ItinerarySampah Kita

Menjadi ‘Aesthetic’ Sambil Mengurangi Sampah Kita

Terhitung sejak 12 hari yang lalu aku bersama dengan temanku bepergian sebentar untuk mencari keperluan guna menunjang pekerjaan. Singkat cerita, karena ada meeting bersama klien kuputuskan menepi dan duduk sebentar di salah satu kedai kopi ternama. Aku sangat suka dengan suasananya, tercium aroma kopi dan terdengar alunan musik menenangkan; tidak terlalu keras dan memekakkan telinga. 

“Sudah lumayan lama juga gak duduk-duduk di sini ya,” gumamku.

Pasalnya, minum kopi-kopi seperti ini saat pandemi biasanya ku lakukan dengan layanan pesan antar melalui aplikasi ojek online. Senang bisa berkunjung kembali!

Aku kemudian memesan vanilla frappuccino sedangkan temanku memesan green tea matcha. Dua-duanya memakai whip cream dan juga ekstra caramel.

Ketika sedang asyik ngobrol tentang pekerjaan kami—yang mana aku masih sibuk mengelola Instagram dan rekanku membuat artwork untuk podcast milikku, namaku disebut oleh pramusaji. Lalu, datanglah dua cup minuman enak ini bersama dengan dua piring camilan yang juga sudah ku pesan.

Aku yang sudah tak sabar mencicipi  suguhan tadi terpaksa menahan diri karena ada panggilan masuk dari klien. Rekanku hanya tertawa sambil memberikan jempol pertanda semangat, ia lalu terlihat lahap menyeruput green tea matcha.

“Akhirnya bisa minum juga,” ucapku sembari menghela napas.

  • Paper Straw Starbucks
  • Paper straw Starbucks
  • Stainless Straw

Dan saat membuka sedotannya lalu tersenyum sendiri, “Eh kok unik banget?”

“Dari paper based kan, Gas? Sensasinya beda ya?” 

Aku mengangguk dan mulai meneguk. Rasanya enak, ada sensasi seperti tengah menggigit sebuah astor rasa vanilla. Sebuah terobosan dan langkah yang baik untuk bisa mengurangi sampah plastik meski jalan yang ditempuh dimulai dari hal sederhana: sedotan.

Bicara tentang sedotan, aku sebenarnya punya pengalaman agak memalukan. Aku kerap mengabadikan momen dalam bentuk foto, tak sedikit di antaranya makanan dan minuman kucoba. Dan komentar yang selalu kuingat dalam benak ialah: “Kak, gak mau coba pake stainless straw? Kakak kan public figure bisa jadi contoh lho buat audience Kakak yang lain.”

Deg! Lewat komentar itu aku jadi kepikiran terus. Akhirnya saat ini aku sudah termasuk pengguna stainless straw yang selalu kubawa pergi ke manapun. Apalagi di era pandemi seperti ini, rasanya jadi lebih tenang dan higienis kalau bawa peralatan makan dan minum sendiri dari rumah. Dan hal yang menjadi penting di sini ialah, meminimalisir produksi sampah kita.

“Enak gak vanilla-nya?” Suara temanku menyadarkanku dari lamunan dan suara meeting klien.

Terpecah antara informasi yang didapat juga bertabrakan dengan segala ideation atas banyak hal yang ingin segera kubuat. “Enak banget lah woi,” jawabku semangat.

Sehabis dari kedai kopi kami pergi ke lantai dua, menuju ke Gramedia. Ada sebuah notes dan buku juga pulpen yang ingin kubeli. Kebetulan stock di rumah juga sudah habis. 

Paper Bag Gramedia
Paper Bag Gramedia/Helobagas

Saat membayar di kasir ternyata mereka sudah tidak menyediakan plastik lagi, “Maaf ya Kak saat ini Gramedia tidak menyediakan kantong plastik—” ditambah sebuah informasi bahwa mereka menyediakan paper bag yang sangat aesthetic sebagai gantinya.

Paper bag ini kalau gak salah harganya berkisar antara Rp3 ribu. Memang jauh lebih mahal dibanding kantong plastik gratis bahkan jika pun harus masuk dalam struk belanja hanya dinilai Rp500-an saja.

Sederhana memang, tapi dampaknya besar.

Kebayang gak sih kalau ada banyak sekali konsumsi sampah [plastik] yang kita lakukan dalam jangka waktu sehari? Apalagi sebulan? Apalagi setahun? Lantas untuk menghancurkannya dan menguraikannya tidak pernah sesederhana yang kita kira, kan?

Oke baik cerita tentang kedai kopi dan toko buku berakhir di sini ya. Aku akan membawamu ke next case. Mungkin kamu juga sudah tahu kalau minimarket seperti Indomaret dan Alfamart yang mereka juga sudah tidak lagi menyediakan kantong plastik untuk pengunjung yang berbelanja.

Dari hal-hal yang tampak sederhana tersebut, aku kini mulai membiasakan diri untuk selalu membawa totebag—yang saat dulu kupakai dipanggil “Bocah indie” atau “Anak Senja”. Kalau ingat-ingat yang begitu memang membikin flashback jaman SMA.

Sambil membayar belanjaan juga beberapa titipan ibu, kasir memasukkan barang-barang belanjaan ke totebag milikku. Terlihat sangat aesthetic belanja ke minimarket dekat dengan rumah seperti ini.

Dan untuk panggilan tadi “Bocah Indie” atau “Anak Senja” itu, aku sama sekali tidak tersinggung kok. Justru aku senang banget kalau mereka—teman-temanku sudah mengenalku sedalam itu. Lagipula playlist Spotify tidak jauh dari musik indie kok.

Sebelum tulisan ini berakhir, aku ingin berterima kasih untuk teman-teman pembaca yang bahkan sudah melakukan hal-hal yang kusebutkan di atas lebih dulu dibanding aku. Terima kasih ya sudah sayang dan turut menjaga rumah kita bersama—bumi. Sampah kita, tentu saja konsekuensi dan tanggung jawab kita juga. Selamat mencoba! Jikalau belum, hal-hal aesthetic juga bermanfaat buat bumi.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Melancholic Person who writes deep feelings & intimacy. I talk about love & life in my podcast ‘Kita & Waktu’ only on Spotify. Instagram; helobagas.

Melancholic Person who writes deep feelings & intimacy. I talk about love & life in my podcast ‘Kita & Waktu’ only on Spotify. Instagram; helobagas.
    Artikel Terkait
    Itinerary

    Desa Muncar dan Kopi Temanggung

    Itinerary

    Memahami Lebih Dalam tentang Permakultur

    Itinerary

    5 Destinasi Budaya 'Memorable' ala Jovita Ayu

    ItineraryPilihan Editor

    Rumapala dan Cerita Memberdayakan Pala Banda

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Worth reading...
    Belajar Ramah Lingkungan dari Desa Wisata Sidoakur