Rabu, 27 Agustus 2025. Ini hari ketujuh kami liputan ekspedisi Arah Singgah di Sanggase. Kampung paling timur di Distrik Okaba, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, yang dihuni oleh 99% suku asli Malind Imo. Hari itu kami berencana pergi ke SD YPKK Sanggase, untuk meliput kegiatan belajar anak-anak sekolah kelas 4–6, sekaligus menggelar lokakarya menggambar dan memotret. Agenda ini cukup mendadak, karena bertukar jadwal dengan kegiatan upacara pelepasan tanah adat salah satu marga Ndiwaen dan tari Gatzi yang mundur keesokan harinya, Kamis (28/8/2025).
Seperti hari-hari biasa sejak kami tiba di kampung, pagi itu kami sudah bersiap di depan rumah singgah, lengkap dengan set kamera lengkap, alat rekam, dan peralatan menggambar untuk anak-anak. Rumah ini aset milik pemerintah kampung yang jadi base camp kami selama liputan. Dulunya sempat jadi pos pantau aparat keamanan dari Distrik Okaba.
Sekonyong-konyong deru mesin motor mendekat dan parkir di depan rumah. Agustinus Matiwen alias Agus, motoris perahu yang di hari pertama menjemput kami di Kali Bian menuju Kali Sanggal, Sanggase, datang lengkap dengan pakaian dinas khaki resmi. Selain menjadi motoris, Agus juga bekerja sebagai aparat kampung. Kami yang cukup hafal dengan hal-hal yang bersifat mendadak selama di kampung, bersiap-siap dengan segala kemungkinan yang terjadi.


Titah Bapak Kampung
“Kakak, ini minta maaf dulu sebelumnya. Ini ada berita duka, ada satu mama orang Sanggase meninggal di Kampung Alaku. Adakah di antara mas-masnya ini yang bisa jemput jenazah ke Alaku sekarang? Bapak Kampung minta tolong, karena tidak ada yang bisa bawa motora (motor roda tiga niaga),” kata Agus.
Deta, yang masih duduk mengikat tali sepatu, balik bertanya, “Loh, Kakak Philip ke mana?” Philip itu sapaan dari Philippus Mahuze, satu-satunya orang di kampung yang bisa bawa motora. Kepala Kampung Sanggase Yohanes Kilay (kerap disebut Bapak Kampung), biasa memanggilnya Madi, yang kata orang-orang julukan saat mabuk.
“Madi dan Lazarus dari tadi sudah pergi belanja ke distrik, disuruh Bapak Kampung juga. Belum tahu pasti kapan mereka akan balik,” sahut Agus. Maksud Agus, salah satu dari kami diminta bawa motora dulu ke Alaku, kalau misal berpapasan dengan Philip di tengah perjalanan tinggal oper kemudi saja.
Tanpa basa-basi, Deta bangkit dari duduknya, seketika menceletuk sambil menelunjuk ke arah belakang, “Rifqy saja!”
Saya, yang masih berdiri di ambang pintu, terkejut. Namun, pada titik itu juga, saya menyadari dua hal. Pertama, Deta sangat dibutuhkan Mauren, ketua tim ekspedisi, untuk mengerjakan dokumentasi liputan. Kedua, saya tidak mungkin menolak permintaan Bapak Kampung, yang sudah sangat baik menjaga kami selama di Sanggase.
Saya kemudian menyerahkan satu tas berisi kamera cadangan ke Mauren. Saya hanya berbekal tas ransel lipat berisi minuman dan sebuah tas selempang berisi dompet dan handphone. Saya bergegas membonceng Agus ke rumah Bapak Kampung yang terletak satu kompleks dengan SD, sementara Deta dan Mauren berjalan kaki.


Di halaman sekolah, motora itu terparkir miring, moncongnya mengarah ke gerbang sekolah. Saya menemui Bapak Kampung untuk mengambil kunci motora. Dari keterangan Bapak Kampung, katanya sudah ada tiga orang yang mencoba mengoperasikan motora ini, tetapi berujung pada kegagalan karena belum terbiasa.
Agus masih membawa pola pikir motor roda dua, sehingga takut jatuh saat bermanuver di belokan atau tikungan dan turunan tajam. Ramsis, staf EcoNusa Merauke yang mendampingi kami, bahkan tidak sanggup membawa motora lebih jauh meski sempat melaju. Jefri Ndiwaen, pengurus kampung yang juga petani kopra, malah nyaris menabrakkan motora ke pagar sekolah.
“Ah, sudahlah, saya akhirnya bilang ke Agus, ‘minta tolong sama mas-mas Jawa sana!” seru Bapak Kampung. Mas-mas Jawa itu kami, Rifqy dan Deta.
Beruntung, kami pernah punya pengalaman mengendarai sepeda motor kopling. Hanya sedikit berbeda di sistem transmisinya saja. Di awal diminta membawa motora untuk operasional liputan ketika Philip berhalangan, kami berdua tetap butuh penyesuaian. Namun, akhirnya lama-lama terbiasa.
Saya pun berangkat. Ditemani beberapa orang yang akan memandu jalan ke Alaku. Saya sudah tahu arah ke Alaku, karena beberapa hari sebelumnya kami pernah belanja logistik ke Distrik Okaba, naik pikap bareng Philip dan Lazarus. Namun, saya belum tahu lokasi persis rumah dukanya. Siprianus Heri Gebze, pemuka adat Malind Imo, ikut mengiringi dengan motor bebek hijaunya. Mungkin untuk memastikan si mas-mas Jawa ini berangkat dan pulang dengan selamat.


Duka bergelimang duli
Jarak dari Sanggase ke Alaku sebenarnya relatif dekat, sekitar 7,5–8 kilometer. Hanya melewati satu kampung bernama Alatep, tetapi kondisi jalannya lebih buruk daripada Sanggase. Meski dominan tanah, tapi jalan di Sanggase sudah mengalami pengerasan dan relatif rata. Di Alatep, siap-siap saja terguncang sekujur badan.
Saya akui, ada sedikit rasa gugup membawa motora. Di bawah terik matahari Merauke yang menyengat, saya harus ekstra fokus dan hati-hati begitu menghadapi lubang menganga di tengah jalan. Stang kemudi motor roda tiga seperti ini cukup berat, sehingga harus dijaga keseimbangannya agar tidak terguling. Kanan-kiri jalan adalah parit dalam. Ah, saya tidak berani membayangkan kalau-kalau motora ini akan terjungkal bersama dengan jenazah yang diangkut di bak belakang nanti.
Jalan rusak dan memprihatinkan seperti ini menyulitkan mobilitas warga, terutama untuk urusan kesehatan. Saya tak sempat memotret jalan. Pikiran saya hanya agar segera tiba di Alaku dan jenazah bisa lekas dibawa pulang. Saya terngiang dengan cerita Bapak Kampung sebelum berangkat tadi. Katanya, sang mama meninggal dalam perjalanan menuju puskesmas di Distrik Okaba.
“Dia itu sebenarnya baru saja melahirkan. Tapi belum pulih total sudah diajak suaminya kerja keras di kebun. Akibatnya, jatuh sakit dan meninggal sebelum sempat berobat,” tutur Bapak Kampung. Ia juga menyesalkan sang suami yang tidak gerak cepat untuk melaporkan gejala penyakit sang istri ke dirinya pascapersalinan agar bisa dibantu akomodasi maupun transportasi kampung ke distrik. “Di Sanggase ada puskesmas pembantu (pustu), tapi sering kosong karena bidannya tidak kuat tinggal di kampung, sehingga memilih pulang ke Toraja,” ucapnya kesal.
Akses ini juga satu-satunya jalan bagi anak-anak Sanggase usia SMP-SMA yang bersekolah di Okaba. Sebab, di Sanggase hanya ada SD. Sebelum ada mobil pikap atau motora yang baru beroperasi kurang dari dua tahun ini, anak-anak harus berjalan kaki sejak subuh hingga tiba di sekolah sebelum masuk kelas pukul 8 pagi. Saat pulang, tantangan lebih berat karena lebih panas. Sesekali mereka akan istirahat di pinggir jalan, memetik buah kelapa, diteguk airnya untuk melepas dahaga.
Sebelum Alaku, ada sedikit ruas jalan yang beraspal mengarah ke pusat pemerintahan Kampung Alaku dan menuju Distrik Okaba lewat bagian atas. Namun, tujuan kami bukan ke sana, melainkan ke sisi Alaku yang seperti berada di antah-berantah. Jalan berpasir ini merupakan jalur tembus tercepat ke distrik dan akan bersisian dengan landasan pesawat Bandara Okaba. Dalam sepekan, hanya ada tiga kali jadwal penerbangan perintis Susi Air untuk rute Merauke–Okaba.


Setelah kurang lebih setengah jam berkendara, kami tiba di Alaku. Saat malam, tidak ada penerangan sama sekali di kampung ini karena belum teraliri listrik. Hanya ada obor, lilin, atau api unggun di pekarangan yang jadi pusat berkumpul keluarga. Saat itu masih momen kemerdekaan 17 Agustus. Berbeda dengan Sanggase yang meriah, semarak, dan penuh pernak-pernik Merah Putih, halaman-halaman rumah warga Alaku hanya berhias Sang Saka yang berkibar kencang ditopang tongkat bambu menjulang. Selain nyala api, mungkin hanya hanya warna putih yang terlihat terang kala malam berlalu di Alaku.
Kampung ini bagai tumbuh di atas padang pasir. Permukaan tanahnya tertutup pasir-pasir lembut berwarna khaki, seperti pasir gurun. Meski tengah hari begitu terik, tetapi angin selatan dari arah pantai cukup kencang berembus. Menerbangkan partikel-partikel halus ke udara, menebar duli ke tungkai-tungkai dan plantar-plantar yang pucat tanpa alas kaki, hingga wajah yang beraut duka siang itu.
Di depan sebuah rumah, tempat sang mama meninggal mendadak saat diantar suaminya menuju Okaba, kerumunan keluarga, kerabat, dan tetangga memenuhi beranda. Obrolan-obrolan terlontar dalam bahasa lokal yang tidak sekalipun saya pahami. Seorang pria dengan cambang agak lebat dan bertopi hitam, meminta saya memutar arah, agar roda depan dan moncong motora menghadap jalan ke arah Sanggase kembali. Nyaris semua pasang mata melihat saya “beratraksi”, dan syukurlah saya cukup lincah untuk memenuhi permintaannya.
Baru juga mengunci motor di posisi netral dan menarik tuas hand rem, pria bertopi tadi mendekati saya dan berkata, “Masnya masih kuat bawa motora balik ke Sanggase? Kalau capek, tidak apa-apa, biar saya saja yang bawa dulu ke rumah duka. Nanti dari situ, baru Mas bawa pulang ke rumah Bapak Kampung.”
Jujur, ia seperti membaca pikiran saya. Bukan karena gugup membawa jenazah yang saya rasakan, melainkan membayangkan jalan rusak Alaku–Alatep. Meski sebenarnya tidak terlalu jauh, nyatanya sanggup merontokkan keringat sebesar biji jagung dan kekuatan otot lengan saya tidak sebanding dengan ketahanan fisik masyarakat setempat.
Saya memutuskan menerima tawarannya dengan senang hati. Sebab, di antara puluhan orang yang berkumpul siang itu, hanya kami berdua yang bisa mengemudi motora. Lebih baik saya menjaga kondisi karena masih harus membawa pulang aset kampung ini kembali ke garasi dengan selamat. “Sebenarnya tangan saya sudah cukup pegal. Kalau boleh, saya minta tolong Kakak bawa dulu ke rumah duka, baru setelah itu saya bawa balik ke Bapak Kampung,” jawab saya. Ia mengangguk, menepuk pundak kanan saya. “Oke, sudah, begitu saja.” Istrinya, yang tampaknya keturunan Toraja atau Manado, membonceng kerabat dengan menaiki motor sport milik si pace.
Jenazah yang sedang dibaringkan di beranda rumah itu sudah ditutup sarung. Beberapa pria kemudian menggotong jenazah sang mama ke bak belakang. Pintu bak terpaksa tidak tertutup sempurna, karena kedua kaki mama itu agak menggantung.
Sang suami yang sudah berusia lanjut, hanya memakai topi, celana pendek selutut, dan memanggul noken, tidak sanggup membantu membopong jasad istrinya. Ia hanya bisa tersedu-sedu, sesekali mengusap air mata, lalu memasang beberapa daun anggin—atau daun puring, tanaman yang sangat keramat bagi masyarakat adat Malind di Merauke—ke beberapa bagian motor. Paling banyak di setiap sisi pipa logam pada batang kemudi. Sirih pinang masih ia kunyah, mungkin bentuk penghiburan diri dan ketegaran menghadapi kedukaan yang amat mendadak ini.


“Ini tidak mengganggu [saat menyetir], toh?” katanya memastikan.
Saya menjawab, “Tidak, Bapak. Aman.”
“Terima kasih, Anak.”
Selain di batang kemudi, ia dibantu sejumlah kerabat menempatkan daun anggin ke sela-sela triple clamp yang melekat pada speedometer, hingga sudut-sudut bak belakang. Si bapak lekas naik ke bak sembari memegang sebatang daun anggin. Saya menyusulnya, turut mengapit bagian kaki jenazah yang terlihat menyembul karena ukuran sarung yang pendek.
Sepanjang perjalanan kembali ke Sanggase, saya berkali-kali merapikan lembaran sarung yang menutupi kaki jenazah. Tak terhitung pula saya menatap si bapak, yang berulang mengusap air mata yang nyaris jatuh. Saya berusaha menghibur dengan menepuk-nepuk lengannya, memohon kepada Tuhan agar ia diberikan ketabahan. Saya sampai tidak tega menanyakan nama mendiang istrinya, pun dirinya.
Kami tidak sendiri. Kelompok pemuda yang menemani saya saat berangkat, kembali naik dan duduk berdesakan di dinding-dinding bak motora, sembari menggenggam berikat-ikat daun anggin. Selama perjalanan, mereka mengibas-ibaskan daun, memberitahu kepada semua pengguna jalan dan warga kampung yang dilintasi bahwa sedang ada iring-iringan jenazah.
Ternyata, kesakralan tanaman anggin tidak hanya berlaku pada upacara-upacara adat nonkematian saja, tetapi juga untuk kabar duka seperti ini. Saya mencoba menghirup aroma yang mungkin saja keluar dari setiap helainya. Seketika saya merinding. Sekalipun tercium harum puring yang khas, senyawa volatil yang menguar seolah-olah mampu menyesuaikan diri, tergantung situasi yang “dihadapi” sang kroton. Kali ini, ia membawa aroma kematian.


Tersenyumlah, Codiaeum variegatum…
Kurang dari setengah jam, pace bertopi hitam itu berhasil mendaratkan motora dengan selamat di rumah duka. Letaknya agak menjorok lebih rendah dari jalan, tidak jauh dari gapura perbatasan kampung Sanggase–Alatep. Di sana, tangisan-tangisan begitu histeris dan menggeru lebih kencang. Terutama para mama, baik itu keluarga maupun tetangga. Mereka menepuk-nepuk, memeluk jasad yang terbujur kaku dan terbakar matahari itu.
Tak lama, jenazah sang mama diturunkan dan dimasukkan ke ruang tamu. Dari luar rumah, ratapan kerabat masih terdengar lantang, menggetarkan dinding-dinding rumah sederhana berlantai plester semen itu. Saya tidak tahu proses selanjutnya seperti apa. Kabarnya, akan ada upacara duka yang berlangsung berhari-hari.
Saya tidak ikut masuk rumah. Saya lekas menutup pintu bak belakang dan bersiap pergi. Bapak Heri, ketua adat kampung, sempat menahan saya sejenak untuk menyampaikan terima kasih, diikuti suami mendiang dan beberapa orang lainnya. Saya menerima banyak ucapan terima kasih, yang entah apakah itu pantas untuk saya. Saya juga menyalami pace bertopi hitam itu, yang juga berjasa meringankan beban saya dari Alaku ke Sanggase. Tugas pokok saya selesai di sini.
“Bapak, Mama, Kakak-kakak semua, saya izin pamit dulu kembali ke Bapak Kampung. Salam,” ucap saya, yang disambut ujaran sejumlah warga agar saya berhati-hati.
Saya membawa motora kembali ke rumah Bapak Kampung dengan perasaan masygul. Saya masih tidak menyangka situasi seperti ini akan terjadi dan menjadi bagian memori hidup saya.
Banyak tanda tanya berkecamuk di salah satu relung pikiran yang kosong. Sepedih inikah merasakan kehilangan orang yang dicintai? Di suatu tempat yang jauh dari sorotan petugas kesehatan atau pemerintah daerah? Berita duka rakyat kecil ini tidak akan tampil di halaman-halaman koran, majalah, atau berita-berita di internet. Kepergian sang mama hanya akan menjadi tambahan angka statistik dalam catatan kematian daerah.
Pada akhirnya kami sebagai tim ekspedisi sangat memahami sudut pandang dan beban Yohanes Kilay sebagai kepala kampung. Anggaran dana kampung begitu tipis dan harus dibagi-bagi sesuai prioritas—pendidikan, kesehatan, dan operasional kampung—itu pun pencairannya tidak selalu tertib dan harus diambil secara manual di Pemkab Merauke. Bayangkan miliaran rupiah dalam lembaran-lembaran uang harus dibawa berjam-jam dari Kota Merauke melintasi jalan rusak, rawa, dan lautan yang berombak, diamankan sekuat tenaga demi kelangsungan dan kesejahteraan hidup masyarakat Kampung Sanggase.
Semoga senyawa kimia dari daun anggin (puring) yang selain berkhasiat untuk menyembuhkan aneka penyakit pada manusia, juga menyimpan tanggung jawab lain untuk menghilangkan rasa sakit dan duka pada mereka, suami sang mendiang dan keluarga yang ditinggalkan. Tersenyumlah, Codiaeum variegatum, hapuslah kesedihan yang larut, hiburlah hati yang kalut.
Selamat jalan, Mama. Damailah di dalam perut bumi Anim-Ha, tempatmu kembali menghadap Tuhan dan leluhur yang melahirkanmu.
Foto sampul: Naik mobil pikap milik Pemerintah Kampung Sanggase, melintasi jalan berpasir Kampung Alaku menuju pusat Distrik Okaba untuk belanja logistik (Rifqy Faiza Rahman)
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Seorang penulis perjalanan, pemerhati ekowisata, dan Content Strategist di TelusuRI. Penikmat kopi. Gemar mendaki gunung demi gemintang, matahari terbit dan tenggelam.


