Travelog

Pertahanan Amfibi di Sarawandori, Kepulauan Yapen

Untuk memasuki Sarawandori, Distrik Kosiwo, Kepulauan Yapen, kami memasuki jalan pinggiran gunung karang yang sengaja dipangkas sebagai akses keluar-masuk. Samping kanan tebing karang, sebelah kiri jurang. Di jalan berkelok menurun, tampak jelas teluk tenang dengan laut warna biru pirus dan rumah-rumah kayu yang berdiri di tepiannya. 

Dahulu, sebelum ada jalan ini, warga ke pasar naik perahu. Sekarang, cukup dengan uang Rp10.000, warga sudah bisa sudah duduk manis di angkutan trans desa yang akan membawa mereka ke kota.

Sarawandori, Raja Ampat

Kampung Sarawandori, Raja Ampat/Istimewa

Menengok potensi alam di Kampung Sarawandori

Posisi permukiman ini menguntungkan saat musim barat. Semasa angin kencang, ikan-ikan akan berkumpul di teluk sehingga nelayan mudah dapat tangkapan. Kampung ini juga punya rumput laut yang bibitnya berasal dari tempat yang jauh, yakni Takalar, Sulawesi Selatan. Oleh warga Sarawandori, bibit-bibit rumput laut itu dibudidayakan dan diolah sampai menjadi mi, camilan stik, hingga bakso rumput laut, meskipun saat ini rumput laut tidak lagi menghasilkan keuntungan yang tetap. Pemasaran memang masih menjadi kendala utama. Tapi, selain hasil laut dan budidaya rumput laut, Sarawandori juga punya sumber pemasukan lain, yakni tujuan wisata tenar, Teluk Karopai. 

Dahulu, masyarakat suku Onate penghuni Sarawandori bermukim di pedalaman hutan Yapen. Beragam fenomena alam akhirnya memaksa mereka untuk menggeser tempat tinggal ke pesisir. Dari peristiwa itulah nama Sarawandori berasal. “Sarawa” berarti “lari” dalam bahasa Onate, sementara “wandori” berarti “berkumpul”. Waktu berjalan, kini Sarawandori sudah dimekarkan menjadi dua kampung, yakni Sarawandori 1 dan Sarawandori 2.

Tim Ekspedisi mengunjungi kampung yang berjarak 10 kilometer dari Kota Serui, pusat pemerintahan Kabupaten Kepulauan Yapen, itu guna mendukung kebutuhan ketahanan pangan. Tim akan memberikan sepatu bot, sprayer, pupuk, pacul, dan beragam bibit sayur, serta alat-alat medis seperti APD, sarung tangan, face shield, perangkat rapid test, dan masker medis.Sarawandori, Raja Ampat

Mama Naomi Jalan Kaki Lewat Dua Gunung

Sebelum matahari naik ke ubun-ubun, di Kampung Sarawandori 2 sudah berkumpul sekitar 30 orang di balai pertemuan warga. Salah seorang di antaranya adalah Naomi Yapanami. Di usia yang sudah mencapai 53 tahun, dengan penglihatan yang sudah kurang jelas, ia duduk di kursi paling depan mendengarkan penyuluhan pertanian dari Utreks Hembring.

Ia begitu antusias menyimak, sebab hari-harinya memang diisi dengan menanam sayur dan menjualnya ke pasar. Sudah dua kebun yang dibuatnya, dengan tanaman-tanaman seperti terong, cabai, mentimun, dan jagung. Jarak antara rumah dan kebunnya tak main-main. Untuk menggarap lahannya Mama Naomi mesti melewati dua gunung berjalan kaki selama dua jam.Sarawandori, Raja Ampat

Dalam penyuluhan itu, Mama Naomi berkeluh kesah soal hama ulat. Selama ini ia hanya menggunakan pestisida yang dibelinya di toko pertanian—dan itu pun tak mempan.

“Kalau sudah begitu, mama pasrah saja. Ambil yang masih bisa dipanen, lalu jual ke pasar,” ceritanya.

Kedatangan kami diharapkan dapat menyokong perjuangan masyarakat Sarawandori, termasuk Mama Naomi yang terus-menerus berupaya mengenyahkan hama ulat di kebunnya.

Dalam sambutan acara, Kepala Kampung Sarawandori 2, Michael Karuba, berkata bahwa kegiatan ini adalah berkat dari Tuhan. Di tengah-tengah kondisi serba sulit ini, mereka bersyukur mendapat sokongan untuk mengolah kebun. Pengetahuan dan alat yang mereka terima akan sangat berguna bagi hidup dan kehidupan Sarawandori. 

“Kami ini bisa dikatakan amfibi. Kami bisa mengolah daratan dan (bisa) mengolah lautan. Jadi tidak ada alasan untuk takut menghadapi kondisi pandemi,” kata Bapak Michael.


Pada September 2020, M. Syukron dari TelusuRI mengunjungi beberapa lokasi di Raja Ampat untuk melihat langsung dampak pandemi COVID-19 di wilayah tersebut dalam ekspedisi bersama EcoNusa. Tulisan ini merupakan bagian dari seri catatan perjalanan itu. Nantikan terus kelanjutannya di TelusuRI.id.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Avatar

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
NusantarasaTravelog

Kisah Kopi Hitam di Warung Tadasih

Travelog

Monumen Kresek dan Kisahnya

Travelog

Anjing-anjing yang Memandu Kami di Gua Maria Bukit Kanada

Travelog

Menengok Gugusan Karang di Pantai Watu Leter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *