman dari luar Pangkep itu bukanlah didasarkan melihat bagaimana desa mengembangkan spot wisata di Lamperangan. Kedatangannya untuk suatu peminatan khusus atas lukisan cadas guna menunjang karya kreatif yang sedang digarapnya dalam program yang tengah mereka ikuti.




Dua bocah mengadu nyali di lintasan jembatan bambu yang sudah keropos (kiri). Jembatan bambu yang dibangun pada 2019 itu sudah tidak bisa dilintasi/F Daus AR
Jebakan Keseragaman Narasi
Di kunjungan terakhir saya di akhir bulan Mei lalu, Jalan Tematik itu sudah keropos. Berusia tujuh tahun sejak dibangun memang memungkinkan rusak. Daya tahan bambu biasanya mentok di rentang pemakaian satu hingga dua tahun. Menjadi pertanyaan, selama tujuh tahun itu apakah tidak ada peremajaan? Apakah pembangunan branding desa wisata sudah selesai, sesaat setelah ditetapkan masuk ke dalam nomine 300 besar ADWI? Ataukah, projek pengembangan desa wisata memanglah digenjot untuk kebutuhan administrasi dan semangat menjadi viral di sosial media?
“Video ki di sini, Mama Tua,” begitu sapaan Nailah, salah satu keponakan Hukmawati.
“Iye, nanti viral ki di TikTok,” timpal Dian, keponakan lainnya.
Pada akhirnya kebutuhan media sosial kerap kali menjadi pemenang ketika upaya membangun desa wisata sudah mengalami korosi akibat terjebak ke dalam narasi tunggal pariwisata. Menurut saya, bisa disebut demikian ketika ambisi program dari atas mendorong keseragaman dalam berbagai aspek. Potensi lokalitas menjadi latah ditanggapi di hampir seluruh bagian karena semuanya tunduk kepentingan viralitas.
Ingatan yang menyembul di benak Hukmawati barulah memori yang keluar dari satu orang. Tentu dia tidak sendiri, segenerasinya juga merekam dengan keberagaman jalinan kisah. Suatu peluang yang sebenarnya dapat dijadikan pemantik membangun satu episode kisah untuk menemani lahirnya kisah baru suatu tempat di sudut desa yang sedang dirias.
Saya pikir, hal demikian yang tidak dilakukan dan mungkin sengaja disampirkan atau memang tidak ada horizon kesadaran ke sana. Padahal, itu adalah kisah, sumbu organik guna merawat daya tahan tentang bagaimana warga tempatan mengalami gejala perubahan yang tiba-tiba saja melintas di balik hiruk pikuk keseharian, dan harus terperangah melihat semuanya telah berubah. Hal itu mengingatkan saya pada seorang anak yang dirias menor untuk kebutuhan tampil di depan banyak orang dalam sebuah hajatan.
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
F Daus AR terlibat kerja apa saja. Kontributor di sejumlah buku, seperti "Menarasikan Indonesia" (New Naratif-Insist Press: 2021) dan yang terbaru "Hanya Ada Babak, Tidak Ada Panggung" (Yayasan Makassar Biennale-Tanahindie: 2024). Berkhidmat di Rumah Saraung, ruang komunitas yang mendorong transformasi sosial anak muda di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan. Sila berkunjung ruang maya kami di rumahsaraung.com.

