Travelog

Rumah-rumah Tak Berpagar di Kampung Baru

Kita memiliki rumah sebagai tempat kembali dan beristirahat setelah seharian melakukan aktivitas di luar. Dan, seperti yang diajarkan oleh guru saya ketika SD, rumah adalah tempat kita bersama keluarga berlindung, entah dari terik cuaca, deras hujan, atau, mungkin, kejahatan yang ada di luar sana.

Umumnya, rumah dikelilingi pagar untuk menjaga bangunan itu dari orang luar atau hewan liar yang sembarangan masuk. Selain itu, pagar juga berfungsi menjadi pembatas antara lahan kita dan tanah orang lain. Dengan memasang pagar tinggi, privasi kita juga terjaga. Aktivitas kita tidak bisa diintip orang luar dan kita bisa berkegiatan secara leluasa. Pendeknya, pagar membuat kita merasa terlindungi. Mengetahui bahwa pagar sudah terkunci, kita bisa tidur dengan tenang sepanjang malam. Juga, pagar yang dibangun sesuai prinsip estetika akan membuat rumah tampak lebih indah.

Hanya beberapa rumah yang memiliki pagar di Kampung Baru/Oktiffani Maharsiwi

Namun, saat berada di Kampung Baru, Sendang Biru, saya memperhatikan sesuatu yang menurut saya unik; rumah di sana, meskipun dibangun dengan elok dan penuh warna, tak ada yang memiliki pagar. Pun ada, wujudnya hanya tembok kecil setinggi dada orang dewasa yang membentuk huruf “U.” Rumah-rumah lainnya hanya punya teras terbuka, sehingga tanpa perlu repot-repot menjinjit pun kita bisa melihat bagian dalamnya.

Rasa penasaran yang memenuhi pikiran membuat saya memutuskan untuk mengitari kampung itu. Ternyata memang hampir seluruh rumah tidak berpagar. Saya hitung-hitung, hanya dua-tiga rumah yang punya pagar tinggi.

Dua pertanyaan muncul dalam kepala saya. Pertama, mengapa mereka tidak membangun pagar? Kedua, apakah mereka merasa aman dengan rumah tanpa pagar?

Drum-drum penampung air di belakang salah satu rumah di Kampung Baru/Oktiffani Maharsiwi

Menurut penuturan salah seorang warga, masyarakat Kampung Baru memang tidak merasa khawatir dengan ketiadaan pagar di rumah mereka. Ia menjelaskan bahwa lahan yang tersedia di kampung itu tidak terlalu luas. Jadi, jika setiap rumah punya pagar pembatas, perkampungan itu kian lama akan terasa semakin sempit. Bisa jadi pula kampung itu bakal tampak kumuh sebab rumah-rumah saling berhimpitan.

Selain itu, sepertinya tidak ada warga kampung yang merasa begitu kekurangan sampai-sampai harus mengambil milik orang lain. Karena warga merasa cukup dengan apa yang mereka miliki—dan mereka hidup dengan saling berbagi—tak pernah ada kasus pencurian di Kampung Baru.

Menurut Bu Anna, salah seorang warga Kampung Baru, tak pernah ada kasus pencurian selama delapan tahun ia tinggal di sana. Bu Anna bercerita bahwa sepanjang malam suaminya selalu memarkir motor di halaman rumah dan si roda dua tak pernah digondol maling. Ini, menurutnya, terjadi karena warga kampung saling mengenal dan saling percaya.

Menariknya, keadaan di kampung sebelah agak berbeda dari Kampung Baru. Sebagian besar rumah di sana berpagar. Barangkali ini karena mayoritas warga kampung sebelah—tidak seperti masyarakat Kampung Baru yang sebagian besar menyambung hidup sebagai buruh nelayan atau tukang kapal—bekerja sebagai anak buah kapal (ABK), juragan kapal, dan pengambeg (pemilik modal) yang punya sejumlah harta bernilai dan sering melaut meninggalkan anak-istri selama berhari-hari.

Namun, dari ketiadaan pagar di sebagian besar rumah di kampung itu, kita bisa menduga bahwa hubungan sosial masyarakat di Kampung Baru begitu baik. Teras-teras rumah yang terbuka itu seolah-oleh menyambut hangat setiap orang yang ingin bertandang, juga menjadi ruang sosialiasi yang mudah diakses.

Sebuah motor terparkir di pinggir jalanan Kampung Baru/Oktiffani Maharsiwi

Ibu-ibu yang berkumpul di teras sambil bertukar cerita, ditemani minuman dan camilan, adalah adegan yang biasa saya lihat setiap sore dan malam. Ruang-ruang publik “privat” itu adalah tempat bagi anak-anak kecil bercengkerama dengan teman-temannya, entah bermain kartu, boneka, atau mobil-mobilan, sambil disuapi oleh ibu mereka. Beranda-beranda itu juga tempat untuk menggelar tahlilan setiap malam Kamis, di mana bapak-bapak akan membacakan surat Yasin dan mendaraskan doa. Tahlilan selesai, mereka akan bersama-sama menyantap makanan yang sudah disediakan tuan rumah. Beberapa orang akan tinggal untuk mengobrol, sekalian menghabiskan sajian.

Pemandangan seperti di atas tentu tidak mudah dijumpai di kota-kota besar dengan segala kompleksitasnya. Namun, kita yang terbiasa hidup di balik pagar yang kita bangun sendiri ini barangkali bisa mengambil contoh dari masyarakat Kampung Baru hidup, terutama bagaimana mereka bisa saling percaya, berbagi, dan menjaga.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Oktiffani Maharsiwi

Biasanya dipanggil Otip. Suka jalan-jalan dan suka makan. Kadang nulis.
Related posts
Travelog

Bermain dan Belajar bersama "Art For Children" di TBY

Travelog

Menelusuri Jejak Sejarah Masa Lalu Kota Lama-Pecinan Semarang*

Pilihan EditorTravelog

Mengulang Waktu di Timur: Pala, Muara, dan Kejora (3)

Pilihan EditorTravelog

Memagari Ombak: Cerita Selancar Sumba

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *