TRAVELOG

Jejak yang Tertinggal di Sengi

Jika kita mencoba menelisik ke pedalaman Magelang, maka kita akan menemukan candi-candi kecil yang menarik berlatar pemandangan Gunung Merapi dan Merbabu.

Saya pertama kali menemukan kompleks candi ini secara tidak sengaja ketika mencoba jalur alternatif dari Selo menuju Magelang melalui Google Maps. Di ujung jalan, berdiri sebuah candi kecil di tengah ladang. Rasa penasaran membuat saya menepi dan membuka Google Maps. Ternyata bukan hanya satu. Di kawasan Sengi terdapat tiga candi yang letaknya berdekatan: Asu, Lumbung, dan Pendem.

Namun demikian, di waktu itu dan hingga banyak perjalanan saya kemudian yang melewati jalur tersebut, saya tidak sempat untuk mampir dan mendokumentasikannya. Barulah beberapa pekan sebelum saya menulis ini, saya baru sempat untuk membawa kamera guna mengabadikan candi-candi tersebut. Melihat secara langsung keindahan serta cerita di balik candi-candi di pedalaman Magelang ini.

Candi Lumbung dalam tahap pemindahan (Muhammad Nur Azza)
Candi Lumbung dalam tahap pemindahan/Muhammad Nur Azza

Candi Lumbung, Candi yang Berpindah Tempat

Candi pertama yang saya kunjungi adalah Candi Lumbung Sengi (untuk membedakan dengan Candi Lumbung di Klaten). Sebetulnya, khusus untuk candi ini, saya pernah mengunjunginya sekitar setahun yang lalu.

Saya ingat betul, setahun yang lalu candi ini masih tahap pemindahan, saya pun sempat mendokumentasikannya. Menurut juru pelihara (jupel) Candi Pendem, Candi Lumbung bahkan sudah dipindahkan dua kali.

“Iya, Mas, tadinya candinya itu ada di bawah (lereng), deket sama aliran lahar. Karena itu, candinya dipindah ke Sawangan. Di lahan warga, tapi cuman ngontrak. Karena kontraknya habis dan lahannya tidak boleh dibeli, candinya lalu dipindahkan ke lokasi yang sekarang,” jelasnya panjang lebar.

“Candi Lumbung itu satu-satunya candi yang pernah pindah lokasi,” sambungnya tertawa ringan. Tak heran jika kemudian sampai dilakukan pemindahan lokasi. Jika membaca Laporan Arkeologi Hindia Belanda tahun 1910, dituliskan bahwa candi ini terletak di sebelah lereng, dengan kondisi sebagian terkubur yang membuat penelitian lebih lanjut oleh tim arkeologi jadi terhambat.1

Candi Lumbung dengan latar belakang panorama Gunung Merapi (kanan) dan Merbabu (Muhammad Nur Azza)
Candi Lumbung dengan latar belakang panorama Gunung Merapi (kanan) dan Merbabu/Muhammad Nur Azza

Kondisi candi ini sudah tidak utuh. Sebagian fasad badan candi telah runtuh, atapnya (serta kemuncaknya) pun sudah hilang. Namun, candi ini masih menyisakan ukiran dan relief indah di kaki candi.

Pada kunjungan pertama saya, sumuran candi masih dibiarkan terbuka begitu saja. Namun, di kunjungan saya kali ini, sumurannya sudah ditutup rapat. Menurut jupel Candi Pendem, sumuran ini sengaja ditutup kembali untuk menghindari kecelakaan pengunjung. “Kan nggak jarang, ya, Mas, pengunjung itu bawa anak kecil. Nah, takutnya, kalau membiarkan sumuran terbuka, bisa membuat jatuh.”

Candi ini sekarang berada di tengah ladang warga. Kebetulan, saat saya berkunjung, cuaca sedang cerah, sehingga pemandangan Gunung Merapi dan Merbabu seolah menjadi latar belakang yang berharmoni dengan Candi Lumbung.

Candi Asu dan papan namanya (Muhammad Nur Azza)
Candi Asu dan papan namanya/Muhammad Nur Azza

Candi Asu, yang Paling “Utuh”

Kemudian, saya berpindah tempat ke Candi Asu yang sudah saya sebutkan di awal. Seperti Candi Lumbung, candi ini juga memiliki tambahan nama “Sengi” untuk membedakan Candi Asu di Semarang.

Candi ini memiliki kondisi yang relatif lebih baik daripada dua candi lainnya. Hal yang sama juga telah dituliskan pada sebuah Laporan Arkeologi Hindia Belanda tahun 1903 yang melaporkan bahwa kondisi Candi Asu lebih baik daripada Candi Lumbung dan Pendem.2

Menurut papan keterangan yang ada di sebelah candi, penamaan Candi Asu diberikan karena adanya penemuan arca nandi yang sudah aus dan salah dikira sebagai anjing oleh masyarakat (dalam bahasa Jawa, anjing disebut asu).

Masih dalam papan keterangan, candi ini dibangun pada abad ke-9, tepatnya di tahun 880 M, merujuk pada Prasasti Sri Manggala II, Kurambitan I, dan Kurambitan II.

Walau dapat dikatakan memiliki kondisi yang lebih baik, saya melihat bahwa banyak sekali ornamen candi yang tampaknya memang belum selesai dibuat. Misalnya, ukiran-ukiran yang masih dalam bentuk dasar atau bahkan Kala Makara di pipi tangga candi yang masih berupa purwarupa.

Hal ini kemudian membuat saya penasaran dan menanyakan hal tersebut pada jupel Candi Asu. “Betul mas, candi ini memang belum selesai dibangun pada masanya. Bisa dilihat relief-relief dan ornamennya masih banyak yang belum selesai,” jawabnya seraya menunjukkan bagian-bagian candi yang terlihat masih kasar.

Kemudian yang menarik, disebutkan pada laporan arkeologi yang sama, Candi Asu akan menjadi salah satu candi kecil yang megah andaikata dapat diselesaikan pembangunannya. Saya mengamini hal ini karena saya melihat banyak sekali ukiran indah pada candi ini, bahkan ketika ukiran tersebut masih berupa purwarupa.

Kala Makara (kiri) serta relief floral dan kakatua di Candi Asu yang belum selesai/Muhammad Nur Azza

Candi Pendem, Berada di Bawah Ladang

Candi terakhir di kompleks ini adalah Candi Pendem. Mulanya saya betul-betul kebingungan mencari lokasi candi ini. Karena pinpoint pada Google Maps menunjukkan lokasi yang benar-benar berada di tengah ladang dan tidak ada akses jalannya.

Daripada kebingungan, saya lalu menanyakan perihal lokasi ini kepada seorang ibu penjaga warung di seberang Candi Asu. 

“Itu, Mas, candinya ada di tengah sawah memang. Masnya jalan aja ke sana, soalnya motor enggak bisa masuk. Di sana ada plang nama candi. Masnya ikutin aja sampai ada rumah. Habis itu belok ke kiri. Nanti pokoknya di tengah sawah gitu,” jawabnya sambil menunjuk arah yang dimaksud. Saya berterima kasih dan segera menuju jalan yang ditunjukkan.

Betul saja, di sana ada sebuah papan petunjuk bertuliskan “Candi Pendem” yang mengarah pada sebuah jalan setapak di pinggiran sungai. Setelah sampai di dekat rumah yang dikatakan ibu tadi, saya melihat papan penunjuk arah lagi yang menunjukkan arah ke kiri. Persis seperti yang sudah dijelaskan ibu tadi.

Sampailah saya pada hamparan ladang. Saya kebingungan karena tak dapat menemukan lokasi candi. Setelah mengamati sekeliling begitu lama, saya akhirnya melihat semacam pagar dan papan yang mungkin saja milik candi itu.

Aneh, batin saya. Yang terlihat kok hanya pagarnya saja? Apa saya salah lihat? Namun, ketika sudah sampai di lokasi, segeralah saya mengetahui bahwa candi ini berada di bawah permukaan tanah. 

Candi Pendem, terletak di bawah permukaan tanah (Muhammad Nur Azza)
Candi Pendem, terletak di bawah permukaan tanah/Muhammad Nur Azza

Dari Laporan Arkeologi Hindia Belanda tahun 1925, diketahui bahwa pada awal penemuannya, candi ini berada sekitar 2,5 meter di bawah permukaan tanah. Dengan kondisi penggalian yang cukup sulit karena lapisan tanah yang menutupi candi sangat keras dan tampaknya lapisan tanah merupakan aliran lahar yang membeku. Bagian sumuran candi tampak dipenuhi batuan yang mungkin dibawa oleh lahar.3

Yang tersisa dari candi ini hanyalah bagian kaki candi. Sekali lagi, di sini saya menjumpai banyak ornamen yang belum selesai. Sama seperti di Candi Asu tadi. Mulai dari ukiran yang tampak belum rampung, purwarupa Kala Makara dan beberapa bagian candi yang seharusnya diisi oleh ukiran, tetapi masih kosong. Badan candi hanya menyisakan sebagian kecil saja.

Saya pun menemui juru pelihara candi yang sedang membersihkan taman sekeliling candi. “Candi ini memang belum selesai. Seperti Candi Asu yang Mas kunjungi tadi.” Saya lalu lanjut menanyakan perihal badan candi yang tidak ada. “Batuan reruntuhan badan candi sangat terbatas, Mas. Hanya menyisakan sebagian kecil. Karena itu, nggak cukup buat memperkirakan bentuk asli candi.”

Saya mengangguk. Memang di samping candi terlihat tumpukan reruntuhan. Namun, jumlahnya sangat sedikit. Wajar saja jika hal ini tidak cukup untuk dilakukan restorasi candi.

Ketika meninggalkan kawasan Sengi sore itu, saya baru menyadari bahwa tiga candi ini memiliki nasib yang berbeda-beda. Ada yang berpindah tempat, ada yang tak pernah selesai dibangun, dan ada yang terkubur oleh lahar. Namun, semuanya menyimpan cerita yang sama: jejak peradaban tidak selalu hadir dalam bangunan yang utuh. Kadang, justru reruntuhanlah yang paling banyak bercerita. 

Ketiganya memang hanya candi kecil di pelosok Magelang, yang tentu akan kalah jika dibandingkan dengan candi besar seperti Prambanan atau Borobudur. Namun, ketiga candi ini memiliki arsitektur dan cerita yang tak kalah menarik untuk ditelusuri.


  1. Rapporten van de Commissie in Nederlandsch-Indië voor Oudheidkundig Onderzoek op Java en Madoera … Geraadpleegd op Delpher op 13-07-2026, https://resolver.kb.nl/resolve?urn=MMKB14:001596001:00265 ↩︎
  2. Rapporten van de Commissie in Nederlandsch-Indië voor Oudheidkundig Onderzoek op Java en Madoera … Geraadpleegd op Delpher op 13-07-2026, https://resolver.kb.nl/resolve?urn=MMKB14:001589001:00001 ↩︎
  3. Oudheidkundig verslag … Geraadpleegd op Delpher op 13-07-2026, https://resolver.kb.nl/resolve?urn=MMKITLV3:002512002:00001 ↩︎

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Muhammad Nur Azza

Warga Solo coret yang sedang belajar Hubungan Internasional di Solo. Menaruh perhatian pada konservasi alam dan arkeologi. Suka baca Doraemon.

Muhammad Nur Azza

Warga Solo coret yang sedang belajar Hubungan Internasional di Solo. Menaruh perhatian pada konservasi alam dan arkeologi. Suka baca Doraemon.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Menelusuri Situs Bowongan, Samberan, dan Brongsongan di Magelang