Lebih dari dua dekade lalu, praktik memublikasikan tulisan kreatif melalui media cetak masih menjadi pilihan di tengah pertumbuhan benih digital. Saat itu, digitalisasi masih diragukan bakal menggesar budaya kerja cetak atau malah hidup berdampingan.
Benar saja, generasi milenial perlahan mulai mengambil peran generasi sebelumnya, yang di paruh awal dekade 2000-an masih membusungkan dada tentang pentingnya publikasi media cetak alternatif seperti majalah atau newsletter (buletin).
Hadirnya Facebook di tahun 2004, jika dipahami sebagai salah satu produk yang lahir dari rahim digital, semestinya menjadi peringatan tentang adanya gerakan perubahan lanskap media publikasi di masa mendatang. Mungkin saja (sebagian), generasi milenial memandangnya sebagai wahana baru saja yang tidak akan mengubah apa-apa.
Faktanya, kehadiran media sosial terus tumbuh dan sangat beragam. Malah jenis media sosial yang tak cukup kuat bertahan, segera saja dilupakan dan orang tidak sempat membuat akun. Ini tidak seperti lagi cendawan di musim penghujan, tetapi sudah menjadi badai yang melintas sesaat yang merobohkan beragam hal yang dijumpainya.


Media Cetak dalam Ingatan
Saya mengingat sejumlah media alternatif berwujud cetak yang coba tumbuh di awal 2000-an, salah satunya buletin On/Off: Media Orang Biasa yang dipublikasikan oleh Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY). Sebarannya lumayan luas, mencakup sejumlah provinsi di bagian barat dan timur Indonesia.
Di Sulawesi Selatan sendiri, buletin ini mencatatkan nama M. Aan Mansyur sebagai distributor. Jadi, sebelum kita mengenal Aan sebagai penyair seterkenal sekarang dan namanya tercatat penerima Kusala Sastra Khatulistiwa di tahun 2021, ingat-ingatlah, sedekade lalu namanya juga tercatat sebagai agen distribusi buletin yang harganya cuma lima ribu rupiah.
Malah, ketika pertama kali berjumpa On/Off tahun 2003 di toko buku Insist di Blimbingsari, Yogyakarta, harga yang tertera hanya seribu perak, lebih mahal harga sebungkus rokok Djarum. Saya dan seorang kawan dari Makassar melihat itu terhenyak, kami lalu memperoleh inspirasi untuk membuat media cetak serupa di Makassar nantinya. Impian yang kemudian tidak terwujud karena ekosistem percetakan di Makassar hanya mengenal cetak spanduk dan kertas kop.
Bertahun-tahun kemudian, impian mengelola media cetak baru bisa terwujud di tahun 2012, tapak tahun yang semakin riuh dengan hadirnya media daring. Kami tidak peduli, ada semacam dendam yang perlu diwujudkan agar media cetak yang diimpikan itu benar-benar terbit. Ada perjudian yang sedari awal sudah diprediksi, bahwa media cetak dengan ceruk pasar spesifik—sastra—tidak akan bertahan lama.
Pada akhirnya nubuat yang kami buat menjumpai takdirnya. Sebuah majalah sastra yang diberi nama Lentera, terinspirasi dari buletin On/Off dan majalah sastra Horison, harus kami kuburkan dalam-dalam setelah terbit tiga edisi. Ode ini sebenarnya sudah sering saya tuliskan. Sudah berkali-kali hingga saya hafal persis momennya serupa mengingat bacaan salat.


Konten Ingatan
Lini masa media sosial kerap mengingatkan jejak peristiwa lampau. Semacam notifikasi untuk melakukan ziarah, menjadi pengingat agar meluangkan waktu menengok perihal sesuatu yang pernah ditapaki. Melengkapinya dengan kebanggaan, yang kadang membuat kikuk sekaligus ada dorongan yang membuat bibir menyungging.
Postingan foto lampau bertarikh lima tahun atau lebih sedekade lalu tampil sebagai cermin. Membaca kembali komentar kawan-kawan yang turut bangga karena sudah mampu menerbitkan majalah dengan oplah terbata, dan di akhir komentar tak lupa ia memesan satu—gratis tentu saja. Mungkin, mereka pikir menerbitkan majalah cetak merupakan bagian program gratis dari pemerintah yang dititipkan ke komunitas.
Saya tidak tahu persis buletin On/Off terbit berapa edisi. Selain membeli satu edisi sewaktu di toko buku Insist, edisi dengan nomor 02/2002 itu memuat tulisan Eka Kurniawan tentang proses kreatifnya menulis novel Cantik Itu Luka. Novel ini terbit kali pertama di tahun itu juga oleh penerbit Jendela dengan dukungan AKY.
Di lembaran On/Off edisi yang lain kita juga melihat iklan buku sastra. Mungkin tak banyak yang tahu kalau Puthut EA menerbitkan sebuah lakon dan pernah dipentaskan di sejumlah kota di Jawa. Orang-Orang yang Bergegas, demikian judulnya. Sampul bukunya menampilkan gambar ponsel paling gres saat itu. Dari simbol itu sudah bisa ditebak arahnya, sebentuk petunjuk bagaimana telepon genggam mendorong waktu lebih cepat dan orang-orang tak ingin ketinggalan.
Jauh sebelum Kura-Kura Berjanggut, novel setebal bantal itu terbit di tahun 2018. Kumpulan cerpen Perempuan Pala karya Azhari Aiyub sudah nangkring di halaman akhir. Jejak yang menunjukkan kalau di periode awal 2000-an sudah ada petunjuk, yang kemudian kita jumpai di tahun-tahun berikutnya tentang ambisi besar sastrawan asal Aceh itu menuliskan sebuah narasi sejarah yang jauh tentang kampung halamannya.
Tiga edisi saya dapatkan di toko buku Papirus di Makassar. Sayang, toko buku yang menjadi ruang alternatif karena menyajikan beragam buku yang dibutuhkan aktivis kala itu sudah lama tutup. Lokasinya strategis karena berada di tepian jalan Perintis Kemerdekaan, salah satu jalan utama di Kota Makassar, hanya sepelemparan batu dari pintu satu Universitas Hasanuddin (Unhas). Dari toko buku ini kita bisa menyaksikan aksi mahasiswa bila sedang menggelar demonstrasi yang menjadikan titik kumpul di pintu satu.
Hasta Indriyana, eks redaktur pelaksana On/Off, melalui percakapan di DM Instagram dan WhatsApp, tidak menyangka kalau masih ada yang menyimpan On/Off yang pernah ia kelola bersama teman sejawatnya di AKY. Dari percakapan itu, saya sampaikan keinginan untuk melakukan pindaian digital untuk mengarsipkannya.
Sayang yang kesekian, salah satu edisinya sudah rusak termakan rayap. “Rupanya rayap tahu makanan bergizi,” begitu komentar teman di Facebook sedekade lalu ketika menanggapi postingan saya membakar majalah dan sejumlah buku. Termasuk edisi On/Off yang memuat tulisan Eka Kurniawan itu, jika tidak salah judul tulisannya “Sup Barbie dan Semangkuk…“ (saya lupa kelanjutannya).
Fernando Baez mungkin lupa memasukkan wangsa rayap sebagai mesin penghancur buku. Hasil penelitian menunjukkan terdapat ribuan jenis rayap, 100 jenis di antaranya diidentifikasi sebagai hama. Rayap bertubuh kecil dengan berat tiga miligram itu, konon sanggup makan hingga 10 persen dari berat tubuhnya dan tidak perlu khawatir mengalami obesitas. Oh, ya, rayap tumbuh dalam koloni, punya kasta, dan garis komando.


Ruang Apresiasi
Saya tidak bertanya lebih jauh ke Hasta terkait berapa persisnya edisi On/Off yang terbit sebelum berhenti. Saya hanya tergelitik menanyakan malih rupa bentuk cetak dari buletin ke wujud buku. Jawaban yang sudah bisa diprediksi, Hasta menyebut sengkarut distribusi dan modal cetak yang mulai tidak mendukung.
Baik, dengan penjelasan itu saya sudah bisa memahami, sebuah tantangan yang juga saya rasakan sewaktu mengelola terbitan majalah. Saya pikir dengan cetak model buku prosesnya lebih mudah dan lebih awet, sekaligus tidak terasa ganjil berjejer dengan buku-buku yang lain di rak.
Dua edisi On/Off berbentuk buku bertajuk “Keluarga” dan “Cinta Pertama”, keduanya terbit di tahun 2005. Muatanya tetap sama dengan edisi cetak buletin, menampilkan eksperimen penulisan kreatif yang coba mendobrak kemapanan penulisan prosa di media cetak koran dan majalah arus utama.


Di edisi “Keluarga”, umpamanya, esai sejarah Zen Rahmad Sugito, kelak lebih dikenal dengan nama pena Zen RS, penulis esai sepak bola sekaligus pendiri Pandit Football Indonesia. Esainya berjudul “Wangsa Aidit” memberikan khazanah penulisan sejarah yang cair, seolah kita sedang membaca memoar. Dari esai ini pula fakta lain yang tersembunyi atau disembunyikan dari buku babon sejarah terbitan pemerintah dihadap-hadapkan dengan narasi alternatif yang mendobrak kemapanan narasi sejarah, yang telanjur dipahami mengenai satu periode tragis peralihan kekuasaan.
Di edisi “Cinta Pertama” ada suguhan narasi lain dari yang sudah-sudah, dari yang jamak dan akhirnya menjadi klise kita dengar terkait jejak hidup Pramoedya Ananta Toer. Faiz Ahsoul menyeret kita memandang Pram sebagai manusia biasa pada umumnya. Dengan berani Faiz menanyakan apakah Pram pernah jatuh cinta dan siapa gerangan cinta pertamanya.
Pram tersenyum, mungkin tidak menyangka pertanyaan itu muncul dari mulut seorang aktivis. “Sudah lama, mungkin usia 15, sama anak tetangga,” Pram luluh juga dan melontarkan pengakuan.
Demikianlah, memorabilia sebuah publikasi cetak dari pembacaan saya dan upaya mengarsipkannya. Saya memandang ini sebagai ruang apresiasi guna menghormati budaya kerja dari orang-orang yang mengupayakan adanya bacaan alternatif dengan harga jual mencukupi ketika itu.
Kuru sumange.
Pangkep, 6 Mei 2026.
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
F Daus AR terlibat kerja apa saja. Kontributor di sejumlah buku, seperti "Menarasikan Indonesia" (New Naratif-Insist Press: 2021) dan yang terbaru "Hanya Ada Babak, Tidak Ada Panggung" (Yayasan Makassar Biennale-Tanahindie: 2024). Berkhidmat di Rumah Saraung, ruang komunitas yang mendorong transformasi sosial anak muda di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan. Sila berkunjung ruang maya kami di rumahsaraung.com.

