ITINERARY

Gupakan Menjangan, Tempat “Camping” yang Harus Disinggahi di Gunung Lawu via Candi Cetho

Gunung Lawu yang terletak di perbatasan Karanganyar (Jawa Tengah) dan Magetan (Jawa Timur) punya beberapa jalur pendakian resmi untuk umum. Di wilayah Magetan, ada jalur Singolangu dan Cemoro Sewu. Sementara di wilayah Karanganyar terdapat jalur Cemoro Kandang, Tambak, dan Candi Cetho.

Dari sekian pilihan jalur, Candi Cetho menempati daftar teratas. Meski jarak lebih panjang daripada dua jalur klasik (Cemoro Sewu dan Cemoro Kandang), tetapi variasi jalur, vegetasi, dan pemandangannya membuat jalur di sisi barat Lawu ini memiliki nilai lebih. Jalur Cetho memiliki kawasan sabana yang menarik untuk dieksplorasi. Dari dua pilihan tempat camp di antara sabana, Bulak Peperangan dan Gupakan Menjangan, saya pribadi cenderung memilih mendirikan tenda di Gupakan Menjangan.

Jika melihat di peta, Gupakan Menjangan berada tepat di garis batas wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kalau harus menyebut “kekurangan” dari pos ini, tak lain tidak adanya sumber air dan potensi dilalui angin kencang. Namun, itu bisa diantisipasi dengan membawa persediaan air cukup dari Pos 3 dan membawa tenda dengan spesifikasi mumpuni yang bisa menghalau angin atau badai. 

Seperti namanya, gupakan dalam bahasa Jawa bisa berarti tumpukan, gundukan, kubangan, atau jejak; sedangkan menjangan berarti kijang atau rusa. Tak jauh dari tempat camp memang ada telaga atau kubangan alami, tetapi hanya terisi saat puncak musim hujan, yang juga jadi sumber minuman untuk satwa endemik seperti menjangan (Muntiacus muntjak).

Gupakan Menjangan, Tempat “Camping” yang Harus Disinggahi di Gunung Lawu via Candi Cetho
Telaga atau kubangan di Gupakan Menjangan yang akan terisi air saat puncak musim hujan/Rifqy Faiza Rahman

Pendakian ke Gupakan Menjangan

Karena jalur Cetho cukup panjang, dibutuhkan perencanaan yang matang, fisik prima, dan manajemen logistik yang memadai agar pendakian Gunung Lawu aman dan nyaman. Jika saya boleh menyarankan, rencanakan program pendakian tiga hari dua malam di jalur ini. Program ini dirancang agar fisik tidak terlalu terforsir (ngoyo), tidak terburu-buru, dan membuka peluang eksplorasi kawasan gunung lebih besar.

Jika memungkinkan, start sepagi mungkin setelah sarapan di base camp Cetho—waktu ideal sekitar pukul 09.00–10.00 WIB. Saya bisa merekomendasikan base camp Exotisme Lawu (OAOE Adventure) yang dikelola oleh Mas Danang sebagai tempat memarkir kendaran, istirahat, dan mengatur persiapan sebelum mendaki. Letaknya persis sebelum gerbang wisata Candi Cetho, dengan ketinggian mencapai 1.384 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Base camp Exotisme Lawu memiliki tempat parkir yang luas, kamar mandi dengan fasilitas air panas, dan tempat istirahat yang cukup nyaman. Mas Danang juga menyediakan jasa transportasi antar-jemput dari Solo Raya menuju base camp, jasa pemandu dan porter, dan persewaan alat pendakian. 

Setelah registrasi di pos perizinan, pendaki menyusuri trek pendakian melewati Candi Kethek (1.444 mdpl), Pos 1 Mbah Branti (1.679 mdpl), Pos 2 Brakseng (1.914 mdpl), hingga sampai di Pos 3 Cemoro Dowo (2.194 mdpl), tempat berkemah (camp) di hari pertama. Jarak ke Pos 3 sekitar 2,5–3 kilometer, dengan waktu tempuh 4–4,5 jam. Di Pos 3 Cemoro Dowo inilah satu-satunya sumber air yang stabil sepanjang tahun. Pendaki biasa mengisi ulang persediaan air di pos ini untuk bekal camp di Bulakan Peperangan atau Gupakan Menjangan. Terdapat pula fasilitas musala dan warung sederhana milik warga.

Gupakan Menjangan, Tempat “Camping” yang Harus Disinggahi di Gunung Lawu via Candi Cetho
Kompleks sabana sebelum Gupakan Menjangan/Rifqy Faiza Rahman

Dari Pos 3 Cemoro Dowo, jalur pendakian hari kedua akan konstan menanjak dan cukup terjal. Beban bertambah karena membawa air lebih banyak daripada sebelumnya. Masih ada satu pos atau shelter lagi di Pos 4 Penggik (2.547 mdpl) sebelum memasuki kawasan sabana Bulak Peperangan (2.843 mdpl) dan Gupakan Menjangan (2.936 mdpl). Tanaman edelweis juga mulai terlihat selepas Pos 4. Jarak dari Pos 3 ke Gupakan Menjangan sekitar 3 kilometer dengan waktu tempuh 4–4,5 jam perjalanan. Disarankan untuk berangkat dari Pos 3 Cemoro Dowo sebelum pukul 10.00 WIB, agar tiba di Gupakan Menjangan masih terang dan tidak terlalu sore.

Jika beruntung, pendaki akan melihat satwa-satwa endemik seperti alap-alap atau elang jawa dan menjangan yang melintasi hutan atau sabana Lawu. Kadang-kadang burung anis gunung yang biasa jalan-jalan di permukaan tanah sekitar tenda juga mudah dijumpai.

Area camp untuk mendirikan tenda di Gupakan Menjangan cukup luas. Relatif terlindung di antara pohon-pohon cemara gunung dengan “pagar alam” berupa tanaman-tanaman perdu. Jika memungkinkan, perlu membawa flysheet tambahan berukuran 3–4 meter agar melindungi tenda dari embusan angin Gunung Lawu, yang saat waktu-waktu tertentu terkenal kencang dan menusuk kulit.

Gupakan Menjangan, Tempat “Camping” yang Harus Disinggahi di Gunung Lawu via Candi Cetho
Salah satu sudut berkemah di Gupakan Menjangan/Rifqy Faiza Rahman

Sudut-sudut eksplorasi di sekitar Gupakan Menjangan

Di jalur Cetho, pendaki tidak “wajib” ke puncak. Sebab, cukup banyak kegiatan yang bisa dilakukan di Gupakan Menjangan daripada menghabiskan energi menuju puncak Hargo Dumilah (3.265 mdpl). Apalagi jika waktu pendakian hanya dua hari satu malam.

Dalam program pendakian tiga hari dua malam, pendaki akan tiba di Gupakan Menjangan saat siang atau sore di hari kedua, setelah menempuh perjalanan dari Pos 3 Cemoro Dowo. Bagi pendaki yang pernah mendaki Gunung Argopuro, Gupakan Menjangan mengingatkan bentang alam serupa di gunung dengan pendakian terpanjang di Pulau Jawa itu. Misalnya di Sabana Kecil (Alun-alun Kecil), Sabana Besar (Alun-alun Besar), Cikasur, dan Sabana Lonceng. Bedanya, di Lawu tidak ada burung merak.

Ada banyak sudut sabana Gupakan Menjangan yang bisa dieksplorasi. Terutama bagi pendaki yang menyukai fotografi. Memotret lanskap alam Gunung Lawu di jalur Cetho ini bisa menghasilkan foto maupun video yang menghiasi wallpaper laptop atau gawai. 

Jika ingin pengalaman lengkap, cobalah mendaki di hari-hari saat bulan memasuki fase new moon atau belum sepenuhnya terbentuk. Di musim kemarau, antara Mei–September, langit malam yang cerah akan bertaburan gemintang di sekitar lintasan milky way, galaksi spiral raksasa yang biasa disebut galaksi Bimasakti. Di dalamnya termuat kompleksnya ekosistem tata surya dan akan terlihat sangat mengagumkan jika terekam dengan lensa kamera yang mumpuni.

Pemandangan langit penuh bintang saat malam di Gupakan Menjangan (kiri) dan melihat matahari terbit dari pertengahan jalur di antara Gupakan Menjangan-Pasar Dieng/Rifqy Faiza Rahman

Lalu di waktu fajar hari ketiga, pendaki bisa sedikit berjalan ke arah puncak untuk bisa melihat pemandangan matahari terbit (sunrise). Pendar hangat cahaya pagi mengubah warna gunung menjadi kuning keemasan. Untuk pemandangan lebih leluasa, pendaki bisa berjalan santai kurang lebih satu jam ke Pasar Dieng (3.095 mdpl). Sebuah area terbuka dengan vegetasi cantigi tumbuh dominan. Dari sudut ini, bila cuaca cerah, akan terlihat deretan gunung di Jawa Timur: Pegunungan Wilis, Gunung Arjuno-Welirang, Gunung Kawi, dan Gunung Buthak.

Keunikan Gupakan Menjangan dan panorama yang tersaji mengundang banyak pendaki melintasi jalur Cetho. Pengalaman yang patut dicoba untuk mengisi portofolio hidup. Saat mendaki gunung ini, pastikan tetap menghormati adat setempat serta menjaga kebersihan jalur dan area camp.

Jadi, kapan mau camping Gupakan Menjangan?


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Rifqy Faiza Rahman

Seorang penulis perjalanan, pemerhati ekowisata, dan Content Strategist di TelusuRI. Penikmat kopi. Gemar mendaki gunung demi gemintang, matahari terbit dan tenggelam.

Rifqy Faiza Rahman

Seorang penulis perjalanan, pemerhati ekowisata, dan Content Strategist di TelusuRI. Penikmat kopi. Gemar mendaki gunung demi gemintang, matahari terbit dan tenggelam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Inilah “Seven Summits” Jawa Tengah yang Harus Kamu Daki