Arah SinggahPilihan EditorTravelog

Jalan Berliku Bli Komang Hadapi Perubahan (2)

Kami melanjutkan perbincangan. “Saat muda, Bli kuat-kuatnya jadi kritis dan vokal dan senang kerja sosial umuran kalian. Karena pada waktu itu, kita yakin bisa mengubah dunia.” 

Bli Komang, sewaktu muda dikenal sebagai pribadi yang sering main, bolos sekolah, vokal dan kritis. Tapi soal pelajaran, dia tidak pernah tidak menguasai apa yang telah diajarkan gurunya. “Waktu SMP, saya jualan gula aren. Ibu yang bikin, saya yang manjat kelapa,” kenangnya. Kemudian Komang muda melanjutkan pendidikan sekolah atasnya ke Denpasar, dengan alasan untuk bisa sambil bekerja. Sebab di kampung, jalan menuju sekolah jauh, sehingga waktu terbuang banyak di jalan. Komang muda mengambil kuliah keguruan jurusan bahasa Inggris yang menjadi subjek favoritnya sembari melanjutkan bekerja paruh waktu yang selalu dilakukannya semenjak kecil.

Bli Komang muda sewaktu di Burma/Bli Komang

Pembelajaran toleransi pertama yang di dapat Komang muda adalah dari ayahnya yang mengajarinya bergaul luas dengan orang yang berbeda agama dan suku. Komang muda terbiasa melihat perbedaan, menjadi nyaman bergaul dengan orang-orang baru dengan budaya yang baru. Budaya take and give selalu ditanamkannya pada diri. “Selama otak kita masih sadar, kita terus belajar.”

Pariwisata di Bali yang tumbuh pesat, mengharuskan semua orang untuk belajar bagaimana standar internasional dalam pengelolaan pariwisata. Ketika pariwisata telah menjadi dominan, simpul-simpul ekonomi digerakkan oleh pariwisata. Beberapa kali Bali mengalami guncangan hebat, baik yang disebabkan oleh bencana ekologis maupun buatan, hingga berbagai pandemi seperti SARS, Flu Burung, dan COVID-19.

Amed yang masuk ke dalam Kabupaten Karangasem, juga pernah mendapat dampak dari Gunung Agung yang meletus pada 2017 dan gempa Lombok pada 2018. Sewaktu Gunung Agung meletus, Bli Komang banting usaha dengan membeli perahu nelayan untuk usaha tambahannya mencari penghidupan. Ketika COVID-19 muncul, Bli Komang sudah memperkirakan bahwa paceklik akan lebih mengerikan dibanding kejadian Gunung Agung. Wabah internasional ini mempengaruhi semua sektor, termasuk Amed yang kala itu baru pulih dari bencana Gunung Agung.

Maret 2020, Bli Komang sudah ambil ancang-ancang lagi untuk kembali banting stir sewaktu keadaan di Amed masih belum terkena dampak. Daripada penghasilan sehari-harinya ludes begitu saja, membanting stir adalah jalan yang harus ia tempuh untuk tetap menafkahi keluarganya. Jadilah Bli Komang kemudian berjualan ayam dan bebek potong yang melayani pesan antar ke berbagai tempat. Ide ini dia dapat dari melihat penjualan unggas yang belum ada di sekitar Amed. “Tempat saya strategis, relatif mencolok, dan menjadi landmark bagi sekitar,” ujarnya.

Bli-Komang-di-Kandang-Ayam
Bli Komang di kandang ayam/Bli Komang

Sim salabim! Taman Pondok Bebek Hita disulap menjadi sebuah kandang mini yang mampu menampung puluhan ayam. Fokus pertamanya kala itu adalah penjualan ayam kampung, kemudian ditambahkan dengan ayam negeri, ayam kecil, dan bebek untuk memperluas pangsa pasarnya.

Bau kandang ayam menusuk hidung saya yang berkeliling melihat unggas peliharaan Bli Komang. Bli Komang kemudian memanggil saya untuk memperlihatkan alat perontok bulu, yang dalam sekejap menghilangkan bulu ayam yang masih menempel di badan. 

“Nih ayam buat kalian, nanti kita guling dulu sekitar 1,5 jam,” ucapnya sembari memasukkan ayam ke dalam mesin.

Bersama-sang-istri-yang-memasak-ayam-serta-bebek-untuk-sajian-di-Taman-Bebek-Hita
Bersama sang istri yang memasak ayam serta bebek untuk sajian di Taman Bebek Hita/Arah Singgah

Saya masuk ke dapur dan bertemu istri Bli Komang yang sudah menyiapkan bumbu khas Bali untuk dipadukan dengan ayam yang baru saja selesai dibersihkan. Arang yang membara membakar perlahan daging ayam yang ditusuk besi. Putaran besi yang lambat disesuaikan untuk kematangan yang merata. Ketika ayam sudah matang dan dihidangkan ke hadapan saya, Syukron, Ayu, dan Wawan, kami tidak mampu menahan godaan untuk tidak segera metandaskannya. 

Dibalik mengerikannya efek COVID-19, selalu ada hikmah yang bisa diambil orang-orang. Bali yang riuh dengan pariwisata: mendapatkan waktu untuk berkontemplasi dan kembali melihat pada perspektif agraria yang diajarkan oleh leluhur. Masyarakat Bali setidaknya menjadi sadar, meski mereka mampu bangkit dari kejadian buruk berkali-kali, pertanian; yang menjadi warisan turun temurun dari leluhur, jangan pernah ditinggalkan. Suatu saat, lahan tanpa beton lah yang lebih dirindukan ketimbang gedung-gedung yang berjejal, yang semakin menegaskan Bali makin menjauh dari peradaban agraris.

***

Pada Agustus 2022, TelusuRI mengunjungi Bali, Kupang, Pulau Sabu, hingga Flores Timur dalam Arah Singgah: Menyisir Jejak Kepunahan Wisata, Sosial, Budaya—sebuah perjalanan menginventarisasi tempat-tempat yang disinggahi dalam bentuk tulisan dan karya digital untuk menjadi suar bagi mereka yang ceritanya tidak tersampaikan.

Tulisan ini merupakan bagian dari catatan perjalanan tersebut. Nantikan kelanjutan ceritanya di TelusuRI.id.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.
Artikel Terkait
Travelog

Kembali ke Fatubraun

Pilihan EditorTravelog

Singgah di Rumah Tenun Kampung Sabu

Perjalanan LestariTravelog

Berkebun Karang bersama Nuansa Pulau

Travelog

Yogyakarta: dari Tebing Breksi, hingga Malioboro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Worth reading...
Merdeka Dimulai dari Sepetak Halaman