Terasa setelah pohon itu tidak ada. Panas mentari menampar sepanjang siang. Pun ke sore, saat terang masih digdaya, tak ada lagi naungan untuk anak-anak bermain.
Sungguh, kami sangat kehilangan. Tak ada niat menebangnya. Sejak kami pindah ke rumah di kompleks Permata Harjamukti, rindang dahan dan dedaunan menyejukkan halaman. Oksigen yang dihasilkan, menjinakkan cuaca Cirebon yang membakar.
Hanya memang, kalau diperhatikan pohon mangga itu tidak tumbuh tegak. Agak miring. Kemungkinan akarnya tidak maksimal menghunjam dasar bumi. Ini boleh jadi ketika bijinya ditanam dulu, kurang dalam. Sehingga saat tumbuh besar, sebagian akar penopang pohon malah mendekati permukaan tanah. Tambah ada pembuatan selokan. Tanah pinggiran pohon tergali. Kekuatan akar sebagai penegak pohon pun menyusut. Akhirnya, si pohon tumbuh “stunting”.


Kian Doyong
Pertengahan Mei, saya amati dahan pohon semakin menjulur ke pagar. Cabang-cabangnya melengkung. Kalau dari jauh terlihat mirip terowongan. Unik juga, pikir saya. Hanya saja, jadi gangguan buat tetangga. Apalagi kalau pemilik truk boks lewat. Sudah pasti lebatnya dahan menghalangi. Ketika diterabas, patahannya mengotori jalan. Dedaunan berserakan. Praktis nambah kerjaan menyapu area kompleks. Saya dan anak-anak bergantian membersihkan. Jangan sampai jadi omongan tetangga.
Kami senang saja menyingkirkan dedaunan itu. Tapi kalau lagi musim rontoknya—biasa pas cuaca panas menggila—dalam sehari saya akan memainkan tongkat sapu lidi, pagi dan sore. Sebab, dedaunan lekas meranggas dan berjatuhan. “Kotor sekali, harus dibersihkan!” kata nenek sebelah rumah dengan logat Batak meninggi, tetapi sebenarnya berhati lembut.
Tak mengapa, terus sapu dan sapu. Menggerakkan badan, keluar keringat. Bentuk menjaga amanah dari pemilik awal pohon. Toh kala berbuah, gedong gincu nan legit saya nikmati sebebasnya. Berbagi pula ke tetangga. Ini varietas mangga unggulan yang diincar pelancong saat ke Cirebon. Seperti yang saya ulas dalam tulisan Pasar Kanoman di Hati Wisatawan.
Namun, yang paling berkesan dari keberadaaan pohon mangga itu adalah kanopinya meneduhkan. Udara sejuk mengalir ke dalam rumah. Tak tergantikan AC sekalipun.
Jalinan tangkai pohon menerobos pula ke pagar nenek sebelah. Saya segera ambil gergaji. Suami nenek mengawasi. “Cepat panjang dahannya, Opung!” kata saya. Kakek tua mengangguk. Kami berdua tak sadar, bahaya mengancam. Sebenarnya bukan dahan yang memanjang, melainkan pohonnya rebah menembus halaman.


Panggilan Darurat
Khawatir ada apa-apa, saya berinisiatif menelpon 112. Nomor panggilan darurat terpadu gratis bagi warga Kota Cirebon. Saya sampaikan pohon mangga depan rumah menunjukkan tanda akan roboh. Beberapa hari terakhir kian miring.
“Sudah tumbang, belum?” tanya operator.
“Belum, tapi mau!” kata saya.
“Kalau belum, silakan surati DPRKP.”
“Apa tidak diantisipasi?” cecar saya.
“Kalau belum (tumbang), enggak bisa. Nanti kami kirim format surat ajuan penebangan pohonnya,” jawabnya.
Saya geli sendiri dan membatin. Masak ada laporan pohon akan roboh, nunggu dibiarkan roboh dulu, baru ditangani? Tak masuk akal.
Pada 18 Mei 2026, saya berkirim surat ke kantor Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) di Jalan Palang Merah No. 6, Lemahwungkuk, Kota Cirebon. Sekuriti bilang akan meneruskan surat ke bidang terkait.
Tak ingin berlalu begitu saja, saya coba cari kenalan di DPRKP. Dapat. Saya titip surat yang dilayangkan. Berharap respons cepat. Tiga hari berselang, saya tanya kapan petugas akan datang?
“Nanti saya cek jadwalnya, Kang,” balasnya.
Esoknya saya kejar lagi, “Rencana penebangan hari apa?”
Belum ada jawaban pasti. Saya semakin khawatir pohonnya menimpa rumah atau mencelakai anak-anak yang sedang bermain. Tidak! Jangan sampai terjadi.
Saya lantas menghubungi Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Cirebon, Iing Daiman. Selama ini beliau dikenal gercep menanggapi aduan warga. Dan, benar saja. Pak Sekda membalas pesan saya.
“Nanti saya telusuri [suratnya], ya,” ketiknya.
Lewat dari jam kerja, mendekati tengah malam, Pak Iing mengabari, “Info dari Kepala DPRKP, nunggu antrean, Mas. Karena banyak pula yang harus ditangani dan sudah mengajukan lebih dulu.”
Saya berterima kasih atas atensinya.
Sehari sebelum Iduladha, 26 Mei 2026, saya potret posisi pohon terkini. Semakin doyong menyentuh atap. Saya kirim ke Pak Sekda, dan kembali mencolek perhatiannya. “Sudah darurat banget,” batin saya.
Kali ini, karena kesibukannya, saya maklumi Pak Iing belum segera merespons. Apalagi malam takbiran tiba. Kaum muslimin bersiap menyongsong Hari Raya Kurban.


Sang Peneduh Gugur
Seperti sebelumnya, saya menunaikan salat Id di ruas Jalan Dukuh Semar depan Ponpes Dhiya’us Sunnah Cirebon. Lanjut menjadi panitia pemotongan hewan kurban. Kegiatan berakhir selepas asar.
Pulang ke rumah, di jalan kompleks saya lihat pohon mangga tambah rebah. Semakin melengkung, mencitrakan suasana terowongan. Siapa yang ada di bawahnya, bakal adem. Terlindungi dari sengat matahari.
Saya ingat-ingat lagi, sepertinya kemarin belum sedoyong ini. Saya pun waswas. Eh, pas mau nyeduh kopi sore, nenek sebelah terdengar bersuara kencang. “Panggil ayahnya!”
Sontak saya keluar pagar. “Ada apa, Nek?”
“Ini bahaya, sudah mau tumbang!”
Saya kalang-kabut. Yang ditakutkan terjadi! Saya cek akar pohon dekat selokan, ternyata sudah terangkat. Artinya, pohon sebentar lagi ambruk! Saya cepat menelepon Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cirebon. “Tolong, Kang! Pohon depan rumah tumbang,” ucap saya.
“Siap! Fotokan, dan kirim lokasi,” jawab Andi Wibowo, kakak kelas masa SMA dulu. Mantan Kepala BPBD itu baru saja dilantik sebagai Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Cirebon.
Saya tunda jam ngopi petang itu. Bersiap berpisah dengan si peneduh. Tetangga keluar rumah. Anak-anak penasaran. Kami menyimpan kesedihan yang sama. Sang penaung segera ditebas, di hari yang sama saat kambing dan sapi disembelih.


Petugas Oranye Datang
Tidak sampai setengah jam, petugas BPBD berseragam oranye tiba. Pengurus RT menyaksikan proses penebangan. “Tadi pagi mau salat Id, saya juga heran, kok pohonnya makin rebah,” kata Bu RT.
Ketua RW tampak pula. Semua cemas. Kalau diabaikan, pohon besar itu leluasa menerjang apa saja di bawahnya. Syukurlah, pertolongan datang.
Rupanya, sebagian akar pohon masih tertancap kuat. Jadi tidak roboh seketika. Jalinan dahan-dahannya juga tertahan atap rumah. Sehingga tak langsung jatuh ke tanah. Kalau dibiarkan, malamnya sangat mungkin terjadi petaka. Bisa-bisa rumah saya dan si nenek terdampak. Jalan kompleks tertutup. Lalu-lalang warga terhenti.
Sebelum beraksi, koordinator petugas mengingatkan kabel sambungan internet dapat terputus, tersangkut dahan yang terpotong. “Kami mohon maaf kalau terjadi demikian,” ucapnya. Ketua RW dan Bu RT memaklumi. “Lanjut, Pak. Biar itu urusan warga yang pasang internet,” sahut Pak RW kesal, melihat kabel internet melintang tak karuan.
Memakai helm, petugas mengarahkan gergaji mesin mini bertongkat ke dahan dan ranting yang tinggi. Alat itu efektif menjangkau sasaran. Setelah dahan tak lagi rimbun, personel lain memanjat batang utama, lalu mencari posisi yang tepat guna mengeksekusi cabang-cabang pohon. Ukurannya sebesar paha orang dewasa. Berdebum bunyinya saat jatuh ke tanah.
Menjelang azan Magrib, aksi BPBD kelar. Batang-batang besar dipotong kecil. Dahan dan ranting disingkirkan. Besok akan diangkut petugas kebersihan kompleks. Warga menyiapkan air mineral. Tak lupa sebagai bentuk apresiasi, Bu RT memberi uang bensin. Eh, luar biasa, petugas BPBD menolaknya. Saya pun ikut “memaksa”, agar mereka berkenan menerima.
“Ini sudah tugas kami,” kata koordinator penebangan mantap.
Warga berterima kasih, dan melepas kepulangan mereka. Langit berangsur gelap.


Survei DPRKP
Selang 15 hari sejak mengirimkan surat, di tengah perjalanan menuju Base Camp Legok Haji Gunung Burangrang, petugas DPRKP yang pernah saya kontak mengabari, baru saja menyurvei titik aduan pohon yang disebutkan.
“Pohonnya sudah tumbang!” ucap saya, ketus. “Tapi ada pohon lainnya dalam kebun, dahannya menjuntai ke kabel listrik.”
“Iya, maaf, Pak. Baru bisa survei. Rencana 16 Juni kami eksekusi,” infonya.
Karena tanggal yang dijadwalkan bertepatan libur Tahun Baru Islam, maka perapian dahan pohon dilakukan sehari setelahnya. Tim DPRKP berseragam biru datang naik mobil operasional.
Bu RT menyambut mereka. Saya turut mengawasi. “Gimana buah mangganya, Pak?”
“Silakan ambil saja.”


Mereka antusias bekerja. Berkeringat di tengah terik, sambil menahan nyeri gigitan semut rangrang yang menyerbu leher dan wajah. “Arghhh… Semutnya galak!” seorang petugas kesakitan, menyetop deru gergaji mesinnya.
Aksi petugas DPRKP pukul 11.00 WIB itu saya dokumentasikan, lalu mengirimnya ke Pak Sekda. “Nuhun, Pak. DPRKP sudah datang.” Beliau membalasnya pukul 23.20 WIB, “Sami-sami, Mas.”
Hari-hari besoknya, kami belajar mengakrabi terik mentari di halaman rumah. Terkenang naungan pohon yang telah tiada. Betapa sangat berarti tutupan dahan dan dedaunannya yang meneduhkan.
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Tinggal di Kota Cirebon. Kerap mengulas isu lingkungan, budaya, dan pariwisata. Ayah lima anak ini hobi mendaki gunung sejak 2001, dan tak bosan memanggul carrier hingga sekarang.


