TRAVELOG

Jejak Kelas Inspirasi Jakarta di Pulau Payung Besar

Langit subuh di Kepulauan Seribu masih menyisakan rona kebiruan yang pekat ketika jam tangan menunjukkan pukul 06.00 WIB pada Senin, 31 Agustus 2026. Di Dermaga Pulau Tidung, angin laut berembus cukup kencang, membawa aroma garam yang khas dan udara dingin yang menusuk kulit.

Pagi itu, kelompok kecil kami, Regu 9—beranggotakan sembilan relawan Kelas Inspirasi Jakarta, terdiri dari lima inspirator, tiga dokumentator, dan satu fasilitator—sudah berkumpul di tepi dermaga kayu. Sebuah perahu bermotor milik warga setempat telah bersandar manis, siap mengantarkan kami menembus gelombang menuju lokasi penugasan utama, Pulau Payung Besar.

Pemandangan lanskap Pulau Tidung (Dodik Suprayogi)
Pemandangan lanskap Pulau Tidung/Dodik Suprayogi

Perjalanan Mengarungi Lautan

Perjalanan menyeberang laut ini dijadwalkan memakan waktu sekitar 40 menit. Begitu perahu kayu membelah ombak, derak kayu dan raungan mesin kapal menjadi latar suara perjalanan kami. Di atas geladak yang terus bergoyang santai, tak ada dari kami yang sibuk dengan gawai. Kami bergeming menatap hamparan lautan luas yang berangsur-angsur beralih warna seiring sang surya naik dari ufuk timur. 

Dari kejauhan, bayangan Pulau Payung Besar mulai tampak sebagai gugusan hijau yang menenangkan di tengah keheningan lautan. Pulau ini merupakan rumah bagi SDN 04 Tidung, sebuah sekolah dasar terpencil di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta.

Setibanya di dermaga apung Pulau Payung Besar, keasrian dan ketenangan pulau langsung menyapa. Gerbang selamat datang bertuliskan “Welcome to Payung Island” berdiri tegap di tepi pantai. Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang bersih, dinaungi rindangnya pepohonan pesisir, menuju kompleks bangunan SDN 04 Tidung.

Dermaga apung Pulau Payung Besar (Dodik Suprayogi)
Dermaga apung Pulau Payung Besar/Dodik Suprayogi

Dinamika dan Adaptasi Lapangan

Setibanya di halaman sekolah, kami dibuat takjub oleh kondisi fisik SDN 04 Tidung. Berbeda dari bayangan sebagian orang tentang sekolah pulau yang sarat keterbatasan, fasilitas bangunan sekolah ini sejatinya sangat bagus, kokoh, bersih, dan sangat terawat. Bangunan bercat cerah ini berdiri anggun menghadap laut.

Namun, dinamika lapangan selalu punya cara tersendiri untuk menguji kesiapan para relawan. Susunan acara yang telah kami buat dan diskusikan hingga larut malam di penginapan seketika berantakan. Rencana awal untuk menggelar upacara bendera hari Senin bersama seluruh siswa terpaksa dibatalkan karena keterbatasan waktu dan kondisi setempat, sehingga diubah menjadi apel singkat.

Kejutan tak berhenti di situ. Saat mendata jumlah siswa yang berbaris di lapangan, kami mendapati kenyataan lain. Dari total 17 murid yang terdaftar di sekolah ini, ternyata 5 anak absen. Praktis, hanya ada 12 anak yang siap mengikuti kegiatan hari itu.

Melihat skenario acara yang berubah mendadak, Kak Felia selaku fasilitator kami tersenyum tenang sembari menenangkan tim. “Satu-satunya kepastian di lapangan adalah ketidakpastian,” ujarnya mengingatkan semangat dasar Kelas Inspirasi.

Pesan itu menjadi pemantik bagi kami untuk segera beradaptasi. Seluruh relawan memutar otak, menyelaraskan materi, dan menggeser alur kegiatan. Karena jumlah siswa yang hadir relatif sedikit, kami memutuskan untuk mengubah pola pendekatan dari penyampaian klasikal yang kaku menjadi interaksi yang jauh lebih personal, hangat, dan mendalam.

Apel Senin Pagi sekaligus pembukaan Kelas Inspirasi Jakarta
Apel Senin pagi sekaligus pembukaan Kelas Inspirasi Jakarta/Dokumentasi photo.byshan

Menggelar Pembelajaran dan Mengenalkan Profesi

Tepat pukul 08.00 WIB, sesi Kelas Inspirasi resmi dimulai. Sebagian besar anak-anak di Pulau Payung Besar tumbuh dan besar dalam lingkungan keluarga nelayan. Latar belakang ini membuat pengetahuan mereka tentang variasi profesi di luar pulau terbilang terbatas. Sebagian besar dari mereka hanya akrab dengan profesi yang sering ditemui sehari-hari, seperti nelayan, guru, atau pedagang. Istilah-istilah profesi seperti perawat, jurnalis, Quality Control, hingga analis keuangan tentu menjadi hal yang asing di telinga mereka.

Mengingat pesan Ki Hajar Dewantara, “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri, sedangkan pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu”; kami menyadari peran kami hari itu bukan untuk mengubah impian mereka menjadi seperti orang kota, melainkan membukakan jendela cakrawala baru agar mereka tahu bahwa dunia ini sangat luas dan penuh peluang.

Di salah satu ruang kelas, Kak Devi mulai memperagakan alat peraga medis yang dibawanya. Ia mengenakan sarung tangan lateks dan stetoskop dengan gaya yang ramah.

“Adik-adik ada yang tahu tidak, perawat itu sebenarnya kerjanya apa?” tanya Kak Devi memancing rasa ingin tahu anak-anak.

Seorang anak laki-laki di barisan depan langsung mengacungkan tangan tinggi-tinggi dengan mata berbinar. “Yang suka nyuntik orang sakit di rumah sakit, Kak!” serunya polos, disambut tawa renyah kawan-kawannya.

“Betul sekali!” jawab Kak Devi lembut. “Tapi selain menyuntik, perawat itu punya tugas mulia untuk merawat, mendengarkan keluhan, dan memastikan orang yang sakit merasa nyaman sampai mereka sembuh kembali.”

Relawan inspirator mengisi sesi kelas bersama anak-anak yang terlihat antusias/Dokumentasi photo.byshan

Di sudut kelas lain, sesi pengenalan profesi arsitek dan jurnalis berlangsung tak kalah seru. Anak-anak diajak menggambar cita-cita mereka di atas kertas putih. Walaupun jumlah siswa hanya 12 orang, antusiasme di dalam ruangan tidak kalah riuh dibanding kelas berskala besar. Anak-anak ini sangat aktif, komunikatif, dan tak ragu bertanya jawab.

Saat diajak berdiskusi tentang cita-cita, jawaban yang keluar dari mulut mereka sangat beragam dan tegas. Ada yang bercita-cita menjadi guru, pemadam kebakaran, polwan, pemain sepak bola, peternak ayam, hingga Youtuber.

“Kak, kalau mau jadi arsitek itu harus pinter menggambar rumah, ya?” tanya seorang murid perempuan sembari menunjukkan hasil corat-coret gambarnya dengan bangga.

“Bukan cuma menggambar yang indah, tetapi arsitek juga belajar merancang bangunan supaya rumahnya kuat, kokoh, dan aman untuk ditinggali keluarga,” jawab saya sambil mengacungkan dua jempol atas hasil karyanya.

Di sela-sela kegiatan, salah satu guru SDN 04 Tidung bercerita kepada kami. Meskipun murid di sekolah ini sedikit, mereka memiliki semangat belajar dan daya tangkap yang luar biasa. Bahkan, para alumni SDN 04 Tidung yang melanjutkan sekolah ke jenjang SMP di luar pulau sering kali mengukir prestasi akademik maupun nonakademik yang mengungguli siswa dari sekolah-sekolah lainnya. Penuturan ini makin membakar semangat kami untuk memberikan yang terbaik di sisa waktu kegiatan.

Foto bersama relawan dan siswa
Foto bersama relawan dan siswa/Dokumentasi photo.byshan

Jejak Inspirasi yang Tertinggal

Tak terasa, rangkaian sesi pengenalan profesi, permainan edukatif, dan unjuk cita-cita harus berakhir pada pukul 11.00 WIB. Waktu yang singkat terasa berlalu sangat cepat karena hangatnya kebersamaan yang terjalin.

Sebelum melangkahkan kaki meninggalkan area sekolah, kami berkumpul bersama di halaman depan untuk berpamitan dan mengambil foto kenang-kenangan. Wajah-wajah ceria para siswa, dan senyum hangat para guru yang telah berdedikasi menjaga nyala pendidikan di pulau kecil ini, menjadi pemandangan yang memanjakan mata sekaligus mengharukan.

Saat kami kembali menaiki perahu kayu untuk kembali ke Pulau Tidung, ada pergeseran rasa di dalam dada. Niat awal kami datang ke Pulau Payung Besar adalah untuk membagikan pengalaman dan memberi inspirasi kepada anak-anak. Namun, pada kenyataannya, kamilah yang pulang membawa begitu banyak pelajaran hidup, semangat, dan inspirasi dari ketulusan serta kehangatan warga sekolah.

Sebagaimana kutipan terkenal dari Nelson Mandela, “Pendidikan adalah senjata paling mematikan di dunia, karena dengan pendidikan, Anda dapat mengubah dunia.” Hari itu, di atas tanah Pulau Payung Besar yang tenang, kami menyaksikan sendiri bagaimana benih-benih perubahan dunia itu sedang disemai dengan penuh rasa cinta, kesederhanaan, dan harapan yang membumbung tinggi.


Foto sampul: Apel pagi Kelas Inspirasi Jakarta di SDN 04 Tidung Pulau Payung Besar (Dokumentasi photo.byshan)


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Dodik Suprayogi

Sedikit langkah, banyak cerita. Lahir pada masa krisis moneter terjadi (98), gemar berpetualang, bermain benih dan pupuk tanaman. Menulis untuk esksistensi dan warisan anak cucu.

Dodik Suprayogi

Sedikit langkah, banyak cerita. Lahir pada masa krisis moneter terjadi (98), gemar berpetualang, bermain benih dan pupuk tanaman. Menulis untuk esksistensi dan warisan anak cucu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Menerjang Hujan Menuju Puncak Cendono