Travelog

Di Manyaifun, Membuat Kelompok Tani

Saat memasuki perairan Pulau Manyaifun, Kecamatan Waigeo Barat Kepulauan, Kabupaten Raja Ampat, tim cukup takjub dengan lautnya yang setenang danau. Maklum saja, sepanjang perjalanan awak Tim Ekspedisi Raja Ampat kerap melewati perairan berombak yang membuat beberapa di antara mereka mabuk laut. 

Perairan Pulau Manyaifun tenang berkat ditutupi oleh Pulau Batang Pele. Hanya ada dua jalur masuk Manyaifun, yaitu dari Selpele dan Meosmanggara. Karena masih musim selatan, laut cukup teduh. Di pinggir pantai, bakau atau mange-mange berjejeran di antara homestay.

Menurut Laura Resti dari Pengembangan Usaha Perjampat (Perkumpulan Penggerak Usaha dan Penghidupan Masyarakat Asli Raja Ampat), wisatawan memilih Manyaifun karena jaraknya yang paling dekat dari Wayag, pulau-pulau karang ikon Raja Ampat yang mendunia. Dari Manyaifun, dalam waktu tiga jam kita sudah bisa mencapai Wayag.

Selain penyangga pariwisata, Manyaifun juga dikenal sebagai daerah asal tikar senat yang melegenda. Senat adalah tikar tradisional Raja Ampat yang ada di hampir setiap rumah. Fungsinya bermacam-macam, mulai dari untuk tidur, makan bersama, hingga untuk alas lantai saat bercengkrama. Bahannya dari kulit bagian luar pohon sagu yang memang banyak terdapat di sana.

Kelompok Tani Manyaifun

Kelompok Tani Manyaifun/Istimewa

Sabtu pagi itu, 19 September 2020, cuaca cerah dan suara ombak menemani masyarakat Kampung Manyaifun berkumpul dekat pohon beringin laut. Sebagian di antara mereka sudah duduk manis di atas tikar senat, di bangunan semi permanen PAUDNI Immanuel Manyaifun.

Hosea Mambraku, lelaki Manyaifun berumur 26 tahun, tampak memperhatikan betul acara itu. Walau tak berada di dalam, dia masih bisa mendengarkan penjelasan Desi Wanma dan Utreks Hembring, para penyuluh pertanian dari Tim Ekspedisi. Meskipun berprofesi sebagai nelayan, ia tertarik juga mengolah tanah. Sebidang tanah di Pulau Batang Pele sudah ia gunakan untuk berkebun. Menurutnya, masyarakat kampung ini sudah tergerak secara mandiri dalam hal mengurus perut. Biasanya, hasil mancing ikan di laut mereka jual ke Waisai, sementara hasil berkebun dikonsumsi sendiri.

Kegiatan penyuluhan itu diharapkan dapat menambah wawasan, informasi, serta modal masyarakat Kampung Manyaifun untuk memenuhi kebutuhan pokok atau nutrisi substansial seperti karbohidrat, mineral, protein, vitamin, dan sebagainya. Materi yang dibawakan Desi dan Utreks antara lain teknik budidaya tanaman pangan, manfaat pupuk organik, dan pertanian vertikultur. Secara sederhana, mereka menjelaskan teknik-teknik dasar budidaya pertanian, mulai dari soal pembibitan, panen, sampai pascapanen. Desi Wanma berharap penyuluhan ini bisa membantu masyarakat menerapkan sistem demplot untuk memenuhi pangan lokal di Kampung Manyaifun.Kelompok Tani Manyaifun

Dalam kesempatan itu, Tim juga memberikan dukungan berupa pupuk organik, beragam benih sayuran, alat pertanian—cangkul, sprayer, gunting tanaman, sepatu bot, caping/topi petani, polybag, dan gerobak sorong.

Karena jumlah alat pertanian yang dibagikan terbatas, Matheos Yacobus Rayar selaku Field Associate EcoNusa memberikan ide untuk membuat kelompok tani. Responnya cukup beragam. Maklum saja, biasanya warga Manyaifun menggarap semuanya sendiri-sendiri. Melaut, berkebun, hingga membuat tikar senat, semua dilakukan tanpa sistem kelompok. 

Hosea sendiri mengaku belum bisa membayangkan akan seperti apa nanti bentuknya. Tapi, menurutnya, ide itu perlu dicoba karena peralatan pertanian dan bibit yang diberikan dapat dikelola secara bersama-sama.Kelompok Tani Manyaifun

“Gerobak bisa baku ganti pake dengan yang lain,” katanya.

Setelah berdialog dengan pemerintah kampung, disepakati untuk membagi 43 warga yang datang ke penyuluhan ke dalam 10 kelompok tani. Suasana menjadi riuh seperti pasar. Semua bernegosiasi mencari anggota kelompok dan menentukan siapa yang menjadi pemimpin. 

Hari itu, peralatan pertanian yang diberikan oleh Tim Ekspedisi membuka kesempatan mereka untuk mencoba hal baru, yakni mengelola aset secara berkelompok. Kira-kira, akan seperti apa hasilnya nanti ya? 


Pada September 2020, M. Syukron dari TelusuRI mengunjungi beberapa lokasi di Raja Ampat untuk melihat langsung dampak pandemi COVID-19 di wilayah tersebut dalam ekspedisi bersama EcoNusa. Tulisan ini merupakan bagian dari seri catatan perjalanan itu. Nantikan terus kelanjutannya di TelusuRI.id.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Avatar

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
NusantarasaTravelog

Kisah Kopi Hitam di Warung Tadasih

Travelog

Monumen Kresek dan Kisahnya

Travelog

Anjing-anjing yang Memandu Kami di Gua Maria Bukit Kanada

Travelog

Menengok Gugusan Karang di Pantai Watu Leter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *