Travelog

Jamu Nguter: Kuliner Kontemporer yang Kian Populer

Kota jamu adalah salah satu julukan bagi kabupaten yang berada di eks Karesidenan Surakarta, Sukoharjo. Eksistensinya sebagai kota jamu pun telah terdengar seantero Nusantara hingga pada tahun 2019 lalu, Sukoharjo dinobatkan sebagai Destinasi Wisata Jamu oleh Pemerintah Pusat melalui Kemenko PMK. Karenanya, tak heran ketika bertandang ke kabupaten yang memiliki semboyan makmur ini, kita akan langsung disambut oleh Patung Jamu Gendong yang tak lain adalah ikon Kabupaten Sukoharjo.

Seorang lelaki bertelanjang dada, seolah memperlihatkan kekekaran otot-otot lengan tangannya. Ia mengenakan bawahan celana panjang dengan lipatan di bawah lutut sekaligus caping sebagai penutup kepala. Juga tak lupa cangkul yang dipikul di pundak sebelah kirinya. Sedang di sebelah kirinya, seorang perempuan menggendong tenggok (keranjang dari anyaman bambu) berisi gendul-gendul (botol) jamu yang diikat dengan selendang mendampingi. 

Perempuan tersebut mengenakan atasan kebaya dan bawahan berupa kain jarik. Tangan kirinya membawa ember kecil. Begitu kira-kira gambaran patung tersebut, patung yang merupakan representatif masyarakat tradisional Sukoharjo—seorang lelaki petani dan seorang mbok jamu, sebutan bagi perempuan penjual jamu gendong. 

Berpusat di Nguter

Tak hanya ada satu atau dua patung jamu ikonik yang dapat ditemui di Kabupaten Sukoharjo. Di pelbagai sudut Sukoharjo, utamanya di Kecamatan Nguter, kita dapat dengan mudah menemui patung jamu. Mulai dari yang terlihat estetik dan modern, hingga yang sudah usang. Kecamatan Nguter memang dikenal sebagai pusat sentra jamu. Di pelbagai instansi maupun tempat umum, ikon jamu mudah ditemukan. Di Polsek Nguter misalnya, memampangkan jelas tulisan ‘Nguter Kota Jamu’ lengkap dengan patung mbok jamu di sudut utara.

Jamu dan Nguter adalah hal yang tidak dapat dipisahkan.Produksi jamu di Nguter dapat tetap eksis hingga sekarang karena urgensi jamu bagi kehidupan yang diwariskan sejak masa lampau. Bagi masyarakat, jamu adalah tandha urip yang berarti pertanda hidup manusia. lantaran jamu memiliki pelbagai tujuan dalam mengonsumsinya. Diantaranya, untuk mengobati penyakit, mencegah datangnya penyakit, menjaga kesehatan sekaligus imunitas tubuh.

Konon sejarah panjang pembuatan jamu berawal dari sini, sebuah desa kecil yang masuk dalam wilayah Kabupaten Sukoharjo dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Wonogiri. Di sini, orang pertama kali mengenal seni meracik jamu secara tradisional yang terbuat dari dedaunan dan rempah sejak zaman Kerajaan Mataram Kuno. Namun, para acaraki (peracik jamu)= pada zaman dahulu tidak begitu banyak. 

Menata jamu tradisional via TEMPO/Tony Hartawan

Dulu, pembuatan jamu perlu diawali dengan prosesi pembacaan doa kepada Tuhan. Tujuannya agar jamu dapat menjadi sarana perantara penyembuhan penyakit. Seorang peracik jamu harus memiliki hati dan pikiran yang bersih.. Dipercaya, jika seorang peracik jamu dihinggapi hawa buruk maka khasiat jamu bisa hilang.

Pembuatan jamu mulanya dilakukan dengan cara sederhana. Langkah pertama yakni mencuci dan membersihkan empon-empon seperti kencur, kunyit, cengkeh, kayu manis dengan air mengalir kemudian merendamnya dengan air bersih. Setelah itu barulah ditumbuk halus dengan lumpang dan diseduh dengan air panas hingga siap diminum. 

Dari pelbagai cerita yang berkembang di masyarakat, konon acaraki pada mulanya seorang laki-laki. Anggapan tersebut didukung adanya pengertian bahwa pekerjaan membuat jamu adalah suatu pekerjaan berat. Seiring berjalannya waktu dan proses membuat jamu dipermudah dengan pelbagai alat bantu pekerjaan meracik dan menjual jamu dilakukan oleh para ibu rumah tangga.

Pendapat lain mengatakan bahwa jamu mulanya dibuat oleh ibu rumah tangga yang beraktivitas di dalam rumah. Sembari di rumah mengurus rumah, mereka meracik jamu untuk keluarga maupun dijual. Dari berjualan di sekitar Nguter, lambat laun target pasar penjualan meluas ke masyarakat Sukoharjo dan sekitarnya. Bahkan banyak kerabat Keraton Surakartamemesan jamu dari Nguter.

Varian jamu beragam. Ada beras kencur, kunir asem, pahitan, temulawak, pegel linu, stamina pria, cekokan hingga jamu khusus ternak seperti jamu untuk ayam petarung.

Untuk menyiasati pesanan yang banyak, para penjual jamu membawa tenggok yang berisi gendul jamu. Tenggok digendong di punggung dengan selendang. Cara berjualan itu kemudian dikenal dengan penjual jamu gendong atau mbok jamu asal Nguter. Hingga kini mbok jamu asal Nguter tetap bertahan dan meluas ke wilayah lain, meski jumlahnya semakin lama mengalami penurunan.Selain menjual dengan cara gendong, ada juga mbok jamu yang menjajakan jamu dengan sepeda onthel hingga sepeda motor. Bahkan belakangan ini kita dapat dengan mudah menemukan warung maupun kafe jamu.

Ragam Fasilitas untuk Njamu

Pada tanggal 1 April 2015 Pasar Jamu diresmikan. Di sini pengunjung dapat melihat pedagang yang menjajakan empon-empon yang menjadi bahan utama pembuatan jamu. Harganya jauh lebih murah jika dibandingkan dengan di tempat lain karena didatangkan langsung dari petani jamu. Mengingat di Pasar Jamu ini biasanya para tukang jamu kulakan untuk membuat racikan jamu, yang membuat harganya murah agar peracik jamu dapat meraup laba lebih. Pendirian Pasar Jamu oleh pemerintah setempat, selain sebagai pusat transaksi produk jamu lokal juga untuk menghindari peredaran jamu ilegal. Sehingga setiap bahan pembuatan jamu telah terjamin kualitasnya.

Apabila tidak tahu racikan yang pas untuk membuat jamu, pengunjung dapat membeli paket racikan jamu yang dapat dibuat sendiri di rumah. Tinggal dituang dengan air panas atau direbus dengan air mendidih, racikan sudah siap dikonsumsi. Namun, kalau masih kebingungan akan cara yang tepat menyeduh racikan jamu, kita bisa memesan jamu instan yang tinggal diseduh sesuai dengan prosedur penggunaan yang dianjurkan. Jamu cair yang siap minum pun juga banyak dipasarkan langsung dari para peraciknya.

Lalu jika tidak mau repot dan ingin langsung minum di tempat, bisa langsung mengunjungi kafe jamu yang berada di depan pasar yang tepat berada di pinggir jalan utama Sukoharjo-Wonogiri. Kafe Jamu Sukoharjo ini diresmikan pada tanggal 18 Maret 2019 oleh Menko PMK yang kala itu dijabat oleh Puan Maharani. Kafe jamu ini dapat berdiri atas kerja sama antara pemerintah Kabupaten Sukoharjo dengan perusahaan swasta PT. Konimex, dan pelaku UMKM beserta BPOM. Pemkab sebagai inisiator dan regulator serta perusahaan swasta yang berperan sebagai role model dalam produksi jamu. Pelaku UMKM menjadi pihak yang paling penting dalam produktivitas pembuatan jamu karena sekitar 80% produk jamu rumahan yang dihasilkan dari produksi UMKM. Sedang peran BPOM di sini penting dalam distribusi jamu untuk menjamin keamanan jamu yang diedarkan telah memiliki izin edar.

Kafe Jamu Sukoharjo yang berada di bagian depan Pasar Jamu Nguter/Rosla Tinika S

Kafe jamu yang ada di nguter itu didapuk sebagai kafe jamu pertama yang ada di Indonesia. Nuansa kafe yang lebih modern jika dibandingkan dengan warung jamu tradisional biasa diangkat agar dapat menarik minat kaum milenial hingga generasi Z. mengkonsumsi jamu dianggap ndeso dan ketinggalan jaman. Apalagi stigma pahit dan tidak enak yang melekat di pikiran para kawula muda. Namun hal itu dapat ditepis lantaran rasa dan penyajian jamu di Kafe Jamu Sukoharjo lekat dengan anak muda. Ditambah dengan kenyamanan yang ditawarkan membuat para pengunjung tidak perlu malu dan sungkan untuk pamer foto di media sosial apalagi tempatnya yang estetik dan modern tanpa meninggalkan budaya asli gaya minum jamu.

Karena komplitnya sarana njamu di pasar ini membuat Pasar Jamu Nguter sudah dipenuhi oleh masyarakat yang hendak membeli racikan jamu sejak pagi. Jika masih kurang puas dan mau menelusuri pembuatan jamu, bisa juga datang ke Kampung Jamu sebagai sentra pembuatan jamu Nguter. Kampung jamu menawarkan edukasi bagi masyarakat yang tertarik akan pengolahan jamu dari yang masih berbentuk mentahan hingga bisa dinikmati langsung.

Bagi masyarakat yang ingin membeli jamu produksi UMKM tetapi terbentang jarak yang jauh maka bisa membeli dari marketplace. Pasar Jamu Nguter ini sudah merambah ke penjualan online di pelbagai situs marketplace. Tinggal klik dan pilih pesanan jamu telah bisa di genggaman tangan. 


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Sekarang aku tengah menjalani studi di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Teman-teman bisa mengunjungi akun instagramku @roslats_ untuk sekadar ngobrol atau berbincang-bincang mengenai berbagai hal.

Sekarang aku tengah menjalani studi di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Teman-teman bisa mengunjungi akun instagramku @roslats_ untuk sekadar ngobrol atau berbincang-bincang mengenai berbagai hal.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Yogyakarta: dari Tebing Breksi, hingga Malioboro

    Travelog

    Sepenggal Kisah dari Lawatan ke Pendiri Salib Putih Salatiga

    Travelog

    Tak Sengaja Menemukan Tugu Helm Kopral Syarif

    NusantarasaTravelog

    Sarapan dengan Semangkuk Lontong Kari Kebon Karet

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Suatu Malam di Angkringan Kopi Joss Pak Agus