IntervalPesona Hutan

Hubungan Budaya dan Hutan

Saya salah satu orang yang sangat berminat untuk berpetualang ke alam bebas dan daerah yang masih berdekatan dengan hutan. Ada banyak hal yang bisa dipelajari di sana, mulai dari bagaimana alam berhubungan erat dengan budaya dan kehidupan kita hingga bagaimana alam menjadi tempat satu-satunya yang tepat untuk melarikan diri dari hiruk pikuk keriuhan kota.

Pulang dari perjalanan biasanya saya mendapat pelajaran baru, pelajaran yang tidak saya dapatkan di bangku sekolah. Kali ini, saya ingin menceritakan satu pelajaran tentang budaya warga lokal di Desa Air Tenam yang berhubungan erat dengan hutan yang masih terjaga dengan baik.

Kunjungan saya pada Maret 2020 lalu ke Desa Air Tenam di Bengkulu Selatan, sebelum pandemi COVID-19 membatasi ruang gerak untuk berpetualang lagi, saya belajar satu budaya sederhana yang bermakna dan mencerminkan sifat ‘merasa cukup’ dari warga lokal.

Berawal dari menyantap hidangan rendang rusa yang dimasak oleh ibu-ibu untuk menyambut kedatangan kami. Saya lalu bertanya kepada mbak Nur Qomariyah yang akrab dipanggil Qoqom, daging rusa ini didapatkan dari mana. Menurut penjelasan Mbak Qoqom, daging rusa ini khusus dihidangkan untuk kami yang dianggap tamu agung.

Proses pengambilan rusa ke hutan pun tidak sembarangan, jadi sebelum kami datang warga bermusyawarah untuk ke hutan dan berburu menggunakan tombak (secara tradisional). Berburu daging rusa di sini sangat jarang, mungkin hanya 1 ekor per tahun atau berdasarkan musyawarah dan saat tertentu saja, bahkan ada peraturan adat yang dibuat jika ada yang melanggar kesepakatan, besar denda pun ditetapkan secara bermusyawarah yang artinya saat ini tidak ada kisaran tepat karena denda akan disesuaikan dengan nilai tukar uang pada saat kejadian.

Menarik perhatianku hukum adat ini dibuat oleh warga atas kesadaran mereka terhadap kelestarian ekosistem hutan yang mereka jaga dengan ketat, bahkan hingga saat ini belum pernah ada kejadian yang melanggar hukum adat ini. Contohnya, untuk menyambut kedatangan kami mereka hanya berburu 1 ekor rusa yang beratnya sekitar 25-30 kg.

Aku bahkan sempat bertanya, kenapa tidak beberapa ekor agar semua warga bisa menikmatinya juga? Jawaban Bapak Nasiun yang dikenal dengan nama akrabnya Cik Nas membuatku terkejut dan merasa malu telah bertanya, “karena kalian tamu agung kami, jadi kami hanya mengambil 1 ekor rusa saja di dalam hutan, tidak perlu semua warga menikmati daging rusa ini, turut mencicipinya saja saat memasak sudah cukup bagi kami, yang penting kalian merasakan ketulusan kami dan ini juga salah satu budaya kami di sini.”

Menurut Mbak Qoqom, rendang rusa ini dimasak dengan bumbu rendang pada umumnya seperti cabai merah, bawang merah, bawang putih, jahe, lengkuas, serai, daun kunyit, daun jeruk, daun salam, garam, dan pala yang mayoritas ditanam sendiri oleh warga di kebun dan hutan tanaman rakyat mereka, namun yang sedikit berbeda adalah semua bumbu dihaluskan lalu dituangkan santan kelapa kental yang dimasak pada temperatur sedang, kemudian baru daging rusanya dimasukkan.

Daging rusa lebih lembut dari daging sapi namun sedikit lebih amis, oleh sebab itu cuma butuh waktu 1,5 jam hingga 2 jam saja untuk memasaknya agar daging menjadi empuk dan enak, namun perbanyak rempahnya agar amis daging tidak terasa. Benar saja, rasa rendang daging rusa kala itu membuatku dua kali nambah nasi dan bahkan minta lagi untuk lauk saat kami berkemah di malam harinya.

Santapan daging rusa ini membuat saya belajar satu hal yaitu budaya sangat erat hubungannya dengan hutan, jika kita menjaga hutan dan alam dengan baik, ada banyak sumber makanan dan protein di sana, akan tetapi kita juga harus bijak ketika mengambilnya, karena semua yang ada di hutan bisa menopang kebutuhan kita manusia namun kelestarian ekosistemnya juga perlu kita jaga.

Artinya kita hanya perlu ‘merasa cukup’ agar hutan dan alam kita tetap lestari, dengan lestarinya hutan dan alam kita, sumber makanan dan budaya kita juga akan tetap ada. Terbukti, untuk mengambil 1 ekor rusa warga lokal tidak perlu jauh masuk ke hutan karena hutan di sini masih sangat terjaga, banyak hewan yang berkeliaran dengan bebas tanpa takut akan diburu oleh manusia. 


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Sejak kecil hingga remaja hidup berdekatan dengan hutan. Bersemangat untuk berkontribusi menjaga lingkungan dan alam Indonesia.

Diyah Deviyanti

Sejak kecil hingga remaja hidup berdekatan dengan hutan. Bersemangat untuk berkontribusi menjaga lingkungan dan alam Indonesia.
Artikel Terkait
IntervalSampah Kita

Hal itu dimulai dengan Sebuah Kata, Haus

Interval

Asal Mula dan Potensi Padi di Bumi Pertiwi

Pesona HutanTravelog

Merengkuh Keelokan Nan Mistis De Djawatan

Pesona HutanTravelog

Bersih Gunung di Makutoromo, Arjuno

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *